Showing posts with label covid-19. Show all posts
Showing posts with label covid-19. Show all posts

Sunday, February 6, 2022

UMKM Jadi Penyambung Hidup Banyak Orang, tapi PR-nya Bejibun

 


Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran penting untuk perekonomian Indonesia. Ketua Satgas Pengembangan Keuangan Syariah dan Ekosistem UMKM OJK Ahmad Buchori mengungkapkan hal ini karena ada 65 juta pelaku UMKM atau 99,99% dari total pelaku usaha.

UMKM menyumbang 60,51% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. UMKM juga menyerap 120 juta tenaga kerja atau sekitar 97% total tenaga kerja Indonesia.

"UMKM memiliki pangsa ekspor 15,65% dari total ekspor nonmigas Indonesia," kata dia dalam media briefing, Jumat (4/2/2022).

Namun saat pandemi COVID-19 melanda, UMKM terdampak ada 84,2% UMKM yang mengalami penurunan pendapatan. Lalu secara umum 8 dari setiap 10 UMKM cenderung mengalami penurunan permintaan.

Buchori mengatakan 62,21% UMKM menghadapi kendala keuangan terkait pegawai dan operasional. "Sekitar 34 dari 10 perusahaan UMKM mengaku mengalami penurunan harga. Pemasaran atau penjualan produk menjadi kendala paling banyak dialami di semua skala usaha," ujar dia.

Selain itu, saat ini UMKM juga masih menemui banyak tantangan, antara lain penyebaran varian Omicron di Indonesia akan cukup berdampak pada penyaluran pembiayaan kepada UMKM, sehingga diperlukan adanya pengendalian pandemi dan program pemulihan UMKM.

Tantangan UMKM

Adanya kebijakan The Fed untuk mempercepat laju pengurangan pembelian aset (tapering) akan berdampak pada kenaikan suku bunga sampai dengan tiga kali pada 2022 yang akan berdampak laju pembiayaan terhadap UMKM.

Masih rendahnya program edukasi dan pendampingan kepada pelaku UMKM terkait dengan produk keuangan, sehingga masih tergiur dengan pinjaman online ilegal dan pinjaman dari rentenir.

Perlu adanya peningkatan kesadaran industri jasa keuangan untuk meningkatkan persentase portofolio pembiayaan kepada sektor UMKM hingga 30%, baik melalui paket kebijakan maupun mempersiapkan basis data UMKM yang mampu dimanfaatkan oleh lembaga jasa keuangan untuk mempermudah analisa kredit.

Perlu juga mendorong secara masif program pembiayaan kepada UMKM yang telah ada saat ini, khususnya untuk pinjaman tanpa agunan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema klaster, Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR), Kemudahan UMKM untuk go public, dan penyempurnaan kebijakan seperti ketentuan branchless banking.

"Masih terbatasnya produk-produk UMKM lokal yang belum berorientasi ekspor, sehingga perlu adanya jalur pembinaan agar mampu mendorong produksi dan adanya permintaan modal yang naik secara signifikan," jelas dia.

Perlu adanya dukungan penuh untuk mendorong program kolaboratif antar Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah serta Industri Jasa Keuangan khususnya yang tergabung dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) melalui Gernas BBI, baik mendorong kegiatan business matching, maupun pendampingan untuk go digital serta kemudahan akses permodalan bagi UMKM.

Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5928242/umkm-jadi-penyambung-hidup-banyak-orang-tapi-pr-nya-bejibun.

Wednesday, September 1, 2021

Maju Tak Gentar! Upaya Bangkit Pelaku UMKM di Tengah Pandemi

 

Maju Tak Gentar! Upaya Bangkit Pelaku UMKM di Tengah Pandemi

JAKARTA – Ketika pandemi Covid-19 tiba di Indonesia pada tahun lalu, Syarif yang berusia 36 tahun sempat berpikir bahwa dirinya adalah orang paling apes di dunia. Bekerja setiap hari sebagai pegawai di salah satu maskapai penerbangan dalam negeri, Syarif harus menerima nasib dirumahkan dan kehilangan sebagian besar penghasilannya.

“Sementara pengeluaran jalan terus, anak-anak saya masih tetap sekolah dan keluarga tetap butuh makan setiap hari,” keluh Syarif kepada Bisnis, Senin (30/8/2021).

Pertengahan September tahun lalu, Syarif lantas mencoba bangkit dengan merintis bisnis kuliner kecil-kecilan, yang melayani pesan antar via ojek daring (ojol).

Awalnya, hasil dari bisnis itu tak seberapa. Namun lama kelamaan penghasilan Syarif sudah lebih dari sekadar cukup untuk menghidupi keluarganya.

“Dulu memberanikan diri ambil kredit untuk usaha di salah satu [peer-to-peer lending/P2P] online. Sekarang sudah mau lunas, dan syukurnya bisnis sudah mulai balik modal,” imbuh Syarif.

Saat ini Syarif mengaku masih berharap kantor tempatnya bekerja memanggilnya lagi untuk menekuni pekerjaan lama. Namun, bilapun hal itu tidak terjadi, dia sudah siap hidup bergantung 100 persen dengan bisnis rintisannya untuk jangka panjang.

Wahyu (41), yang lebih lama malang melintang sebagai pelaku UMKM, punya pengalaman tidak jauh berbeda. Berdagang roti di dalam mal sejak 6 tahun lalu, Wahyu dihadapkan pada kenyataan pahit ketika sejak tahun lalu pemerintah membatasi jam operasional mal.

Di awal tahun ini, Wahyu memutuskan untuk memindahkan bisnisnya dengan membuka gerai di luar mal dan melayani pesan antar. Tentu saja dengan keberanian menjual jenis-jenis panganan selain roti, seperti kopi susu dan aneka minuman lain, dan menggelontorkan modal yang tidak sedikit.

Seperti Syarif, Wahyu memberanikan diri mengambil kredit usaha lewat salah satu platform P2P lending.

"Saya cukup berhati-hati, tanya-tanya dulu ke teman-teman dekat karena banyak kan gosip kalau pinjaman online berbahaya. Tapi yang saya pakai sudah terverifikasi [OJK] dan sejauh ini baik-baik saja, pembayaran lancar karena alhamdulillah bisnis juga sedang lumayan,” kata Wahyu kepada Bisnis.

Sejak kedatangan pandemi Covid-19, yang membuat interaksi fisik dibatasi, kenaikan permintaan kredit usaha di platform-platform pembiayaan digital memang meningkat pesat.

PT Modal Rakyat Indonesia alias Modal Rakyat misalnya, mengklaim telah berhasil menyalurkan pinjaman Rp660 miliar khusus pada 2020.

Beroperasi pada 2020, per awal Maret lalu pembiayaan Modal Rakyat, yang memang dikhususkan untuk segmen UMKM, telah menembus Rp1 triliun dan seiring berjalannya tahun ini perusahaan optimistis bisa menembus nominal penyaluran kredit Rp2 triliun.

“Ini adalah bukti nyata bahwa penggunaan teknologi secara tepat dan sinergis dengan kondisi pasar dapat mendukung permodalan dan pemberdayaan UMKM secara menyeluruh,” tutur Komisaris Utama Modal Rakyat Wafa Taftazani dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis belum lama ini.

