Showing posts with label UMKM NAIK KELAS. Show all posts
Showing posts with label UMKM NAIK KELAS. Show all posts

Wednesday, April 24, 2024

FIFGROUP dan UNPAR Luncurkan Program SCORE FLS, Bukti Komitmen Kembangkan Bisnis UMKM

 

KONTAN.CO.ID - Kontribusi positif para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dapat dipungkiri. Sebagai wujud komitmen atas pengembangan UMKM melalui institusi pendidikan, PT Federal International Finance (FIFGROUP) berkolaborasi dengan Universitas Parahyangan (UNPAR) meluncurkan program Sustaining Competitive and Responsible Enterprise (SCORE) serta Financial Life Skill (FLS).

Kick off Program SCORE FLS yang diselenggarakan di Ruang Audio Visual FISIP, Lantai 1, Gedung FISIP Universitas Parahyangan, Bandung pada Selasa (23/4) mengusung tema “Scale Up Your Business for Your Success.” Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung, Dindin Syahidin, mengatakan pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini yang begitu dinamis.

“Dinas Koperasi UMKM sangat terbantu dengan adanya program SCORE FLS ini dalam membantu memberikan penyuluhan dan pembinaan UMKM Kabupaten Bandung dan mendorong para pelaku UMKM yang menjadi peserta untuk dapat berkembang dengan melakukan inovasi yang berdampak terhadap pertumbuhan bisnis usaha,” kata Dindin.

Sementara itu, Microfinancing Division Head FIFGROUP, Cicilia Tri Hapsariningtyas, menyatakan FIFGROUP, melalui brand service FINATRA, senantiasa berkomitmen penuh mendorong perkembangan UMKM Indonesia. “Kami tidak hanya menyediakan pembiayaan modal usaha, tapi juga memberikan berbagai pengembangan pengetahuan dan kemampuan bagi para pelaku UMKM," kata Cicilia.

Sebanyak 50 UMKM di wilayah Bandung berpartisipasi dalam kegiatan inkubasi bisnis dalam program itu. Para peserta mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing bisnis mereka.

Riezky Candra Novariz, Microfinancing Partnership and Marketing Development Senior Analyst FIFGROUP, menjelaskan bahwa UMKM peserta dapat mengoptimalkan berbagai aktivitas dalam pengembangan bisnis mereka.

"Dengan kolaborasi bersama UNPAR, UMKM dapat mengoptimalkan seluruh aktivitas dan fasilitas yang kami berikan, dari Workshop dan Coaching, Mentoring, hingga Pameran Bisnis. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan," kata Riezky yang selanjutnya meresmikan Kick Off Program SCORE FLS secara simbolis melalui pemukulan gong pada Selasa (23/4).

UMKM Naik Kelas
Tidak hanya kegiatan peresmian, sebagai rangkaian program pada acara Kick Off Program SCORE FLS tersebut, diselenggarakan sebuah kegiatan talkshow yang ditujukan sebagai sharing session bagi UMKM dalam mengembangkan bisnisnya.

Sebagai pembicara hadir Riezky Candra Novariz selaku Microfinancing Partnership and Marketing Development Senior Analyst FIFGROUP, Denny Syarief selaku Ketua Perkumpulan Pengusaha Karsa Mandiri (PPKM), Dewi Amoe selaku Alumni Program SCORE & Owner Jenama Amoe Decoucraft, dan Nina Septina selaku Dosen Program Vokasi UNPAR dan SCORE Trainer.

Menurut Riezky, dua permasalahan utama yang dihadapi oleh para pelaku UMKM adalah Permodalan dan Pemasaran. Banyak UMKM yang mengalami kendala dalam mengembangkan bisnisnya menjadi lebih besar dengan mencakup pasar yang lebih luas.

“FINATRA turut mendukung pengembangan UMKM dengan menjadi solusi finansial pilihan dalam memenuhi kebutuhan modal pertumbuhan usaha. Tidak hanya itu, kami juga turut mewujudkan komitmen kami dalam mendukung UMKM dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan literasi, salah satunya adalah melalui program SCORE FLS untuk UMKM naik kelas,” kata Riezky.

Sementara itu, menurut Nina Septina, UMKM harus lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan dalam mendorong pengetahuan dalam berbisnis. “Kegiatan pembelajaran seperti yang dilakukan pada hari ini harus secara regular diikuti oleh UMKM yang ingin berkembang. Namun, yang perlu diperhatikan adalah UMKM wajib mengimplementasikan ilmu yang telah didapat, agar pembelajaran yang dilakukan tidak sia-sia,” kata Nina.

Dewi Amoe sebagai alumni dari program yang serupa mengakui bahwa dari sejumlah pelatihan yang diikut SCORE FLS menjadi salah satu program yang paling berdampak untuknya. “Program SCORE FLS ini sangat berbeda dari sejumlah program yang saya ikuti, coach-nya yang berasal dari dosen memberikan pemahaman yang jelas dan tidak menggurui, serta modul yang diajarkan lebih berguna bagi saya untuk diimplementasikan dalam bisnis yang saya jalankan,” tutur Dewi.

Dari sudut pandang Danny Syarief, kebanyakan UMKM saat ini mempertahankan cara lama dalam menjalankan bisnisnya. Hal tersebut yang membuat banyak para pelaku UMKM menjadi tidak berkembang. “Pelaku UMKM itu salah satu penyakitnya adalah bertahan di zona nyaman. Enggan berubah dan cenderung mempertahankan cara lama. Sementara itu, dunia terus berubah, perilaku pasar juga berubah, kita harus mampu beradaptasi dengan terus mengasah pengetahuan kita agar bisnis kita dapat bertahan dan terus berkembang,” jelas Danny.

