Showing posts with label kedelai. Show all posts
Showing posts with label kedelai. Show all posts

Thursday, August 26, 2021

Bantu UKM, Mahasiswa UNESA Bikin Mesin Pembuat Susu Kedelai 3 in 1

 

Bantu UKM, Mahasiswa UNESA Bikin Mesin Pembuat Susu Kedelai 3 in 1

Membantu laju bisnis usaha kecil dan menengah atau UKM tak cukup hanya dengan membeli produk mereka saja. Bila punya inovasi yang bisa mengefisienkan proses produksi, itu justru lebih baik. Seperti cara lima mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang membuat mesin canggih pembuat susu kedelai. Adalah Rizdana Galih Pambudi, Rizky Eka Saputra, Puji Dwi Pangestu, Muhammad Nur Salim, dan Apria Nur Eka Falah yang tergabung di Tim Program Kreativitas Mahasiswa Unesa menciptakan ‘Soy Milk Machine with 3 in 1 Process’ (processing, cooling, packaging) untuk membantu meningkatkan kualitas, mutu, dan hasil produksi UKM susu kedelai di Surabaya.

Inovasi yang lahir dari tangan mahasiswa bimbingan Dr. Yunus, M.Pd itu berupa mesin yang mengintegrasikan tiga proses sekaligus, yakni pengolahan, pendinginan, dan pengemasan susu kedelai. Mesin tersebut dilengkapi dengan fitur temperature controller untuk mengatur suhu panas sesuai kebutuhan. Selain itu, juga berfungsi untuk menghasilkan proses pematangan bahan yang lebih merata.
Mesin canggih ini juga memiliki motor wiper yang berfungsi sebagai pengaduk secara otomatis. Kemudian pada proses pendinginan menerapkan teknologi heat exchanger yang direndam dalam air sehingga mampu untuk mengatasi masalah proses pendinginan yang masih sederhana.

Rizdana Galih Pambudi menjelaskan bahwa heat exchanger merupakan alat yang menggunakan uap lewat panas dan air biasa sebagai pendingin. “Fungsinya bisa sebagai pemanas maupun sebagai pendingin,” jelasnya. Sementara untuk proses pengemasan juga menggunakan fitur yang sudah dilengkapi dengan pengontrol waktu sehingga proses pengemasan dapat berlangsung lebih singkat dan secara semi otomatis.

Rizdana mengatakan, mesin tersebut bermula dari keresahan dia dan rekan-rekannya melihat proses produksi UKM susu kedelai mulai dari proses penyaringan, pemasakan, pendinginan dan pengemasan yang masih menggunakan cara-cara manual, dan alat seadanya, sehingga proses produksi cukup memakan waktu dan tidak efektif pun tidak efisien.

Salah satu yang mengalami permasalahan tersebut yakni UKM Susu Kedelai Pak Abbas, Pakal, Surabaya Barat. “Kita diskusi dengan pemiliki UKM tersebut dan katanya memang permasalahannya selama ini adalah proses produksi yang memakan waktu yang tidak sedikit sehingga hasil produksi pun terbatas,” tuturnya.

Setelah melewati berbagai proses, akhirnya mereka menemukan ide untuk membuat mesin produksi susu kedelai yang terintegrasi tiga proses sekaligus itu dalam program PKM UNESA dengan tema “Mesin Pengolah, Pendingin, dan Pengemas Susu Kedelai dengan Sistem 3-In-1 Integrated Process untuk Meningkatkan Produktivitas dan Efektivitas UKM Susu Kedelai”.

Dr. Yunus, M.Pd., selaku dosen pembimbing tim PKM berharap inovasi mesin produksi susu kedelai tersebut dapat membantu dan meningkatkan produktivitas dan efektivitas pelaku usaha usaha menengah maupun kecil susu kedelai di Surabaya. “Karena kebutuhan itu dinamis, tentu inovasi mesin ini bukanlah akhir, tetapi justru menjadi awal bagi kreasi dan inovasi berikutnya,” pungkasnya. #KreasiBersamaUnesa.

Sumber : https://m.kumparan.com/beritaanaksurabaya/bantu-ukm-mahasiswa-unesa-bikin-mesin-pembuat-susu-kedelai-3-in-1-1wJLkbMULR2/full

Tuesday, February 23, 2021

Anwar Sadad : Produsen Tempe Mengeluh Harga Kedelai Mahal, Bikin UKM Menjerit

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anwar Sadad (kanan) dan foto ilustrasi kedelai (kiri).

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anwar Sadad mendapat keluhan dari produsen tempe di Jawa Timur.

Ini disebabkan dengan mahalnya kedelai sebagai bahan baku utama tempe.

