Showing posts with label pandemi. Show all posts
Showing posts with label pandemi. Show all posts

Tuesday, February 1, 2022

Rayakan Imlek, Pantjoran PIK Hidupkan Kembali UMKM Tanah Air

 Agung Sedayu Group-Amantara menghadirkan kembali Pantjoran Pantai Indah Kapuk (PIK) dengan tema “The Year of Tiger-The Taste of Heritage” untuk merayakan Imlek 2022.

Tema tersebut diusung pada perayaan Imlek kali ini sebagai bentuk dukungan dan upaya menghidupkan kembali Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tanah Air.


Fasilitas yang bisa menjadi tujuan mengisi liburan Imlek bersama keluarga ini dapat dinikmati sejak tanggal 17 Januari 2022 lewat hiburan walking character, tarian tradisional China, kompetisi tarian, karaoke hingga foto kostum.

Melalui acara ini, pengunjung juga bisa menikmati berbagai sajian nusantara lewat program Hoki 88 yang telah bekerja sama dengan Gopay, mulai tanggal 21 Januari 2022-17 Februari 2022.

Adapun beberapa tempat makan yang bisa dikunjungi di Pantjoran PIK, antara lain Beach Road Scissor Cut Curry Rice, Hawaii Restaurant, Lamian Palace, Maison Weiner Bakery & Café, Santong Kuotieh 68 dan masih banyak lagi.

CEO Hotels and Malls Divisi Agusng Sedayu Group-Amantara Natalia Kusumo mengatakan bahwa pihaknya merasa senang dapat memberikan dukungan perekonomian bagi masyarakat.

“Selain dapat menghibur masyarakat Jakarta, juga dapat terus mendukung perekonomian masyarakat khususnya para pelaku UMKM dengan perluasan area sebesar 13,142 meter persegi yang kami lakukan,,” terang Natalia, dilansir dari siaran pers, Selasa (1/2/2022).

COO Retail and Commercial Divisi Agung Sedayu Group-Amantara Sawitri Setiawan menambahkan, perluasan ruang Pantjoran PIK dilakukan untuk memenuhi antusiasme dan kebutuhan masyarakat dalam menikmati suasana serta pengalaman otentik Chinatown.

Di sini, pengunjung bisa menikmati budaya Tionghoa yang kental akan gaya arsitektural beserta filosofi, warna, inspirasi yang tentu bisa memberikan edukasi.

Lebih lanjut, bukan hanya pet-friendly, Pantjoran PIK juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang lain, seperti toilet, musala dan WiFi.

Selain itu, mengingat perayaan Imlek tahun ini berlangsung di tengah pandemi, pihak pengelola memastikan protokol kesehatan tetap berjalan sesuai dengan aturan.

Agung Sedayu Group-Amantara mempersiapkan semua dengan matang, selalu waspada dan menyesuaikan dengan peraturan Pemerintah yang berlaku.
"Karyawan yang terlibat juga sudah divaksin, di hari pelaksanaan semua melakukan swab berkala dan semua pengunjung wajib menggunakan aplikasi Peduli Lindungi,” klaim Sawitri.

Wednesday, January 26, 2022

Awalnya Terdampak Pandemi, Kedai Kopi Ini Kini Bisa Buka 3 Cabang Baru

 Dampak pandemi COVID-19 terhadap penurunan omzet bisnis hampir dirasakan seluruh pelaku bisnis, tak terkecuali UMKM. Hal itu memaksa pelaku bisnis 'putar otak' untuk mempertahankan bisnisnya dan jika tidak ingin gulang tikar.



Seorang pengusaha kafe kopi yakni Izzuddin Jundi Robbani juga menjadi salah satu yang merasakan hal tersebut. Pemilik 'Stuco Coffee' terpaksa memindahkan lokasi bisnis kopinya.

Coffe Shop tersebut dibangun Izzuddin pada tahun 2019 di kawasan Jakarta Selatan. Namun karena kondisi pandemi, ia memutuskan memindahkan Stuco Coffe ke daerah Bogor.

"Karena kondisi pandemi saya memutuskan menutup toko di Jakarta dan pindah ke Bogor dan membuka cabang pertama di Bogor pada September 2020," tutur Izzuddin kepada detikcom.

Tak disangka, lokasi bisnis barunya itu justru berbuah berkah yang manis baginya. Berselang beberapa bulan kemudian, ia berhasil membuka beberapa cabang baru Stuco Coffee.

"Empat bulan berselang kemudian pada Januari 2021 kami membuka cabang kedua kami di kota Bogor. Kemudian Agustus 2021 kami membuka cabang ketiga kami," ucapnya.

Berkah lainpun dirasakan Izzuddin dengan penjualan yang terbilang lumayan setiap bulannya, yaitu berkisar 7.000 hingga 11.000 produk. Adapun omzet yang bisa didapatnya berkisar antara Rp 180 juta hingga Rp 250 juta per bulan.

Izzuddin menjelaskan bahwa di awal-awal pandemi bisnis kopinya mengalami penurunan penjualan. Ia mengakui saat itu brand bisnisnya pun belum cukup kuat bersaing dengan brand-brand kopi lainnya.

"Namun seiring waktu kami bisa bertahan dan mendapatkan awareness dari pasar kami," jelasnya.

Ia pun berupaya dengan merambah penjualan secara online serta mempertahankan nilai dengan cara memberikan merchandise berisi resep dalam pembelian paket kopi. Kemudian juga memberikan paket makanan khusus sebagai pelengkap kopi yang bisa dinikmati konsumen online-nya.

Selain itu, Izzuddin mengikuti program 'Kembangkan Bisnis Kulinermu' yang diselenggarakan oleh detikcom bersama dengan Kraft Heinz Service Food. Alasannya tentu saja ingin belajar lebih banyak mengenai bisnis kuliner, terutama cara untuk bisnis bisa bertahan di masa pandemi dengan strategi dan inovasi.

Ia pun mengakui bahwa banyak ilmu seputar dunia bisnis yang bisa didapatkan dari program tersebut. Kemudian ia juga berharap bisa mendapatkan pembelajaran lanjutan serta berkolaborasi dengan produk Heinz dalam mengembangkan bisnisnya.

Wednesday, September 1, 2021

Maju Tak Gentar! Upaya Bangkit Pelaku UMKM di Tengah Pandemi

 

Maju Tak Gentar! Upaya Bangkit Pelaku UMKM di Tengah Pandemi

JAKARTA – Ketika pandemi Covid-19 tiba di Indonesia pada tahun lalu, Syarif yang berusia 36 tahun sempat berpikir bahwa dirinya adalah orang paling apes di dunia. Bekerja setiap hari sebagai pegawai di salah satu maskapai penerbangan dalam negeri, Syarif harus menerima nasib dirumahkan dan kehilangan sebagian besar penghasilannya.