Acara tersebut mendapatkan banyak respon positif dari para peserta yang turut aktif dalam sesi tanya jawab yang dilakukan. Sejumlah peserta berharap bisnisnya dapat bertumbuh dengan mempelajari setiap ilmu yang nantinya akan didapatkan melalui SCORE FLS ini.

Tentang PT Federal International Finance:

PT Federal International Finance merupakan anak perusahaan PT Astra International Tbk yang bergerak di bidang usaha pembiayaan ritel khusus sepeda motor Honda yang diproduksi oleh PT Astra Honda Motor, yang juga anak perusahaan PT Astra International Tbk.

Tepat 1 Mei 2013 Perseroan melakukan proses rebranding dengan meluncurkan new identity berupa logo baru berbentuk sidik jari dan penyebutan nama perseroan menjadi FIFGROUP yang merupakan grup manajemen dari FIFASTRA untuk pembiayaan sepeda motor, SPEKTRA untuk pembiayaan elektronik dan perabot rumah tangga, DANASTRA melayani pembiayaan multiguna, FINATRA layanan pembiayaan produktif, dan AMITRA merupakan Unit Usaha Syariah (UUS) FIFGROUP yang melayani pembiayaan syariah. FIFGROUP merupakan perusahaan pembiayaan sepeda motor dan elektronik terbesar di Indonesia dengan lebih dari 248 kantor cabang dan 378 Point of Service (POS), serta lebih dari 1.000 kios.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/fifgroup-dan-unpar-luncurkan-program.html

Tuesday, August 31, 2021

Merajut Kolaborasi untuk UMKM Naik Kelas

 

Merajut Kolaborasi untuk UMKM Naik Kelas

 Walau mengalami keterlambatan dari target semua yang berharap bisa menyampaikan laporan ini kepada publik sebelum semester 1 - 2021 berakhir, kami bersyukur akhirnya masih bisa mempublikasikan dokumen ini bertepatan pada hari ulang tahun Indonesia yang ke 76 tahun.

Kali ini kami mengangkat tajut "Merajut Kolaborasi untuk Pendampingan UMKM Naik Kelas". Pada dokumen ini, kami juga menawarkan deifinisi operasional dari program pendampingan itu sendiri, dan hasil dari berbagai program pendampingan, pelatihan, dan penelitian, juga kami sampaikan di laporan ini, agar dapat menjadi referensi pembelajaran bagi kita bersama, dan tentunya, dapat memantik diskusi lanjutan yang lebih spesifik dan konstruktif, dalam memperluas akses program pendampingan untuk mengakselerasi lebih banyak lagi pelaku UMKM naik kelas.

Inilah persembahan yang semoga dapat menunjukkan keseriusan kehadiran kami untuk mengembangkan, mendukung, dan mengisi ekosistem yang relevan dan progresif untuk mendorong lebih banyak UMKM Naik Kelas. Bagi kami, dokumen ini adalah wujud kado kecil untuk tanah air tercinta. Dirgahayu Indonesia-ku yang raya!

Sumber : https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/418

Monday, August 30, 2021

Holding BUMN Jasa Survei Komitmen Dorong UMKM Naik Kelas

 

Holding BUMN Jasa Survei Komitmen Dorong UMKM Naik Kelas

JAKARTA - BUMN Holding Jasa Survei yang terdiri atas PT Biro Klasifikasi Indonesia, PT Sucofindo, dan PT Surveyor Indonesia menggelar berbagai kegiatan demi meningkatkan daya saing UMKM agar naik kelas. Direktur Utama Surveyor Indonesia M Haris Witjaksono mengatakan UMKM memiliki peranan dalam pemulihan ekonomi nasional.

"Melalui peringatan hari UMKM nasional, BUMN Holding Jasa Survei berharap menjadikan ini sebagai momentum untuk bangkit, baik dalam inovasi bisnis maupun, kapasitas pelaku UMKM," ujar Haris dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (12/8).

Haris ingin UMKM dapat mengembangkan konsep baru dalam melakukan kegiatan wirausaha dengan mengedepankan prinsip utilitas dan usaha yang berkelanjutan. Surveyor Indonesia, ucap Haris, juga telah mengadakan sosialisasi sertifikasi TKDN untuk membantu UMK mitra binaan meningkatkan nilai jual dalam menawarkan produk, preferensi harga dalam tender, optimalisasi kapasitas, dan kualitas produk guna meningkatkan daya saing dan memajukan perekonomian nasional.

Haris menilai hari UMKM nasional dapat membangkitkan semangat UMKM agar tetap optimistis menjalankan usaha di tengah pandemi Covid-19. Haris berharap insan koperasi juga mempunyai kreativitas dan inovasi yang tinggi untuk menata organisasi dan strategi bisnis ke depan.

Dukungan serupa diberikan Sucofindo yang memberikan bantuan pinjaman modal kerja dengan total nilai sebesar Rp 1,075 miliar kepada 30 peternak sapi di Semarang, Jawa Tengah. Direktur Utama Sucofindo Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan bantuan ini merupakan program rutin yang perusahaan lakukan.

"Hal ini sebagai respons dan fokus kami dalam menjalankan program kerja BUMN untuk meningkatkan nilai ekonomi serta dampak sosial terutama di bidang ketahanan pangan, energi, dan kesehatan," ucap Wigrantoro.

Sebagai komitmen dalam upaya meningkatkan daya saing dan pemulihan ekonomi nasional untuk UMKM, lanjut Wigrantoro, Sucofindo juga memiliki layanan dalam memberikan sertifikasi untuk produk halal yang diproduksi UMKM, pelatihan penyelia halal UMKM, Sertifikat Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) untuk industri pariwisata, serta verifikasi TKDN untuk UMKM.

PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI juga menyambut hari UMKM nasional melalui bantuan kepada UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman, antara lain Cia - Cia (snack dan kue kering) dan Ikomori (minuman teh dan kopi kemasan).

Direktur Utama BKI Rudiyanto berharap bantuan tersebut nantinya dapat membantu para UMKM untuk dapat menjalankan dan memasarkan produksinya kembali setelah berhenti berproduksi karena dampak pandemi yang telah mengakibatkan penurunan omset.

Rudiyanto menilai dukungan terhadap UMKM sebagai bentuk tanggung jawab BUMN Hoding Jasa Survei untuk menggiatkan kembali UMKM yang produktivitasnya menurun akibat kondisi pandemi, yang mana secara langsung UMKM dapat menjalankan kembali usahanya dengan manajemen yang lebih baik.

"Peran UMKM di Indonesia sangat nyata dan besar. Di samping karena jumlahnya yang sangat banyak, UMKM juga mampu berperan menjadi stabilisator ekonomi dalam menghadapi ancaman krisis dan resesi perekonomian global," kata Rudiyanto.

Sumber : https://m.republika.co.id/berita/qxs0az383/holding-bumn-jasa-survei-komitmen-dorong-umkm-naik-kelas
 

Wednesday, April 7, 2021

Produk UKM Jateng Naik Kelas

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, didampingi Kepala Dinkop UKM Jateng, Ema Rachmawati bersama romobongan melihat produk UKM asal Jateng yang dipasarkan di Novotel Semarang, Senin (5/4/2021). (Imam Yuda S./Solopos)

Produk-produk usaha kecil menengah (UKM) asal Jawa Tengah (Jateng) terus melebarkan sayap pemasarannya.

Kali ini, produk UKM Jateng dipasarkan di hotel-hotel milik Accor Group. Accor Group yang merupakan perusahaan perhotelan asal Prancis itu memiliki jaringan hotel di seluruh Indonesia.

Meski demikian, baru ada empat hotel milik Accor Group di Jateng dan Jawa Timur (Jatim) yang saat ini telah memasarkan produk UKM asal Jateng.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop-UKM) Jateng, Ema Rachmawati, menyebut saat ini sudah ada empat hotel milik Accor Group yang sudah menjalin kerja sama dengan UKM dari Jateng.

Kerja sama tersebut memiliki nilai kontrak mencapai Rp1,5 miliar per tahun selama dua tahun.Nantinya, produk-produk UKM asal Jateng itu bisa dipasarkan di hotel tersebut dengan ditempatkan di lobi, minibar, hingga kamar-kamar hotel.

“Untuk tahap pertama ini, ada 43 UKM yang produknya dipasarkan di hotel-hotel milik Accor Group, seperti Novotel Semarang, Novotel Solo, dan Ibis Simpang Lima Semarang. Ke depan, kita akan perbanyak lagi. Minimal satu hotel itu ada lima produk UMKM kita,” tutur Ema saat dijumpai Solopos.com di sela-sela acara UKM Network Business Fair di Novotel Semarang, Senin (5/4/2021).

Ema mengaku geliat UKM di Jateng saat ini memang tengah mengalami kemajuan cukup pesat. Total saat ini sudah ada 4,1 juta UKM yang terdaftar di Dinkop UKM Jateng. Jutaan UKM itu pun berpeluang mengenalkan maupun memasarkan produknya di hotel-hotel berbintang.

Syaratnya, kualitas produknya harus sesuai dengan standar internasional atau keinginan dari pelanggan.

“Makanya, kita minta pelaku UKM di Jateng untuk terus melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas produknya. Kita juga akan membantu dengan melakukan kurasi produk-produk itu sesuai permintaan hotel,” tuturnya.

Mengembangkan Produk

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengaku akan terus mengembangkan produk-produk UMKM di Jateng agar bisa diterima masyarakat luas. Salah satu upaya itu yakni bekerja sama dengan dunia perhotelan.

“Saya sangat berterima kasih dengan Accor Hotel ini karena mau menerima produk UKM Jateng. Produk UKM kita bisa ditaruh di hotelnya. Ada kopi, busana, dan lain-lain sehingga tamu bisa langsung mencicipi produk lokal kita,” ujarnya.

Ganjar juga meminta pelaku UKM di Jateng untuk terus mengembangkan produknya agar semakin diterima pasar. “Produknya juga harus bagus. Kalau belum bagus ya maaf, belum bisa dipasang di sini,” imbuhnya.

Senior Vice President Operations and Government Relations of Accor Group for Indonesia and Malaysia Adi Satria menyampaikan, langkah ini merupakan upaya nyata ikut membantu pemulihan ekonomi nasional.

“Kami antusias untuk terlibat secara aktif mulai dari proses kurasi produk UMKM, kemudian mempromosikan dan memanfaatkan produk-produk tersebut di manapun hotel-hotel Accor berada, di berbagai destinasi di Indonesia,” ucapnya.

Adi menambahkan, selain itu dukungan kepada UMKM diberikan oleh hotel-hotel Accor di Indonesia melalui sebuah program bernama “Rediscover Indonesia”. Program tersebut dihadirkan di lebih dari 130 hotel-hotel Accor pada 30 destinasi di Indonesia.

Menurutnya, program itu menawarkan pengalaman menginap sambil menjelajahi seni dan budaya unik di Indonesia serta menikmati pengalaman lokal ikonik dengan produk dari para pelaku UMKM yang telah dikurasi.

Rediscover Indonesia memungkinkan para tamu untuk menghargai dan mencintai alam, budaya, dan adat istiadat melalui empat pilar, yakni kuliner, seni dan budaya, kesegaran dan kesehatan, serta destinasi.

