Showing posts with label tahu. Show all posts
Showing posts with label tahu. Show all posts

Thursday, January 7, 2021

Babinsa Koramil 410-04/TKT Sertu Suparmin Pelopori UKM Tempe di Waykandis

Dalam rangka untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga Babinsa Koramil 410-04/TKT Sertu Suparmin mempelopori Usaha Kecil Menengah (UKM) tempe khas daun yang beralamatkan di Waykandis, Tanjung Seneng, Kota Bandar Lampung


Dalam rangka untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga Babinsa Koramil 410-04/TKT Sertu Suparmin mempelopori Usaha Kecil Menengah (UKM) tempe khas daun yang beralamatkan di Waykandis, Tanjung Seneng, Kota Bandar Lampung.

"Saat ditemui di lokasi tempat usahanya, Sertu Suparmin tengah sibuk melakukan tahapan pembuatan tempe yang selama ini menjadi salah satu pendukung peningkatan perekonomian keluarganya," Kamis (07/1/2021).

"Pada kesempatan yang ada Sertu Suparmin mengatakan, usaha pembuatan tempe khas daun yang telah digeluti selama 10 tahun itu, Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai berkembang," ujarnya.

"Ia pun menyebutkan pangsa pasar dari tempe khas daun miliknya saat ini, sudah masuk di tiga pasar yang berada di wilayah Bandar Lampung," ungkapnya.

"Dari usahanya tersebut, Suparmin dapat meningkatkan perekonomian keluarga serta membantu perekonomian warga sekitar yang ikut bekerja bersama dalam pembuatan tempe khas daun,".

"Dikatakannya, hal tersebut dapat dilakukan tidak terlepas dari dukungan Komandan Satuan yang selama ini turut mendukung serta memotivasi dirinya hingga sampai dengan saat ini," tandasnya.

"Di kesempatan berbeda, Mayor Inf Sutoto selaku Danramil 410-04/TKT membenar hal tersebut, ia pun sangat mendukung terhadap usaha yang telah dilaksanakan oleh anggotanya," ungkapnya.

"Dengan harapan apa yang telah dilakukan oleh Sertu Suparmin dapat membantu perekonomian warga disekelilingnya, hal tersebut patut mendapatkan apresiasi," jelas Mayor Sutoto

"Diakhir penyampaiannya, Mayor Sutoto berharap agar usaha Sertu Suparmin terus berkembang sehingga dapat meningkatkan perekonomian keluarganya dan juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan warga disekitarnya," pungkasnya.


sumber : https://lampung.tribunnews.com/2021/01/08/babinsa-koramil-410-04tkt-sertu-suparmin-pelopori-ukm-tempe-di-waykandis

Harga Kedelai di Kabupaten Tegal Naik, Suspriyanti: Kami Sudah Melapor ke Provinsi

Foto karyawan sedang membersihkan kedelai di rumah produsen tempe yang beralamat di Desa Debong Wetan, RT 5 RW 1, Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal, Kamis (7/1/2021) kemarin.

Naiknya harga kedelai di pasaran, membuat para produsen atau pun pedagang yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan dasar terkena imbasnya. 

Ada yang harus mengurangi jumlah produksi karena biaya yang naik, bahkan ada yang terpaksa mengurangi ukuran tebal tempe nya supaya tetap bisa bertahan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindag) Kabupaten Tegal Suspriyanti, membenarkan kedelai saat ini sedang mengalami kenaikan harga di pasaran.

Dan itu terjadi bukan hanya di Kabupaten Tegal saja, beberapa daerah lain di Indonesia juga sama. Karena saat ini komoditas kedelai masih mengandalkan impor dari USA.

Sehingga imbasnya, harga juga menyesuaikan kondisi dari tingkat importir kedelai.

"Kami rutin melaksanakan pantauan stok dan harga setiap harinya. Namun  kenapa saat ini harga kedelai naik, karena dari tingkat distributor pun harganya naik. Penyebabnya dari tingkat importir juga menaikkan harga kedelai, mengingat komoditas kedelai masih mengandalkan impor dari USA," jelas Suspriyanti, pada Tribunjateng.com, Jumat (8/1/2021).

Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal pun tidak tinggal diam mengetahui kondisi tersebut. 

Langkah awal yang dilakukan yaitu berkoordinasi dan melaporkan kondisi kenaikan harga kedelai ke Disperindag tingkat Provinsi. 