"Kami baru saja diskusi produsen tempe dan tahu. Dari diskusi ini, para pelaku UKM tempe tahu menjerit karena harga kedelai melangit," kata Sadad kepada SURYA.co.id, dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (23/2/2021).

Menurut Sadad, tingginya harga kedelai tak seiring dengan harga produk tempe yang mereka jual. Sehingga, para produsen pun merugi.

"Per hari ini di angka (harga kedelai) mencapai Rp 9.800 per kg atau naik 25-30 persen dibanding sejak awal pandemi. Tetapi mereka hanya bisa menaikkan 10-15 persen harga jual tempe dan tahu," katanya.

Plt Ketua Gerindra Jawa Timur ini menilai harus ada intervensi dari pemerintah provinsi untuk ikut menekan harga kedelai.

"Gubernur (Khofifah Indar Parawansa) harus mendengar jeritan produsen tempe," kata Sadad.

Di sisi lain, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim sejak Januari lalu telah melakukan koordinasi dengan para importir guna menekan tingginya harga kedelai di wilayah itu.

Hal ini sebagai upaya pemenuhan kebutuhan kedelai bagi Industri Kecil Menengah (IKM) tahu dan tempe yang berada di wilayah setempat.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim, Drajat Irawan mengatakan produksi kedelai Jawa Timur selama tahun 2020 sebesar 57.235 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi kedelai sebesar 447.912 ton.

Sehingga, terdapat defisit 390.677 ton yang harus dipenuhi melalui impor.

Berdasarkan data BPS Jatim pada periode Januari-Oktober 2020, impor kedelai sebanyak 698.191,92 ton mengalami penurunan sebesar 10,31 persen dibanding periode yang sama di tahun 2019.

Drajat mengatakan, menurut hasil koordinasi yang telah dilakukan dengan sentra industri tempe Sanan yang berada di Kota Malang yang terdiri dari 600-an pengrajin tempe diperoleh informasi bahwa harga kedelai mengalami kenaikan dan mulai jarang tersedia.

"Meski mahal, mereka yang ada di sentra industri tempe Sanan, tetap melakukan produksi dengan penurunan sekitar 20 persen," kata Drajat.

Oleh karena itu, kata Drajat, untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan importir dan berhasil memperoleh dukungan CSR berupa kedelai dengan harga yang kompetitif sebesar Rp 8.500 dari PT. FKS Multi Agro, Tbk untuk membantu IKM tahu dan tempe.


sumber : https://surabaya.tribunnews.com/2021/02/24/anwar-sadad-produsen-tempe-mengeluh-harga-kedelai-mahal-bikin-ukm-menjerit

Thursday, January 7, 2021

Babinsa Koramil 410-04/TKT Sertu Suparmin Pelopori UKM Tempe di Waykandis

Dalam rangka untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga Babinsa Koramil 410-04/TKT Sertu Suparmin mempelopori Usaha Kecil Menengah (UKM) tempe khas daun yang beralamatkan di Waykandis, Tanjung Seneng, Kota Bandar Lampung


Dalam rangka untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga Babinsa Koramil 410-04/TKT Sertu Suparmin mempelopori Usaha Kecil Menengah (UKM) tempe khas daun yang beralamatkan di Waykandis, Tanjung Seneng, Kota Bandar Lampung.

"Saat ditemui di lokasi tempat usahanya, Sertu Suparmin tengah sibuk melakukan tahapan pembuatan tempe yang selama ini menjadi salah satu pendukung peningkatan perekonomian keluarganya," Kamis (07/1/2021).

"Pada kesempatan yang ada Sertu Suparmin mengatakan, usaha pembuatan tempe khas daun yang telah digeluti selama 10 tahun itu, Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai berkembang," ujarnya.

"Ia pun menyebutkan pangsa pasar dari tempe khas daun miliknya saat ini, sudah masuk di tiga pasar yang berada di wilayah Bandar Lampung," ungkapnya.

"Dari usahanya tersebut, Suparmin dapat meningkatkan perekonomian keluarga serta membantu perekonomian warga sekitar yang ikut bekerja bersama dalam pembuatan tempe khas daun,".

"Dikatakannya, hal tersebut dapat dilakukan tidak terlepas dari dukungan Komandan Satuan yang selama ini turut mendukung serta memotivasi dirinya hingga sampai dengan saat ini," tandasnya.

"Di kesempatan berbeda, Mayor Inf Sutoto selaku Danramil 410-04/TKT membenar hal tersebut, ia pun sangat mendukung terhadap usaha yang telah dilaksanakan oleh anggotanya," ungkapnya.

