Showing posts with label Menkop UKM. Show all posts
Showing posts with label Menkop UKM. Show all posts

Monday, June 10, 2024

KemenKopUKM serap Rp400 miliar dari total anggaran 2024

 


Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenkopUKM) Teten Masduki mengatakan realisasi anggaran tahun 2024 per 7 Juni mencapai Rp400 miliar atau 28,74 persen dari total anggaran sebesar Rp1,39 triliun.

"Realisasi per 7 Juni 2024 sebesar Rp400 miliar atau 28,74 persen," ujar Teten dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin.

Teten menyebutkan target realisasi hingga 30 Juni 2024 diharapkan bisa mencapai 35,03 persen.

Beberapa kendala yang dalam pelaksanaan anggaran Semester I antara lain yakni kegiatan prioritas khususnya yang memiliki pagu besar seperti pendataan lengkap UMKM, dan Rumah Produksi Bersama, Rumah Kemasan, saat ini dalam proses pembahasan dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian PPN/Bappenas untuk pelaksanaan melalui Tugas Pembantuan dan Dekonsentrasi.

Lebih lanjut, Teten menyampaikan untuk mempercepat penyerapan anggaran semester I, Kementerian Koperasi dan UKM akan mengawal program atau kegiatan prioritas dan terutama yang memiliki alokasi anggaran cukup besar.

Menginventarisir kembali kegiatan-kegiatan yang ada untuk dilaksanakan sesuai waktu yang telah direncanakan dan disusun, khusus kegiatan yang terdampak perubahan kebijakan Kementerian, bernilai besar dan memerlukan waktu yang cukup lama dalam pelaksanaannya.

"Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memitigasi keterlambatan dan kendala pelaksanaan program atau kegiatan," katanya.

Sementara itu, realisasi anggaran Kementerian Koperasi dan UKM tahun anggaran 2023 terserap Rp1,36 triliun atau 97,80 persen dari total anggaran Rp1,39 triliun.

Anggaran tersebut dialokasikan untuk pelaksanaan program prioritas dan strategis kementerian pada masing-masing satuan kerja.

Beberapa capaian program yang telah dilaksanakan antara lain pengembangan 400 koperasi modern, desain ulang Pusat Layanan Usaha Terpadu Kementerian Koperasi dan UKM, membangun delapan lokasi rumah produksi bersama, 13 lokasi layanan rumah kemasan, pengentasan kemiskinan ekstrem di 48 kabupaten


Sumber: https://www.antaranews.com/berita/4145178/kemenkopukm-serap-rp400-miliar-dari-total-anggaran-2024

Sunday, June 9, 2024

Teten dorong UMKM ikan hias yang inovatif agar tembus pasar global

 


Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebutkan pelaku UMKM ikan hias harus bersiap membangun ekosistem yang lebih kuat dan inovatif untuk menangkap peluang perdagangan ikan hias di pasar global yang terus tumbuh.

"Jangan lagi sendiri-sendiri. Tetapi, bangun klusternya, bangun koperasinya," ucap Teten pada acara penutupan Nusatic Nusapet 2024 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Minggu, dikutip dari siaran pers Kementerian Koperasi dan UKM.

Teten berharap pameran Nusatic bisa menjadi wadah yang dapat memperkuat dan melengkapi ekosistem usaha ikan hias di tanah air agar lebih dekat dengan akses pasar, investasi, dan inovasi.

"UMKM memainkan peranan penting dalam usaha ikan hias. Total pembudidaya ikan hias di Indonesia telah mencapai 21.091 orang, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan pembudidaya ikan hias terbanyak di Indonesia," ucap Teten.

Dia menambahkan permintaan ikan hias dunia terus meningkat setiap tahunnya. Secara global, nilai ikan hias telah mencapai lebih dari 360 juta dolar AS dengan pertumbuhan permintaan rata-rata setiap tahun di atas 4 persen.

Teten menyebut pelaku UMKM ikan hias harus memanfaatkan peluang ini, apalagi sekitar 55 persen pasokan pasar global ikan hias berasal dari Asia, termasuk dari Indonesia.

Menurutnya, potensi pasar ikan hias Indonesia memiliki prospek yang bagus, dengan nilai ekspor ikan hias Indonesia pada 2022 mencapai 36,4 juta dolar AS. Angka itu menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 eksportir ikan hias terbesar dunia untuk jenis air tawar dan terbesar ke-4 dunia untuk jenis air laut.

"Dari 1.100 spesies ikan hias air tawar di dunia, sebanyak 400 spesies berasal dari Indonesia. Spesies paling terkenal adalah Super Red Arwana dan Botia," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Nusatic (Nusantara Aquatic) Maxdeyul Sola menjelaskan bahwa ajang Nusatic edisi tahun ini, yang diselenggarakan pada 7-9 Juni 2024, tercatat dikunjungi sebanyak 18 ribu lebih pengunjung, dengan nilai transaksi dalam dua hari pertama mencapai Rp2 miliar.