Terpisah, CEO Accor Southeast Asia, Japan, South Korea Garth Simmons menyampaikan rasa bangga dan terhormat, karena dapat melanjutkan komitmen grup untuk terus mendukung Pemerintah Indonesia. Melalui upaya itu diharapkan, dapat mengembangkan pelaku UMKM, serta turut menyukseskan gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia.



sumber : https://www.solopos.com/produk-ukm-jateng-naik-kelas-1116674
 

Monday, April 5, 2021

DPR Harap Holding UMi Bentuk 'Anak Tangga' Bagi UMKM Agar Naik Kelas

Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Komisi XI DPR RI menyebut pembentukan holding BUMN Ultra Mikro (UMi) merupakan upaya yang tepat untuk mendongkrak kinerja pelaku usaha ultra mikro yang menjadi penopang ekonomi nasional.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar Mukhamad Misbakhun menyampaikan alasannya, yaitu sifat saling melengkapi di antara PT Pegadaian (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), selaku anggota holding.

"Holding akan menciptakan ekosistem yang lengkap bagi pelaku ultra mikro untuk dapat lebih memacu kinerjanya. Alasannya, setiap lembaga yang terlibat memiliki karakteristik berbeda yang bisa menjadi anak tangga bagi pelaku usaha ultra mikro terus mengembangkan usahanya," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (5/4/2021).

Dengan langkah penguatan ekosistem dari ketiga lembaga jasa keuangan (LJK) pelat merah ini, Misbakhun yakin holding akan mampu membina pelaku UMKM untuk menerapkan tata usaha lebih baik, termasuk implementasi digital.

"Segmen ini [ultra mikro] memiliki skala bisnis yang feasible, tetapi secara perbankan memang masih belum. Nah, segmen ini yang perlu ekosistem untuk membina mereka," tambahnya.

Sebagai contoh, holding bisa menjadi ekosistem jaringan komunikasi UMKM dan mendorong keterkaitan supply-chain buat para pelaku usaha yang telah menjadi nasabah existing ketiga perusahaan. Selain itu, BRI menjadi sumber likuiditas yang memungkinkan biaya layanan PNM dan Pegadaian lebih murah.

Adapun, PNM berperan menjangkau pelaku UMi unbankable di pelosok negeri, yang nantinya setelah naik kelas bisa diambil BRI. Sementara itu, Pegadaian memainkan peran dari variasi produk yang fleksibel dan unggul dari sisi digitalisasi, terutama terkait layanan gadai.

Pada akhirnya, holding diyakini akan mempercepat pemulihan kondisi ekonomi pelaku usaha ultra mikro, yang secara langsung akan berdampak pada perbaikan perekonomian nasional yang selama ini pertumbuhannya dimotori oleh pelaku UMKM dan ultra mikro.

Dia menjelaskan, usaha ultra mikro adalah adalah segmen ekonomi yang terbentuk secara natural di Indonesia. Selama pandemi, sektor ini menjadi alternatif banyak masyarakat untuk tetap bertahan menyambung hidup, termasuk bagi mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, hingga 2020 lalu proporsi pembiayaan UMKM terhadap total kredit perbankan baru mencapai 19,97 persen. Padahal pelaku usaha di Indonesia 99 persen adalah segmen UMKM.

Di satu sisi, penyerapan tenaga kerja dari sektor ini mencapai 97 persen dan memberi kontribusi terhadap PDB sebesar 60 persen. Kalau tidak ada upaya apapun, maka sulit bagi UMKM termasuk ultra mikro untuk naik kelas mengembangkan kapasitas usaha dan daya saing.

Sinergi ekosistem ultra mikro harapannya mendukung visi dalam memberdayakan usaha ultra mikro, mempercepat laju inklusi keuangan, pembiayaan berkelanjutan, serta menyasar sekitar 57 juta nasabah ultra mikro, di mana 30 juta di antaranya belum terakses ke sumber pendanaan lembaga keuangan formal.

Ekosistem ini akan memberikan layanan produk yang lebih lengkap dan potensi pendanaan yang lebih murah untuk sekitar 29 juta usaha ultra mikro pada tahun 2024. Adapun, sebelumnya, Pakar Hukum Administrasi dan Keuangan Publik Universitas Undonesia (UI) Dian Simatupang menyebut langkah pemerintah tersebut patut mendapat apresiasi.

Alasannya, aksi korporasi ini akan menciptakan efisiensi bisnis dan membuka peluang BUMN terlibat untuk bekerja lebih cepat dan tidak terpaku pada pakem birokrasi pemerintahan.

Terpenting, Dian berharap segera Peraturan Pemerintah (PP) untuk menjadi landasan pembentukan holding BUMN untuk ultra mikro segera terbit. Keberadaan PP ini menjadi penting untuk meneguhkan eksistensi holding BUMN ultra mikro, dan membuat sinergi tersebut bisa beraktivitas secara efektif ke depannya.

"Ini perlu dibuat PP karena merujuk PP Nomor 72 Tahun 206, pada saatnya holding terjadi nanti BRI akan menjadi induk PNM dan Pegadaian. Itu artinya terjadi perubahan struktur penyertaan modal negara," ujar Dian.



sumber : https://finansial.bisnis.com/read/20210405/89/1376930/dpr-harap-holding-umi-bentuk-anak-tangga-bagi-umkm-agar-naik-kelas

Menkop dan UKM Teten Tegaskan Kebijakan Penambahan Ratio Kredit untuk UMKM Naik Kelas

Menteri koperasi dan UKM Teten Masduki di acara pembukaan “UKM Jabar Paten”, Sabtu (3/4/2021). (Foto: Berita Satu/Herman)

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan kebijakan penambahan ratio kredit bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dilakukan untuk mendorong UMKM di Indonesia naik kelas.