“Sementara pengeluaran jalan terus, anak-anak saya masih tetap sekolah dan keluarga tetap butuh makan setiap hari,” keluh Syarif kepada Bisnis, Senin (30/8/2021).

Pertengahan September tahun lalu, Syarif lantas mencoba bangkit dengan merintis bisnis kuliner kecil-kecilan, yang melayani pesan antar via ojek daring (ojol).

Awalnya, hasil dari bisnis itu tak seberapa. Namun lama kelamaan penghasilan Syarif sudah lebih dari sekadar cukup untuk menghidupi keluarganya.

“Dulu memberanikan diri ambil kredit untuk usaha di salah satu [peer-to-peer lending/P2P] online. Sekarang sudah mau lunas, dan syukurnya bisnis sudah mulai balik modal,” imbuh Syarif.

Saat ini Syarif mengaku masih berharap kantor tempatnya bekerja memanggilnya lagi untuk menekuni pekerjaan lama. Namun, bilapun hal itu tidak terjadi, dia sudah siap hidup bergantung 100 persen dengan bisnis rintisannya untuk jangka panjang.

Wahyu (41), yang lebih lama malang melintang sebagai pelaku UMKM, punya pengalaman tidak jauh berbeda. Berdagang roti di dalam mal sejak 6 tahun lalu, Wahyu dihadapkan pada kenyataan pahit ketika sejak tahun lalu pemerintah membatasi jam operasional mal.

Di awal tahun ini, Wahyu memutuskan untuk memindahkan bisnisnya dengan membuka gerai di luar mal dan melayani pesan antar. Tentu saja dengan keberanian menjual jenis-jenis panganan selain roti, seperti kopi susu dan aneka minuman lain, dan menggelontorkan modal yang tidak sedikit.

Seperti Syarif, Wahyu memberanikan diri mengambil kredit usaha lewat salah satu platform P2P lending.

"Saya cukup berhati-hati, tanya-tanya dulu ke teman-teman dekat karena banyak kan gosip kalau pinjaman online berbahaya. Tapi yang saya pakai sudah terverifikasi [OJK] dan sejauh ini baik-baik saja, pembayaran lancar karena alhamdulillah bisnis juga sedang lumayan,” kata Wahyu kepada Bisnis.

Sejak kedatangan pandemi Covid-19, yang membuat interaksi fisik dibatasi, kenaikan permintaan kredit usaha di platform-platform pembiayaan digital memang meningkat pesat.

PT Modal Rakyat Indonesia alias Modal Rakyat misalnya, mengklaim telah berhasil menyalurkan pinjaman Rp660 miliar khusus pada 2020.

Beroperasi pada 2020, per awal Maret lalu pembiayaan Modal Rakyat, yang memang dikhususkan untuk segmen UMKM, telah menembus Rp1 triliun dan seiring berjalannya tahun ini perusahaan optimistis bisa menembus nominal penyaluran kredit Rp2 triliun.

“Ini adalah bukti nyata bahwa penggunaan teknologi secara tepat dan sinergis dengan kondisi pasar dapat mendukung permodalan dan pemberdayaan UMKM secara menyeluruh,” tutur Komisaris Utama Modal Rakyat Wafa Taftazani dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis belum lama ini.

Sebagai informasi, pada 2020, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) diprediksi menyusut hingga 38,14 persen akibat pandemi. Angka tersebut turun pesat dari proporsi 2019, ketika UMKM masih mampu menyumbang 60,3 persen PDB. Ini juga merupakan rekor terkecil kontribusi UMKM terhadap PDB sejak 2010.

Dengan adanya tren geliat pembiayaan segmen UMKM sejak pengujung tahun lalu sampai pertengahan tahun ini, Modal Rakyat berharap kontribusi UMKM bisa maksimal lagi.

“Dalam jangka menengah dan panjang, harapannya ini akan membawa dampak positif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia,” sambung Wafa. Hal serupa disuarakan perusahaan P2P lending lainnya, PT Mitrausaha Indonesia Group alias Modalku.

Terhitung sejak berdiri 5 tahun lalu hingga akhir kuartal I/2021 lalu, Modalku Group mengklaim telah menyalurkan kredit senilai Rp22,4 triliun ke pelaku UMKM di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jumlah pinjaman tersebut telah mencakup 4 juta lebih UMKM.

Untuk memastikan peran memulihkan kinerja UMKM di dalam negeri, co-founder sekaligus direktur Modalku Iwan Kurniawan berkata perusahaannya mengembangkan proyek penelitian bersama konsultan DSInnovative. Penelitian tersebut berfokus untuk memberikan perspektif pendekatan baru dalam merangkul UMKM.

Sejauh ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku bisnis UMKM dapat mengatur arus kas lebih lancar, meningkatkan produksi bisnis, dan menjaga kelancaran operasional harian bisnis melalui pendanaan dari Modalku. Temuan ini didapat melalui survei online dan diskusi melalui telepon terhadap 350 pelaku UMKM yang merupakan peminjam Modalku.

“Melalui terobosan dan pendekatan berbasis teknologi, serta penilaian kelayakan kredit yang sesuai dengan karakteristik UMKM, sektor fintech terutama P2P lending memiliki peran penting dalam mendukung pelaku UMKM yang belum tersentuh akses pendanaan lembaga keuangan konvensional [bank dan multifinance],” kata Iwan dalam keterangan tertulisnya.

Usaha P2P lending menggencarkan pembiayaannya di sisa tahun ini juga mendapat respons positif dari perbankan.

Kini tidak hanya menyalurkan kredit lewat layanan konvensionalnya, perbankan terutama bank-bank berbasis digital mulai aktif menyuntik dana ke platform-platform P2P lending agar dapat menjangkau pelaku usaha.

PT Bank Jago Tbk. (ARTO) salah satunya, sejauh ini telah melakukan penyuntukan dana ke sejumlah fintech. Hampir Rp500 miliat dikucurkan perusahaan pada tahun ini untuk platform-platform seperti Modal Rakyat, Akseleran hingga Paper.id.

Hal serupa dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) alias BRI Agro, yang mengusung misi sebagai home of fintech.