Harapannya tentu supaya bisa diteruskan ke tingkat pusat yaitu Kementerian Perdagangan RI.

Meski harga kedelai sedang naik, diakui oleh Suspriyanti terkait stok masih aman dan cukup. 
"Kami sudah menindaklanjuti dengan mengirim laporan ke tingkat Provinsi. Harapannya bisa segera diteruskan ke Kementerian Perdagangan, karena kebijakan impor yang mengatur atau berwenang adalah Kementerian Perdagangan," tuturnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, dampak dari naiknya harga kedelai di beberapa daerah termasuk di Kabupaten Tegal, membuat produsen tempe terpaksa mengurangi ukuran tempe nya yang biasa 8cm sekarang dikurangi menjadi 7cm, jadi ada pengurangan tebal 1cm.

Hal tersebut, menurut salah satu Produsen tempe di Desa Debong Wetan, Dukuhturi Kabupaten Tegal, Jaitun (45), terpaksa dilakukan karena untuk menutup biaya produksi. 

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan tempe hanya bisa digunakan untuk membeli bahan baku kedelai saja. 

Bahkan untuk membayar gaji karyawan pun Jaitun tidak sanggup, dan mau tidak mau menggunakan tabungan pribadi untuk membayar gaji 5 karyawan nya.

"Siasat yang saya lakukan supaya tetap bertahan ya dengan mengurangi ukuran tempe nya, dari yang tebal 8cm jadi 7cm. Karena kalau menaikkan harga pembeli juga tidak mau. Jadi ya jujur kenaikan harga kedelai ini sangat berpengaruh dengan kondisi usaha saya," ungkap Jaitun.

Tidak hanya mengurangi ukuran tebal tempe nya, Jaitun juga mengurangi jumlah produksinya. Dari yang biasanya 2 kuintal per hari, saat ini hanya 1,5 kuintal per hari.

Saat ini Jaitun biasa mencetak (memproduksi) 50-60 tempe per hari yang satu cetaknya membutuhkan 5 kg kedelai.

Harga satu cetak tempe Rp 50 ribu yang menggunakan alas plastik, sedangkan yang alas daun Rp 40 ribu.

"Sekarang harga kedelai Rp 9 ribu per kilogram, padahal biasanya Rp 6 ribu per kilogram. Sehingga omzet pun turun, dari yang biasnya saya bisa menjual 60 cetak tempe saat ini paling 50 cetak saja, itu pun untung-untungan. Hasil penjualan yang saya dapat hari ini pun, untuk belanja kedelai besoknya kadang masih kurang, jadi banyak tomboknya dari pada untung," terangnya.


sumber : https://jateng.tribunnews.com/2021/01/08/harga-kedelai-di-kabupaten-tegal-naik-suspriyanti-kami-sudah-melapor-ke-provinsi?page=2




Wednesday, January 6, 2021

Koperasi di Badung Diminta Sampaikan Laporan Program Kerja lewat WA Grup, Serta Laksanakan RAT 2

Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Badung, I Made Widiana 
Koperasi di Kabupaten Badung diingatkan untuk melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) di awal tahun 2021 ini.

Hal ini sebagai salah satu indikator koperasi untuk meyakinkan dalam keadaan sehat.

Meski di tengah pandemi Covid-19, RAT diharapkan terlaksana sebelum akhir Maret mendatang.
Sehingga koperasi dipastikan, benar-benar masih berjalan pada tahun 2021 ini.

Kadis Koperasi, UKM  dan Perdagangan Badung, I Made Widiana saat dikonfirmasi, Selasa (5/1/2020) mengatakan telah menjabarkan ketentuan RAT di tengah pandemi saat ini.

“Untuk RAT, sudah kami jabarkan. Karena sesuai undang-undang kan RAT wajib Januari sampai Maret,” ungkapnya.

Namun RAT di tengah pandemi covid-19, akunya  ada beberapa kebijakan yang harus dijalankan, sehingga RAT tetap bisa terlaksana.

Pertama, kata Widiana, masing-masing koperasi diminta membuat grup whatsapp.

Nantinya laporan pertanggungjawaban disampaikan lewat grup tersebut.

“Jadi laporan pertanggungjawaban keuangan, laporan pertanggungjawaban badan pemeriksa, maupun laporan program kerja disampaikan lewat WA grup,” ungkapnya.

Nah, anggota kemudian dipersilakan menanggapi laporan tersebut. Baik pertanyaan maupun kritik dan saran.