Pameran tahun ini turut dimeriahkan peserta dari luar negeri seperti Jepang, India, Singapura, Denmark, dan China.

Maxdeyul berkomitmen untuk meningkatkan kualitas Nusatic sebagai upaya menumbuhkan minat dalam melestarikan dan menjaga keragaman ikan hias serta hewan peliharaan sekaligus memperluas pemasaran ikan hias di tingkat domestik dan internasional, serta meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara penghasil ikan hias terkemuka di dunia.

Nusatic atau Nusantara Aquatic telah diselenggarakan sejak 2016, menjadi pameran dan kontes ikan hias serta tanaman air terbesar di dunia dengan menampilkan lebih dari 18.000 ekor ikan.


Sumber: https://www.antaranews.com/berita/4144677/teten-dorong-umkm-ikan-hias-yang-inovatif-agar-tembus-pasar-global


Wednesday, May 29, 2024

Menkop UKM Perkuat Kerja Sama Pengembangan UMKM dengan Belanda

 


BORNEONEWS, Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki melakukan kunjungan kerja ke Belanda dalam upaya untuk memperkuat kerja sama pengembangan UMKM dan koperasi.

“Karena masih banyak sektor yang berpeluang besar untuk dapat dikembangkan secara bersama terutama di sektor UMKM, startup, hingga perkoperasian di Indonesia, salah satu yang paling potensial adalah sektor agrikultur dan akuakultur,” kata Teten dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu.

Menkop UKM menghadiri Forum Perdagangan, Pariwisata dan Investasi (TTI) Belanda yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI untuk Belanda di Den Haag, Selasa (28/5).

Teten menegaskan Belanda selama ini telah menjadi mitra dagang dan investasi yang strategis bagi Indonesia, dan keberhasilan kerja sama ini perlu ditingkatkan.

Forum TTI dihadiri oleh 150 pelaku bisnis dari Belanda dan Indonesia. Menurut Teten, forum ini menjadi sarana strategis untuk menggali potensi kerja sama yang lebih erat antar kedua negara.

Teten menambahkan, Belanda telah berhasil mengembangkan sektor pertanian dengan teknologi tinggi sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan, dan Indonesia bisa menjalin kerja sama dalam bidang ini.


"Bagi kami di Indonesia, kerja sama yang dilakukan akan menjadi peluang untuk transfer pengetahuan mengenai teknologi terbaru di bidang agroteknologi, sementara bagi perusahaan Belanda akan mempunyai kesempatan produknya dipasarkan di Indonesia," katanya.

Dalam kunjungannya, ia juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja sama Pembangunan Belanda Liesje Schreinnemacher guna membahas peluang kerja sama antara Indonesia-Belanda.

“Kami perlu dukungan, baik pendanaan maupun pembinaan lebih lanjut, dan berharap dapat bekerja sama dengan Pemerintah Belanda untuk mengembangkan startup," ujar Teten.

Pada pertemuan tersebut juga dibahas peluang kerja sama pada bidang PLTS terapung, solusi operasi bandara, dan hilirisasi untuk transisi energi.

Kunjungan Teten juga membahas kerja sama strategis dengan Rabo Foundation untuk bidang pembiayaan berkelanjutan. Rabo Foundation adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 1974 oleh Rabobank, salah satu bank koperasi terbesar di Belanda, yang salah satu fokusnya adalah memberikan akses inklusif ke layanan keuangan.


Sumber: https://www.borneonews.co.id/berita/342175-menkop-ukm-perkuat-kerja-sama-pengembangan-umkm-dengan-belanda

Wednesday, April 24, 2024

MenKopUKM: APEC SMEWG jadi forum strategis tuntaskan tantangan UMKM

 

Badung (ANTARA) -

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pelaksanaan Asia-Pacific Economic Cooperation Small Medium Enterprises Working Group (APEC SMEWG) menjadi forum yang sangat strategis untuk mengadvokasi berbagai tantangan yang dihadapi UKM.

 

"Kami mengajak seluruh delegasi untuk meningkatkan kolaborasi dan kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan baik di kawasan APEC atau global. Hal ini penting dilakukan karena sektor UKM selama ini menjadi tulang punggung bagi perekonomian," ujar MenKopUKM Teten Masduki saat memberikan sambutan pada pembukaan 57th APEC SMEWG di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu.

 

Ia mengatakan forum itu memiliki arti penting bagi ekonomi anggota APEC, khususnya bagi Indonesia karena forum itu menyediakan platform kolektif untuk mengatasi tantangan bersama dalam pengembangan UKM.

 

Tantangan tersebut mencakup permasalahan akses pembiayaan, akses pemasaran, entrepreneurship, hingga penciptaan ekosistem digital di sektor UKM.