“Pelaku UMKM adalah salah satu pilar pemulihan ekonomi di Indonesia. Ke depan, BRI Agro berharap dapat memperbanyak kolaborasi dengan penyelenggara teknologi finansial digital,” ujar Direktur Ritel Agri dan Pendanaan BRI Agro Sigit Murtiyoso saat menandatangani perjanjian dengan Modalku pada awal Mei lalu.

Berbagai upaya dan sinergi antara UMKM dan industri keuangan digital untuk memulihkan perekonomian di tengah pandemi sejalan dengan mandat pemerintah. Hal ini belum lama juga ditekankan lagi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.

"Kita akan berdampingan dengan Covid-19 dalam jangka waktu yang belum bisa kita pastikan. Perlu kerja sama yang dipercepat, dengan protokol kesehatan, dan memanfaatkan semua kemampuan termasuk teknologi digital. Pemulihan [lewat digitalisasi] bisa dilakukan di bidang ekonomi yaitu dengan menaikkan produktivitas," kata Muhadjir dalam konferensi pers virtual Senin (30/8/2021).

Bersamaan dengan peningkatan secara berkala kapasitas vaksin dan pelaksanaan vaksinasi, Muhadjir yakin pemanfaatan teknologi dan digitalisasi akan menjadi rumus yang tepat bagi Indonesia untuk bertahan sampai pandemi lewat.

Hingga Senin (30/8/2021) dari sisi vaksinasi, data Satgas Penanganan Covid-19 BNPB merekapitulasi penyuntikan vaksin dosis kedua telah mencapai 35.315.460 warga atau setara 16,95 persen target, sementara untuk dosis pertama telah mencapai 62.294.896 warga atau setara 29,91 persen dari total target 208.265.720 warga.

Sumber : https://m.bisnis.com/ekonomi-bisnis/read/20210831/9/1436003/maju-tak-gentar-upaya-bangkit-pelaku-umkm-di-tengah-pandemi

Tuesday, August 3, 2021

Berikut 4 Cara untuk Optimalkan UMKM Milik Kamu!

 

Berikut 4 Cara untuk Optimalkan UMKM Milik Kamu!

Sudah hampir dua tahun kita bertahan hidup di tengah pandemi. Dampak yang dirasakan tentunya bukan cuma di sektor kesehatan saja, sektor ekonomi pun ikut terpukul dan hal ini terjadi di seluruh wilayah Tanah Air.

Hal ini tentunya membuat para pelaku UMKM harus bekerja lebih keras agar dapat bertahan. Dampak pandemi ini tentunya sangat mempengaruhi omset penjualan para pelaku UMKM. Buat kamu yang memiliki usaha sendiri, jangan patah semangat. Yuk, simak 4 cara ini agar usaha yang dijalankan dapat bangkit di tengah keterbatasan!

1. Memanfaatkan Media Sosial dan Etalase Digital Lainnya

Di era digital seperti sekarang, media sosial adalah salah satu ujung tombak krusial dalam berbisnis. Keberhasilan mengelola media sosial dan etalase digital lainnya akan berbanding lurus dengan berhasilnya UMKM.

Selain Instagram dan Twitter, memanfaatkan marketplace dan e-Commerce akan menguatkan brand image dari bisnis kamu, lho. Jika memiliki kesempatan, pengusaha pun bisa mengelola website miliknya sendiri agar membuat UMKM semakin paripurna.

2. Mengadopsi Tren yang Sedang Berkembang

Kalau kamu sudah menggunakan media sosial hingga website, konten yang ada di dalamnya nggak boleh sembarangan. Target pasar akan semakin tertarik dengan bisnis yang dijalankan ketika kamu berhasil menghasilkan konten yang relatable di media sosial.

Oleh sebab itu, mengadopsi tren yang sedang berkembang akan membuat target pasar melirik produk yang ditawarkan. Contoh kecilnya adalah mengadopsi tren K-Pop untuk bisnis busana, atau ikut menyemarakkan ajang sepak bola internasional jika kamu memiliki produk cemilan. Nggak hanya dari produk, adopsi tren juga bisa dilakukan pada packaging produk milikmu. Menarik untuk dicoba, ya!

3. Bergabung dengan Komunitas sebagai Sarana Berbagi Antar Pelaku UMKM

Peran komunitas nggak bisa dianggap remeh. Banyaknya pelaku UMKM yang berkumpul dalam satu komunitas, dapat memiliki banyak keuntungan lantaran memiliki kesamaan satu sama lain.

Pemilik usaha bisa lebih mudah berbagi pengalaman dari pra produksi hingga tahap penjualan jika dalam satu komunitas. Bahkan bila beruntung, kamu bisa mendapatkan pasokan kebutuhan produksi hingga pelanggan baru dari komunitas tersebut.

4. Memanfaatkan Sarana Pelatihan, Konsultasi, dan Literasi Keuangan

“Never stop learning!” Quote tersebut sudah semestinya diterapkan oleh siapapun termasuk pelaku UMKM. Memanfaatkan sarana pelatihan dan konsultasi bisnis bisa menambah pengetahuan serta pemahaman tentang dunia bisnis.

Untuk memfasilitasi sepak terjang terjang para pelaku UMKM di Indonesia, BRI menghadirkan platform online bernama Link UMKM. Semua hal yang dibutuhkan pelaku UMKM bisa didapatkan melalui Platform Pemberdayaan UMKM Terpadu ini. Pastinya Link UMKM dibuat dengan tujuan membawa UMKM Indonesia naik kelas lewat rangkaian program di dalamnya.

Dengan kemudahannya yang dapat diakses via website serta aplikasi smartphone, Link UMKM akan memberikan banyak hal buat pelaku UMKM. Seperti update informasi di UMKM Media; memfasilitasi menu pelatihan serta konsultasi bisnis via UMKM Pedia; menghadirkan komunitas untuk memperluas jaringan kerja; serta menampilkan produk di etalase digital yang bisa diakses siapa saja.

Nggak hanya itu saja, pelaku UMKM juga bisa menikmati fasilitas lain seperti Program Terpadu UMKM Naik Kelas, Rumah BUMN untuk mendapatkan informasi terkait pelatihan bisnis, Modul Pelatihan, hingga beberapa tes serta reward yang akan diberikan. Semua hal yang diperlukan pelaku UMKM dalam mengembangkan bisnisnya bisa didapatkan melalui Link UMKM ini.

Yuk, buruan daftarkan dirimu di Link UMKM dengan cara registrasi langsung pada website Link UMKM dengan cara klik di sini, serta mengisi data diri. Jika sudah terdaftar, kamu bakal memiliki Kartu Anggota Link UMKM yang berisi profil lengkap diri serta QR Code dan nomor keanggotaan sebagai identifikasi. Dapatkan informasi lengkap tentang Link UMKM dengan cek Instagram @bankbri_id, atau kunjungi website resmi BRI.

Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-012329092/berikut-4-cara-untuk-optimalkan-umkm-milik-kamu?page=2

Sunday, August 1, 2021

Gubernur Dorong UMKM Manfaatkan Teknologi di Masa Pandemi

 

Gubernur Dorong UMKM Manfaatkan Teknologi di Masa Pandemi

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan teknologi informasi guna memperluas pasar di masa pandemi Covid-19.

“Sebenarnya UMKM bisa cepat berkembang jika didukung oleh sektor pariwisata, namun dalam masa pandemi ada banyak pembatasan penggunaan teknologi informasi menjadi pilihan yang lebih bijak,” ungkap Mahyeldi saat bersilaturahmi dengan UMKM salingka Danau Maninjau di SMA Negeri 1 Tanjung Raya Kabupaten Agam, Jumat (30/7/2021).

Lebih lanjut Mahyeldi mengatakan media sosial bisa menjadi salah satu sarana untuk memperluas pasar bagi UMKM. Konsumen tidak perlu datang langsung untuk berbelanja tetapi bisa memanfaatkan jasa pengiriman.

UMKM juga bisa bermitra dengan beberapa platform digital yang sudah masuk ke kabupaten dan kota di Sumbar sehingga minimnya pemasaran di masa pandemi bisa ditanggulangi.


“Kita juga punya paltform belanja sendiri di antaranya bajojo.id. Ini juga bisa dimanfaatkan oleh UMKM untuk memperluas pasar,” katanya.

Ke depan setelah pandemi Covid-19 berakhir Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Agam akan mengupayakan menyelenggarakan beberapa event pariwisata di Danau Maninjau untuk memancing kembali wisatawan datang berkunjung.

Dalam kesempatan itu Gubernur meminta masyarakat sekitar danau untuk sama-sama menjaga kebersihan danau dari pencemaran sehingga kembali menarik bagi wisatawan.

“Danau Maninjau ini sangat indah namun karena pencemaran, wisatawan menjadi enggan untuk datang. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, tidak hanya masyarakat tetapi juga pemerintah kabupaten dan Pemprov Sumbar,” ujarnya.

Kemudian, Anggota DPRD provinsi Sumbar Rinaldi mengatakan digitalisasi UMKM menjadi salah satu program yang akan didorong oleh legislatif untuk segera dilaksanakan.

“Kita upayakan program ini masuk ke kegiatan di Pemprov Sumbar 2022 agar sumber daya manusia pelaku UMKM bisa ditingkatkan sehingga menjadi melek teknologi,” katanya.

Dengan demikian UMKM diharapkan bisa berkembang dengan pesat sehingga menjadi salah satu lokomotif perekonomian daerah.

Sumber : https://covesia.com/archipellago/114944/gubernur-dorong-umkm-manfaatkan-teknologi-di-masa-pandemi/
 

Pandemi, UMKM Didorong Bangkit dengan Inovasi dan Teknologi

 

Pandemi, UMKM Didorong Bangkit dengan Inovasi dan Teknologi

 Jakarta - Di masa pandemi Covid-19, usaha mikro kecil menengah (UMKM) didorong agar bangkit dengan inovasi dan teknologi. UMKM perlu mengembangkan platform digital seiring perubahan perilaku masyarakat.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani mengatakan bahwa, sektor usaha yang terkena dampak pemberlakukan pembatasan kegiatan masyakarat (PPKM) yakni ritel, restoran, transportasi, dan sektor jasa lain seperti pariwisata, hiburan, serta sektor yang membutuhkan interaksi langsung dengan konsumen.

Untuk kembali bangkit dalam kondisi ini diperlukan langkah prioritas jangka pendek dengan menciptakan kegiatan dan mendorong masyarakat beralih ke platform digital (online) untuk memperluas kemitraan. "Upaya lainnya kerja sama dalam pemanfaatan inovasi dan teknologi yang dapat menunjang perbaikan mutu dan daya saing produk, proses pengolahan produk dan kemasan, dan sistem pemasaran," kata dia dalam keterangan tertulisnya Kamis (29/7/2021).

Dengan semangat mengedukasi UMKM di era pandemi, Exabytes Indonesia menghadirkan SME DigitalFest 2021 untuk mendukung gerakan UMKM go digital.

Dengan tema SME DigitalFest : Digital Transformation of Business 2.0, acara yang dijawalkan 31 JUli 2021 ini akan menjadi konferensi interaktif dan menyampaikan informasi mengenai perkembangan terkini UMKM di Indonesia. Event ini juga tren terkini menjalani bisnis secara online hingga kisah yang menginspirasi.

Country Manager, Exabytes Indonesia Indra Hartawan mengatakan event ini diharapkan membantu UMKM/UKM bangkit dalam era pandemi dan dapat membuka peluang bagi industri untuk kreatif dalam memaksimalkan sumber daya teknologi. "Exabytes siap membantu para UMKM/UKM menghadapi inovasi teknologi,” kata dia.

Sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/806955/pandemi-umkm-didorong-bangkit-dengan-inovasi-dan-teknologi

Thursday, July 29, 2021

Pelatihan Pemasaran Digital UMKM Ditingkatkan Selama Pandemi

Pelatihan Pemasaran Digital UMKM Ditingkatkan Selama Pandemi

Jakarta - Pemerintah DKI Jakarta memperbanyak pelatihan pemasaran dan literasi digital para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM yang tergabung dalam wadah pengembangan wirausaha Jakpreneur agar mampu bertahan selama pandemi COVID-19. “Banyak UMKM kualitasnya bagus namun kemasan kurang bagus. Ini dianggap sebelah mata masyarakat, ini tantangan kita,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil dan Menengah DKI Jakarta Andri Yansyah di Jakarta, Rabu, 28 Juli 2021.

Pakar digital melatih pelaku usaha membuat foto dan video dalam memasarkan produknya misalnya melalui media sosial. “Pelatihan tentang pemasaran online, angle fotonya seperti apa dan videonya seperti apa.”

Dinas juga melatih pelaku UMKM mengenai literasi digital mencermati pesatnya transaksi belanja daring yang saat ini menjadi budaya saat pandemi COVID-19. “Untuk meningkatkan kecakapan digital kami banyak bekerja sama dengan ‘e-commerce’, ‘start up’ dan pakar digital untuk memberikan pelatihan kepada Jakpreneur binaan.”