Sebagai informasi, pada 2020, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) diprediksi menyusut hingga 38,14 persen akibat pandemi. Angka tersebut turun pesat dari proporsi 2019, ketika UMKM masih mampu menyumbang 60,3 persen PDB. Ini juga merupakan rekor terkecil kontribusi UMKM terhadap PDB sejak 2010.

Dengan adanya tren geliat pembiayaan segmen UMKM sejak pengujung tahun lalu sampai pertengahan tahun ini, Modal Rakyat berharap kontribusi UMKM bisa maksimal lagi.

“Dalam jangka menengah dan panjang, harapannya ini akan membawa dampak positif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia,” sambung Wafa. Hal serupa disuarakan perusahaan P2P lending lainnya, PT Mitrausaha Indonesia Group alias Modalku.

Terhitung sejak berdiri 5 tahun lalu hingga akhir kuartal I/2021 lalu, Modalku Group mengklaim telah menyalurkan kredit senilai Rp22,4 triliun ke pelaku UMKM di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jumlah pinjaman tersebut telah mencakup 4 juta lebih UMKM.

Untuk memastikan peran memulihkan kinerja UMKM di dalam negeri, co-founder sekaligus direktur Modalku Iwan Kurniawan berkata perusahaannya mengembangkan proyek penelitian bersama konsultan DSInnovative. Penelitian tersebut berfokus untuk memberikan perspektif pendekatan baru dalam merangkul UMKM.

Sejauh ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku bisnis UMKM dapat mengatur arus kas lebih lancar, meningkatkan produksi bisnis, dan menjaga kelancaran operasional harian bisnis melalui pendanaan dari Modalku. Temuan ini didapat melalui survei online dan diskusi melalui telepon terhadap 350 pelaku UMKM yang merupakan peminjam Modalku.

“Melalui terobosan dan pendekatan berbasis teknologi, serta penilaian kelayakan kredit yang sesuai dengan karakteristik UMKM, sektor fintech terutama P2P lending memiliki peran penting dalam mendukung pelaku UMKM yang belum tersentuh akses pendanaan lembaga keuangan konvensional [bank dan multifinance],” kata Iwan dalam keterangan tertulisnya.

Usaha P2P lending menggencarkan pembiayaannya di sisa tahun ini juga mendapat respons positif dari perbankan.

Kini tidak hanya menyalurkan kredit lewat layanan konvensionalnya, perbankan terutama bank-bank berbasis digital mulai aktif menyuntik dana ke platform-platform P2P lending agar dapat menjangkau pelaku usaha.

PT Bank Jago Tbk. (ARTO) salah satunya, sejauh ini telah melakukan penyuntukan dana ke sejumlah fintech. Hampir Rp500 miliat dikucurkan perusahaan pada tahun ini untuk platform-platform seperti Modal Rakyat, Akseleran hingga Paper.id.

Hal serupa dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) alias BRI Agro, yang mengusung misi sebagai home of fintech.

“Pelaku UMKM adalah salah satu pilar pemulihan ekonomi di Indonesia. Ke depan, BRI Agro berharap dapat memperbanyak kolaborasi dengan penyelenggara teknologi finansial digital,” ujar Direktur Ritel Agri dan Pendanaan BRI Agro Sigit Murtiyoso saat menandatangani perjanjian dengan Modalku pada awal Mei lalu.

Berbagai upaya dan sinergi antara UMKM dan industri keuangan digital untuk memulihkan perekonomian di tengah pandemi sejalan dengan mandat pemerintah. Hal ini belum lama juga ditekankan lagi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.

"Kita akan berdampingan dengan Covid-19 dalam jangka waktu yang belum bisa kita pastikan. Perlu kerja sama yang dipercepat, dengan protokol kesehatan, dan memanfaatkan semua kemampuan termasuk teknologi digital. Pemulihan [lewat digitalisasi] bisa dilakukan di bidang ekonomi yaitu dengan menaikkan produktivitas," kata Muhadjir dalam konferensi pers virtual Senin (30/8/2021).

Bersamaan dengan peningkatan secara berkala kapasitas vaksin dan pelaksanaan vaksinasi, Muhadjir yakin pemanfaatan teknologi dan digitalisasi akan menjadi rumus yang tepat bagi Indonesia untuk bertahan sampai pandemi lewat.

Hingga Senin (30/8/2021) dari sisi vaksinasi, data Satgas Penanganan Covid-19 BNPB merekapitulasi penyuntikan vaksin dosis kedua telah mencapai 35.315.460 warga atau setara 16,95 persen target, sementara untuk dosis pertama telah mencapai 62.294.896 warga atau setara 29,91 persen dari total target 208.265.720 warga.

Sumber : https://m.bisnis.com/ekonomi-bisnis/read/20210831/9/1436003/maju-tak-gentar-upaya-bangkit-pelaku-umkm-di-tengah-pandemi

Thursday, August 26, 2021

Menteri Teten: Kondisi UKM membaik pada kuartal II 2021

 

Menteri Teten: Kondisi UKM membaik pada kuartal II 2021

Bandung - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki mengatakan meski sempat mengalami keterpurukan pada awal pandemi COVID-19, kondisi usaha kecil menengah (UKM) telah menunjukkan perbaikan pada kuartal II 2021.

"Hal itu ditunjang oleh sejumlah kebijakan pemerintah dalam membantu UMKM pada masa sulit pandemi COVID-19," kata Teten Masduki mengungkapkan itu dalam acara "The 6th International Conference on Management in Emerging Market 2021" yang diadakan secara virtual, Rabu.

Tahun ini, acara tersebut mengambil tema "Nurturing New Business Landscapes to Embrace the Next Normal". Acara ini diselenggarakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Universitas Teknologi Mara, Yamaguchi University, MDI Ventures, dan IEEE Indonesia Section.

Pada kesempatan itu, Menteri Teten mengatakan pelaku UKM menghadapi sejumlah tantangan karena pandemi COVID-19. Di antaranya, kesulitan memperoleh modal, kesulitan mengakses modal dari perbankan hingga kesulitan mendapat bahan baku karena suplai bahan baku berkurang.

Dengan bantuan dari pemerintah, kata dia, pelaku UKM bisa mengatasi berbagai tantangan tersebut. Bantuan dari pemerintah di antaranya berupa keringanan pajak, relaksasi pinjaman bank, meningkatkan kemampuan penggunaan teknologi digital hingga memperluas pasar.

Ketika pelaku UKM mampu memanfaatkan teknologi digital, maka pasar produknya bisa diperluas ke mancanegara. Oleh karena itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga mendorong UKM meningkatkan standar produknya sehingga bisa diterima di pasar global.

"Perlu dukungan dari berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan sektor UKM, seperti mempercepat penerapan teknologi oleh UKM," kata Teten.

Sementara itu, Direktur SMESCO Leonard Theosabrata menambahkan UKM Indonesia harus bisa memenangkan kompetisi tingkat global agar bertahan pada masa kondisi normal baru.

Leonard mengusulkan agar UKM Indonesia memanfaatkan keunikan kultur Indonesia dalam menciptakan produk untuk memenangkan kompetisi. SMESCO mendorong penggunaan cara tersebut kepada para pengusaha muda Indonesia.

"Kembali ke akar, balik ke kampung, kami coba implementasikan cara itu kepada pengusaha muda Indonesia," ujar Leonard.