 

Menteri Teten menjelaskan, forum internasional tersebut diharapkan juga dapat melahirkan gagasan dan ide bersama untuk meningkatkan daya saing UKM di tengah kemajuan teknologi yang pesat.

 

"Di forum ini kami saling bertukar wawasan, praktik terbaik dan strategi yang bertujuan memberdayakan UKM untuk berkembang dalam lanskap global yang terus berkembang, dengan sesi berbagi khusus yang berfokus pada strategi pemulihan pandemi di antara anggota APEC," kata dia.

 

Ia mengungkapkan, dirinya percaya forum tersebut juga dapat menjadi platform utama dari berbagai pihak untuk berbagi praktik-praktik terbaik dari masing-masing anggota.

 

Untuk itu para delegasi yang hadir diharapkan juga dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk terlibat dalam dialog aktif dan meningkatkan kolaborasi di kawasan APEC untuk mendorong kemajuan UKM.

 

"Di forum ini, kita harus manfaatkan kesempatan untuk memperkuat kemitraan, mendorong kolaborasi, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah bagi UKM di kawasan (APEC)," ungkapnya.

 

Di hadapan para delegasi, Menteri Teten menambahkan, saat ini Indonesia sedang membangun industri manufaktur skala menengah berbasis komoditas. Untuk itu program industrialisasi dan hilirisasi sedang dilakukan melalui pembangunan rumah produksi bersama (RPB) yang terus digalakkan untuk mencapai target tersebut.

 

"Upaya ini merupakan solusi untuk mewujudkan industri manufaktur skala menengah yang dapat mengatasi masalah urbanisasi, meningkatkan pertumbuhan industri, memperluas lapangan kerja berkualitas, dan menjaga kelestarian sumber daya alam," tambahnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim menjelaskan forum itu membahas sejumlah topik seperti digitalisasi, entrepreneurship, akses pemasaran dan akses pembiayaan.

 

"Kami lebih banyak ke sharing session, lebih banyak ke pertukaran pengalaman di masing-masing negara. Kami dari Indonesia mengundang beberapa stakeholder terkait untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari sharing session ini," kata dia.

 

Ia menambahkan melalui forum tersebut diharapkan Indonesia juga dapat mengambil peran untuk mendorong kinerja ekspor produk UKM.

 

"Tentu kami ingin pelaku UKM kita bisa lebih berdaya saing, lebih mandiri, dan mempunyai kemampuan akses terhadap teknologi dan bisa menyediakan lapangan kerja yang lebih produktif," tambah Arif Rahman Hakim.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/menkopukm-apec-smewg-jadi-forum.html

Wednesday, April 3, 2024

Menteri Koperasi dan UKM Ajak DPD RI Dukung Pembangunan Industri Skala Menengah

 

Jakarta (Suara Kalbar)- Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenKopUKM) Teten Masduki memperkenalkan program pembangunan industri skala menengah berbasis koperasi kepada DPD RI. Program ini mencakup pembangunan pabrik minyak makan merah dan rumah produksi bersama (RPB) sebagai solusi atas deindustrialisasi yang sedang terjadi di Indonesia.

Teten menjelaskan bahwa saat ini Indonesia mengalami penurunan kontribusi industri terhadap ekonomi, yang hanya mencapai 18 persen. Hal ini berdampak pada terbatasnya lapangan kerja, terutama bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dia menekankan perlunya menciptakan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

“Hari ini 97 persen lapangan kerja disediakan oleh pelaku UMKM, 90 persennya ada di usaha mikro sektor informal tidak produktif. Kita perlu melahirkan ekonomi baru … karena kalau tidak, kita bisa gagal menjadi negara maju,” ujarnya melansir dari ANTARA, Rabu(3/4/2024).

Untuk mengatasi masalah tersebut, Teten mengatakan pihaknya sedang membangun industri skala menengah berbasis koperasi untuk mengolah keunggulan domestik, dengan menghasilkan barang setengah jadi hingga barang jadi agar memberikan nilai tambah dan diharapkan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas.

Menurutnya, kesempatan itu terbuka luas apalagi setiap daerah memiliki keunggulannya sendiri. Terlebih lagi, 41 persen pemilik lahan sawit adalah rakyat. Oleh karena itu, ia mendorong para petani sawit untuk membangun pabrik minyak makan merah berbasis koperasi.

Terkait rumah produksi bersama, Teten mengatakan telah membangun RPB di delapan lokasi pada 2023 dengan berbagai komoditas unggulan daerah, di antaranya cokelat di Jembrana Bali, kulit di Garut, dan garam di Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) di Sulawesi Selatan.

Pada 2024, KemenKopUKM menargetkan membangun rumah produksi bersama di 7 lokasi baru.