Pemerintah mencatat dari total sekitar 64,2 juta pelaku UMKM di Tanah Air, baru sekitar 13 persen atau sekitar 8,3 juta di antaranya yang memanfaatkan teknologi digital. Upaya UMKM perlu terus ditingkatkan apalagi di tengan pandemi COVID-19 yang memberi dampak signifikan kepada usaha mikro dan kecil.

“Pandemi sangat memukul pelaku usaha mikro dan kecil. Ada dua tantangan terbesar saat ini yakni kualitas dan literasi digital.”

Dengan kondisi persaingan pasar yang makin ketat itu, maka UMKM khususnya di DKI Jakarta dituntut untuk bersaing tak hanya dengan pelaku UMKM dalam negeri tapi juga secara global. “Mutu menjadi aspek yang perlu dikedepankan untuk dapat bertahan dan berkembang." UMKM harus memberikan yang terbaik mulai proses produksi, pengemasan dan pemasaran.

Sebanyak 260 ribu pelaku UMKM di Ibu Kota ikut bergabung dalam program pengembangan kewirausahaan, Jakpreneur. Pelaku usaha yang bergabung dalam Jakpreneur itu tidak dipungut biaya dalam program pembinaan dan pengembangan usaha melalui program P7 yang meliputi pembinaan hingga bantuan pemasaran dan akses permodalan.

Sumber : https://metro.tempo.co/read/1488288/pelatihan-pemasaran-digital-umkm-ditingkatkan-selama-pandemi/full?view=ok

 

Pemkot Jaksel libatkan 300 pelaku UKM ikut bazar daring

 

Pemkot Jaksel libatkan 300 pelaku UKM ikut bazar daring

 Jakarta - Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan melibatkan sekitar 300 pelaku usaha kecil menengah (UKM) untuk mengikuti bazar daring bertajuk "Blanjajaksel" pada 24 hingga 29 Juli 2021.

Kepala Seksi Perdagangan, Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah (PPKUKM) Abdi Nusa di Jakarta, Kamis, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu pelaku UKM dalam memasarkan produknya kepada masyarakat.

"Jadi Juli ini ada 300 UKM yang terlibat. Adapun tujuan Blanjajaksel untuk memasarkan produk mereka terutama di masa pandemi guna mendongkrak pendapatan juga," kata Abdi.

Menurut dia, para pelaku UKM yang berpartisipasi merupakan binaan Suku Dinas PPKUKM.

Dia mengatakan untuk dapat membeli produk yang dipasarkan, masyarakat dapat mengakses laman www.blanjajaksel.com lalu memilih produk yang ingin dibeli mulai 24-29 Juli. Produk yang dibeli akan dikirim pada 30-31 Juli.

Abdi mengatakan produk-produk yang dijual antara lain fesyen, kuliner, dan kerajinan tangan.

"Jadi sistemnya masyarakat pesan dulu, lalu pelaku UKM menyiapkan barangnya. Kenapa, karena untuk meminimalkan kerugian mereka," kata Abdi.

Dia mengungkapkan pada tahun 2021, kegiatan bazar daring tersebut telah berlangsung pada Maret, April, dan Mei yang diikuti 300 hingga 700 UKM.

"Jadi kita sudah jalankan tiga kali, tapi Juni lalu tidak jalan," kata dia.

Dia berharap program ini dapat mendorong para pelaku UKM untuk memasarkan produk mereka secara daring agar memaksimalkan penjualan di tengah pandemi.

Sumber : https://m.antaranews.com/berita/2295620/pemkot-jaksel-libatkan-300-pelaku-ukm-ikut-bazar-daring

Thursday, April 8, 2021

Ketahanan UMKM Diuji di Tengah Pandemi, E-Commerce Jadi Solusi

Kredit Foto: Unsplash/Maarten van den Heuvel

Bagaimana peran marketplace daring (online) dalam membantu bisnis mikro (UMKM) di Indonesia bertahan selama pandemi? Apakah dampaknya signifikan?

Berdasarkan hasil studi kualitatif NeuroSensum, ketika lini penjualan luring (offline) mereka turun, penjualan daring mereka justru meningkat. Samuel, salah satu pedagang pakaian di Tanah Abang mengakui hal itu.

Bisnis mikro Samuel terdampak oleh Pembatasan Sosial Skala Besar 2020. "Kalau gak ada online mungkin tahun lalu saya sudah gulung tikar kali. Pas PSBB kan Tanah Abang ditutup, barang yang saya timbun ada 10M, kalau gak ada online saya bangkrut," ujarnya, dikutip Kamis (8/4/2021).

Padahal, UMKM berperan besar dalam menggerakkan roda ekonomi Indonesia. Di era teknologi digital, peran marketplace daring kemudian menjadi penting dalam menjaga ketahanan UMKM Tanah Air.

Associate Director Neurosensum Indonesia, Grace Oktaviana mengatakan, "Kami menjumpai sejumlah tantangan bagi UMKM, di mana mereka harus berpikir cepat untuk bertransformasi secara digital. Bergabung dengan online marketplace berhasil menolong mereka."

Dalam studi itu, Neurosensum menemukan 3 tantangan utama bagi perkembangan UMKM. Apa saja tantangan itu?

1. Tantangan Edukasi dan Pendampingan.

Perlu ada optimalisasi fitur-fitur yang di dalam aplikasi marketplace daring agar dampaknya maksimal terhadap UMKM. Menurut pelaku UMKM, edukasi penjual begitu membantu membimbing mereka mengembangkan bisnis.

Salah satu bentuk pelatihannya ialah menganalisis tren melalui fitur di marketplace daring sehingga para penjual dapat mengetahui produk yang sedang dan akan tren di pasar.

2. Tantangan Operasional Guna Tingkatkan Kapasitas Produksi

UMKM memerlukan fasilitas memadai untuk produksi dan penyimpanan barang dalam skala lebih besar sehingga kualitas produk dapat terjaga dengan baik.

Saat volume penjualan terus meningkat dan perputaran pesanan cepat dari platform daring, pelaku UMKM perlu menyeimbangi dengan pencatatan stok dan pengemasan barang yang baik sehingga kepuasan pelanggan dapat terjaga.

Dengan bertambahnya jumlah pesanan, pelaku UMKM juga menemui kendala dalam mencari lahan baru untuk menyimpan stok dagang mereka.

"Sekarang itu kendalanya saya di gudang. Gudangnya gak muat. Rumah saya sendiri sudah full buat stok manual. Terus saya kontrak di sebelah rumah punya saudara, itu sudah full dengan barang juga," kata Alif, pedagang kerudung di Probolinggo.

3. Tantangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Pengembangan SDM tidak hanya dari sisi kuantitas, tapi UMKM juga harus mempersiapkan SDM berkompeten, berintegritas, dan mampu mengelola tim seiring dengan perkembangan bisnis.

Apalagi, survei Neurosensum tentang ramadan 2021 menunjukkan potensi peningkatan pembelian oleh konsumen. Riset itu menyebut, aktivitas belanja daring pada ramadan 2021 akan meningkat 37% daripada tahun sebelumnya (33%).

48% memilih belanja kebutuhan sehari-hari secara daring saat Ramadhan 2021, sedangkan 33% konsumen membeli barang-barang selain barang kebutuhan sehari-hari. Angka tersebut lahir karena kecemasan konsumen berbelanja luring dan memilih tetap di rumah karena pandemi belum mereda.

Kanal belanja daring kini cukup penting bagi keseharian konsumen. Neurosensum Annual Ramadhan Spending Tracker 2021 menemukan fakta, 82% konsumen berupaya menemukan barang, 80% melakukan riset produk, 69% mencari diskon, dan 66% melakukan pembelian produk.

Artinya, para pelaku UMKM yang berjualan di marketplace daring berpeluang dan cukup optimis untuk memasarkan produk-produknya ke konsumen.

Marketplace daring berperan penting dalam pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM di Indonesia. Dengan memanfaatkan fitur dan layanan marketplace, UMKM dapat terus tumbuh dengan lebih baik lagi.


sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/read335888/ketahanan-umkm-diuji-di-tengah-pandemi-e-commerce-jadi-solusi 

Survei: Hanya 33,3 Persen UKM Bertahan Lebih dari 1 Tahun Jika Pandemi Berlanjut

UMKM. ©2020 Merdeka.com

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani mengatakan, saat ini hanya ada 33,3 persen usaha kelas menengah yang mampu mempertahankan bisnis lebih dari 1 tahun. Dengan catatan jika pandemi Covid-19 terus berlanjut hingga akhir 2021 mendatang.

"kalau kondisinya (pandemi) seperti ini tidak ada perubahan sampai (akhir 2021) sepertiga (usaha menengah) bisa bertahan lebih dari 1 tahun," ungkap dia dalam webinar bertajuk Indonesia Macroeconomic Update 2021, Kamis (8/4).

Sedangkan untuk menjaga kelangsungan bisnisnya, mayoritas pelaku usaha menengah melakukan efisiensi biaya operasional. Salah satunya dengan mengurangi jumlah karyawan. "Jadi, menyusutkan jumlah tenaga kerja itu yang paling besar," ucap dia menekankan.

Selain itu, pelaku usaha menengah juga terpaksa mengurangi kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan selama pandemi berlangsung. Hal ini terpaksa dilakukan demi mengurangi biaya produksi perusahaan. "Lalu, cara lainnya melakukan penyesuaian kuantitas dan kualitas (produk)," bebernya.

Sebagai informasi, survei oleh Apindo ini dilakukan pada Januari 2021. Survei sendiri melibatkan 600 usaha menengah dari anggota Apindo.


sumber : https://www.merdeka.com/uang/survei-hanya-333-persen-ukm-bertahan-lebih-dari-1-tahun-jika-pandemi-berlanjut.html

Wednesday, March 31, 2021

Solusi Bisnis Menghadapi Masa Pandemi

ILUSTRASI.


Pandemi mengubah proses bisnis dalam skala besar dan dampaknya akan terus terlihat bahkan pasca pandemi.

Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan termasuk bisnis. Pandemi yang telah berjalan lebih dari satu tahun telah membuat pelaku usaha, khususnya UKM,harus beradaptasi terhadap perubahan proses bisnis yang kini semakin meminimalisir kontak langsung. Hampir semua proses bisnis mulai dari distribusi, marketing, hingga kerja sama dengan pihak lain menjadi berubah dan harus mengikuti protokol kesehatan.


“Pandemi COVID-19 telah mengubah lansekap bisnis di seluruh dunia. Kemampuan perusahaan dan organisasi untuk dapat memaksimalkan mobilitas adalah salah satu kunci agar tetap dapat survive di masa pandemi ini,” ujar Jimmy Lin, ASUS Regional Director Southeast Asia.

Bekerja secara mobile bukan lagi menjadi tren, tetapi telah menjadi kebutuhan. Keterbatasan ruang gerak karena adanya aturan untuk menjaga kontak fisik selama masa pandemi COVID-19 membuat hampir seluruh proses bisnis dilakukan secara online. Tren proses bisnis dan bekerja secara online diprediksi akan terus digunakan bahkan pasca pandemi. Salah satu faktor yang mendukung hal tersebut adalah para pelaku bisnis di Indonesia ternyata sudah siap dengan kegiatan bekerja dari rumah secara online (WFH).

Indonesia Paling Siap untuk WFH

Delapan dari sepuluh (78%) pelaku bisnis UKM di Indonesia menyatakan mereka siap untuk memberlakukan kegiatan work from home (WFH) yang sebagian besar disebabkan oleh pandemi COVID-19. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Hal tersebut diungkapkan dalam acara IDC & ASUS Webcast 2021: Digital Transformation in the Next Normal yang digelar secara online pada tanggal 18 Maret 2021.

Riset tersebut dilakukan berdasarkan hasil survey “IDC Asia/Pacific Laptops and Workspace Trends Survey 2020” yang dilakukan pada pertengahan tahun 2020 silam. Survey dilakukan kepada 10 negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Survey tersebut dilakukan untuk menemukan apa saja kendala dalam menjalankan kegiatan WFH serta bagaimana perusahaan melakukan distribusi laptop dan perangkat pendukung kegiatan WFH lainnya. Survey juga melibatkan 2018 koresponden yang terbagi dalam kedua kelompok, yaitu para pengambil keputusan di bidang IT dan para pekerja yang menggunakan laptop.

Tidak seperti Indonesia, survey yang dilakukan IDC mengungkapkan bahwa wilayah Asia Pasifik lainnya cenderung tidak siap dengan tren “bekerja dari mana saja” yang diperparah dengan kondisi pandemi COVID-19. Rata-rata hanya sebanyak 28% persen pelaku bisnis UKM di Asia Pasifik yang sudah siap apabila karyawannya harus terus melakukan WFH bahkan setelah pandemi COVID-19 selesai. Sementara sebanyak 40% pelaku bisnis UKM masih ingin karyawannya tetap kembali bekerja dari kantor.