Untuk membantu pemulihan UKM saat pandemi, SMESCO juga membuat basis data UKM yang bisa dimanfaatkan pemerintah. Dengan berbasis data, kebijakan yang diambil pemerintah dalam menangani UKM bisa tepat.

Sementara itu, Dekan SBM ITB Utomo Sarjono Putro berharap "The 6th International Conference on Management in Emerging Market 2021" menjadi kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan praktisi dalam menghasilkan ide yang bisa membantu UKM pada kondisi normal baru.

Acara juga dibuka oleh Rektor ITB, Profesor Reini Wirahadikusumah, juga diikuti oleh peserta dari berbagai negara. Selain Indonesia, turut hadir peserta dari Amerika Serikat, Jepang, Australia, Thailand dan Belanda.

Sumber : https://m.antaranews.com/berita/2320702/menteri-teten-kondisi-ukm-membaik-pada-kuartal-ii-2021
 

Monday, August 23, 2021

Digitalisasi Menjadi Pintu Baru bagi UMKM Untuk Dongkrak Bisnis

 

Digitalisasi Menjadi Pintu Baru bagi UMKM Untuk Dongkrak Bisnis

Digitalisasi menjadi instrument penting untuk mendongrak bisnis, tidak terkecuali bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui akses digital, semua transaksi bisnis dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, sehingga roda bisnis pelaku bisnis UMKM diharapkan bisa lebih cepat berkembang. Kepala Divisi Komunikasi PT OVO Harumi Supit menyebutkan bahwa UMKM mendapatkan banyak manfaat dengan memasuki ekosistem digital. Misalnya, untuk memperluas jangkauan pasar. Dia menambahkan salah satu pintu untuk memasuki ekosistem digital adalah dengan memakai dompet digital. Pasalnya, trend cashless society semakin diminati.

Transaksi digital dan adopsi Quick Response Indonesia Standard (QRIS) diyakini juga akan semakin meningkat di tengah pandemi karena mobilitas masyarakat yang dibatasi. Karena itulah, keterlibatan pelaku usaha UMKM akan sangat diuntungkan melalui bisnis digital. “UMKM mendapat banyak sekali manfaat dari sini, bukan hanya manfaat dari pembayaran digital sendiri, namun ini jadi pintu masuk ke dalam ekosistem digital yang lebih luas. Dari survei OVO melalui 2.000 merchant UKM, kami temukan sebanyak 70 persen UMKM mengalami peningkatan transaksi sebagai mitra kami,” ujar Harumi.

Sementara itu, Direktur Pemasaran SiCepat Ekspres Wiwin Dewi Herawati mengatakan bahwa pendanaan maupun bantuan perlu lebih diberikan kepada para pelaku UMKM agar mereka terus berkembang. “Saya rasa saat ini kita perlu lagi melakukan pendekatan kepada teman-teman UMKM, terkait dengan dana maupun bantuan, atau ada evaluasi yang harus dilakukan. Nah, mungkin ini bisa kita dengarkan, ada hal apa lagi yang bisa kita bantu untuk seluruh pebisnis UMKM ini,” tutur Wiwin. 

Terkait pendanaan, Direktur Penjaminan PT Jamkrindo Suwarsito mengatakan, pihaknya akan memberikan penjaminan bagi para pelaku UMKM sehingga bisnisnya menjadi visible dan bankable. Skema-skema penjaminan Jamkrindo, antara lain kredit KUR, program Kredit Modal Kerja Pemulihan Ekonomi Nasional (KMK PEN), hingga kredit-kredit komersial. Jamkrindo saat ini mengembangkan pinjaman melalui online system dengan perbankan, baik itu bank BUMN, swasta hingga Bank Pembangunan Daerah (BPD) di seluruh Indonesia. Sehingga, para pelaku UMKM dapat mengakses pembiayaan lewat perbankan sesuai dengan kebutuhan.


“Online system ini sudah ada sebelum pandemi, namun kita tingkatkan kembali untuk memudahkan para pelaku UMKM dalam mengakses produk-produk penjaminan. Sehingga, semakin banyak lagi kedepannya UMKM yang bisa kami layani,” tutur Suwarsito dalam webinar Katadata mengenai Gotong Royong Bantu UMKM pada Kamis, (5/8) kemarin.

Hingga Juni 2021, Jamkrindo telah menyalurkan penjaminan program KUR dengan total kredit sebesar Rp 475 triliun kepada 19,5 juta UMKM. Sementara, untuk KMK PEN, Jamkrindo telah menjaminkan total kredit plafon sebesar Rp 17,5 triliun kepada sekitar satu juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Suwarsito menyebut bahwa permodalan UMKM terkena dampak dari pandemi Covid-19. Namun, ia berharap dengan program penjaminannya, terutama KMK PEN, para pelaku usaha UMKM bisa dengan mudah mengembangkan bisnisnya dan mendapatkan sumber modal dari perbankan.

Sumber : https://katadata.co.id/maesaroh/berita/610d06a30f142/digitalisasi-menjadi-pintu-baru-bagi-umkm-untuk-dongkrak-bisnis

Sunday, August 22, 2021

Kawal UMKM, Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Label Merek dan Digital Marketing

 

Kawal UMKM, Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Label Merek dan Digital Marketing

Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro melakukan kegiatan "Sosialisasi Pentingnya Label Merek dan Digital Marketing guna Meningkatkan Pendapatan Pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) di Masa Pandemi Covid-19".

Kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) kali ini dilakukan ditempat tinggal masing-masing Mahasiswa pelaksana KKN, banyak yang menyebutnya "KKN Pulang Kampung" atau "KKN Didesa Sendiri". Hal ini dilakukan lantaran pandemi Covid-19 di Indonesia.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 telah membawa dampak ke segala sektor, salah satunya sektor ekonomi. Terutama, dampaknya dirasakan oleh pelaku UMKM, dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat yang terjadi ditengah kemerosotan perekonomian akan berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Untuk mengatasinya, pemerintah telah melakukan tindakan dengan mengajak pelaku UMKM untuk berinovasi kreatif dan memanfaatkan digitalisasi dalam usahanya. Berbagai dukungan juga telah diberikan untuk membangkitkan UMKM yang terjun bebas akibat pandemi. Mulai dari bantuan dana untuk modal usaha, pemotongan pajak penghasilan bagi pelaku UMKM, sosialisasi serta edukasi mengenai pengelolaan UMKM, dukungan digital, dan ajakkan kepada masyarakat luas untuk beli produk dalam negeri.

Melihat banyaknya produk UMKM yang belum memiliki Label Merek menjadi perhatian bagi Mahasiswa KKN, padahal Label Merek sangat penting bagi produk UMKM. Apabila produk UMKM tidak memiliki Label Merek, maka produk tersebut tidak memiliki identitas, yang akan mengakibatkan produk tersebut susah dikenali oleh para konsumen.

Selain itu, perhatian Mahasiswa KKN juga tertuju pada pemasaran produk yang dilakukan pelaku UMKM yang mana masih cenderung tradisional, sedangkan di jaman sekarang semua sudah serba digital. Pengenalan digital marketing sangat perlu dilakukan untuk memperluas jangkauan konsumen bagi pelaku UMKM.