Dari sisi pembiayaan, Teten mengatakan pemerintah telah menyalurkan program kredit usaha rakyat (KUR) untuk pelaku UMKM. Pada 2023, pemerintah telah menyalurkan KUR sebesar Rp260,26 triliun kepada 4,64 juta debitur.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komite IV DPD RI Elviana mengatakan siap mendukung program strategis KemenKopUKM pada 2024, termasuk dalam melakukan sosialisasi dan implementasi program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan UMKM di daerah.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/menteri-koperasi-dan-ukm-ajak-dpd-ri.html

Menkop UKM Akui Usaha Kecil Belum Jadi Bagian Industrialisasi

 

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum menjadi bagian dari industrialisasi dalam meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi.

Hal itu disampaikan Teten dalam Rapat Kerja dengan Komite IV DPD yang dipimpin oleh Ketua Komite IV Elviana, senator asal Provinsi Jambi, Selasa (2/4/2024).

Teten menuturkan meskipun UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi nasional dengan persentase di atas 90 persen, namun hampir sebagian besar sektor tersebut belum jadi rantai pasok dari industri UKM. Untuk itu, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) akan berupaya untuk menghubungkan usaha mikro ke dalam rantai pasok industri, katanya.

“Di Indonesia, banyak UMKM yang bersifat rumahan atau mandiri. Mereka produksi sendiri, beli bahan baku sendiri, memasarkan sendiri,” katanya.

Kondisi itu, membuat UMKM kita sulit mengakses bahan baku, pembiayaan, maupun produksi yang lebih luas.
Menurutnya, akibat ketimpangan itu tidak terjadi transfer pengetahuan yang membuat UMKM tidak produktif. Belum lagi kondisi wabah Covid-19 yang sempat melanda Indonesia sehingga sektor usaha yang menguasai hayat hidup orang banyak itu ikut terdampak.

Teten menuturkan bahwa sejak 1998, Indonesia terus mengalami deindustrialisasi, di mana kontribusi industri besar terhadap PDB hanya sebesar 18 persen. Namun demikian, pemerintah terus berupaya menyiapkan industrialisasi bahan baku, salah satunya melalui hilirisasi agar memperbesar kontribusi ekonomi industri yang lebih besar.

“Kalau industri tidak tumbuh, maka lapangan kerja sulit tersedia. Akibatnya, mereka hanya bisa membuka usaha mikro. Jika makin banyak usaha mikro yang tumbuh, persaingan di level itu pun makin tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Elviana mengakui persoalan permodalan usaha untuk sektor usaha UKMK masih menjadi masalah yang terus terjadi, namun demikian pihaknya terus mendorong berbagai upaya untuk menggerakkan sektor ekonomi tersebut untuk mendorong pertumbuahn ekonomi nasional.

Selain itu, Elviana juga menggugah agar pemda lebih paham yang menjadi kebutuhan UMKM di lapangan tak semata-mata soal modal. Begitu juga dengan pendampingan dari sisi SDM, teknik produksi hingga manajemen keuangan. Dia mencontohkan dalam hal pemasaran seperti produk bambu yang banyak dihasilkan di Provinsi Jambi.***

Suber: https://www.startsmeup.id/2024/04/menkop-ukm-akui-usaha-kecil-belum-jadi.html

Monday, April 1, 2024

Menkop UKM: Semangat RUU Perkoperasian perkuat kelembagaan koperasi

 

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengungkapkan Rancangan Undang-Undang Perkoperasian untuk memperkuat kelembagaan koperasi di Indonesia.

"Semangat besar dari RUU Perkoperasian yang sedang kita usulkan untuk memperkuat ekosistem kelembagaan koperasi, seperti halnya perbankan yang sudah dibenahi sejak tahun 1998," ujar Teten di Jakarta, Senin.

Koperasi sendiri, menurut dia, masih belum dibenahi kelembagaannya, sehingga pertumbuhan koperasi dengan korporasi katakanlah kalau di sektor keuangan koperasi simpan pinjam dan perbankan jauh berbeda.

Di perbankan sendiri sudah ada pengawas eksternal yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kemudian juga Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), asuransi dan sebagainya.

Sedangkan di koperasi belum ada. Koperasi dibiarkan tumbuh sendiri secara organik meskipun peran koperasi simpan pinjam cukup baik bagi masyarakat.

Artinya koperasi simpan pinjam masih menjadi alternatif bagi para pelaku UMKM yang unbankable untuk bisa mengakses pembiayaan.

"Ini yang kita harus bereskan. Jadi kita ingin koperasi juga di sektor keuangan harus tumbuh berkembang seperti halnya koperasi di negara-negara maju yang mana koperasi dalam jasa keuangan kuat di mana ada banyak bank di Eropa dimiliki oleh koperasi. Inilah yang sebenarnya," kata Teten.

Kalau koperasi simpan pinjam, lanjutnya, dibiarkan seperti sekarang di mana pengawasan dan standarisasi akuntasinya lemah, tidak ada ekosistem yang memberikan pondasi yang kuat untuk penjaminan dan lain sebagainya maka koperasi akan tertinggal.