Beberapa kendala jangka pendek dalam WFH yang diungkapkan oleh para pelaku usaha di antaranya adalah masalah pada keamanan, operasional, kolaborasi dan komunikasi, serta produktivitas. Namun pernyataan tersebut juga memunculkan fakta bahwa sebagian besar pelaku usaha hanya memikirkan jangka pendek dan tidak memberikan karyawannya perangkat yang tepat untuk melakukan WFH.

ASUS memprediksi bahwa kesiapan Indonesia dalam menghadapi WFH dapat lebih tinggi dibandingkan negara lainnya karena pelaku bisnis UKM sudah terbiasa dengan berbagai faktor yang membuat karyawan sering diminta untuk bekerja dari rumah. Beberapa faktor tersebut di antaranya adalah bencana alam seperti bajir, gempa, dan gunung meletus yang sering terjadi di Indonesia. Sementara faktor lainnya adalah infrastruktur yang masih tertinggal membuat kemacetan besar sering terjadi dan memaksa karyawan untuk dapat produktif di manapun.

Tantangan WFH Bagi Pelaku Usaha

Meski 84% pelaku bisnis UKM di Indonesia menyatakan siap dengan kegiatan WFH selama pandemi COVID-19 dan telah menyediakan perangkat serta dukungan terhadap karyawannya, kurangnya jaringan internet yang memadai serta masalah pada pemilihan perangkat yang kurang memadai merupakan tantangan baru yang harus dihadapi pelaku bisnis UKM. Kedua permasalah tersebut membuat pelaku bisnis UKM banyak melakukan investasi dalam pengadaan perangkat yang membantu karyawannya untuk lebih produktif saat melakukan WFH. Meski demikian, sistem dan infrastruktur IT yang masih tertinggal serta tingginya harga yang harus dibayarkan menimbulkan tantangan lainnya.

Berikut beberapa poin lain yang diungkapkan dalam survey IDC untuk ekosistem UKM di Indonesia:

- Indonesia memiliki proporsi besar dalam hal penggunaan perangkat pribadi untuk WFH (35%).

- Sebagian besar pelaku bisnis UKM di Indonesia (62%) mengatakan laptop perusahaan akan diganti ketika teknologi dan fitur baru benar-benar menjamin adanya peningkatan.

- Sebanyak 84% pelaku bisnis UKM di Indonesia menyediakan perangkat standar untuk bekerja kepada karyawannya.

- Sebanyak 68% pelaku bisnis UKM mengatakan akan meningkatkan investasi pada laptop di tahun 2022.

- 78% pelaku dan karyawan UKM di Indonesia melakukan video conference melalui laptop dan masih menggunakan kamera serta mikrofon built-in, lebih tinggi dari angka rata-rata di Asia Pasifik yaitu 74%. Artinya, pelaku UKM di Indonesia lebih memilih laptop dengan kualitas webcam dan mikrofon yang lebih baik.

Solusi ASUS untuk Menghadapi Pandemi

Sebagai produsen laptop ternama serta pemimpin pasar laptop di Indonesia, ASUS memiliki serangkaian produk yang dapat menjadi solusi bagi pelaku bisnis dalam menghadapi masa pandemi. Solusi ASUS berupa produk commercial yaitu ExpertBook untuk laptop serta ExpertCenter untuk PC desktop dan All-in-One (AiO). Keseluruhan produk tersebut tidak hanya sekadar hadir dengan desain yang tangguh dan performa terbaik di kelasnya, tetapi juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang telah teruji dan memiliki nilai Cost To Ownership (CTO) yang tinggi.

“ASUS memiliki serangkaian produk komersial yang sangat lengkap dan andal untuk berbagai kebutuhan bisnis Anda. Berbeda dengan produk consumer, jajaran produk komersial ASUS dirancang khusus untuk keprluan bisnis dan hadir dengan fleksibilitas yang tinggi sehingga dapat disesuaikan dengan skala serta kebutuhan di berbagai lini bisnis,” ujar Jimmy menambahkan.

ASUS ExpertBook merupakan jajaran laptop komersial yang dirancang khusus untuk kebutuhan bisnis dan sangat ideal untuk menunjang kegiatan WFH. Keunggulan utama ASUS ExpertBook terletak dari desainnya yang tangguh namun tetap mempertahankan bentuk modern yang ringkas dan ringan. Selain itu, seluruh jajaran ASUS ExpertBook juga dilengkapi dengan sistem keamanan berlapis dari mulai dari penggunaan TPM 2.0 untuk enkripsi hingga sistem biometrik untuk login.

Salah satu produk unggulan ASUS ExpertBook adalah ExpertBook B9 Series yang merupakan laptop bisnis paling ringan di dunia. ExpertBook B9 tidak hanya memiliki bobot di bawah 1Kg, tetapi juga hadir dengan dimensi yang sangat ringkas dan tipis sehingga sangat mudah dibawa bepergian. ExpertBook B9 juga merupakan laptop bisnis ultra-ringkas dengan daya tahan baterai yang sangat panjang yaitu hingga 24 jam penggunaan, memungkinkan penggunanya untuk tetap dapat beraktivitas seharian tanpa perlu khawatir dengan daya baterai.

Dibekali prosesor terkini yaitu hingga 11th Gen Intel Core, ExpertBook B9 mampu tampil dengan performa terbaik di kelasnya. Ditambah dengan durabilitas tinggi tersertifikasi US Military Grade (MIL-STD 810G) serta dilengkapi sistem keamanan kelas enterprise, ExpertBook B9 adalah laptop bisnis terbaik untuk bekerja secara mobile.

ASUS juga memiliki ExpertBook P1, ExpertBook P2, dan ExpertBook P5 yang juga memiliki fitur keamanan serta durabilitas serupa dengan ExperBook B9. Keunggulan ketiga laptop bisnis tersebut terdapat pada fleksibilitasnya, dimana opsi upgrade yang lebih banyak membuat ketiganya sangat fleksibel untuk berbagai kebutuhan bisnis. Opsi upgrade yang luas juga membuat nilai CTO pada lini ExpertBook semakin tinggi karena perusahaan dapat selalu menyesuaikan spesifikasi dengan kebutuhan bisnisnya.

Sementara ExpertCenter merupakan jajaran PC desktop dan AiO kelas bisnis dari ASUS yang dilengkapi dengan fitur serta opsi upgrade yang sangat melimpah. Jajaran ExpertCenter juga hadir dengan durabilitas yang tinggi, didukung oleh hardware yang tangguh, serta mengantongi sertifikasi US Military Grade (MIL-STD 810G). Durabilitasnya yang tinggi serta opsi upgrade yang berlimpah pun membuat nilai CTO pada jajaran ExpertCenter lebih tinggi ketimbang PC desktop pada umumnya.