"Dengan harapan apa yang telah dilakukan oleh Sertu Suparmin dapat membantu perekonomian warga disekelilingnya, hal tersebut patut mendapatkan apresiasi," jelas Mayor Sutoto

"Diakhir penyampaiannya, Mayor Sutoto berharap agar usaha Sertu Suparmin terus berkembang sehingga dapat meningkatkan perekonomian keluarganya dan juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan warga disekitarnya," pungkasnya.


sumber : https://lampung.tribunnews.com/2021/01/08/babinsa-koramil-410-04tkt-sertu-suparmin-pelopori-ukm-tempe-di-waykandis

Harga Kedelai di Kabupaten Tegal Naik, Suspriyanti: Kami Sudah Melapor ke Provinsi

Foto karyawan sedang membersihkan kedelai di rumah produsen tempe yang beralamat di Desa Debong Wetan, RT 5 RW 1, Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal, Kamis (7/1/2021) kemarin.

Naiknya harga kedelai di pasaran, membuat para produsen atau pun pedagang yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan dasar terkena imbasnya. 

Ada yang harus mengurangi jumlah produksi karena biaya yang naik, bahkan ada yang terpaksa mengurangi ukuran tebal tempe nya supaya tetap bisa bertahan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindag) Kabupaten Tegal Suspriyanti, membenarkan kedelai saat ini sedang mengalami kenaikan harga di pasaran.

Dan itu terjadi bukan hanya di Kabupaten Tegal saja, beberapa daerah lain di Indonesia juga sama. Karena saat ini komoditas kedelai masih mengandalkan impor dari USA.

Sehingga imbasnya, harga juga menyesuaikan kondisi dari tingkat importir kedelai.

"Kami rutin melaksanakan pantauan stok dan harga setiap harinya. Namun  kenapa saat ini harga kedelai naik, karena dari tingkat distributor pun harganya naik. Penyebabnya dari tingkat importir juga menaikkan harga kedelai, mengingat komoditas kedelai masih mengandalkan impor dari USA," jelas Suspriyanti, pada Tribunjateng.com, Jumat (8/1/2021).

Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal pun tidak tinggal diam mengetahui kondisi tersebut. 

Langkah awal yang dilakukan yaitu berkoordinasi dan melaporkan kondisi kenaikan harga kedelai ke Disperindag tingkat Provinsi. 

Harapannya tentu supaya bisa diteruskan ke tingkat pusat yaitu Kementerian Perdagangan RI.

Meski harga kedelai sedang naik, diakui oleh Suspriyanti terkait stok masih aman dan cukup. 
"Kami sudah menindaklanjuti dengan mengirim laporan ke tingkat Provinsi. Harapannya bisa segera diteruskan ke Kementerian Perdagangan, karena kebijakan impor yang mengatur atau berwenang adalah Kementerian Perdagangan," tuturnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, dampak dari naiknya harga kedelai di beberapa daerah termasuk di Kabupaten Tegal, membuat produsen tempe terpaksa mengurangi ukuran tempe nya yang biasa 8cm sekarang dikurangi menjadi 7cm, jadi ada pengurangan tebal 1cm.

Hal tersebut, menurut salah satu Produsen tempe di Desa Debong Wetan, Dukuhturi Kabupaten Tegal, Jaitun (45), terpaksa dilakukan karena untuk menutup biaya produksi. 

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan tempe hanya bisa digunakan untuk membeli bahan baku kedelai saja. 

Bahkan untuk membayar gaji karyawan pun Jaitun tidak sanggup, dan mau tidak mau menggunakan tabungan pribadi untuk membayar gaji 5 karyawan nya.

"Siasat yang saya lakukan supaya tetap bertahan ya dengan mengurangi ukuran tempe nya, dari yang tebal 8cm jadi 7cm. Karena kalau menaikkan harga pembeli juga tidak mau. Jadi ya jujur kenaikan harga kedelai ini sangat berpengaruh dengan kondisi usaha saya," ungkap Jaitun.

Tidak hanya mengurangi ukuran tebal tempe nya, Jaitun juga mengurangi jumlah produksinya. Dari yang biasanya 2 kuintal per hari, saat ini hanya 1,5 kuintal per hari.

Saat ini Jaitun biasa mencetak (memproduksi) 50-60 tempe per hari yang satu cetaknya membutuhkan 5 kg kedelai.

Harga satu cetak tempe Rp 50 ribu yang menggunakan alas plastik, sedangkan yang alas daun Rp 40 ribu.

"Sekarang harga kedelai Rp 9 ribu per kilogram, padahal biasanya Rp 6 ribu per kilogram. Sehingga omzet pun turun, dari yang biasnya saya bisa menjual 60 cetak tempe saat ini paling 50 cetak saja, itu pun untung-untungan. Hasil penjualan yang saya dapat hari ini pun, untuk belanja kedelai besoknya kadang masih kurang, jadi banyak tomboknya dari pada untung," terangnya.


sumber : https://jateng.tribunnews.com/2021/01/08/harga-kedelai-di-kabupaten-tegal-naik-suspriyanti-kami-sudah-melapor-ke-provinsi?page=2




Wednesday, January 6, 2021

Soal permasalahan kedelai, ini saran Serikat Petani Indonesia (SPI)

ILUSTRASI. Harga kedelai melonjak di awal 2021

Belakangan ini kedelai kembali disorot karena harganya yang terus meroket. Tercatat, harga kedelai di pasaran melonjak dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram (kg).