Sebagai informasi, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenKopUKM) Teten Masduki meminta DPR RI agar segera membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Ketiga Atas UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Permintaan itu disampaikan Teten dengan mempertimbangkan aturan yang berlaku saat ini sudah tidak relevan dan mendesak untuk diperbaiki.

Dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, Selasa, Teten menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo telah mengirimkan Surat Presiden Nomor R- 46/Pres/09/2023 pada 19 September 2023 kepada Ketua DPR RI.

Namun, hingga kini DPR RI belum menindaklanjuti surat tersebut maupun melakukan pembahasan meski rencana awal pembahasan RUU ini dilakukan pada Oktober 2023.

Akibat mundurnya pembahasan RUU ini, Teten kembali menagih janji DPR terkait waktu pembahasan lanjutan.

Dia berharap pada momentum akhir masa jabatan DPR RI periode 2019 -2024, RUU Perkoperasian bisa segera ditetapkan.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/menkop-ukm-semangat-ruu-perkoperasian.html

Menkop UKM: KUMKM Ramadhan Fair dapat meningkatkan omzet pelaku UMKM

 

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menyatakan penyelenggaraan kegiatan ​​​​​​KUMKM (Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) Ramadhan Fair 1445 Hijriah dapat meningkatkan omzet pelaku UMKM.

"Kegiatan ini bisa meningkatkan omzet para pelaku UMKM," ujar Teten saat membuka kegiatan KUMKM Ramadhan Fair 1445 H, di Kemenkop UKM, Jakarta, Senin.

Teten juga berharap kegiatan Ramadhan Fair tersebut dapat membantu bagi pegawai Kemenkop UKM, pegawai perkantoran di sekitar Kemenkop UKM dan masyarakat umum dalam mendapatkan kebutuhan Ramadhan yang lebih murah.

"Mudah-mudahan Ramadhan Fair ini di satu sisi bisa memberikan kemudahan bagi para pegawai Kemenkop UKM, dan mungkin juga para pegawai kantor-kantor kementerian serta lainnya di sekitar Kantor Kemenkop UKM untuk bisa mendapatkan kebutuhan Ramadhan yang lebih murah," katanya.

Teten mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini, karena menghadirkan berbagai produk KUMKM.

Momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri merupakan waktu yang baik bagi pelaku KUMKM untuk menghasilkan produk-produk kebutuhan masyarakat yang inovatif setiap tahunnya.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat bulan ini dan hari raya menjadi peluang bagi para pelaku KUMKM untuk meningkatkan penjualannya. Kegiatan ini bisa memotivasi para pelaku KUMKM untuk membangun serta mengembangkan usaha.

Sebab pilar ekonomi nasional itu ada di UMKM, sehingga pemerintah bertugas memberikan dukungan pengembangan usaha salah satunya melalui UMKM Ramadhan Fair ini.

Kemenkop UKM mengajak masyarakat untuk datang membeli dan menggunakan produk UMKM sebagai wujud bangga dan cinta produk lokal Indonesia.

Sekretaris Kemenkop UKM Arif Rahman Hakim mengatakan, kegiatan Ramadhan Fair merupakan acara tahunan untuk mempermudah akses para pegawai mendapatkan kebutuhan dan juga pegawai perkantoran di sekitar Kemenkop UKM, supaya bisa mendapatkan barang-barang berkualitas dan lebih murah selama bulan Ramadhan.

Kegiatan itu diikuti oleh beragam pelaku UMKM, terutama pelaku usaha mikro.

"Ini melibatkan terutama untuk kebutuhan-kebutuhan yang biasa dimanfaatkan selama Ramadhan dan nantinya saat Idul Fitri," kata Arif Rahman Hakim.

Dalam pembukaan kegiatan KUMKM Ramadan Fair ini, Kemenkop UKM juga melakukan pemberian santunan kepada pegawai kementerian dan kaum dhuafa.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/menkop-ukm-kumkm-ramadhan-fair-dapat.html

Wednesday, March 27, 2024

Menkop UKM perluas akses pembiayaan dan investasi perusahaan rintisan

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan bahwa kementeriannya terus berupaya untuk memperluas akses pembiayaan dan investasi bagi perusahaan rintisan atau startup di tanah air.


Dalam sebuah diskusi yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu, Teten mengatakan akses pembiayaan ini penting karena pada tahap awal, perusahaan startup sering menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan finansial.

Startup saat ini sangat bergantung pada model pendanaan dari investor malaikat (angel investor) dan modal ventura untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi mereka.​​​​​​​

Teten mengatakan Kemenkop UKM telah meluncurkan inisiatif Entrepreneur Financial Fiesta 2024 sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengembangan ekosistem startup Indonesia.

“Kami berusaha untuk meningkatkan pengembangan ekosistem startup, berkolaborasi dengan perusahaan modal ventura, baik dalam negeri maupun global," kata Teten.