Salah satu produk terbaru dari jajaran ExpertBook adalah ExpertCenter D5 SFF (D500SA), yaitu PC desktop dengan desain small form-factor dan sangat cocok digunakan sebagai perangkat komputasi andalan yang tidak memakan banyak ruang.

Meski memiliki bentuk yang minimalis dan hemat ruang, ExpertCenter D5 SFF (D500SA) tetap andal untuk menunjang berbagai kebutuhan bisnis dan memiliki durabilitas tinggi. Sama seperti saudaranya yaitu ExpertCenter D3 Tower (D300TA), ExpertCenter D5 SFF (D500SA) telah mengantongi sertifikasi uji ketahanan militer AS (MIL-STD 810G).

Tidak hanya itu, ExpertCenter D5 SFF (D500SA) juga tetap menawarkan opsi upgrade yang berlimpah. Selain itu ASUS memberikan fitur hassle-free upgrade, yaitu fitur yang memungkinkan pengguna ExpertCenter D5 SFF (D500SA) untuk mengganti SATA HDD dan SSD, serta ODD (Optical Disk Drive) tanpa menggunakan alat bantu tambahan. Fitur tersebut sangat penting bagi pelaku bisnis dimana upgrade komponen terutama untuk media penyimpanan (storage) dan ODD lebih sering dilakukan. Selain storage dan ODD, pengguna ExpertCenter D5 SFF (D500SA) juga dapat melakukan upgrade pada RAM, menambahkan kartu grafis dan WiFi card.

Didukung oleh prosesor 10th Gen Intel Core, ExpertCenter D5 SFF (D500SA) merupakan PC desktop kelas bisnis dengan performa powerful untuk menunjang berbagai aktivitas kantoran. Selain hadir dengan opsi konfigurasi dengan kartu grafis tambahan dan penggunaan SSD, ASUS juga menyediakan opsi RAM berkapasitas hingga 64GB.

Dukungan Penuh

Selain produk berkualitas, jajaran produk komersial ASUS juga didukung oleh layanan terbaik. ASUS menawarkan opsi perpanjangan masa garansi hingga 5 tahun untuk lini produk commercial mencakup layanan Pick-Up & Return (PUR), juga On Site Service (OSS). Sehingga pengguna tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan layanan service dari ASUS. Untuk mendukung program OSS hingga 5 tahun, ASUS juga terus memperluas jangkauan hingga ke kota kabupaten. Kini, teknisi berpengalaman ASUS siap mengunjungi anda sekalipun jarak anda ke service center terdekat mencapai 150Km.

Produk komersial ASUS juga dilindungi oleh garansi tambahan untuk kerusakan yang terjadi akibat ketidaksengajaan dari pengguna. Tak seperti layanan ADP lain, pengguna produk komersial ASUS dengan garansi tambahan LADP, dapat mengajukan klaim 1x per tahun sepanjang masa garansi yang berlaku pada unitnya. Artinya, jika garansi unit diperpanjang hingga 5 tahun, pengguna tetap bisa mengajukan klaim. Garansi tambahan ini cocok untuk instansi yang menjunjung tinggi keamanan data di tiap komputer mereka,- seperti perbankan, atau data center. Dengan layanan HDD Retention dari ASUS, pengguna tidak perlu mengembalikan HDD yang rusak.


sumber : https://adv.kontan.co.id/news/solusi-bisnis-menghadapi-masa-pandemi
 

Swasta Bantu UMKM Bangkit dari Pandemi, Begini Caranya

Foto: Grandyos Zafna

Pandemi COVID-19 telah memberi dampak besar bagi dunia usaha, tak terkecuali UMKM. Di sisi lain, pandemi juga mendorong adanya tranformasi digital.

UMKM pun dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang atas kondisi tersebut. UMKM perlu meningkatkan keterampilan dan daya saing khususnya di digitaliasi. Bantuan dari pihak swasta pun diperlukan agar percepatan pemulihan UMKM bisa dilakukan.

"Kami senantiasa menjalankan komitmen untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing UMKM secara terpadu dan menyeluruh. Khususnya dalam hal digitalisasi, kami antara lain membantu meningkatkan literasi digital serta mengembangkan aplikasi AYO SRC untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing toko kelontong tradisional," kata Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk, Mindaugas Trumpaitis dalam keterangannya Rabu (31/3/2021).

Untuk mengembangkan UMKM, Sampoerna memiliki program Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC). Diluncurkan pada tahun 2008, saat ini SRC telah merangkul lebih dari 130.000 pemilik toko kelontong yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Melalui program ini, Sampoerna memberikan pendampingan kepada pemilik toko kelontong SRC tentang manajemen bisnis dan rantai suplai, strategi pemasaran, pelatihan tentang pemanfaatan platform online seperti media sosial dan e-commerce, peningkatan literasi digital, hingga cara membina relasi yang baik dengan pelanggan.

Lebih lanjut, untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing pemilik toko kelontong SRC, Sampoerna mengembangkan aplikasi digital AYO SRC yang diluncurkan pada tahun 2018. Aplikasi AYO SRC merupakan terobosan inovatif yang menghubungkan pemilik toko kelontong SRC di seluruh Indonesia dengan mitra penyalur, seperti pedagang grosir, serta juga dengan para konsumen secara online.

Selain itu, nilai tambah lain dari aplikasi AYO SRC antara lain adalah Pojok Bayar untuk e-payment, AyoKasir untuk membantu manajemen stok barang, dan yang terbaru adalah Pojok Modal.

"Melalui Pojok Modal, kami berupaya memfasilitasi para pemilik toko kelontong SRC dengan institusi permodalan yang kredibel, sehingga mereka bisa memanfaatkan skema pay-later untuk menjaga stok barang dan membuat bisnis tetap berjalan," ujarnya.

Sementara, Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang didirikan pada tahun 2007 di Pasuruan, Jawa Timur. Melalui SETC, Sampoerna memberikan pelatihan kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengembangkan usaha. Sejak situasi pandemi berlangsung, SETC berfokus pada kurikulum tentang pemasaran online dan penggunaan media sosial untuk bisnis.

"Kami percaya bahwa komunitas yang berdaya dan inovatif yang didasarkan pada riset mendalam serta praktik bisnis yang baik, akan menjadi kunci dalam memberikan dampak sosial-ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan di Indonesia," tutup Mindaugas.


sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5515667/swasta-bantu-umkm-bangkit-dari-pandemi-begini-caranya