Dengan demikian, Mahasiswa KKN memutuskan untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi yang bertujuan memberikan pengetahuan bagi pelaku UMKM tentang Label Merek dan Digital Marketing. Dilaksanakan di wilayah Kelurahan Mangkang Wetan dengan metode door to door. Metode tersebut dilaksanakan dengan pertimbangan tidak diperbolehkannya mengumpulkan massa. Dalam pelaksanaannya, Mahasiswa KKN memberikan penjelasan dari poster yang telah dibuat sebelumnya. Memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang produknya belum memiliki Label Merek dan belum melakukan pemasaran produk secara Digital Marketing. Serta membagikan video penjelasan poster melalui WhatsApp Group UMKM.

Salah satu pelaku UMKM, yaitu Arina bertutur "Kegiatan Sosialisasi yang dilakukan sangat bermanfaat bagi kami pelaku UMKM yang baru merintis usaha dan dihadapkan dengan pandemi Covid-19"

Mahasiswa KKN berharap melalui kegiatan ini dapat memberikan semangat kepada pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha mereka di masa pandemi Covid-19.

Sumber : https://www.kompasiana.com/ratnayunaida2548/610b3a2406310e02826231a2/kawal-umkm-mahasiswa-kkn-undip-kenalkan-label-merek-dan-digital-marketing 

Wednesday, August 4, 2021

Rangkaian Pertemuan ASEAN Post Ministerial Conference (PMCs) 10+1 Hari Pertama

 

Rangkaian Pertemuan ASEAN Post Ministerial Conference (PMCs) 10+1 Hari Pertama

Pada rangkaian pertemuan dengan Negara Mitra ASEAN (03/08/2021)​, Indonesia mendorong pemulihan ekonomi berkelanjutan, penguatan kerja sama kesehatan, dan perlunya menjaga perdamaian.

Khusus mengenai pemulihan ekonomi, Indonesia memandang penting transformasi ekonomi digital, terutama bagi UKM. Karena itu, kerja sama peningkatan kapasitas manusia termasuk bagi UKM dan start-up, pertukaran teknologi, serta pembangunan infrastruktur digital perlu terus bergulir. Selama pandemi, layanan digital terbukti dapat menjaga kelangsungan kegiatan ekonomi masyarakat melalui e-commerce, sementara aktivitas ekonomi konvensional terhenti.

Selanjutnya, Indonesia juga mendorong upaya kerja sama sektor energi terbarukan. Wamenlu RI menegaskan,“Kerja sama dalam pembiayaan energi terbarukan adalah isu penting untuk mengembangkan ekonomi berkelanjutan dan hijau. Pengembangan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals".

Mengingat beberapa negara saat ini kembali mengalami gelombang kedua Covid-19, kerja sama pengembangan, produksi dan distribusi obat dan vaksin untuk Covid-19 dan penyakit lainnya dalam keadaan darurat di masa depan kembali menjadi perhatian. Negara-negara anggota ASEAN menyampaikan penghargaan bagi Korea Selatan, RRT dan Jepang atas kontribusinya dalam memitigasi dampak pandemi Covid-19 dan mengharapkan kerjasama tersebut terus berlanjut.

Indonesia menggarisbawahi bahwa kebutuhan vaksin masih tinggi, namun supply vaksin belum terbagi rata. Selain itu, masih terdapat pandangan negatif terhadap vaksin tertentu. “Kita harus memastikan bahwa seluruh vaksin yang telah disetujui WHO diperlakukan sama, tidak ada diskriminasi," tegas Wamenlu RI.

Meski sedang dalam situasi pandemi, Wamenlu RI ingatkan, “kita berada dalam Asian Century, dimana Asia memiliki lebih dari 50% GDP diukur dari Purchasing Power Parity dunia. Kita juga punya blok ekonomi terbesar di dunia, yaitu Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP)." Ke depannya, kedua hal ini menurut Wamenlu RI menunjukkan nilai strategis Kawasan akan terus meningkat.

Dalam rangkaian Pertemuan, Indonesia juga mengingatkan pentingnya menjaga perdamaian Kawasan, antara lain dalam kelanjutan proses negosiasi Kode Perilaku di Laut China Selatan dan kelanjutan dialog damai di Semenanjung Korea.

Pada hari ini, ASEAN lakukan pertemuan dengan empat negara mitra, yaitu ASEAN-Korea Selatan, ASEAN-RRT, ASEAN-Jepang serta ASEAN Plus Three (ASEAN+3) yang merupakan gabungan ketiga negara tersebut dalam satu mekanisme. Pada 4 Agustus 2021, rangkaian Pertemuan ASEAN Post Ministerial Conferences 10+1 akan berlanjut dengan pertemuan ASEAN-Amerika Serikat, ASEAN-Australia, ASEAN-Rusia, dan East Asia Summit. Rangkaian pertemuan akan berlangsung hingga 6 Agustus 2021.

Sumber : https://kemlu.go.id/portal/id/read/2767/berita/rangkaian-pertemuan-asean-post-ministerial-conference-pmcs-101-hari-pertama

Tuesday, August 3, 2021

Tambah Akses Pendanaan, CASH Gandeng KoinWorks

 

Tambah Akses Pendanaan, CASH Gandeng KoinWorks

Pada masa pandemic Covid-19 yang diiringi dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), merupakan pendorong (Turbo-Charged) terjadinya Disrupsi Teknologi di sektor jasa keuangan Indonesia.

Hal itu mempengaruhi lonjakan adopsi digital di kalangan konsumen terutama untuk pembayaran elektronik dan belanja online.

Di sisi penawaran, hal itu telah mendorong lonjakan pertumbuhan bagi penyedia platforme-commerce dan pembayaran digital.

PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (IDX: CASH) sebagai salah satu Payment Gateway, pada tahun ini fokus untuk memperluas akses pendanaan atau permodalan bagi merchant dalam mendukung terciptanya pertumbuhan transaksi online di masyarakat.

Cashlez menggandeng Super Financial App berizin dan terdaftar yang sedang berkembang di Indonesia, Koin Works.

Melalui kerjasama ini, para pelaku usaha/merchant, baik individu maupun perusahaan, yang tergabung dengan Cashlez dapat mengajukan pembiayaan hingga Rp2 miliar dari KoinWorks melalui Cashlez dengan tenor hingga 24 bulan dan bunga yang kompetitif.

“Salah satu pendorong fokus kami untuk mengembangkan akses pendanaan ini adalah agar dapat membantu para pelaku usaha khususnya UMKM dalam mengembangkan usaha mereka di situasi saat ini,” ujar Suwandi, Presiden Direktur Cashlez, dalam siaran pers, Jumat (30/7).

Menurut data dari Bank Indonesia, ada sebanyak 87,5% UMKM yang terdampak.

“Kami harap dengan menggandeng Koin Works, akan dapat membantu pengembangan UMKM khususnya merchant Cashlez untuk tambahan modal usaha mereka,” imbuhnya.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, industri teknologi finansial P2P lending resmi menunjukan mampu melanjutkan tren pertumbuhan penyaluran pinjaman bulanan ke angka Rp13,65 triliun per Mei 2021.

Hal itu mempengaruhi lonjakan adopsi digital di kalangan konsumen terutama untuk pembayaran elektronik dan belanja online.