Ia menambahkan bahwa sejak 2021, Kemenkop UKM telah mengembangkan program peningkatan kapasitas startup melalui proses inkubasi, bekerja sama dengan lebih dari 20 lembaga inkubator dari berbagai universitas dan pemerintah daerah.

Dia menyebut saat ini terdapat setidaknya 351 startup yang mengikuti program inkubasi tersebut. Menurutnya, program ini membantu mereka memperkuat model bisnis, meningkatkan pendapatan, dan mendapatkan akses kemitraan yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Tahun ini kami akan melanjutkan program ini dan akan dikolaborasikan dengan 9 lembaga inkubator untuk memfasilitasi setidaknya 180 startup,” ucap dia.

Teten menambahkan, saat ini Kemenkop UKM menargetkan untuk menciptakan lebih banyak startup pada sektor agribisnis, akuakultur, bisnis ramah lingkungan, dan teknologi.

Fokus tersebut, kata dia, merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan dampak sosial ekonomi dan memaksimalkan potensi Indonesia.

Teten mengajak seluruh lembaga keuangan termasuk perusahaan modal ventura, bank, perusahaan fintech, aplikasi pendukung keuangan, dan lembaga donor untuk bersama-sama membantu startup dalam mengakses pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

Ia menekankan pentingnya membangun ekonomi dan wirausaha baru di tanah air agar Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju. Menurutnya, saat ini, rasio wirausahawan di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 3,47 persen.

Sumber:  https://www.startsmeup.id/2024/03/menkop-ukm-perluas-akses-pembiayaan-dan.html

Monday, March 25, 2024

MenKopUKM meyakini UMKM otomotif mampu beradaptasi dengan tren EV

 

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenKopUKM) Teten Masduki meyakini pelaku UMKM sektor otomotif mampu beradaptasi dengan tren kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).


"Saya sudah keliling ke mana-mana, mereka pasti sudah siap melakukan switch, mereka juga sudah siap melakukan riset dan pengembangan untuk membuat komponen-komponen lain. Pasti naluri bisnis mereka mengembangkan ke produk yang lain," ujar Teten di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kehadiran kendaraan listrik merupakan tantangan, tapi dirinya yakin kalau industri akan mengikuti keinginan pasar. UMKM otomotif bisa membuat apa aja.

Selain itu, Teten juga mengatakan bahwa terdapat potensi besar dalam sektor UMKM otomotif karena Indonesia dalam dunia otomotif banyak menarik perhatian investor luar negeri, terutama karena anak-anak muda Indonesia yang andal dalam memodifikasi kendaraan.

Kalau membuat produk-produk yang artwork seperti motorcycle builder, kata Teten, generasi muda Indonesia sudah andal.

"Saya tahu persis investor banyak yang mau masuk ke Indonesia," ujarnya.

Sebagai informasi, MenKopUKM Teten Masduki meminta para pelaku industri otomotif di Indonesia agar meningkatkan kemitraan dengan UMKM penyedia komponen otomotif guna mendukung hilirisasi.

Menurut Teten, kemampuan UKM industri otomotif sangat baik karena mampu memasok 65 persen komponen kendaraan dan alat berat.

Berdasarkan data BPS, pada 2023 industri otomotif menyumbang Rp311 triliun atau sekitar 9 persen dari total produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan non migas.

Sedangkan pertumbuhan industri otomotif selama lima tahun terakhir atau selama periode 2018-2023 adalah 4,1 persen.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan bahwa produksi otomotif roda empat pada 2023 sebanyak 1,395 juta unit. Sedangkan jumlah produksi sepeda motor atau roda dua sebanyak 5,2 juta unit, menurut data ASEAN Automotive Federation (AAF).

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/03/menkopukm-meyakini-umkm-otomotif-mampu.html

Tuesday, August 31, 2021

Menkop UKM: Kami Targetkan Lahirnya 40 Koperasi Pangan Modern Tahun Ini

 

Menkop UKM: Kami Targetkan Lahirnya 40 Koperasi Pangan Modern Tahun Ini

JAKARTA - Pemerintah mengaku sedang mengembangkan koperasi modern di bidang pertanian. Nantinya para petani skala kecil harus bergabung dalam koperasi agar mempunyai posisi tawar yang kuat.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, pihaknya sudah menentukan jumlah target koperasi modern di bidang pertanian.

"Pada 2021 ini, kami menargetkan lahirnya 40 koperasi pangan modern, terutama di wilayah perhutanan sosial," kata Teten dalam siaran pers seperti dikutip Kompas.com, Selasa (17/8/2021).

Ia mengungkapkan, pembentukan koperasi pangan modern merupakan tindak lanjut dari permintaan Presiden Joko Widodo. Presiden telah memerintahkan untuk membentuk korporatisasi pertanian dalam bentuk koperasi.

“Di negara maju, badan usaha sektor agriculture yang pas adalah koperasi. Di Indonesia, petani kecil-kecil dan lahan usaha perorangan, sulit melahirkan korporatisasi petani. Koperasi adalah badan usaha yang pas untuk mengkonsolidasinya," kata Teten.