“Kebijakan penambahan porsi kredit untuk usaha mikro dan perubahan KUR yang sudah disampaikan Pak Menko (Airlangga Hartarto) ini, saya kita akan mendorong strategi besar kita untuk mendorong UMKM kita naik kelas,” kata Teten Masduki saat memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/4/2021).

Dengan adanya perubahan kebijakan anggaran pembiayaan ini, Teten mengharapkan akan semakin banyak usaha mikro yang naik menjadi kecil ke menengah dan seterusnya.

Ditambahkannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga memberikan arahan khusus bagi Kementerian Koperasi dan UKM untuk melakukan inovasi kelembagaan UMKM melalui program korporatisasi UMKM.

Korporatisasi yang dimaksud adalah bagaimana usaha kecil dan perseorangan dapat dikonsolidasikan dalam satu kelembagaan yang dikelola bersama sehingga memiliki daya saing dan nilai tambah serta mampu meningkatkan skala ekonomi mereka.

“Presiden juga memberi arahan khusus kepada Kementerian Koperasi dan UKM supaya melakukan korporatisasi UMKM. Supaya tidak lagi menjadi usaha-usaha perorangan tetapi dalam bentuk PT atau dalam bentuk koperasi. Supaya juga tadi penambahan porsi kredit kepada UMKM dapat dinaikkan di atas 30 pada 2024 juga bisa terealisasi dengan baik,” terang Teten Masduki.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan penyaluran kredit untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia harus bisa mencapai diatas 30 persen pada tahun 2024.

Airlangga menjelaskan, peningkatan penyaluran kredit UMKM dilakukan karena hingga saat ini dana pembiayaan untuk UMKM masih rendah, yakni berada di level 18 hingga 20 persen saja.


sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/755865/menkop-dan-ukm-teten-tegaskan-kebijakan-penambahan-ratio-kredit-untuk-umkm-naik-kelas 

Sunday, April 4, 2021

Begini Cara UMKM Naik Kelas, Produk Bisa Bersaing dengan Asing

UMKM (Foto: Okezone)

Bank Indonesia (BI) mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal naik kelas, menguasai pangsa pasar Indonesia yang masih terbuka lebar. Inovasi dan peningkatan kualitas produk penting dilakukan pelaku usaha agar bisa bersaing dengan produk asing.

"Kami Bank Indoensia terus mendorong agar UMKM Indonesia naik kelas ke taraf internasional," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi, Minggu (4/4/2021).

Menurut dia, Bank Indonesia menggerakan sebanyak 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia, agar terlibat pada event yang menggerakkan ekonomi. Memfasilitasi para pelaku UMKM agar bisa mempromosikan dan memasarkan produksinya, baik di pasar lokal dan internasional.

Event Gernas BBI dan BWI 2021 yang dipusatkan di Bandung, Jawa Barat mulai 2 hingga 4 April 2021 adalah upaya konkret Bank Indonesia mendorong pelaku UMKM survive di tengah pandemi. Total ada 15.000 pelaku UMKM yang terlibat pada event ini. Targetnya, membidik lebih dari 21 juta pembeli.

Sebelumnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menekankan pentingnya membeli produk UMKM lokal. Dia meminta kepada seluruh warga Jabar untuk dapat mengunggah satu produk UMKM di akun media sosial setiap harinya selama Kampanye Gernas BBI di wilayah Jabar sepanjang April 2021.

"Tolong bantu posting satu produk UMKM per harinya selama satu bulan ini di medsos seperti IG (Instagram) sebagai bentuk dukungan kita dalam Kampanye Gernas BBI di Jabar," ucap Gubernur.


sumber : https://economy.okezone.com/read/2021/04/04/455/2389048/begini-cara-umkm-naik-kelas-produk-bisa-bersaing-dengan-asing?page=2 

Wednesday, March 31, 2021

Penerapan PP No. 7 Tahun 2021 agar UMKM Naik Kelas

Blogger Menghadiri Forum Tematik Bakohumas Kemenkop UKM-dokpri

Hai kompasianer, hari ini saya akan mengulik mengenai penyusunan PP No. 7 Tahun 2021 yang telah rampung dilaksanakan oleh pemerintah pada 2 Februari 2021 lalu. Presiden Jokowi telah resmi menetapkan PP No. 7 tahun 2021 sebagai turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dimana PP tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian dan pengembangan usaha guna meningkatkan kapasitas dan daya saing Koperasi dan UKM di Indonesia.

Rabu, 25 Maret 2021 yang lalu, saya menghadiri Forum Tematik Bakohumas Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), yang merupakan kegiatan sosialisasi PP No.7 tahun 2021 kepada berbagai pihak agar berbagai aturan yang dimuat dapat dimanfaatkan dengan optimal baik oleh Koperasi dan UKM maupun oleh Kementerian atau Lembaga, Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten serta Dinas yang membidangi Koperasi dan UKM.

Sosialisasi tentu saja tidak dapat berjalan secara optimal apabila hanya dilaksanakan oleh Kemenkop UKM, oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi dan juga kerja bersama berbagai pihak agar sosialisasi PP tersebut dapat dilaksanakan dengan optimal.

Kegiatan diskusi Forum Tematik Bakohumas Kementerian Koperasi dan UKM kali ini dilakukan juga secara virtual atau online dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris dari Kemenkop UKM, Bapak Arif Rahman Hakim.

PP No. 7 Tahun 2021 Memberikan Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Bagi Koperasi dan UMKM-dokpri

PP No. 7 Tahun 2021 memuat berbagai aturan kebijakan pada aspek kemudahan pendirian usaha, perizinan, fasilitasi, akses pembiayaan, akses ke rantai pasok hingga akses pasar bagi Koperasi dan UKM.