Di sisi penawaran, hal itu telah mendorong lonjakan pertumbuhan bagi penyedia platforme-commerce dan pembayaran digital.

PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (IDX: CASH) sebagai salah satu Payment Gateway, pada tahun ini fokus untuk memperluas akses pendanaan atau permodalan bagi merchant dalam mendukung terciptanya pertumbuhan transaksi online di masyarakat.

Cashlez menggandeng Super Financial App berizin dan terdaftar yang sedang berkembang di Indonesia, Koin Works.

Melalui kerjasama ini, para pelaku usaha/merchant, baik individu maupun perusahaan, yang tergabung dengan Cashlez dapat mengajukan pembiayaan hingga Rp2 miliar dari KoinWorks melalui Cashlez dengan tenor hingga 24 bulan dan bunga yang kompetitif.

“Salah satu pendorong fokus kami untuk mengembangkan akses pendanaan ini adalah agar dapat membantu para pelaku usaha khususnya UMKM dalam mengembangkan usaha mereka di situasi saat ini,” ujar Suwandi, Presiden Direktur Cashlez, dalam siaran pers, Jumat (30/7).

Menurut data dari Bank Indonesia, ada sebanyak 87,5% UMKM yang terdampak.

“Kami harap dengan menggandeng Koin Works, akan dapat membantu pengembangan UMKM khususnya merchant Cashlez untuk tambahan modal usaha mereka,” imbuhnya.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, industri teknologi finansial P2P lending resmi menunjukan mampu melanjutkan tren pertumbuhan penyaluran pinjaman bulanan ke angka Rp13,65 triliun per Mei 2021.

Artinya, pendanaan dari P2P lending tersebut akan terus meningkat seiring kebutuhan masyarakat terhadap pendanaan.

CEO dan Co-Founder KoinWorks, Benedicto Haryono mengatakan, KoinWorks dan Cashlez memiliki misi yang sama terkait inklusi finansial untuk membantu UMKM Indonesia.

“Kami telah berkecimpung di dunia Digital UKM sejak 2016 dan sudah ada lebih dari 250 ribu pengguna bisnis di aplikasi KoinWorks. Kami sebagai fintech pastinya akan terus mendukung growth UMKM dengan akses finansial yang terjangkau,” beber Benedicto Haryono.

Dia menambahkan bahwa kerjasama tersebut mengukuhkan komitmen KoinWorks untuk ikut serta dalam demokratisasi layanan finansial di Indonesia, khususnya bagi UMKM yang ingin mengembangkan usahanya demi menghasilkan komoditas yang dibutuhkan pasa.

Cashlez telah dipercaya oleh lebih dari 9.000 pelaku usaha yang bergerak dari berbagai sektor, mulai dari ritel, transportasi, logistik, F&B, perhotelan hingga kawasan wisata.

Ke depannya, Cashlez akan terus berinovasi dan meningkatkan layanannya, baik dari sisi penerimaan pembayaran maupun sisi pendanaan, untuk berbagai sektor UMKM di Indonesia.

Sebagai informasi, Cashlez merupakan perusahaan Startup Fintech pionir yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesai dalam rangka mendukung terciptanya landscape ecosystem Fintech Indonesia bisa bersaing dengan pemain global.

Saat ini, saham Cashlez Worldwide Indonesia dimiliki diantaranya oleh pemegang saham institusi, seperti Sumitomo Corporation Jepang, PT Mandiri Capital dll dan pemegang saham perorangan, serta sisanya dipegang oleh Publik sekitar 26%.

Sumber : https://beritamu.co.id/2021/08/02/tambah-akses-pendanaan-cash-gandeng-koinworks/15760/

Sunday, August 1, 2021

Gubernur Dorong UMKM Manfaatkan Teknologi di Masa Pandemi

 

Gubernur Dorong UMKM Manfaatkan Teknologi di Masa Pandemi

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan teknologi informasi guna memperluas pasar di masa pandemi Covid-19.

“Sebenarnya UMKM bisa cepat berkembang jika didukung oleh sektor pariwisata, namun dalam masa pandemi ada banyak pembatasan penggunaan teknologi informasi menjadi pilihan yang lebih bijak,” ungkap Mahyeldi saat bersilaturahmi dengan UMKM salingka Danau Maninjau di SMA Negeri 1 Tanjung Raya Kabupaten Agam, Jumat (30/7/2021).

Lebih lanjut Mahyeldi mengatakan media sosial bisa menjadi salah satu sarana untuk memperluas pasar bagi UMKM. Konsumen tidak perlu datang langsung untuk berbelanja tetapi bisa memanfaatkan jasa pengiriman.

UMKM juga bisa bermitra dengan beberapa platform digital yang sudah masuk ke kabupaten dan kota di Sumbar sehingga minimnya pemasaran di masa pandemi bisa ditanggulangi.


“Kita juga punya paltform belanja sendiri di antaranya bajojo.id. Ini juga bisa dimanfaatkan oleh UMKM untuk memperluas pasar,” katanya.

Ke depan setelah pandemi Covid-19 berakhir Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Agam akan mengupayakan menyelenggarakan beberapa event pariwisata di Danau Maninjau untuk memancing kembali wisatawan datang berkunjung.

Dalam kesempatan itu Gubernur meminta masyarakat sekitar danau untuk sama-sama menjaga kebersihan danau dari pencemaran sehingga kembali menarik bagi wisatawan.

“Danau Maninjau ini sangat indah namun karena pencemaran, wisatawan menjadi enggan untuk datang. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, tidak hanya masyarakat tetapi juga pemerintah kabupaten dan Pemprov Sumbar,” ujarnya.

Kemudian, Anggota DPRD provinsi Sumbar Rinaldi mengatakan digitalisasi UMKM menjadi salah satu program yang akan didorong oleh legislatif untuk segera dilaksanakan.

“Kita upayakan program ini masuk ke kegiatan di Pemprov Sumbar 2022 agar sumber daya manusia pelaku UMKM bisa ditingkatkan sehingga menjadi melek teknologi,” katanya.

Dengan demikian UMKM diharapkan bisa berkembang dengan pesat sehingga menjadi salah satu lokomotif perekonomian daerah.

Sumber : https://covesia.com/archipellago/114944/gubernur-dorong-umkm-manfaatkan-teknologi-di-masa-pandemi/
 

Wednesday, July 28, 2021

Saat PPKM Darurat, Pelaku UMKM Dukung Transformasi Digital

 

Saat PPKM Darurat, Pelaku UMKM Dukung Transformasi Digital

Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mendukung saran pemerintah untuk beradaptasi dan melakukan transformasi digital. Sejalan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jawa-Bali yang akan dilaksanakan hingga 2 Agustus, situs e-commerce Shopee bersama para pelaku UMKM menghadirkan kampanye "Shopee Dari Rumah".

“Melihat perkembangan situasi pandemi saat ini, Shopee sebagai e-commerce yang dekat dengan masyarakat mengambil peran dalam upaya pencegahan dan penekanan laju virus Covid-19 dengan menginisiasi kampanye spesial, yaitu Shopee Dari Rumah," ujar Direktur Shopee Indonesia, Handhika Jahja, dalam keterangan tertulis, Selasa (27/7/2021).