Dengan adanya kelembagaan, lanjut Teten, akan mempermudah petani memperoleh akses pembiayaan dari lembaga keuangan.

Saat ini, Kemenkop UKM mengaku telah menyiapkan pembiayaan khusus koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaba Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM)

“LPDB-KUMKM kami hadirkan hanya untuk pembiayaan koperasi," ungkap Teten.

Tak hanya itu, Teten menyebutkan, Presiden Jokowi telah membuat kebijakan pembiayaan yang progresif, yakni meningkatkan rasio kredit perbankan untuk UMKM menjadi lebih dari 30 persen di 2024.

Selain itu, plafon KUR naik dari maksimum Rp 500 juta menjadi Rp 20 miliar dan KUR tanpa agunan naik dari Rp 50 juta menjadi Rp 100 juta.

"Kami bersama Kementerian Perekonomian, dan Kementerian Pertanian juga sedang merancang skema KUR khusus berbasis klaster pada sektor pertanian, sebagaimana arahan Presiden pada Ratas 26 Juli 2021," kata Teten.

Menurut Teten, inilah wujud keseriusan pemerintah dalam pengembangan sektor pertanian agar terwujudnya kedaulatan pangan.

"Kedaulatan pangan berhasil jika kesejahteraan bersama dapat diwujudkan. Juga, kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pendapatan, bisa diturunkan," pungkas Teten.

Sumber : https://money.kompas.com/read/2021/08/17/195841226/menkop-ukm-kami-targetkan-lahirnya-40-koperasi-pangan-modern-tahun-ini

Sunday, July 11, 2021

Teten Targetkan 500 Koperasi Modern sampai 2024


JAKARTA, investor.id – Pemerintah menargetkan pembentukan 100 koperasi modern pada tahun ini dan menjadi 500 koperasi modern pada 2024 sebagai program besar yang menjadi amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Selain menerapkan teknologi digital dalam pengelolaan usaha—termasuk pelayanan terhadap anggota—, ciri koperasi modern adalah sudah terhubung dengan offtaker dan memiliki akses pembiayaan yang cukup baik.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, koperasi modern juga harus memiliki skala usaha dan kapasitas produksi besar, melakukan sinergi antarpihak berbasis ekosistem, serta dikelola oleh manajemen profesional. “Saya kira, yang lain, koperasi modern itu adalah juga yang berbasis anggota dan bernilai tambah yang tinggi,” ujar Teten saat tapping program acara 60 Minutes with Menteri Koperasi dan UKM yang akan disiarkan Beritasatu TV, pada Senin, 12 Juli 2021 pukul 19.00 - 20.00 WIB.

Terkait dengan penerapan teknologi digital, hingga kini koperasi yang sudah menerapkan sistem tersebut masih sangat rendah, yaitu baru sekitar 0,7% dari total sekitar 127 ribu koperasi yang ada di Indonesia. Karena rendahnya penerapan teknologi digital tersebut, koperasi pun mengalami kesulitan untuk bersaing dengan badan-badan usaha lain. “Ya, jadi, ini yang sedang kami percepat, yaitu transformasi digitalisasi koperasi,” tandas Teten.

Menkop UKM memberi contoh, saat ini koperasi simpan pinjam (KSP) kalah bersaing dengan peer to peer lending atau financial technology (fintech), fintech unggul menggunakan teknologi. “Mereka (fintech) bisa dengan cepat mengetahui peminjamnya, sehingga mereka bisa cepat memberikan pinjaman. Sementara kalau lewat koperasi masih lebih sulit daripada fintech. (Akhirnya) orang akan gabung ke fintech,” ucap Teten.

Oleh karena itu, lanjut dia, penerapan teknologi digital atau go digital oleh koperasi menjadi spirit yang selalu ia dengungkan kepada para pelaku usaha koperasi. Berkolaborasi dengan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Kementerian Koperasi dan UKM telah membangun situs https://idxcoop.kemenkopukm.go.id yang menyediakan seluruh aplikasi digital untuk koperasi.

“Di situs kami ini banyak sekali inisiatif dan aplikasi yang bisa dipakai oleh koperasi untuk go digital. Saat ini baru 0,7% (koperasi yang sudah menerapkan teknologi digital). Saya selalu bicara di forum koperasi dan saya selalu bersilaturahmi ke kantor-kantor koperasi lalu mengajak (go digital) itu. Jadi, itu yang ingin kita lakukan percepatannya,” tandas dia.

Menurut Teten, jumlah koperasi di Indonesia saat ini sebenarnya cukup banyak, yakni mencapai sekitar 127 ribuan koperasi, dengan sekitar 38 ribu di antaranya sudah bersertifikasi. “Nah, jadi sebenarnya boleh dikatakan koperasi kita itu terbesar di dunia. Ya, cuma skalanya kecil-kecil. Kalau kita lihat jumlah penduduk yang berpartisipasi menjadi anggota koperasi di Indonesia baru 8,41%, sementara dunia sudah sekitar 16%. Artinya, persentase kita baru separuh dari dunia,” ucapnya.

