Showing posts with label marketplace. Show all posts
Showing posts with label marketplace. Show all posts

Tuesday, June 11, 2024

Begini Cara Digitalisasi Perluas Akses UMKM dan Bisnis

 


Jakarta - Dalam era digital yang semakin maju, para pelaku bisnis mulai dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga pebisnis menengah dan besar dituntut untuk dapat beradaptasi dan memanfaatkan teknologi secara maksimal.


Pelaku bisnis membutuhkan platform yang menyediakan solusi efektif bagi para pebisnis, khususnya di industri Business-to-Business (B2B) dan Business-to-Government (B2G) untuk memperluas bisnisnya.

CEO Indotrading mengatakan, pihaknya merupakan salah satu platform utama bagi para pebisnis di Indonesia yang ingin memperluas jangkauan dan jaringan mereka.

"Dengan menyediakan direktori bisnis yang lengkap dan terpercaya, Indotrading menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perusahaan dari berbagai industri dengan calon pelanggan, mitra bisnis, dan pemerintah," ujar Handy Chang di Jakarta, Selasa (11/6/2024).

Sebagai marketplace B2B, Indotrading memungkinkan para pebisnis untuk memasarkan produk dan layanan mereka secara lebih efektif. Platform ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan para pelaku bisnis yang ingin meningkatkan visibilitas produk mereka, menemukan mitra bisnis yang potensial, dan menjangkau pasar yang lebih luas.


Handy Chang menambahkan, Indotrading memiliki ribuan listing bisnis dari berbagai industri. Mulai dari manufaktur, perdagangan, jasa, hingga teknologi. Setiap listing dilengkapi dengan informasi lengkap tentang perusahaan, produk, dan layanan yang ditawarkan.

"Kami menyediakan berbagai fitur promosi dan pemasaran yang dapat membantu bisnis Anda menonjol di pasar. Mulai dari listing premium, iklan banner, hingga kampanye email, semua tersedia untuk mendukung strategi pemasaran Anda," tambah Handy.

Handy Chang menegaskan bahwa sebagai pelaku bisnis di industri B2B atau B2G, pihaknya juga menawarkan berbagai manfaat yang tidak hanya memudahkan Anda dalam mengelola dan memasarkan bisnis Anda, tetapi juga membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Dengan bergabung bersama Indotrading, para pebisnis akan mendapatkan akses ke jaringan bisnis yang luas, sumber daya yang komprehensif, dan dukungan yang tak tertandingi. Platform ini tidak hanya membantu untuk menemukan pelanggan baru, tetapi juga meningkatkan reputasi dan kredibilitas bisnis di pasar.


Sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7385177/begini-cara-digitalisasi-perluas-akses-umkm-dan-bisnis

Tuesday, April 23, 2024

Biaya layanan lokapasar naik, UMKM diimbau fokus genjot penjualan

 

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero mengimbau para pelaku UMKM untuk fokus menggenjot penjualan mereka demi meminimalisir dampak dari kenaikan biaya layanan lokapasar (marketplace).


Pernyataan itu disampaikan Edy merespons pertanyaan terkait pengumuman Tokopedia yang akan menaikkan biaya layanan mereka mulai dari 2 persen hingga 6,5 persen per 1 Mei 2024.

 

Saat dihubungi ANTARA melalui sambungan telepon, Selasa, Edy mengakui bahwa keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku UMKM karena kenaikan biaya layanan ini dapat berdampak pada keuntungan mereka.

 

Namun, alih-alih menaikkan harga produk mereka, pelaku UMKM diimbau untuk menggenjot volume penjualan apalagi Tokopedia yang kini sudah merger dengan Tiktok adalah pasar yang besar dan potensial bagi UMKM.

 

“Oke tidak apa-apa biaya layanannya naik 5 persen, tetapi bagaimana saya menggenjot penjualan saya, yang tadinya 1.000 buah, bisa tidak saya menjual jadi 2.000. Sehingga secara kualitas dan kuantitas akan menghasilkan keuntungan yang cukup,” ujarnya.

 

Ia juga mengimbau para pelaku UMKM untuk memperhitungkan margin keuntungan mereka setelah adanya kenaikan ini.