Sehingga proses koperasi berjalan secara transparan dan aktif.

“Silahkan nanti diskusi di WA grup. Itu pengurus yang memiliki teknisnya,” sarannya.

Hal itu dilakukan untuk meminimalisir  adanya kerumunan yang terjadi di tengah pandemi covid-19.

Ia pun mencontohkan jika anggota koperasi 200, sedangkan ruangan (rapat) menampung 50 orang, maka diwajibkan yang menghadiri RAT yakni 50 orang. 

Hal itu pun dilakukan untuk penerapan protokol kesehatan dengan baik.

“Jadi perwakilan  yang hadir akan mewakili anggota. Semua itu kan sudah jelas, karena sebelumnya anggota sudah mendapat laporan lebih awal,” jelasnya.

Dengan demikian, kata Widiana, disamping masukan anggota lewat grup whatsapp, juga lewat perwakilan tersebut. Hal ini menurutnya dikombinasikan.

“(Hasil RAT) tetap sah. Karena itu kembali telah melalui berita acara keputusan rapat anggota,” tegasnya.
Sehingga tegasnya pula, tak ada alasan koperasi tidak melaksanakan RAT di tengah situasi pandemi.

Sebab anggota menurutnya juga menunggu laporan dari pengurus.

“Jadi tidak ada alasan tidak melaksanakan RAT,” ujarnya.
Menurut data pihaknya mengaku di Badung  ada sebanyak  570 koperasi.

Sementara, yang aktif 499 koperasi. Disinggung mengenai jumlah koperasi yang sudah melaksanakan RAT di tahun ini, menurutnya sudah ada beberapa.

Pihaknya belum merinci, namun jumlahnya masih hitungan jari.

“Undangan RAT sudah mulai berdatangan. Termasuk hari ini ada yang melaksanakan.

Jumlahnya masih di bawah 10,” jelasnya sembari mengatakan ini kan baru minggu pertama jadi jumlahnya sedikit.

sumber : https://bali.tribunnews.com/2021/01/05/koperasi-di-badung-diminta-sampaikan-laporan-program-kerja-lewat-wa-grup-serta-laksanakan-rat-2021?page=3



Soal permasalahan kedelai, ini saran Serikat Petani Indonesia (SPI)

ILUSTRASI. Harga kedelai melonjak di awal 2021

Belakangan ini kedelai kembali disorot karena harganya yang terus meroket. Tercatat, harga kedelai di pasaran melonjak dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram (kg).

Akibat gejolak harga tersebut, setidaknya ada 5.000 pelaku usaha kecil dan menengah atau UKM di DKI Jakarta yang menghentikan proses produksi tahu dan tempe selama tiga hari, terhitung mulai tanggal 1 hingga 3 Januari 2021.

Sayangnya, kenaikan harga tersebut berasal dari kedelai impor bukan kedelai lokal. Mengingat tata niaga kedelai di Indonesia mengacu pada pasar bebas atau internasional.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan, kondisi saat ini merupakan imbas dari kebijakan pasar bebas sejak Indonesia menjadi anggota WTO tahun 1995 dan Letter of Intent (LOI) IMF dengan Pemerintahan Soeharto pada tahun 1998.

Awalnya produksi petani kedelai di tingkat lokal sanggup memenuhi 70%-75% kebutuhan kedelai nasional, impor hanya sekitar 20%. Namun, kondisi ini sekarang terbalik. Di mana kedelai impor menjadi sumber utama kebutuhan kedelai nasional. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester I-2020 mencapai 1,27 juta ton.

Henry mengingatkan, pemerintah harus berhati-hati, karena ini semua bisa saja cara pedagang pasar global untuk terus perluas pasar kedelai di Indonesia. Kedelai impor ini pun bisa dipastikan adalah produk GMO yang diimpor dari Amerika Serikat, dan Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina.

“Gejolak harga kacang kedelai ini juga bisa sebagai upaya pengenalan benih kedelai hasil rekayasa genetik atau GMO (Genetically Modified Organism) untuk dikembangkan di Indonesia yang berpotensi besar menghilangkan benih-benih kedelai lokal. Untuk di Indonesia sendiri impor kedelai juga masih dikuasai oleh korporasi transnasional skala besar seperti Cargill,” kata Henry dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Selasa (5/1).