PP No. 7 tahun 2021 ini diimplementasikan kedalam berbagai program atau kegiatan pemerintah seperti :
1. Pemberian kapasitas tempat usaha dan biaya sewa yang hanya sebesar 30% dari harga sewa komersil kepada pelaku UKM;
2. Alokasi 40% pengadaan barang dan jasa pemerintah bagi Koperasi dan UKM;
3. Dukungan 30% alokasi pada infrasturktur publik seperti Rest area jalan tol, Bandara udara dan Stasiun bagi Koperasi dan UKM untuk mengembangkan dan mempromosikan usahanya.
4. Kemudahan Pendirian Koperasi;
5. Kemitraan UKM dengan usaha Besar;
6. Kemudahan mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sebagainya.

Dengan disahkannya PP. No. 7 Tahun 2021 tersebut, salah satu prioritas Kementerian Koperasi dan UKM adalah penyusunan data tunggal yang akurat by name by adress yang dalam penyusunannya akan berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) serta bekerjasama dengan lintas Kementerian atau Lembaga (K/L) dalam pengelolaannya yang akan dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) sehingga mendapatkan afirmasi dari setiap K/L terkait. Sebagai upaya pemulihan ekonomi nasional, Koperasi dan UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian bangsa.

Pemerintah terus berupaya membangkitkan perekonomian yang tengah lesu melalui berbagai program pemulihan ekonomi nasional bagi Koperasi dan UKM seperti program Bantuan Presiden (BanPres) Produktif bagi UMKM, program Bangga Buatan Indonesia (BBI), alokasi pengadaan barang dan jasa pemerintah bagi Koperasi dan UKM serta berbagai program lainya.


sumber : https://www.kompasiana.com/kisahemmy/6063cf078ede4852d84cc8f2/penerapan-pp-no-7-tahun-2021-agar-umkm-naik-kelas
 

Thursday, March 11, 2021

Blibli dan UGM bawa UKM naik kelas

Blibli memberikan edukasi kewirausahaan dan e-commerce pada Kelas Kewirausahaan Sosial bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Program inisiatif dari Kementerian Sekretariat Negara dan diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada ini bertujuan untuk menghasilkan generasi muda yang dapat memberikan kontribusi langsung terhadap pengembangan dan pemberdayaan UMKM sebagai pendorong ekonomi nasional.

Sr. Manager Merchant Activation & Engagement Blibli sekaligus Penanggung Jawab Program Social E-Compreneur Aji Hogantara mengungkapkan, partisipasi Blibli dalam program ini sejalan dengan komitmennya sebagai e-commerce lokal yang mendukung pertumbuhan UMKM Indonesia. “Kami melihat begitu besarnya kesempatan yang dapat diraih oleh pelaku UMKM ketika memanfaatkan platform online. Pandangan inilah yang mendorong kami untuk terus mendukung program Gernas BBI sejak tahun lalu,” kata Aji Hogantara.

Blibli berharap melalui Kelas Kewirausahaan Sosial UGM ini, peserta bisa lebih memahami mengenai kewirausahaan serta lanskap e-commerce, yang nantinya akan bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. “Dengan mempersiapkan generasi muda dengan sejumlah skill di Kelas Kewirausahaan Sosial UGM ini, harapannya semakin banyak sumber daya yang dapat mengakselerasi digitalisasi para pelaku UMKM di Indonesia,” tutup Aji Hogantara.

Kelas “Social E-compreneur” di program Kelas Kewirausahaan Sosial ini terdiri dari 13 sesi yang diisi oleh para tenaga ahli dari Blibli. Berlangsung mulai Februari 2021, kelas ini akan membahas berbagai topik tentang pemanfaatan ekosistem e-commerce untuk UMKM Indonesia yang disajikan dengan metode student-based learning, project based learning, dan fun learning. Beberapa topik di antaranya adalah analisa tren, manajemen produk, pemasaran media sosial dan digital, serta optimalisasi sistem e-commerce dalam pengembangan usaha.

Peserta yang terdiri dari mahasiswa di berbagai universitas dan umum ini akan mengajukan proposal proyek di akhir program, dengan memanfaatkan aplikasi ilmu yang disampaikan sepanjang sesi kelas “Social E-compreneur”. Peserta yang terpilih akan berkesempatan untuk menjadi Kakak Asuh, program kolaborasi Blibli dengan Kementerian Koperasi dan UMKM RI dan Smesco yang bertujuan membantu UMKM atau Adik Asuh untuk naik kelas melalui platform digital. Program Kakak Asuh UMKM ini sejalan dengan program Gernas BBI yang mendorong percepatan digitalisasi UMKM.

“Gagasan awal diadakannya Kelas Kewirausahaan Sosial ini adalah agar anak muda dapat mengidentifikasi masalah sosial yang ada di sekitarnya, dipadu dengan kemampuan kewirausahaan. Langkah Blibli yang merangkul para peserta untuk ikut membimbing pelaku UMKM dalam melakukan digitalisasi, merupakan cara bagi para generasi muda ini untuk menjadi bagian dari solusi yang konkret,” kata Dosen Pengampu Mata Kuliah Inovatif Kewirausahaan Sosial UGM Bayu Dardias Kurniadi.