 

Di sisi lain, Edy berharap Tokopedia dapat meningkatkan biaya layanannya secara berharap.

 

“Jangan membuat kami sebagai pelaku UMKM terkaget-kaget dengan kenaikan biaya layanan,” ujarnya.

 

“Meski demikian, satu hal yang harus dipegang oleh UMKM harus tetap bertahan dalam kondisi apa pun,” lanjutnya.

 

Tokopedia mengumumkan akan menyesuaikan biaya layanan mulai dari 2 persen hingga 6.5 persen yang berlaku untuk mitra penjual yang terdaftar sebagai Power Merchant dan Power Merchant PRO. Biaya layanan akan dihitung berdasarkan kategori produk yang terjual.

 

Tokopedia membagi ke dalam lima kategori grup produk, yakni kategori A (naik menjadi 6,50 persen), B (5,50 persen), C (4 persen), D (3,10 persen), dan E (2 persen).

 

Kelima kategori ini terbagi ke dalam pengelompokan berbagai jenis barang seperti barang elektronik, fesyen, ibu dan bayi, kecantikan, kesehatan, perawatan tubuh, makanan dan minuman, olahraga, dan rumah tangga.

 

Langkah Tokopedia ini menyusul Shopee dan Lazada yang telah lebih dulu menaikkan biaya layanannya sejak Desember 2023.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/biaya-layanan-lokapasar-naik-umkm.html

Monday, April 22, 2024

Biaya layanan lokapasar naik, UMKM diimbau cermat hitung margin

 

Jakarta (ANTARA) - Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN, Loto Srinaita Ginting, mengatakan para pelaku UMKM harus cermat memperhitungkan margin keuntungan mereka menyusul banyaknya lokapasar (marketplace) yang menaikkan biaya layanan kepada para mitra penjual.

Pernyataan itu disampaikan Loto merespons pertanyaan terkait keputusan Tokopedia yang akan menaikkan biaya layanan mereka mulai dari 2 persen hingga 6,5 persen per 1 Mei 2024.

Loto di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa kebijakan kenaikan biaya layanan ini adalah hak prerogatif dari masing-masing perusahaan marketplace. Namun, menurutnya, UMKM perlu cermat dalam menghitung ulang margin keuntungan mereka setelah adanya kenaikan ini.

Marketplace kan ada beragam jadi perajin UMKM ini bisa memperhitungkan apakah memang pesanan yang paling banyak itu datang dari misalnya Tokopedia,” kata Loto.

“Di samping itu, kan ada juga marketplace yang mungkin tidak sebesar itu biaya adminya,” katanya menambahkan.

Di tengah tren kenaikan biaya layanan marketplace ini, Loto menyoroti keberadaan lokapasar Pasar Digital UMKM, PaDi UMKM, yang telah diluncurkan oleh Kementerian BUMN dan perusahaan-perusahaan BUMN sejak 2020 lalu.

Ia mengatakan PaDi BUMN menawarkan biaya layanan yang relatif lebih rendah dibandingkan marketplace besar lainnya.

Pada 22 April lalu, Tokopedia mengumumkan akan menyesuaikan biaya layanan mulai dari 2 persen hingga 6.5 persen yang berlaku untuk mitra penjual yang terdaftar sebagai Power Merchant dan Power Merchant PRO. Biaya layanan akan dihitung berdasarkan kategori produk yang terjual.

Tokopedia membagi ke dalam lima kategori grup produk, yakni kategori A (naik menjadi 6,50 persen), B (5,50 persen), C (4 persen), D (3,10 persen), dan E (2 persen).

Kelima kategori ini terbagi ke dalam pengelompokan berbagai jenis barang seperti barang elektronik, fesyen, ibu dan bayi, kecantikan, kesehatan, perawatan tubuh, makanan dan minuman, olahraga, dan rumah tangga.