Menanggapi hal itu, founder ZODE Daniel Wijaya mengatakan, kebijakan Shoppe adalah langkah yang tepat guna sekaligus menekan angka penyebaran Covid-19 di indonesia.

“Ya, dengan adanya kebijakan ini dapat membuat warga masyarakat untuk tetap di rumah,” katanya.

Zode melakukan sejumlah strategi pemasaran khusus untuk official shop Shopee. Mulai dari program penjualan yang konstan dilakukan agar terus eksis di Shopee, produk-produk spesial khusus bagi pembeli Shopee, live selling, dan promo lain lain.

Zode juga terus diberikan kesempatan untuk mengikuti program-program penjualan Shopee yang membantu keberlangsungan dari hal branding dan pemasaran.

Salah satunya ialah program promosi gratis ongkir dan cashback 50 % yang dapat memudahkan masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan dikala penerapan PPKM Darurat diberlakukan pemerintah.

"Tentu saja ini bisa memberikan angin segar bagi para pelaku usaha seperti saya," ujarnya.

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia membawa dampak yang sangat besar di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Di satu sisi, para pelaku UMKM mengalami penurunan penjualan secara drastis, hingga mereka terpaksa memberhentikan karyawan sampai memutuskan untuk gulung tikar.

Tapi di sisi lain, sektor ekonomi digital ternyata menjadi solusi bagi UMKM yang ingin bertahan di masa sulit ini. Terbukti ekonomi digital justru tumbuh signifikan, ditandai dengan banyaknya Usaha Kecil Menengah yang masuk ke ekosistem digital.

"Zode tetap berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk para pelanggan dalam pemberlakuan PPKM ini," pungkas Daniel.

Sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/806095/saat-ppkm-darurat-pelaku-umkm-dukung-transformasi-digital

Sunday, April 4, 2021

Teten: Pelaku UKM Kuliner Segera Divaksin Covid-19

Menkop UKM Teten Masduki meninjau kick off vaksinasi Covid-19 bagi pelaku UKM yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Pemprov DKI Jakarta. (Ist)

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengatakan, pihaknya sudah mengajukan agar pelaku koperasi dan UKM di seluruh daerah segera divaksin Covid-19.

Teten saat menghadiri pelaksanaan Kick-Off vaksinasi Covid-19 bagi pelaku UKM yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Pemprov DKI Jakarta dan Ciputra Group di Jakarta, pada Kamis (1/4), menyampaikan, pelaku UKM di bidang kuliner, khususnya makanan dan minuman akan menjadi prioritas pertama.

Pasalnya, pelaku usaha di sektor kuliner merupakan yang paling banyak berhubungan dengan publik, sehingga rentan terpapar Covid-19. Selain itu, sektor ini tetap berjalan baik di saat pandemi. "Nanti tinggal menunggu jadwal," ujarnya.

Adapun jadwal vaksinasinya, kata Teten, yakni setelah seluruh ASN Kemenkop dan UKM mendapat vaksinasi tahap 2. "Untuk pelaksanaan vaksin bagi pelaku UKM di daerah, akan dilakukan dengan menggandeng Dinas Kesehatan di setiap wilayah di Indonesia," katanya.

Teten mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menyusun langkah untuk melakukan vaksinasi di daerah, khususnya bagi pelaku UKM. "Karena mereka masuk dalam kategori pemberi pelayan publik, pelaku ekonomi yang tentu akan berdampak pada ekonomi. Jadi, kita akan segerakan," katanya.

Orang nomor satu di Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM ini optimistis bahwa vaksinasi akan mempercepat pemulihan konsumsi serta mengembalikan potensi pasar yang lebih luas.

"Saya berharap semua pelaku UKM bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemerintah. Sehingga, kita semua bisa menjadi lebih percaya diri," katanya.

Vaksinasi para pelaku UKM kuliner ini akan mendukung kinerja ?sektor ini. "Bayangkan saja, di saat pandemi saja dengan aneka aturan pembatasan, seperti PSBB, sektor kuliner mampu berjalan stabil. Artinya, pascavaksinasi, mereka bisa berjualan kembali secara normal," ujarnya.

Meski demikian, Teten tetap mengingatkan para pelaku UKM dan koperasi, termasuk seluruh masyarakat baik yang sudah maupun belum divaksinasi agar tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Jangan mentang-mentang sudah vaksin, bukan lantas kita bisa seperti dahulu lagi. Kita berada di era New Normal dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan," ucapnya.

?Sementara itu, Managing Director Grup Ciputra, Budiarsa Sastrawinata, mengatakan, tahap awal vaksinasi bagi pelaku UKM akan diberikan kepada 3.000 orang. Sebanyak 1.500 pelaku UKM ditargetkan menerima vaksinasi pada 1 April 2021. Sisanya pada 5 April 2021.

Secara umum, targetnya adalah para pelaku UKM yang berada di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Kategori UKM ini adalah semua kelompok pengusaha berskala kecil dan menengah, yang berada di pusat perbelanjaan dan kawasan-kawasan perdagangan di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

"Sesuai arahan pemerintah, pelaksanaan vaksinasi bagi pelaku UKM ini diharapkan bisa mempercepat pemulihan perekonomian RI," kata Budiarsa.


sumber : https://www.gatra.com/detail/news/508135/kesehatan/teten-pelaku-ukm-kuliner-segera-divaksin-covid-19 

Tuesday, March 30, 2021

88 Persen UKM Kehabisan Dana Akibat Pandemi Covid-19, Sebagian Besar Kurangi Karyawan

Ilustrasi dana kas UKM. /Pexels/Karolina Gabowska

Pandemi Covid-19 nyaris melumpuhkan sektor sosial ekonomi Indonesia.

Bisnis-bisnis kecil seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) tak luput ikut terkena dampaknya. Sebanyak 88 persen usaha mikro kini telah kehabisan dana kas.

Sementara, 60 persen usaha mikro kecil terpaksa mengurangi jumlah karyawannya untuk bisa bertahan di tengah pandemi.

"Padahal, data menunjukkan sekitar 120 juta orang atau 88,9 persen tenaga kerja justru diserap oleh UKM bukan bisnis-bisnis besar," ujar Ketua Kadin Bandung Iwa Gartiwa dalam keterangannya, Senin, 29 Maret 2021.

Wakil Ketua Pelaksana Harian Satgas Pemulihan Ekonomi Kota Bandung ini mengungkapkan, kondisi seluruh bisnis di Kota Bandung pun terutama pariwisata dan fesyen menurun drastis.

Persaingan bisnis semakin ketat dan yang bisa bertahan adalah mereka yang telah fasih menggunakan teknologi. Sayangnya sekarang ada keterbatasan dana untuk proses digitalisasi bisnis.

Agar dapat membantu pelaku UKM secara lebih luas, Avana Indonesia bekerja sama dengan Pemkot Bandung dan Satgas Pemulihan Ekonomi Kota Bandung berencana menggelar berbagai program pelatihan digitalisasi bisnis.

Program ini diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan bisnis UKM di Kota Bandung.

Salah satunya program Live Seminar “Pemulihan Ekonomi Pelaku UKM Melalui Transformasi Digital” yang diadakan secara online.

Chief Strategy Officer Avana Indonesia Farid menyatakan pandemi justru bisa dimanfaatkan pelaku UKM untuk mulai beralih ke media online dalam mengembangkan bisnis.