Akibat gejolak harga tersebut, setidaknya ada 5.000 pelaku usaha kecil dan menengah atau UKM di DKI Jakarta yang menghentikan proses produksi tahu dan tempe selama tiga hari, terhitung mulai tanggal 1 hingga 3 Januari 2021.

Sayangnya, kenaikan harga tersebut berasal dari kedelai impor bukan kedelai lokal. Mengingat tata niaga kedelai di Indonesia mengacu pada pasar bebas atau internasional.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan, kondisi saat ini merupakan imbas dari kebijakan pasar bebas sejak Indonesia menjadi anggota WTO tahun 1995 dan Letter of Intent (LOI) IMF dengan Pemerintahan Soeharto pada tahun 1998.

Awalnya produksi petani kedelai di tingkat lokal sanggup memenuhi 70%-75% kebutuhan kedelai nasional, impor hanya sekitar 20%. Namun, kondisi ini sekarang terbalik. Di mana kedelai impor menjadi sumber utama kebutuhan kedelai nasional. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester I-2020 mencapai 1,27 juta ton.

Henry mengingatkan, pemerintah harus berhati-hati, karena ini semua bisa saja cara pedagang pasar global untuk terus perluas pasar kedelai di Indonesia. Kedelai impor ini pun bisa dipastikan adalah produk GMO yang diimpor dari Amerika Serikat, dan Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina.

“Gejolak harga kacang kedelai ini juga bisa sebagai upaya pengenalan benih kedelai hasil rekayasa genetik atau GMO (Genetically Modified Organism) untuk dikembangkan di Indonesia yang berpotensi besar menghilangkan benih-benih kedelai lokal. Untuk di Indonesia sendiri impor kedelai juga masih dikuasai oleh korporasi transnasional skala besar seperti Cargill,” kata Henry dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Selasa (5/1).

Dia menambahkan, kendati Indonesia mengimpor kedelai dalam jumlah yang besar, berdasarkan Undang-Undang yang ada, Indonesia masih termasuk negara yang mau memproteksi pasar dalam negerinya. 

Terdapat upaya untuk meningkatkan produksi dengan gerakan menanam kedelainya untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sebagai implementasi dari Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 dan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Nomor 19 Tahun 2013.

Hanya saja, upaya untuk mengimpor kedelai ini dikhawatirkan akan semakin gencar usai hadirnya UU 11/2020 tentang Cipta Kerja. Sebab, UU Cipta Kerja menghapus larangan impor bila kebutuhan dalam negeri mencukupi maupun prioritas penggunaan produk pangan domestik.

"Tidak hanya itu, dihapuskannya pasal 11 ayat (2) dan (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman juga membuat produk GMO lebih mudah beredar di Indonesia,” ungkap dia.
SPI menilai, upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri sebenarnya sudah diinisiasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Menteri Pertanian sebelumnya, meluncurkan program peningkatan produksi kacang kedelai melalui proyek pajale (padi jagung, dan kedelai), meskipun proyek ini gagal memenuhi target yang direncanakan.

"Kementerian Pertanian sempat menargetkan produksi kedelai pada 2019 bisa mencapai 2,8 juta ton untuk memenuhi kebutuhan yang diperkirakan mencapai 4,4 juta ton. Namun hingga Oktober 2019 hanya tercapai 480.000 ton atau 16,4% dari target. Pada 2018 juga sama, dari target 2,2 juta ton produksi kedelai, hanya terealisasi 982.598 ton," tegas dia.

Henry melanjutkan, permasalahannya adalah bukan karena tidak bisa peningkatan tetapi faktor ketersediaan dan luas tanah yang kurang menjadi salah satu penyebab. Karena itu, program reforma agraria harusnya bisa dipercepat untuk bisa memperluas lahan untuk tanaman kedelai dan pangan lainnya.

“Program pajale menanam di tanah yang sama. Petani tidak mau menanam padi, bersama dengan jagung atau kedelai. Petani pilih padi dan jagung saja, lebih mudah tanam padi diselingi dengan jagung, daripada padi dengan kedelai, walau tanah lebih subur. Karena kedelai itu punya unsur N. Beda dengan di Latin Amerika, mereka tanam jagung dan kedelai saja," pungkas Henry.


sumber : https://industri.kontan.co.id/news/soal-permasalahan-kedelai-ini-saran-serikat-petani-indonesia-spi?page=2