Langkah Tokopedia ini menyusul Shopee dan Lazada yang telah lebih dulu menaikkan biaya layanannya sejak Desember 2023.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/jakarta-antara-staf-ahli-bidang.html

Thursday, April 18, 2024

Biaya Admin Berjualan di Lokapasar Kembali Naik, UMKM Akan Terbebani

 

JAKARTA, KOMPAS — Lokapasar marak menerapkan kenaikan biaya layanan, yang kerap disebut juga biaya administrasi, kepada mitra penjual. Meski penerapan kenaikannya tidak dilakukan serentak oleh para perusahaan lokapasar, hal itu diyakini akan memberatkan bisnis mitra penjual, terutama dari kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

Sepekan terakhir, kabar kenaikan biaya layanan kepada mitra penjual lokapasar Tokopedia per 1 Mei 2024 ramai dibicarakan di media sosial. Langkah Tokopedia ini menyusul Shopee dan Lazada yang sudah menaikkan biaya layanan pada Desember 2023.

Berdasarkan penelusuran Kompas di laman pusat edukasi penjual Tokopedia, Jumat (19/4/2024), Tokopedia mengumumkan bahwa mulai 1 Mei 2024 akan ada kenaikan biaya layanan mulai dari 2 persen hingga 6,5 persen yang berlaku untuk mitra penjual yang terdaftar sebagai anggota Power Merchant dan Power Merchant Pro. Biaya layanan akan dihitung berdasarkan kategori grup produk yang terjual.

Tokopedia membagi dalam lima kategori grup produk, yakni kategori A (naik menjadi 6,5 persen), B (5,50 persen), C (4 persen), D (3,10 persen), dan E (2 persen). Kelima kategori grup ini ada di setiap pengelompokan jenis barang, mulai dari jenis barang elektronik; mode; ponsel dan sabak elektronik, ibu dan bayi; kesehatan, kecantikan, dan perawatan tubuh; makanan dan minuman; olahraga, hobi, dan gaya hidup; otomotif; dapur, rumah tangga, dan pertukangan; hingga kelompok produk lainnya.

Salah satu sorotan warganet di platform X ialah barang-barang dengan perputaran penjualan cepat dan murah dikenai biaya layanan mitra penjual yang besar. Sebagai contoh, akun @FKP_Indonesia di X pada Senin (15/4/2024) mencuit, dirinya baru mengetahui bahwa biaya layanan di Tokopedia bukan berdasarkan nilai barang, melainkan kategori barang. ”Justru yang fast(er) moving dan murah biaya layanannya lebih besar,” cuitnya.

Akun itu juga mengunggah tangkapan layar gambaran kenaikan biaya layanan kelompok buku, alat tulis, dan aksesori motor. Ketiga jenis barang tersebut masuk grup biaya layanan A yang naik 6,5 persen.

Akun @GerabahBookshop, Selasa (16/4/2024), ikut mencuit di X. Cuitannya mempertanyakan mengapa biaya layanan buku per penjualan naik menjadi 6,5 persen. Padahal, buku penting untuk literasi dan marginnya tidak bisa sebesar jenis barang elektronik.

Warganet lain di X juga ada yang mencoba membandingkan penyesuaian biaya layanan dari perusahaan teknologi lain sambil memberikan saran menyikapi fenomena itu. ”Shopee juga segituan, sih, biaya adminnya. Pakai laman sendiri truspayment gateway Xendit/Midtrans juga sekitaran 4,5 persen biayanya. Kalau cari yang fee-nya rendah pakai invoice Paper.id, biayanya masih 1,5 persenan dan bisa payment lewat Shopee dan Tokped juga,” ujar pemilik akun @atenxdana.

Berdasarkan penelusuran Kompas, Shopee telah menaikkan biaya layanan bagi mitra penjual per 1 Desember 2023. Dari laman resmi Shopee disebutkan, kenaikan biaya layanan itu berlaku bagi penjual kategori non-Star, Star, dan Star+. Penjual berkategori Star+ merupakan program dengan tingkatan lebih tinggi untuk penjual Star terpilih dalam hal performa, penjualan, dan operasional.

Sama seperti Tokopedia, Shopee juga membagi kenaikan biaya layanan dalam lima grup biaya layanan untuk setiap kelompok penjual non-Star, Star, dan Star+. Sebagai gambaran, bagi kelompok penjual level Star dan Star+, mereka dibebani lima grup biaya layanan barang, yaitu grup barang A (naik dari 4,7 menjadi 5,5 persen), B (naik dari 4 menjadi 5,5 persen), C (naik dari 4 menjadi 5,5 persen), D (naik dari 3,3 menjadi 4 persen), dan E (naik dari 3,3 menjadi 4 persen).

