Showing posts with label keuangan. Show all posts
Showing posts with label keuangan. Show all posts

Sunday, May 5, 2024

Literasi Digital Lewat Pendampingan & Pelatihan Jadi Bekal Memahami Digitalisasi Keuangan dan Usaha

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaku UMKM didorong lebih memahami kegiatan keuangan secara digital, dan pelan-pelan akan meninggalkan cara konvensional.


Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Arief Mulyadi yang mengaku optimis nasabah Mekaar akan mampu melakukan hal di atas.


Apalagi, pihaknya terus aktif dalam memberikan wawasan mengenai literasi keuangan dan literasi digital melalui pendampingan dan pelatihan terhadap nasabahnya dengan harapan penggunaan Digitalisasi.


“Ekosistem cashless terus kami genjot untuk mendorong nasabah naik kelas. Tentu harus dimulai dengan pemahaman para nasabah tentang apa itu keuangan digital dan dilanjutkan dengan inklusinya,” kata Arief, Senin (6/5/2024).



Arief juga mendorong ketua kelompok nasabah Mekaar untuk dapat membentuk ekosistem agar dapat ciptakan nilai lebih pada ekonomi dan sosial.


“Selain pelatihan, pada kesempatan yang sama, ketua kelompok nasabah PNM Mekaar juga dijadikan sebagai agen BRILink Mekaar. Anggota kelompok nantinya dapat melakukan transaksi seperti pembelian pulsa, pencairan dan transaksi keuangan lainnya melalui ketua kelompok masing-masing," terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus mendorong nasabahnya untuk lebih melek Digital dan meningkatkan jumlah pertumbuhan nasabahnya secara bersamaan.


Tentunta, untuk menunjang hal itu semua holding Ultra Mikro telah mempersiapkan berbagai enabler yaitu rekening Simpedes UMI, AgenBRILink Mekaar dan Senyum Mobile.


“Selain itu, dengan alignment proses bisnis yang telah dilakukan, kini nasabah PNM Mekaar telah menerima pencairan pinjaman secara cashless dengan total Rp2,02 triliun pada akhir Triwulan I 2024,” jelasnya.



Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/05/literasi-digital-lewat-pendampingan.html

Survei Visa: 54% UKM Dipimpin Perempuan dan 48% Tumbuh karena Pembayaran Digital

 


Iconomics - Hasil survei perusahaan pembayaran digital Visa mengungkap 54% pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia dipimpin perempuan. Lalu, 48% usaha mikro pendapatannya tumbuh karena mengadopsi pembayaran digital dalam setiap transaksinya.

Temuan lainnya, kata Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman, sebanyak 82% UKM mendapat kemudahan dalam mengelola bisnis, sejak menggunakan teknologi dompet digital. Berdasarkan temuan itu, Visa turut bangga karena Visa berkontribusi terhadap pertumbuhan UKM di Indonesia.

Apalagi menurut Riko, UKM merupakan kekuatan pendorong di balik pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, Visa berkomitmen terus mendukung inklusi keuangan dan tujuan digitalisasi pemerintah Indonesia.

“Termasuk memberdayakan UKM yang merupakan pilar ekonomi, dengan memperkenalkan solusi keuangan dan pembayaran yang inovatif agar mereka dapat membangun fondasi untuk mengembangkan bisnis mereka,” kata Riko dalam keterangan resminya pada Sabtu (4/5).

Pada tahun sebelumnya, kata Riko, Visa meluncurkan program akselerator untuk mendukung UKM dan mitra. Program SMB Accelerator fokus pada kemitraan yang lebih luas dengan tujuan agar peserta bisa melayani penjual yang lebih kecil, dan mempercepat solusi bagi UKM.

Di Indonesia, kata Riko, Visa telah menjalankan program literasi keuangan tahunan sejak 2017. Tujuannya untuk memberdayakan pengusaha perempuan dalam mendapatkan keterampilan pengelolaan keuangan dan mengembangkan bisnis.

Hingga saat ini, kata Riko, program Ibu Berbagi Bijak itu telah memberikan dampak bagi lebih dari 1.400 orang perempuan melalui workshop dan monitoring.

Selain itu, kata Riko, Visa Foundation pun telah mencanangkan bantuan dana sebesar US$ 100 juta selama 5 tahun untuk mempercepat akses bagi UKM yang kurang terwakili dan dipimpin perempuan di negara peserta Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Dari hampir 67 juta UKM yang dijangkau Visa secara global, sekitar 29,6 juta berasal dari ekonomi APEC, dengan 10,9 juta di antaranya adalah UKM yang dipimpin perempuan.