Dia menambahkan, kendati Indonesia mengimpor kedelai dalam jumlah yang besar, berdasarkan Undang-Undang yang ada, Indonesia masih termasuk negara yang mau memproteksi pasar dalam negerinya. 

Terdapat upaya untuk meningkatkan produksi dengan gerakan menanam kedelainya untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sebagai implementasi dari Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 dan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Nomor 19 Tahun 2013.

Hanya saja, upaya untuk mengimpor kedelai ini dikhawatirkan akan semakin gencar usai hadirnya UU 11/2020 tentang Cipta Kerja. Sebab, UU Cipta Kerja menghapus larangan impor bila kebutuhan dalam negeri mencukupi maupun prioritas penggunaan produk pangan domestik.

"Tidak hanya itu, dihapuskannya pasal 11 ayat (2) dan (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman juga membuat produk GMO lebih mudah beredar di Indonesia,” ungkap dia.
SPI menilai, upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri sebenarnya sudah diinisiasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Menteri Pertanian sebelumnya, meluncurkan program peningkatan produksi kacang kedelai melalui proyek pajale (padi jagung, dan kedelai), meskipun proyek ini gagal memenuhi target yang direncanakan.

"Kementerian Pertanian sempat menargetkan produksi kedelai pada 2019 bisa mencapai 2,8 juta ton untuk memenuhi kebutuhan yang diperkirakan mencapai 4,4 juta ton. Namun hingga Oktober 2019 hanya tercapai 480.000 ton atau 16,4% dari target. Pada 2018 juga sama, dari target 2,2 juta ton produksi kedelai, hanya terealisasi 982.598 ton," tegas dia.

Henry melanjutkan, permasalahannya adalah bukan karena tidak bisa peningkatan tetapi faktor ketersediaan dan luas tanah yang kurang menjadi salah satu penyebab. Karena itu, program reforma agraria harusnya bisa dipercepat untuk bisa memperluas lahan untuk tanaman kedelai dan pangan lainnya.

“Program pajale menanam di tanah yang sama. Petani tidak mau menanam padi, bersama dengan jagung atau kedelai. Petani pilih padi dan jagung saja, lebih mudah tanam padi diselingi dengan jagung, daripada padi dengan kedelai, walau tanah lebih subur. Karena kedelai itu punya unsur N. Beda dengan di Latin Amerika, mereka tanam jagung dan kedelai saja," pungkas Henry.


sumber : https://industri.kontan.co.id/news/soal-permasalahan-kedelai-ini-saran-serikat-petani-indonesia-spi?page=2

Kronologi Isu Kedelai Dongkrak Harga Tahu Tempe


Kenaikan harga kedelai impor menjadi pemicu tahu dan tempe semakin mahal di pasar. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Polemik kenaikan harga tempe dan tahu berawal kala para pengrajin di DKI Jakarta dan Jawa Barat menggelar aksi mogok produksi pada 1-3 Januari lalu. Mogok dilakukan sebagai bentuk protes atas kenaikan harga kedelai.

Tercatat, harga kedelai di pasar internasional naik 9 persen dari kisaran US$11,92 menjadi US$12,95 per busel. Alhasil, harga kedelai impor yang dibeli Indonesia sebagai bahan baku tahu tempe naik dari kisaran Rp9.000 menjadi Rp9.300 per kilogram (kg).

"Dengan ini pengurus Gakoptindo mendukung penuh langka dan upaya yang dilakukan oleh Puskopti DKI Jakarta dan Jawa Barat untuk melakukan mogok produksi yang dilaksanakan pada tanggal 1, 2, 3 Januari dengan tujuan agar kenaikan harga tahu dan tempe bisa kompak," ujar Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) dalam surat tertanggal 29 Desember 2020 kepada Pusat Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Puskopti).

Ketua Umum Gakoptindo Aip Syaifuddin menyampaikan mogok produksi dilakukan agar harga tahu dan tempe dapat naik secara serentak di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Memang, industri tahu dan tempe Indonesia masih bergantung pada kedelai impor.

Sebelumnya, Gakoptindo sendiri telah menyampaikan harga tahu dan tempe akan dinaikkan 10-20 persen. Hal ini mempertimbangkan harga kedelai impor yang terus melambung.

Namun, kata Aip, imbauan tersebut tak diikuti secara kompak oleh beberapa pengrajin tahu dan tempe. Beberapa mengambil kesempatan meraup untung dengan tidak menaikkan harga agar dagangannya lebih laku.