Penjual kategori Shopee Mall oleh Shopee juga dikenai kenaikan biaya layanan per 1 Desember 2023. Rinciannya, grup barang A (naik dari 6,5 menjadi 8,8 persen), B (naik dari 4,5 menjadi 6 persen), dan C (naik dari 2,5 menjadi 4 persen).

Sementara di Lazada, penyesuaian biaya layanan pada Desember 2023 juga dibagi dalam lima grup barang. Grup A mengalami kenaikan menjadi 6 persen, B 5 persen, C 5 persen, D 3,5 persen, dan E 3,5 persen.

Kemampuan UMKM

Terkait hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi IUMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorini berpendapat, kenaikan biaya layanan kepada mitra penjual oleh para lokapasar akan memberatkan mitra penjual yang berstatus UMKM. UMKM akan dihadapkan pada pilihan menaikkan harga jual barang supaya mengakomodasi kenaikan biaya layanan dengan konsekuensi kehilangan pelanggan, atau tidak menaikkan harga jual dan rugi.

”Tampaknya, lokapasar sudah beberapa kali melakukan penyesuaian biaya layanan kepada mitra penjual. Ada UMKM yang menceritakan mengapa biaya layanan berubah terus. Padahal, harga produksi saat ini tengah naik,” katanya.

Hermawati menyampaikan, keputusan penyesuaian biaya layanan acap kali tidak melibatkan suara mitra penjual. Mereka biasanya hanya diberikan sosialisasi besaran biaya layanan beserta periode masa berlakunya.

”Seharusnya, jika lokapasar tetap ngotot menerapkan biaya layanan, penyesuaian biaya bukan berdasarkan kelompok barang, tetapi berdasar klasifikasi kemampuan UMKM mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM,” ucap Hermawati.

Keberatan serupa juga disampaikan Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Arys Hilman Nugraha. Menurut dia, kategorisasi kenaikan biaya layanan yang dilakukan lokapasar tidak jelas latar belakang penyusunannya. Dari sisi perbukuan, kategorisasi seperti itu menunjukkan sesat pikir bahwa buku hanya sekadar produk cetakan yang terdiri dari kertas dan tinta belaka. Buku menjadi kurang dihargai, padahal buku mengandung nilai kreatif dan hak cipta yang melekat.

”Kategorisasi seperti itu tidak jelas penyusunannya. Apakah berdasarkan nilai per item? Tampaknya tidak, karena buku sebagian besar harganya di bawah Rp 100.000. Walaupun ada juga penjualan buku yang bernilai jutaan rupiah dalam satu paket volume kuantitas yang besar,” ungkapnya.

Arys Hilman menambahkan, berjualan buku melalui platform lokapasar memiliki untung, tetapi bukan pemilik dan pemegang hak cipta buku yang mengambil porsi besar. Sebab, minimal 20 persen harga buku yang dijual eceran sudah dialokasikan untuk diskon kepada pembeli. Penerbit harus menyisihkan 10–20 persen lagi untuk reseller, selain menganggarkan biaya pemasaran digital dalam aneka bentuk konten. Sementara lokapasar terus-menerus menaikkan margin mereka, bahkan ketika penjualan tersebut berada dalam lingkup kerja sama penerbit dan lokapasar.

Head of Communications Tokopedia Aditia Grasio Nelwan saat dikonfirmasi membenarkan bahwa Tokopedia menerapkan skema baru untuk status keanggotaan penjual mulai 1 Mei 2024. Melalui skema baru ini, penjual dengan status keanggotaan Regular Merchant akan secara otomatis ditingkatkan menjadi penjual Power Merchant.

Dengan status keanggotaan Power Merchant, penjual dapat menikmati lebih banyak kemudahan untuk mengembangkan bisnis, antara lain badge Power Merchant untuk meningkatkan kepercayaan pembeli, akses ke banyak fitur eksklusif Tokopedia, termasuk Diskon Toko, Flash Sale Toko, serta manfaat lain yang dapat meningkatkan performa toko penjual di Tokopedia.