Sementara itu, pemilik usaha Ballerina Fashion Makloon Premium Rina Iswahyuni menambahkan, bisnisnya semakin berkembang sejak mengaktifkan pilihan metode pembayaran digital. Ballerina Fashion Makloon Premium merasa sangat terbantu dengan hadirnya teknologi yang membawa kenyamanan, kecepatan, dan memiliki kemampuan untuk melacak catatan pembayaran.

Metode tersebut, kata Rina, memberikan pilihan pembayaran non-tunai yang dinilai mampu membawa kenyamanan bagi pelanggan. Karena itu, Rini berharap bisnisnya dapat terus berkembang hingga menembus pasar internasional.

“Untuk itu, memungkinkan pembayaran lintas batas akan sangat membantu saya mengembangkan basis pelanggan saya hingga ke luar Indonesia,” kata Rina.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/05/survei-visa-54-ukm-dipimpin-perempuan.html


Wednesday, April 24, 2024

KemenKopUKM Dorong Literasi Keuangan bagi UMKM

 

Pasardana.id - Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) terus mendorong upaya peningkatan literasi keuangan digital, dengan menyelenggarakan side event 57th APEC SMEWG, bertajuk Policy Dialogue on Advancing Financial Inclusion for MSMEs: Understanding the Important Role of Digital Financial Literacy, untuk meningkatkan inklusi keuangan bagi pelaku UMKM.

Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing KemenKopUKM, Herbert H.O. Siagian membeberkan, bahwa saat ini ketahanan bisnis UMKM merupakan isu yang penting mengingat porsi UMKM sebesar 97 persen dari seluruh bisnis dan mempekerjakan lebih dari separuh tenaga kerja di seluruh ekonomi APEC.

Dengan jumlah UMKM yang besar tersebut, apabila didukung oleh ekosistem digitalisasi, maka kontribusinya akan mendorong peningkatan potensi terhadap PDB.

“Tujuan dari forum policy dialogue ini adalah menyediakan forum bagi Ekonomi APEC untuk berbagi pengalaman kebijakan dan pembelajaran tentang bagaimana UMKM dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam memanfaatkan perangkat digital untuk mengakses layanan keuangan,” kata Herbert H.O. Siagian, seperti dilansir dari siaran pers, Selasa (23/4/2024).

Untuk diketahui, kegiatan yang telah diselenggarakan di Merusaka Hotel Nusa Dua Bali, pada 23 April 2024 ini, dihadiri oleh 150 peserta yang melibatkan para pembuat kebijakan lintas ekonomi APEC, akademisi, penyedia layanan digital keuangan, dan organisasi internasional, serta pembicara dan moderator dari United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP).

Kemudian turut hadir perwakilan dari APEC-Canada Growing Business Partnership (APF) Canada, Asian Development Bank (ADB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Keuangan, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), ANGIN, Bank Rakyat Indonesia, dan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

Lewat forum tersebut, diharapkan dapat mengatasi masalah akses UMKM terhadap keuangan dengan memungkinkan UMKM melakukan transformasi digital untuk inklusi keuangan yang lebih baik, mengingat UMKM dinilai dapat menjadi motor akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Herbert mengungkapkan, akses terhadap keuangan merupakan aspek penting dalam pengembangan, pertumbuhan, dan kesuksesan UMKM.

Namun sayangnya, kata Herbert, sebagian besar UMKM masih menghadapi masalah dalam mengakses keuangan, seperti kurangnya informasi dan akses terhadap layanan keuangan, kurangnya kemampuan digitalisasi, dan kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keuangan.

Oleh karena itu, UMKM dirasa perlu diberikan dukungan kebijakan, dan kemauan UMKM untuk bertransformasi secara digital, membekali keuangan digital sangat penting dalam meningkatkan literasi digital pelaku usaha.

“Digitalisasi menjadi kunci dalam rangka meningkatkan kemampuan UMKM untuk mengembangkan dan memperluas akses mereka ke lembaga keuangan, termasuk sistem pembiayaan digital,” kata Herbert.

Director Trade and Economic Analysis Office of the Chief Economist Global Affairs Canada dan sekaligus Chair APEC SMEWG, Aaron Sydor mengungkapkan, ada empat elemen penting dalam meningkatkan literasi digital untuk UMKM.

“Pertama adalah pemberian akses kepada modal dan sumber pembiayaan lainnya, kedua, akes kepada jasa keuangan, ketiga, akses kepada liberasi keuangan digital, dan yang keempat, adalah akses kepada inklusif keuangan,” kata Aaron

Senada, Head of the Unit on SME and Entrepreneurship Transformation, OECD, Lucia Cusmano mengatakan, penekanan untuk mencapai inklusi keuangan terdapat pada pendidikan keuangan.