Selain partisipasi dalam Kelas Kewirausahaan Sosial ini, Blibli telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mendukung pemberdayaan UMKM. Mulai dari kategori khusus kurasi produk Galeri Indonesia yang saat ini mencakup lebih dari 75 ribu pelaku UMKM dari berbagai daerah di Indonesia, hingga pusat edukasi bagi seller, termasuk para pelaku UMKM, bernama Blibli University, untuk membimbing mereka memaksimalkan fitur dan layanan berjualan secara digital di Blibli.


sumber : https://www.indotelko.com/read/1615432867/blibli-ugm
 

Monday, March 8, 2021

Menristek: Inovasi dan Teknologi Bantu UMKM Naik Kelas

Menristek/Kepala BRIN, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, saat wawancara daring, pada Rabu, 4 November 2020.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan inovasi dan teknologi dapat membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk naik kelas menjadi usaha yang lebih besar.

"Agar UMKM di Indonesia nantinya besar, naik kelas dari mikro ke kecil, kecil ke menengah itu karena mereka disentuh dengan teknologi baik teknologi produksinya maupun teknologi digital sekarang ini," kata Menristek Bambang dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) 2021, Jakarta, Senin, 8 Maret 2021.

Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang menuturkan UMKM akan sulit bertahan jika tidak terhubung secara digital, apalagi dalam kondisi menghadapi dampak pandemi Covid-19.

UMKM juga akan kesulitan untuk bersaing jika tidak dibantu dari segi teknologi produksinya.

Dalam acara itu, Menristek menuturkan peran BPPT menjadi krusial untuk bisa melahirkan entrepreneurship dan membesarkan UMKM. Upaya itu dapat dilakukan dengan menciptakan inovasi dan teknologi yang membantu UMKM meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksinya.

Dengan inovasi dan teknologi, menurutnya, juga dapat melahirkan lebih banyak pengusaha berbasis teknologi atau startup atau teknopreneur.

"Keberadaan startup penting karena akan membuka lapangan pekerjaan, menghasilkan solusi untuk berbagai masalah yang bisa cepat diselesaikan dengan teknologi, dan ujungnya peningkatan pertumbuhan ekonomi," tambah Menristek.


sumber : https://tekno.tempo.co/read/1440263/menristek-inovasi-dan-teknologi-bantu-umkm-naik-kelas/full&view=ok 

Sunday, March 7, 2021

Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Bagi Tips Sukses Wirausaha Jamu

Perajin jamu menjemur irisan temulawak sebagai bahan baku minuman kesehatan, (ilustrasi). BRI berkolaborasi dengan BRI Research Institute mengadakan pelatihan online bertema TANAM RERAMBAT: Tanaman Rempah Ramuan Obat.

Komitmen BRI memajukan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia di tengah pandemi Covid-19 terus dilakukan, diantaranya dengan memberikan berbagai pelatihan secara daring agar pelaku usaha bisa bertahan dan bangkit di situasi sulit. Kali ini BRI berkolaborasi dengan BRI Research Institute mengadakan pelatihan online bertema TANAM RERAMBAT: Tanaman Rempah Ramuan Obat.

Pelatihan ini menghadirkan pendiri laman jamudigital.com Karyanto sebagai pembicara utama. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan kiat-kiat sukses kepada pelaku usaha dalam mengelola bisnis jamu. Selama pelatihan berlangsung, Karyanto membagikan pengalamannya mengelola bisnisnya yang berada di sektor industri jamu-jamuan atau empon-empon.

“Gerakan back to nature telah digaungkan di seluruh dunia. Gerakan ini mengajarkan masyarakat untuk berpindah dari obat-obatan sintetik menjadi obat-obatan berbahan alami (herbal) atau yang kita kenal dengan sebutan obat tradisional atau jamu. Jadi, masyarakat dunia sudah aware dengan bahan alami dan tentu ini menjadi suatu potensi yang luar biasa untuk kita,” ujar Karyanto.

Karyanto juga mengungkapkan bahwa saat ini ada 30 ribu spesies tanaman yang ada di Indonesia, sebanyak 9.600 diantaranya terindikasi bermanfaat sebagai obat. Akan tetapi, pemanfaatannya hingga kini baru mencapai 300 jenis tanaman.

“Jadi potensinya masih sangat besar dan menjadi daya saing bangsa Indonesia dengan negara lain”, tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, pelaku UMKM binaan BRI bernama Murjiyati turut membagikan pengalamannya dalam memasarkan produk jamu-jamuan selama ini. Murjiyati adalah pelaku UMKM dari Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta, yang saat ini dikenal sebagai Desa Wisata Jamu.

Pemilik bisnis Jamu Rizky Barokah yang sudah berbisnis sejak 35 tahun terakhir ini menuturkan bahwa pelaku UMKM tak perlu malu berjualan jamu atau empon-empon. Alasannya, jamu saat ini semakin diakui sebagai ramuan yang memiliki banyak kegunaan untuk kesehatan dan pastinya banyak dibutuhkan oleh semua kalangan.

Selain mendapat cerita pengalaman dari praktisi, peserta pelatihan daring juga meraih tambahan pengetahuan mengenai layanan keuangan dan pentingnya persiapan dana darurat serta hari tua dari BRI. Pelaku UMKM bisa mempersiapkan dana-dana tersebut melalui produk DPLK BRI.

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana BRI untuk memperkenalkan aplikasi Link UMKM yang bisa digunakan pelaku usaha untuk menjalankan pemberdayaan terpadu. “Melalui aplikasi ini, diharapkan lebih banyak lagi UMKM yang siap naik kelas dan merambah pasar internasional ke depannya”, tuturnya.

BRI dan BRI Research Institute berkomitmen untuk terus menyelenggarakan pelatihan online berbasis komoditas untuk inspirasi para pelaku usaha sampai dengan 12 edisi disepanjang tahun 2021. Pelatihan UMKM secara reguler dilakukan melalui rumah BUMN BRI yang tersebar di 56 titik dengan jadwal yang tersedia di setiap rumah BUMN yang dikelola BRI.