Bersamaan dengan penerapan skema baru ini, imbuhnya, Tokopedia juga akan memberlakukan penyesuaian biaya layanan untuk Power Merchant dan Power Merchant Pro mulai dari 2 persen yang akan diberlakukan setelah menyelesaikan 50 transaksi untuk setiap produk terjual. Biaya layanan tersebut akan disesuaikan berdasarkan kategori produk.

Shopee belum bisa dikonfirmasi mengenai ramainya perbincangan tentang perbandingan penyesuaian biaya layanan bagi mitra penjual sepekan ini. Jadi, belum bisa diketahui apakah Shopee akan kembali melakukan penyesuaian biaya layanan kepada mitra penjual atau tidak pada 2024.

Bakar uang

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies Nailul Huda berpendapat, pada titik tertentu, kenaikan biaya layanan bagi mitra penjual akan menyebabkan transaksi turun. Tinggal menentukan titik mana yang menjadi puncak kenaikan.

”Saya rasa yang bisa menjadi patokan titik puncaknya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11 persen. Jika sudah mencapai 10–11 persen, tampaknya akan membuat banyak mitra penjual di lokapasar berpikir ulang berjualan di platform itu. Mereka kemungkinan berpikir lebih baik berjualan di media sosial dan aplikasi pesan instan yang bebas segala biaya. Lagi pula, ulasan di media sosial sudah bisa menjamin pembeli untuk datang membeli barang,” tuturnya.

Lebih jauh, Nailul memandang, semua kategori barang bisa dikenai biaya layanan penjualan untuk menjaga harga barang tidak jauh lebih murah dibandingkan toko luring. Akan tetapi, kategori barang dan besaran biaya layanan harus dikaji. Dia menganggap, akan lebih mudah menggunakan besaran harga untuk menerapkan kenaikan biaya layanan kepada mitra penjual.

”Era bakar uang yang dilakukan oleh perusahaan lokapasar sudah berkurang. Saya malah meyakini akan banyak praktik transaksi di luar platform lokapasar ketika terjadi kenaikan biaya layanan secara terus menerus. Apalagi, PPN juga kabarnya akan dinaikkan kembali oleh pemerintah,” ujarnya.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/biaya-admin-berjualan-di-lokapasar.html

Sunday, August 29, 2021

Dorong digitalisasi UMKM, Bhinneka dan Pemkot luncurkan marketplace Milik Ternate

 

Dorong digitalisasi UMKM, Bhinneka dan Pemkot luncurkan marketplace Milik Ternate

JAKARTA - Dampak pandemi terhadap perekonomian yang menerpa UMKM menjadi perhatian Pemkot Ternate. Untuk itu, Pemkot Ternate menggandeng Bhinneka.Com meluncurkan marketplace atau lokapasar “Milik Ternate” sebagai solusi pengembangan usaha dan fasilitas pemasaran produk lokal terbaik UMKM Kota Ternate. Di sisi lain, keberadaan lokapasar ini bertujuan untuk mendorong terjadinya transformasi digital, sekaligus memfasilitasi para pelaku UMKM dalam memaksimalkan benefit ekonomi formal.

Beberapa di antaranya seperti status legal yang memudahkan akses modal, integrasi data, dan peluang lebih besar untuk pemasaran lebih luas ke perusahaan besar maupun pemerintahan yang membutuhkan volume tinggi. Menurut data Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Ternate, terdapat sekitar 13.000 pelaku UMKM yang bergerak di sektor perikanan, dengan produk jadi berupa makanan dan minuman kemasan dan kerajinan tangan.

Sehingga untuk memperluas potensi pasar bagi UMKM Kota Ternate kepada masyarakat lokal maupun di seluruh Indonesia yang ingin berbelanja, nantinya bisa langsung melakukan transaksi melalui lokapasar http://milikternate.bhinneka.com/. Tak hanya itu, menyadari bahwa produksi, pemasaran, dan permodalan masih menjadi permasalahan utama yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya, ditambah pemahaman pemanfaatan dunia digital yang masih rendah, maka Pemkot Ternate bersama Bhinneka.Com sepakat untuk menjalankan serangkaian kegiatan pelatihan dan pendampingan. Sehingga mendorong munculnya produk lokal dengan kualitas bersaing yang menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. “Kami mengapresiasi Pemerintah Kota Ternate yang secara aktif mendorong perkembangan UMKM setempat.