Pengembangan koperasi ini, kata Teten, menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia karena dalam Undang-Undang Dasar 1945 sudah dicantumkan bahwa koperasi menjadi soko guru ekonomi. “Ini menjadi tantangan kita, bagaimana terus memperbanyak bukan jumlah koperasinya, tapi bagaimana semakin banyak warga kita yang menjadi anggota koperasi,” kata dia.

Hal lain yang juga menjadi perhatian pemerintah, menurut Teten, adalah keberadaan sekitar 127 ribuan koperasi yang masih didominasi oleh koperasi konsumen. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, persentase koperasi konsumen mencapai 57,6% dan koperasi simpan pinjam 13,9%. Sedangkan koperasi produsen masih sangat kecil yaitu hanya 5,76%.

“Nah justru problemnya di sini. Kita ingin dorong koperasi itu masuk ke sektor produktif, dan bahkan seperti pengalaman di negara-negara Eropa, Amerika, Selandia Baru, atau Australia justru koperasi di sektor pangan, di sektor agrikultur itu yang paling kuat, selain di sektor keuangan,” papar Teten.

Sektor Strategis
Oleh karena itu ia menggarisbawahi bahwa menjadi sangat penting untuk mendorong koperasi-koperasi yang ada untuk masuk ke sektor-sektor strategis, termasuk yang menguasai komoditas. Ia memberi contoh, salah satu sektor strategis itu adalah kelautan yang menjadi salah satu keunggulan ekonomi. “Belum banyak korporasi besar masuk ke situ (sektor kelautan), baru 4%. Sehingga ini juga menjadi peluang bagi koperasi untuk masuk ke sana,” ujar Teten.

Terkait hal ini, Menkop UKM mengaku, pihaknya akan menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menyerahkan pengelolaan tempat lelang ikan, termasuk armada nelayan tangkap, dalam bentuk koperasi. Di dalamnya sudah termasuk tambak udang rakyat.

“Ini yang sekarang saya kira menjadi prioritas pemerintah. Nah, mudah-mudahan dengan kerja sama dengan berbagai kementerian memberi kesempatan koperasi-koperasi yang sekarang sudah ada yang cukup besar. Di Indonesia ada sekitar 100 koperasi yang cukup besar, saya ingin dorong mereka untuk segera masuk ke sektor-sektor strategis tadi,” ucap Teten.

Sumber : https://investor.id/business/teten-targetkan-500-koperasi-modern-sampai-2024 

Thursday, June 24, 2021

Kolaborasi YDBA dan Kemenkop UKM Dalam Pembinaan UMKM di Tanah Air


 BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM RI (Menkop UKM), Teten Masduki, berkunjung ke Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), disambut ketuanya, Sigit P. Kumala.


Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, pengawas YDBA sekaligus Direktur PT Astra Honda Motor, David Budiono, dan jajaran YDBA.

Dalam kunjungan tersebut, Teten Masduki menyampaikan rencana pemerintah untuk mendorong dan membangun kewirausahaan nasional yang lebih besar.

Disebutnya, tingkat kewirausahaan di Indonesia saat ini baru mencapai 3,47 persen. Masih rendah dibandingkan tingkat kewirausahaan di kawasan ASEAN.

Pemerintah telah mencanangkan target kewirausahaan meningkat menjadi 4 persen pada tahun 2024.

Untuk itu, Teten menyampaikan, perlunya koordinasi, kerja sama dan sinergi dengan pihak swasta yang memiliki visi dan misi untuk membantu pengembangan UMKM di Indonesia, salah satunya Astra dan YDBA.

Sementara itu, Sigit P Kumala, mengatakan, YDBA akan terus mendorong UMKM agar terus berinovasi dan berkolaborasi mencapai UMKM mandiri, naik kelas danberkelanjutan.

"Salah satu kolaborasi yang dilakukan YDBA adalah bersama KemenkopUKM RI dalam pengembangan UMKM
pandai besi di Klaten dan Banyumas,” ujarnya, seraya menmnbahkan UMKM aktif binaan YDBA saat ini sekitar 2.000.

Sekretaris YDBA, Ida RM Sigalingging, memaparkan tentang program yang mendukung UMKM go digital dan ekspor.

Kolaborasinya adalah dengan merchant di marketplace untuk memasarkan produk UMKM di pasar online
yang berhasil mengantarkan UMKM masuk dalam pasar ASEAN.

Omset yang diperoleh UMKM meningkat hingga 200 persen sebelum memasuki pasar online.

Sumber : https://banjarmasin.tribunnews.com/2021/06/24/kolaborasi-ydba-dan-kemenkop-ukm-dalam-pembinaan-umkm-di-tanah-air