Akibatnya harga jual tetap rendah dan banyak produsen kembali merugi. Padahal, tutur Aip, kenaikan harga jual adalah satu-satunya solusi jangka pendek untuk menghindari kerugian akibat tingginya harga kedelai.

Menindaklanjuti hal tersebut, pada Minggu (3/1), Gakoptindo secara resmi mengumumkan kenaikan harga penjualan tahu tempe di kisaran 10 persen hingga 20 persen.

Aip mengatakan kenaikan tersebut merupakan usulan, desakan dan permintaan dari anggota perajin tempe dan tahu di berbagai wilayah di Indonesia.

Di pasar tradisional, harga tahu dan tempe mulai naik pada Senin (4/1) sebagai imbas dari melambungnya harga kedelai.

Dari pantauan CNNIndonesia.com di lapangan, terjadi kenaikan sebesar Rp1.000 hingga Rp2.000 per papan tempe tergantung ukuran. Hal sama juga terjadi pada penjualan tahu.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto meminta pembeli untuk memaklumi kenaikan tersebut.

"Harap masyarakat bisa memaklumi, karena kami tidak mungkin menggantikan kebutuhan kedelai yang memang minim di dalam negeri," ucapnya pekan lalu.

Di sisi lain, Suhanto menuturkan kementeriannya terus bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) serta Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) untuk mencari jalan keluar dari masalah tingginya harga kedelai di pasar internasional.

Saat ini, katanya, Kemenkop sudah berkomunikasi dengan para pengrajin agar tetap mau melanjutkan produksi. Sedangkan Kementan akan berusaha meningkatkan produktivitas produksi kedelai di dalam negeri yang hanya berkontribusi sekitar 30 persen dari total kebutuhan.

Kendati begitu, Suhanto belum bisa memperkirakan berapa besar kemungkinan kenaikan harga tahu dan tempe nanti. Namun, ia memberi gambaran bahwa kenaikan harga kedelai impor saat ini sekitar 3,3 persen dari harga normal.

Secara terpisah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku akan melipatgandakan produksi atau ketersediaan kedelai di dalam negeri sebagai solusi.

Ia mengakui pengembangan kedelai lokal sulit dilakukan oleh petani di dalam negeri. Padahal, kebutuhannya setiap tahun terus meningkat.

"Petani lebih memilih untuk menanam komoditas lain yang punya kepastian pasar. Namun, kami terus mendorong petani untuk melakukan budidaya," ujarnya dalam keterangan resmi.


sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210106093912-92-590015/kronologi-isu-kedelai-dongkrak-harga-tahu-tempe

Tuesday, January 5, 2021

Pelaku UKM Industri Turunan Tempe Keluhkan Kenaikan Bahan Baku

Pelaku usaha mengepak keripik tempe siap jual/edar di sentra industri keripik tempe di Tulungagung, Jawa Timur, Senin (04/01/2021). (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Pelaku usaha kecil dan menengah industri turunan tempe mengeluhkan kenaikan harga bahan baku kedelai dan minyak goreng hingga kisaran Rp3 ribu per kilogram selama dua bulan terakhir. 

Supriyanto (38), salah satu pelaku usaha industri penganan berbahan dasar tempe, Selasa mengatakan harus mengatur siasat agar produk jajanan yang diproduksi tetap laku di pasaran. 

“Kami terpaksa memilih mengurangi marjin keuntungan demi mempertahankan produk keripik tempe dengan standar mutu yang sama sementara harga juga tidak berubah” kata pelaku UKM keripik tempe di Desa Sanggrahan Kecamatan Boyolangu ini. 

Dikatakan, harga kedelai mulai naik usai pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2020. 

Harga normal kedelai yang biasanya di kisaran Rp7 ribu per kilogran, kini mencapai Rp97 ribu per kilogram. 

Menurut Supriyanto, kenaikan harga ini diperkirakan masih akan terus terjadi. 

Diakui, selama ini Indonesia bergantung pada kedelai impor untuk pemenuhan kebutuhan kedelai dalam negeri. 

Dalam sehari produksi, Supriyanto rata- rata mengolah minimal 50 kilogram kedelai untuk dijadikan keripik tempe. 

Sejak harga kedelai impor naik, Supriyanto tidak mempunyai pilihan lain selain tetap berproduksi setiap hari.

sumber : https://nusadaily.com/regional/pelaku-ukm-industri-turunan-tempe-keluhkan-kenaikan-bahan-baku.html