Lokapasar Milik Ternate di Bhinneka.Com nantinya dapat menjadi solusi dalam mencetak produk yang bersaing, perluasan pemasaran sekaligus permodalan bagi para pelaku UMKM dalam koridor ekonomi formal, sejalan dengan target pemerintah untuk digitalisasi UMKM. Kami targetkan pelaku UMKM Ternate nantinya dapat bergabung di lokapasar Milik Ternate ini,” ujar Chief of Commercial & Omnichanel Bhinneka.Com, Vensia Tjhin dalam siaran pers, Sabtu (28/8). Ia menambahkan, langkah strategis ini sesuai dengan arahan Presiden RI Jokowi untuk menjadikan UMKM sebagai rantai pasok produksi. Selanjutnya, kerjasama ini akan membuka akses masyarakat dan pemerintah ke produk terbaik UMKM Ternate.

Sebelumnya, Jokowi mendorong setiap UMKM untuk dapat membuka pintu bagi transformasi digital. Jokowi menekankan transformasi digital sebagai pintu bagi UMKM agar bisa masuk dalam lokapasar dan menjadi bagian dari supply chain nasional maupun global. Sejalan dengan misi tersebut, Bhinneka.Com ingin membuka pintu seluas-luasnya bagi para UMKM Indonesia, dimulai dengan UMKM Kota Ternate. “Kerja sama lokapasar ini senada dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Ternate. Di mana melalui transformasi digital dan pemanfaatan teknologi, para pelaku UMKM di Ternate bisa mendapatkan pasar yang lebih luas dan juga memperkuat kualitas dan sumber daya dari berbagai sisi. Maka dari itu, kami sangat mengapresiasi Bhinneka.Com yang telah memfasilitasi teknologi lokapasar MILIK TERNATE untuk membantu peningkatan pendapatan UMKM Ternate yang terdampak oleh pandemi,” ujar Wali Kota Ternate, M.Tauhid Soleman. 

Wali Kota Ternate menambahkan bahwa kerja sama ini senada dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah terutama dalam memperkuat UMKM lokal dan mengembangkan bisnisnya. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Ternate juga mengajak jajarannya untuk bertindak selaku PR (Public Relations) dalam memperkenalkan berbagai produk unggulan UMKM Ternate, serta mendorong dinas terkait; Dinas Koperasi dan UKM, Disperindag, dan Dekranasda agar segera menindaklanjuti dan merealisasikan kerja sama ini. Bhinneka.Com saat ini adalah Super Business Ecosystem di Indonesia yang memiliki jutaan klien korporat dan pemerintah. Ini menjadi peluang yang sangat baik untuk UMKM meraup pasar yang lebih bonafide dan masuk ke ekonomi formal. Ekosistem Bhinneka.Com diyakini dapat membantu permasalahan UMKM dari hulu ke hilir, mulai dari masalah bahan mentah, masalah modal hingga hukum. Terbaru, Bhinneka.Com bekerja sama dengan Kontrak Hukum untuk menghadirkan solusi bagi kebutuhan dokumen legal untuk UMKM dan startup.

Sumber : https://regional.kontan.co.id/news/dorong-digitalisasi-umkm-bhinneka-dan-pemkot-luncurkan-marketplace-milik-ternate

Thursday, March 4, 2021

Jokowi Sebut Marketplace Bunuh UMKM, Pengamat Ingatkan Ini

Foto: Desain : Freepik.com

Presiden Joko Widodo mengendus adanya praktik perdagangan digital yang bisa membunuh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri. Menurut peneliti Indef, Nailul Huda, nampaknya pernyataan ini merujuk pada keberadaan barang import yang lebih banyak dibanding produk lokal.

"Kalau menurut saya ada isu juga yang muncul dari salah satu e-commerce kita, memang banyak importnya dibandingkan produk lokal," ungkap Huda, kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/3/2021).