“Tanpa adanya pendidikan keuangan yang membukakan literasi digital, inklusi keuangan lebih lanjut tidak akan tercapai,” kata Lucia Cusmano.

Kepala Biro Hukum dan Kerjasama KemenKopUKM, Henra Saragih menambahkan, forum Tema APEC Policy Dialogue sejalan dengan area prioritas ke-4 APEC SMEWG Strategic Plan for 2021-2024, yakni; “Access to finance and alternative financial solutions”, serta Keketuaan Peru pada APEC 2024 yakni Empower, Include, Grow, khususnya untuk area prioritas kedua, yaitu Innovation and digitalization to promote transition to the formal and global economy.

“Iniasasi project APEC Policy Dialogue merupakan langkah awal Kementerian Koperasi dan UKM dalam upaya mengekskalasi komitmen Indonesia, serta mengambil manfaat konkret forum kerja sama regional bagi UMKM di kawasan, baik sekarang maupun di masa mendatang,” kata Henra Saragih.

Dalam gelaran forum policy dialoge terdapat tiga sesi panel diskusi dengan berbagai topik.

Pada sesi pertama, bertemakan Bridging Gaps and Creating Opportunities, mendiskusikan peluang dan tantangan inklusi keuangan digital bagi UMKM.

Sedangkan untuk sesi kedua bertemakan Foundational Policy Frameworks and Initiatives for Financial Inclusion, sesi ini menyebutkan bahwa upaya bersama untuk mempromosikan inklusi dan literasi keuangan telah dilakukan Indonesia dalam berbagai program kebijakan dan inisiatif.

Terakhir tema ketiga, bertemakan Innovative Approaches in Financial Services within the Digital Environment mendiskusikan langkah-langkah inovatif dalam memanfaatkan peluang digitalisasi dalam perluasan akses keuangan bagi UMKM diantaranya, perluasan infrastruktur pendidikan dan jangkauan akses internet, memberikan literasi keuangan dan digitalisasi lebih awal sejak jenjang sekolah, peningkatan literasi keuangan sesuai dengan sektor usaha UMKM dengan fokus pada praktek, hingga memanfaatkan likuiditas, peluang, dan sumber pertumbuhan baru.

Adapun output dari kegiatan mencatatkan tiga rekomendasi kebijakan, di antaranya, pertama, menyusun pelatihan literasi keuangan, kedua, menyusun program spesifik literasi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan UMKM, dan ketiga, berkolaborasi dengan fasilitator yang memiliki hubungan langsung dengan UMKM.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/kemenkopukm-dorong-literasi-keuangan.html

Wednesday, January 26, 2022

BukuWarung dan Pemprov Jateng Bersinergi Berdayakan Pelaku UMKM

 Pemanfaatan teknologi oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Tanah Air saat ini masih tergolong rendah. Padahal, teknologi dan digitalisasi merupakan kunci bagi pelaku UMKM untuk bertahan dan mengembangkan usaha.

Terlebih, di tengah situasi pandemi Covid-19 dengan persaingan bisnis yang kian kompetitif, UMKM dituntut mampu untuk go digital.


Merespons hal itu, salah satu startup bidang financial technology (fintech), BukuWarung, berinisiatif memberdayakan pelaku UMKM agar dapat memanfaatkan teknologi digital. Dengan begitu, pelaku UMKM bisa semakin berkembang dan berdaya saing.

Berkolaborasi dengan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), BukuWarung memberikan pelatihan terkait pemanfaatan ekosistem keuangan digital untuk pelaku UMKM di Kabupaten Sukoharjo, Senin (24/1/2022).

Adapun bentuk pelatihan yang diberikan BukuWarung dan Dinkop UKM berupa workshop peningkatan akses pembiayaan melalui literasi keuangan dan studi kelayakan usaha untuk 1.000 pelaku UMKM di Jateng.

Head of Product Marketing BukuWarung Irwansyah Fansury mengatakan, pihaknya siap mendukung pemberdayaan pelaku UMKM di Jateng guna mendorong inklusi keuangan.

Pada pelatihan tersebut, lanjut Irwansyah, BukuWarung memaparkan materi terkait digitalisasi dan literasi keuangan serta peran penting pencatatan keuangan.

“Dalam studi kelayakan usaha, hal itu perlu dipahami pelaku UMKM untuk mendapatkan fasilitas pinjaman dari perbankan ataupun nonbank,” ujar Irwansyah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (25/1/2022).

Pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman literasi keuangan pelaku UMKM. Utamanya, terkait pengelolaan keuangan usaha dan program pembiayaan, baik dari perbankan maupun nonbank.

Irwansyah menambahkan, pemberdayaan UMKM yang dijalankan Pemprov Jateng sejalan dengan visi dan misi BukuWarung. Lewat upaya tersebut, BukuWarung dapat berkontribusi untuk mendukung pelaku UMKM agar lebih sejahtera dan berdaya saing.

“Kami satu-satunya startup pencatatan digital yang diundang (Pemprov Jateng) untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemberdayaan tersebut. Hal ini menandakan bahwa eksistensi dan konsistensi BukuWarung dalam pemberdayaan UMKM melalui platform digital makin diakui,” terangnya.

Untuk diketahui, BukuWarung berdiri sejak 2019. Perusahaan ini menghadirkan platform pencatatan keuangan digital yang mudah diakses dan digunakan oleh pelaku UMKM.

BukuWarung juga memperkuat inovasi teknologi dengan menambahkan fitur-fitur baru, seperti etalase online, pembayaran, dan pembiayaan digital. Fitur tersebut dihadirkan untuk memudahkan pelaku UMKM dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya.

Saat ini, lebih dari 7 juta pelaku UMKM telah tergabung dalam ekosistem BukuWarung dan berpotensi memajukan bisnisnya.

UMKM sebagai kunci

Seperti diketahui, sektor UMKM adalah kelompok kunci yang dapat mendorong Indonesia menjadi pemain ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sayangnya, tingkat literasi keuangan pelaku UMKM di Indonesia masih rendah.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2019 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, indeks literasi keuangan UMKM di Tanah Air hanya mencapai 38,3 persen dengan indeks inklusi keuangan 76,19 persen

Adapun indeks literasi keuangan Provinsi Jateng masih berada di atas indeks literasi nasional, yaitu 47,48 persen. Meski demikian, literasi keuangan Jateng masih perlu ditingkatkan, terutama di kalangan pelaku UMKM.

Sementara itu, berdasarkan catatan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), sebanyak 94 persen pelaku UMKM belum menggunakan komputer. Kemudian, 90 persen UMKM tidak menggunakan internet dalam menjalankan usahanya.

Merespons tantangan tersebut, Dinkop UKM Provinsi Jateng menggelar kegiatan pemberdayaan UMKM, yang dimulai dari Kabupaten Sukoharjo.

Rangkaian kegiatan pemberdayaan tersebut juga akan dilakukan di berbagai kota dan kabupaten lain di Jateng pada Februari dan Maret 2022.

Kota dan kabupaten tersebut adalah Semarang, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen, Wonosobo, Tegal, Pekalongan, Banyumas, Boyolali, Karanganyar, Jepara, Pati, dan Salatiga.

Kepala Dinkop UKM Jateng Ema Rachmawati mengapresiasi keterlibatan BukuWarung dalam pemberdayaan pelaku UMKM. Ia mengatakan, BukuWarung punya peran penting dalam mengatasi kendala yang dihadapi UMKM di Jateng.

“Khususnya, terkait rendahnya literasi keuangan. Hal ini berakibat pada pelaporan keuangan bisnis UMKM yang tidak jelas antara modal, cash flow, keuntungan, dan kerugian,” kata Ema.

Pihaknya berharap, BukuWarung dapat membantu dalam mempercepat digitalisasi pelaku UMKM di Jateng agar bisnis yang dijalankan semakin berkembang.

“Terlebih, di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini dengan persaingan bisnis yang kian kompetitif,” terang Ema.

Pada kesempatan sama, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Sukoharjo Iwan Setiyono memaparkan potensi sektor UMKM di wilayahnya.

Iwan menjelaskan, jumlah pelaku UMKM di Kabupaten Sukoharjo diperkirakan mencapai 227.000 pada 2022. Mereka bergerak di berbagai sektor, seperti industri, jasa, perdagangan, perikanan, pertanian, dan peternakan.

Meski begitu, pelaku UMKM menghadapi tiga permasalahan utama, yaitu akses permodalan, administrasi usaha yang kurang tertib, dan inovasi produk.

Melalui kegiatan tersebut, lanjut Iwan, pihaknya berharap pelaku UMKM dapat melakukan digitalisasi, berinovasi, dan mengintegrasikan ekonomi keuangan digital.

Sumber : https://biz.kompas.com/read/2022/01/26/100000328/bukuwarung-dan-pemprov-jateng-bersinergi-berdayakan-pelaku-umkm.