"Ada juga pelatihan tematik UMKM secara nasional setiap hari Rabu pukul 14.00 sampai 16.00 WIB dengan menghadirkan pembicara/narasumber yang handal dan ahli di bidangnya,” tutup Aestika.



sumber : https://republika.co.id/berita/qpleih423/dorong-umkm-naik-kelas-bri-bagi-tips-sukses-wirausaha-jamu 

Sunday, February 21, 2021

Suarapemerintah.id Dukung 200 UMKM Naik Kelas di Tengah Tantangan Pandemi dan Digitalisasi


Saat ini semua sektor, khususnya di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sedang dihadapkan pada tantangan besar, yaitu tantangan pandemi virus COVID-19 dan tantangan Industry 4.0. SuaraPemerintah.id didukung oleh Kementerian Koperasi dan UMKM dan Kantor Staf Presiden Republik Indonesia mengedukasi para pelaku UMKM agar bisa memiliki pandangan dan memunculkan berbagai strategi dalam menghadapi berbagai tantantangan.

"UMKM kita harus bangkit dan bisa terus naik kelas. Tantangan adalah keniscayaan yang harus dihadapi untuk berkembang. Kita perlu adaptasi dengan membuat strategi dan inovasi dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut,” ujar Pemimpin Redaksi SuaraPemerintah.id Arief Munajad saat memberikan opening speech di Webinar Nasional Bangga Buatan Indonesia, Kamis (18/2/2021).

Webinar Nasional yang dihadiri 200 lebih pelaku UMKM dari seluruh Indonesia tersebut juga dihadiri oleh berbagai tokoh dari kalangan pemerintah, media massa, praktisi bisnis, dan para ahli. Hadir sebagai keynote speech, yaitu Kepala Staf Presiden Jend. Purn. Moeldoko yang diwakili oleh Panutan S. Sulendrakusuma selaku Deputi III Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden. Juga perwakilan dari Kementerian Koperasi dan UMKM, yaitu Hanung Harimba Rachman, selaku Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koperasi dan UMKM.

Panutan S. Sulendrakusuma selaku Deputi III Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden mengungkapkan, keberaadaan UMKM memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia.

“Dunia usaha kita didominasi oleh UMKM sebesar 99%. Tenaga kerja sebesar 97% diserap UMKM. Sebagian besar rakyat Indonesia mengandalkan penghasilan dari sektor UMKM. Dari sisi out put, UMKM memberikan sumbangan yang tidak bisa diabaikan dalm perekonomian nasional. Sebesar 60% PDB merupakan kontribusi UMKM dan 14% ekpor nasional dilakukan oleh UMKM,” paparnya.

Di tengah persoalan pandemi, ujar Panutan, banyak memberikan dampak terhadap UMKM di segala sisi. Penanggulangan COVID-19 menyebabkan turunnya angka penjualan, baik di dalam maupun ekpor, juga mengakibatkan terhambatnya aktifitas produksi. UMKM juga terganggu dalam pembiayaan kelangsungan usaha. Tidak sedikit yang akhirnya terpaksa melakukan PHK dan harus menutup usaha.

“Menanggapi persoalan yang dihadapi, pemerintah segera merancang PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional). Sejak Mei 2020, total anggaran PEN besar mencapai 589 triliun rupiah di tahun 2020,” ungkapnya.

Melihat pentingnya peran UMKM, Panutan mengungkapkan bahwa pemerintah sudah mengalokasikan rencana untuk dana pembiayaan UMKM dan koperasi sebesar Rp 157 triliun di tahun 2021. Selain itu berbagai program juga diluncurkan seperti program Bangga Buatan Indonesia (BBI) untuk mendorong UMKM agar mampu beradaptasi dengan era digitalisasi.

Hanung Harimba Rachman, selaku Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koperasi dan UMKM menambahkan bahwa BBI telah berkolaborasi dengan berbagai kementerian terkait, e-comerce, media massa, dan berbaga pihak swasta untuk mendukung program tersebut.

“Upaya pemerintah duntuk mendorong digitalisasi UMKM dilakukan melalui program gerakan BBI. Sejak kampanye BBI diperkenalkan pada Mei 2020, terdapat 3,8 juta UMKM yang sudah on board, melebihi yang ditargetkan sebanyak 2 juta,” ungkapnya.

Hanung mengatakan bahwa meskipun perekonomian sedang lesu, platform digital, terutama e-commerce, membawa angin segar bagi UMKM untuk melanjutkan bisnis mereka. Mengutip survei dari Sea Insight pada Juni 2020, 54% UMKM memanfaatkan media sosial untuk berjualan online.

Sementara UMKM yang berjualan di e-commerce mencapai 45%.

Total transaksi di e-commerce pada 2020 lalu meningkat 36% dibandingkan 2019, menurut data dari Bank Indonesia per November 2020. Transaksi di e-commerce tahun lalu senilai Rp286,9 triliun. Bahkan prediksi ekonomi digital Indonesia pada 2025 mencapai 124 miliar USD. Data tersebut disimpulkan bahwa digitalisasi akan memiliki dampak ekonomi yang siginifikan dan berkelanjutan bagi UMKM.

Hanung mengungkapkan bahwa Kemenkop UMKM terus meluncurkan berbagai program dan berkolaborasi dengan semua pihak untuk mendorong UMKM dan mensukseskan program PEN.

“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. Dengan kolaborasi dan dukungan nyata berbagai pihak kami optimis pengembangan koperasi dan UMKM menjadi penyokong ekonomi nasional yang akan semakin baik,” ujar Hanung.


sumber : https://harianterbit.com/read/129051/Suarapemerintahid-Dukung-200-UMKM-Naik-Kelas-di-Tengah-Tantangan-Pandemi-dan-Digitalisasi