Isu soal keberadaan barang import versus lokal ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Menurutnya, saat e-commerce baru muncul dikawal sudah ada isu 97% diantaranya merupakan barang import.

Jumlah itu terdiri dari barang yang diimpor langsung atau melalui reseller yang di Indonesia. Dia memperhitungkan jika barang yang dijual oleh lokal dihitung juga sebagai barang impor maka jumlahnya akan sangat tinggi.

"Sekarang produk lokal tuh ada yang bilang 7%, tapi kalau saya sih 5%. Soalnya memang di satu sisi e-commerce masih banyak barang luar," kata dia.

Dia mengatakan industri digital membuat aktivitas menjadi tanpa batas. Jika porsi diperbanyak barang lokal di e-commerce tanah air, bisa saja harga barang import naik karena jumlah barang terbatas.

Namun pelanggan dapat juga mencari produk dan memesan dari layanan di luar negeri seperti Alibaba, eBay, dan Amazon. Nantinya pelanggan akan membandingkan harga dan ongkos kirim produk dari e-commerce lokal dan perusahaan di luar Indonesia.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah keberadaan barang yang diimpor langsung ini akan dibatasi juga. Selain itu jika porsi barang lokal dan import dibatasi salah satunya akan ada penurunan inovasi dan membuat UMKM tidak efisien untuk menyaingi produk luar negeri.

"Makanya mungkin kuota enggak sebagai standard prioritas. Di satu sisi meningkatkan efisien dari UMKM lokal," ujar Huda.

Menurutnya salah satu keunggulan UMKM adalah di sektor makanan. Sektor-sektor unggulan seperti itu bisa dikembangkan untuk dalam negeri.

"Makanan sama kerajinan tangan sebenarnya, aku lebih ke makanan sih. Sering ke luar kota di masa pandemi pakai e-commerce (membelinya) lebih gampang," kata dia.


sumber : https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210304140540-37-227845/jokowi-sebut-marketplace-bunuh-umkm-pengamat-ingatkan-ini

Sunday, February 14, 2021

Rektor Universitas Jember Sarankan UMKM Kembangkan Marketplace agar Jangkauan Pasar Lebih Luas

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna /Tim Portal Jember 04/Portal Jember

Universitas Jember (Unej) yang bekerja sama dengan Kepolisian Resor (Polres) Jember, menggelar usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jember agar bisa terus berkembang.

Rektor Unej Iwan Taruna mengatakan, UMKM di Jember saat ini sudah sangat banyak dan sumber daya baik alam maupun manusianya juga sangat berpotensi.

"Kita lihat Jember ini geliat UMKM sangat banyak dan perkembangan sangat baik, maka ini perlu diberikan ruang untuk terus berkembang," ujarnya saat ditemui di Unej, Minggu 14 Februari 2021.

Namun, saat ini UMKM di Jember masih stagnan pada produksi atau hulunya saja. Tetapi untuk proses pemasaran atau hilirnya harus perlu terus dikembangkan agar pasarnya semakin luas.

"Apalagi pandemi ini kondisi UMKM hanya berhenti pada hulunya saja dan hilirnya masih kurang, maka ini yang kami sarankan untuk dikembangkan salah satunya persoalan marketplace dengan bantuan teknologi," imbuhnya.

Menurut Iwan, dengan memberikan pelatihan untuk membuat marketplace maka akan berdampak pada UMKM itu sendiri. Sehingga pasarnya bukan hanya di Jember saja tetapi lebih global.

"Dengan marketplace yang menggunakan teknologi maka akan bisa lebih luas pasarnya, karena UMKM menjadi tulang punggung," tuturnya.

Sementara, Ketua Panitia Jember Sae Didik Suharijadi menyampaikan, acara yang digelar bersama ini nantinya akan bisa membuka peluang bagi UMKM agar bisa lebih baik.

"Ini acara tahunan dan topiknya berbeda, kali ini UMKM karena saat ini sangat hebat sekali UMKM dan produksinya juga bagus, ini jadi salah satu peluang," tambahnya.



sumber : https://portaljember.pikiran-rakyat.com/jemberan/pr-161434767/rektor-universitas-jember-sarankan-umkm-kembangkan-marketplace-agar-jangkauan-pasar-lebih-luas?page=2