“Untuk mendukung perekonomian lokal, Avana selaku social commerce enabler bisa membantu pelaku UKM berjualan online secara mudah melalui website maupun media sosial serta memanfaatkan puluhan teknologi canggih guna mempermudah pengelolaan toko online mereka,” ujar Farid.

Untuk selanjutnya, Avana Indonesia juga masih berdiskusi lebih lanjut dengan Pemkot Bandung mengenai rencana program yang bisa memberikan manfaat bagi pelaku UKM. Avana merupakan perusahaan yang menyediakan layanan pendukung social commerce dan memiliki visi misi untuk bisa membantu pelaku UKM mengoptimalkan bisnis secara online.

Avana Indonesia berharap agar pelaku UKM berani mengambil langkah awal untuk mendigitalisasi bisnis mereka dan bangkit di tengah pandemi. Kini Avana telah membantu lebih dari 100 ribu pelaku usaha di Indonesia, Malaysia dan Singapura


sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-011689846/88-persen-ukm-kehabisan-dana-akibat-pandemi-covid-19-sebagian-besar-kurangi-karyawan?page=2 

Monday, March 29, 2021

Transformasi Digital Jadi Cara Selamatkan Pelaku UKM dari Dampak Pandemi Covid-19

UMKM. ©2020 Merdeka.com

Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan sektor sosial ekonomi Indonesia. Khusus di Kota Bandung tahun 2020, ekonomi amblas menjadi minus 2,29 persen dari sebelumnya tumbuh 6,75 persen.

Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa mengatakan mayoritas pelaku usaha mikro juga terdampak pandemi Covid-19.. Salah satu yang dirasakan yaitu kehabisan dana kas. Tidak sedikit dari mereka juga yang mengurangi jumlah karyawan untuk bisa bertahan di masa pandemi. Padahal lanjut dia, 120 juta orang bekerja di sektor-sektor UMKM.

"88 persen usaha mikro kini telah kehabisan dana kas dan 60 persen usaha mikro kecil terpaksa mengurangi jumlah karyawannya untuk bisa bertahan di tengah pandemi," kata Iwa dikutip Minggu (28/3).

Dia melanjutkan, kondisi seluruh bisnis di Kota Bandung terutama pariwisata dan fesyen mengalami penurunan drastis. Persaingan bisnis semakin ketat dan hanya mereka yang telah fasih menggunakan teknologi yang mampu.

Sayangnya pelaku usaha memiliki keterbatasan dana untuk melakukan proses digitalisasi bisnis tersebut.

"Yang bisa survive adalah mereka yang telah fasih menggunakan teknologi. Namun justru sekarang terdapat keterbatasan dana untuk melakukan proses digitalisasi bisnis tersebut," kata dia.

Melihat kondisi tersebut perusahaan penyedia layanan pendukung social e-commerce berinisiatif untuk memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM. Chief Strategy Officer AVANA Indonesia, Farid mengatakan pandemi ini harus jadi momentum bagi pelaku usaha untuk melebarkan sayap ke media sosial .

"Situasi pandemi ini justru bisa dimanfaatkan oleh pelaku UKM untuk mulai beralih ke media online dalam mengembangkan bisnis mereka," kata dia.

AVANA selaku social commerce enabler bisa membantu pelaku UKM untuk bisa berjualan online secara mudah melalui website maupun media sosial. Termasuk juga memanfaatkan puluhan teknologi canggih guna mempermudah pengelolaan toko online mereka

Diharapkan pelaku UKM bisa menambah wawasan baru mengenai tren bisnis saat ini serta bentuk upaya transformasi digital yang harus mereka lakukan agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.


sumber : https://www.merdeka.com/uang/transformasi-digital-jadi-cara-selamatkan-pelaku-ukm-dari-dampak-pandemi-covid-19.html
 

Thursday, March 25, 2021

Menkop UKM: Jika Vaksinasi Covid-19 Sukses, UMKM Sektor Ritel Cepat Bangkit

Menkop UKM Teten Masduki. ©2021 Merdeka.com

Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan, vaksinasi Covid-19 yang tengah dilakukan pemerintah dapat memulihkan sektor UMKM secara perlahan.

Hal ini sejalan dengan penelitian dari Mandiri Institute yang menyebutkan masyarakat menengah atas masih belum berani untuk melakukan aktivitas ekonomi secara terbuka meski pada temuan awal, belanja masyarakat tercatat meningkat.

"Jika vaksinasi sukses, UMKM di sektor ritel dan pariwisata dipercaya cepat bangkit," ujarnya dalam Temu Nasional Relawan Jokowi, Kamis (25/3/2021).

Teten melanjutkan, para pedagang dan pelaku UMKM khususnya di sektor ritel dan pariwisata akan menjadi prioritas penerima vaksin Covid-19. Setelahnya, pelaksanaan vaksinasi akan meluas hingga seluruh masyarakat menerimanya.

Ditargetkan, vaksinasi massal ini dapat selesai akhir tahun 2021. Dampak herd immunity atau kekebalan kelompok yang dibentuk pasca vaksinasi ini, lanjutnya, diperkirakan akan terbentuk kuartal akhir tahun 2021.

"Pemulihan terjadi ketika vaksinasi dan distribusinya berjalan cepat. Sangat diharapkan juga dukungan untuk menyukseskan program vaksinasi di tengah banyaknya berita hoaks soal vaksinasi ini," tandasnya.


sumber : https://www.merdeka.com/uang/menkop-ukm-jika-vaksinasi-covid-19-sukses-umkm-sektor-ritel-cepat-bangkit.html

Di Tengah Pandemi Covid-19, Yogya Tetap Promosi Pariwisata

Kegiatan table top sebagai bagian dari promosi wisata Jogja Vaganza 2021. (Foto : Antara )

Di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Yogyakarta tetap gencar melakukan serangkaian promosi pariwisata. Salah satunya menggelar pertemuan bisnis (table top) yang melibatkan 100 pelaku pariwisata sebagai pembeli (buyer).

"Ada banyak tantangan untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata di masa pandemi Covid-19. Salah satu upaya yang kami lakukan saat ini adalah mempromosikan bahwa pariwisata di Yogyakarta dilakukan secara aman dengan menjalankan protokol kesehatan yang disiplin," kata Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Yogyakarta Kadri Renggono saat membuka table top yang menjadi rangkaian acara promosi wisata Jogja Vaganza 2021 di Yogyakarta, Rabu (24/3/2021).

Menurut dia, mempromosikan citra positif pariwisata pada masa pandemi Covid-19 sangat penting dilakukan karena akan memberikan kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan untuk datang dan menikmati suguhan pariwisata di Yogyakarta.

Kadri mengatakan selain pelaku usaha jasa pariwisata seperti destinasi wisata, hotel, restoran, dan usaha jasa lainnya, geliat di sektor pariwisata juga akan mempengaruhi lebih dari 23.000 pelaku usaha kecil menengah (UKM), termasuk 696 kelompok kesenian yang tersebar di 14 kecamatan.

"Ada banyak sektor yang bergantung dari jalannya industri pariwisata di Kota Yogyakarta. Saat sektor ini terdampak pandemi, maka dampaknya pun besar," katanya. Video 2 Kendaraan Terperosok ke Lubang Galian Underpass Kentungan Yogyakarta Sepanjang 2020, jumlah kunjungan wisatawan ke Yogyakarta mengalami penurunan yang signifikan yaitu menjadi 1,3 juta wisatawan. Sedangkan, pada 2019 jumlah kunjungan wisata mencapai 4,3 juta orang dengan jumlah wisatawan mancanegara hampir mencapai 500.000 orang.

Oleh karenanya, lanjut Kadri, perlu dilakukan berbagai upaya untuk kembali membangkitkan sektor pariwisata dengan tetap menjalankan dan mematuhi protokol kesehatan secara ketat sehingga upaya pencegahan COVID-19 tetap bisa optimal namun perekonomian bisa kembali bangkit.

"Melalui Jogja Vaganza ini, saya berharap sektor pariwisata kembali tumbuh. Industri pendukung pariwisata pun bisa begerak karana permintaan pasar naik," katanya.

Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, lanjut dia, juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung promosi pariwisata dengan memamerkan keunggulan yang dimiliki setiap destinasi wisata.

Kota Yogyakarta, lanjut dia, tidak memiliki daya tarik pariwisata alam namun memiliki keunggulan pada kekayaan seni dan budaya, kreativitas warga serta keragaman objek wisata termasuk keberadaan belasan kampung wisata yang unik.

Kegiatan Jogja Vaganza 2021 digelar dengan melibatkan biro perjalanan wisata yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa dan sisanya berasal dari luar Pulau Jawa dengan akses penerbangan langsung sebagai buyer dan seller berasal dari perhotelan, UKM, kampung wisata, serta destinasi wisata di Yogyakarta.

Ketua Panitia Jogja Vaganza 2021 Edwin Ismedi Himna mengatakan sasaran utama wisatawan pada masa pandemi adalah wisatawan domestik, khususnya dari Pulau Jawa sehingga tetap bisa berwisata menggunakan jalur darat.


sumber : https://yogya.inews.id/berita/di-tengah-pandemi-covid-19-yogya-tetap-promosi-pariwisata/2
 

Wednesday, March 3, 2021

UMKM Jabar yang Terdampak Covid 19 Capai 58 Ribu

Ketua Dekranasda Provinsi Jabar Atalia Praratya Ridwan Kamil saat meninjau produk UMKM KKI 2021 di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Rabu (3/3)

Menurut Ketua Dekranasda Provinsi Jabar Atalia Praratya Ridwan Kamil, ada sekitar 58.000 pelaku UMKM Jabar terdampak pandemi Covid-19. Sebanyak 14.000 di antaranya merupakan pelaku UMKM sektor ekonomi kreatif. Ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama membantu UMKM agar berkembang kembali.

"58 ribu UMKM Jabar terdampak COVID-19. 14 ribu di antaranya adalah sektor ekonomi kreatif jadi kita perlu saling kolaborasi untuk mendorong tumbuh kembali UMKM kita," ujar Atalia usai meninjau produk UMKM KKI 2021 di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Rabu (3/3).

Salah satu caranya yang dilakukan untuk mendorong UMKM, menurut Atalia, adalah memperluas kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia yang menyelenggarakan KKI 2021.

"Harus memperluas kerja sama dengan berbagai pihak termasuk kami di Dekranasda dengan dengan BI Jabar yang tidak saja menggelar pameran, tapi juga pendampingan, pelatihan hingga permodalan," katanya.

Atalia pun menyambut baik gelaran kegiatan yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Karena, kegiatan ini bisa diikuti sebanyak 37 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Jawa Barat (Jabar) dalam pameran bertajuk produk Karya Kreatif Indonesia (KKI) Sesi I Tahun 2021. Pameran tersebut resmi dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia bersama sejumlah Menteri secara virtual.

Produk UMKM yang dipamerankan merupakan hasil kurasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jabar. Ada sekitar 1.500 calon pembeli yang hadir secara virtual maupun fisik dalam pameran tersebut.

Selain untuk mendukung gerakan Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Berwisata di Indoensia, keikutsertaan pelaku UMKM pada KKI sesi I 2021 tersebut juga dalam rangka road to Karya Kreatif Jawa Barat (KKJ) 2021 yang akan digelar awal April mendatang. "Showcase atau display produk KKI 2021 juga adalah road to KKJ 2021, harapannya semakin banyak UMKM yang terbantu dan masyarakat bisa memantau produk-produknya," katanya.

Menurutnya, ke-37 UMKM yang mengikuti showcase produk KKI 2021 merupakan UMKM yang bergerak di sektor industri kreatif.

Atalia mengatakan, pihaknya pun intens memperluas pasar bagi pelaku UMKM di tengah pandemi. Salah satunya melalui platform borongdong.id. "Dekranasda tidak memilih UMKM mana yang akan kami bantu yang paling penting mereka mendaftar produknya. Nanti kami coba hubungkan dengan konsumen melalui platform-platform yang ada seperti borongdong.id, dan program lainnya yang ada di Dinas KUK Jabar dan Dekranasda," paparnya.

Menurut Atalia, saat ini, ada sekitar 4.000 UMKM yang tercatat oleh Dekranasda Jabar. Pihaknya pun terus memperbarui data tersebut karena angka tersebut kemungkinan berubah seiring munculnya pelaku UMKM baru.

"UMKM yang tercatat di Dekranasda Jabar ada 4.000-an tapi kami harus cek ulang karena sudah ada yang tidak membuka usaha lagi, dan ada juga yang baru bermunculan. Jadi kami terus meng-update-nya," katanya.

Sementara menurut Kepala Perwakilan BI Jawa Barat, Herawanto, dengan program pengembangan UMKM secara end to end, rangkaian opening ceremony KKI 2021 – Seri 1 di wilayah Jawa Barat juga diisi dengan penandatanganan akad kredit perbankan yang disalurkan bank bjb kepada UMKM mitra Bank Indonesia Jawa Barat Lembang Agri dan MOU kemitraan antara bank bjb dan UMKM mitra Bank Indonesia Jawa Barat.

Acara juga dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan kepada Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) dan penyerahan secara simbolis Sertifikat ASEAN Coffee Federation (ACF) Barista Certification Batch 1.

Dalam rangkaian acara juga ditampilkan pertunjukan angklung yang dipersembahkan oleh salah satu ikon pariwisata Jawa Barat, Saung Angklung Ujo.

Herawanto mengatakan, dalam kegiatan KKI 2021 – Seri 1 yang merupakan bagian kegiatan GBBI dan BWI juga dilaksanakan launching Calendar of Event 2021 yang diinisaisi oleh Pemprov Jawa Barat, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pada siang nanti di Trans Luxury Hotel.

Oleh karena itu, Herawanto menghimbau masyarakat turut meramaikan dan menyukseskan event KKI 2021, Gernas BBI, BWI dan KKJ 2021 dengan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan dan mendorong untuk membeli produk UMKM yang ditawarkan dalam rangkaian event bergengsi tersebut, serta berwisata di Indonesia aja.

"Mari kita dukung upaya percepatan pemulihan ekonomi dengan mendukung Gernas BBI dan BWI melalui pembelian produk UMKM dan berwisata di dalam negeri, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan," katanya.


sumber : https://www.republika.co.id/berita/qpe40m380/umkm-jabar-yang-terdampak-covid-19-capai-58-ribu