Showing posts with label Pengusaha. Show all posts
Showing posts with label Pengusaha. Show all posts

Thursday, June 13, 2024

Menjadi Agregator Pelaku Usaha, UMKM Bidang Kecantikan Didorong Terus Bertumbuh

 


KEMENTERIAN Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menyatakan X Beauty by Female Daily dapat menjadi agregator dan inkubator bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pada bidang kecantikan.

Staf Khusus Menteri Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Kemenkop UKM Fiki Satari mengatakan saat ini terdapat lebih dari 400 pelaku usaha dalam bidang kecantikan, bahkan sekitar 50% pendaftaran usaha di Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) merupakan pelaku bisnis pada bidang ini.

"Kemenkop UKM mendorong agar semakin banyak pihak yang terlibat untuk mendorong UMKM kecantikan agar terus tumbuh. Salah satunya dengan menjadi agregator dan inkubator bagi pelaku usaha agar lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan, akses pasar, dan akses bahan baku," kata Fiki.

Salah satu pelaku usaha bidang kecantikan yang berpartisipasi pada acara Jakarta X Beauty Female Daily 2024, 6-9 Juni lalu di Jakarta Convention Center, Jakarta, yakni PT Sparindo Mustika.

Pada kesempatan itu, perusahaan kecantikan dan perawatan tersebut memamerkan tiga brand andalannya yakni BDL Skincare, Flacenta Beauty, serta NOSY Hand Soap, dan Car & Motor Shampoo.

"Ketiga produk dengan kualitas ekspor ini memiliki harga sangat terjangkau," kata Wakil Direktur PT Sparindo Mustika Nova Hermanto.
Dia menambahkan pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan produk-produk berkualitas tinggi dengan harga terjangkau.

"Dengan pengalaman bertahun-tahun di industri ini, kami juga terus berinovasi dan mengembangkan produk-produk yang sesuai kebutuhan dan tren pasar," pungkas Nova. (H-2)


Sumber: https://mediaindonesia.com/ekonomi/677928/menjadi-agregator-pelaku-usaha-umkm-bidang-kecantikan-didorong-terus-bertumbuh

Monday, May 27, 2024

Kolaborasi Menjaga UMKM yang Berkelanjutan

 


Menjaga keberlanjutan sektor UMKM di Indonesia tak bisa hanya dilakukan satu pihak saja. Butuh kolaborasi banyak pihak, mulai dari pemerintah hingga pihak swasta.

Seperti yang dilakukan Sampoerna Retail Community (SRC), jaringan toko kelontong di Indonesia yang telah berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan UMKM selama 16 tahun terakhir.
Melalui pendampingan dan pembinaan toko kelontong yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, ekosistem SRC telah merasakan dampak yang kuat dan luas.
Dampak positif dari aspek kemampuan usaha, aspek relasional, dan aspek kepercayaan diri yang didapatkan lebih dari 250.000 toko kelontong di Indonesia, telah membawa UMKM Indonesia #JadiLebihBaik dan naik kelas.
Direktur PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS) Romulus Sutanto menjelaskan SRC memasuki momen penting untuk melanjutkan komitmennya dalam mendorong keberlanjutan UMKM Indonesia agar makin berdampak. Pada Mei tahun ini, SRC merayakan hari jadinya yang ke-16 tahun.

“Hari Ulang Tahun Ke-16 SRC ini akan menjadi momen penting untuk melanjutkan komitmen SRC dalam mendorong keberlanjutan UMKM Indonesia agar makin berdampak #JadiLebihBaik untuk Indonesia,” kata dia pada acara media talkshow dalam rangka HUT ke-16 SRC.

Ia juga merefleksikan kembali perjalanan 16 tahun ini dan melihat bahwa pendampingan dan pembinaan SRC telah membawa pengaruh positif yang signifikan.
“Toko kelontong yang bergabung dengan SRC memiliki nilai tambah, yaitu lebih fleksibel dan dapat dengan cepat beradaptasi terhadap perubahan. Mereka dapat memanfaatkan skala ekonomi dan dukungan kolektif untuk menghadapi tantangan dan peluang yang muncul,” lanjut Romulus.
Dampak yang diciptakan SRC terhadap ekosistemnya di antaranya:
  1. Aspek Kemampuan Usaha, terjadi peningkatan kemampuan usaha setelah pembinaan berkelanjutan tentang pengelolaan toko dan manajemen keuangan. Identitas toko yang rapi, bersih, dan terang mencerminkan tempat belanja kebutuhan harian yang nyaman untuk pelanggan.
  2. Aspek Relasional, anggota SRC menjadi lebih tanggap, tangguh, dan mampu membagikan motivasi, pengetahuan, dan pengalamannya kepada sesama pemilik toko kelontong. Anggota SRC bergabung dalam Paguyuban untuk saling berbagi informasi, saling mendukung dan mendorong kemajuan bisnis, serta aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial atas inisiatif paguyuban.
  3. Aspek Kepercayaan Diri, sebanyak 92% anggota SRC merasakan peningkatan kepercayaan diri dan mampu membuat perubahan, baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan sehari-hari, meningkatkan kesejahteraan keluarga, hingga memberi manfaat bagi komunitas di sekitarnya.
    Menurut Romulus, dampak pembinaan SRCIS terhadap toko kelontong telah menyentuh bagian yang paling penting yakni individu pemilik toko SRC dan keluarganya.
    “Kami yakin dan bersyukur, bahwa komitmen pembinaan dan pendampingan SRC selama 16 tahun kepada UMKM Toko Kelontong telah memberi dampak positif yang telah dirasakan secara nyata baik oleh anggota SRC dan keluarganya, UMKM secara umum, masyarakat, dan untuk perekonomian Indonesia,” ujarnya. Pembinaan SRCIS terhadap toko SRC telah mendorong peningkatan daya saing yang ditandai dengan peningkatan omzet sebesar 42% setelah bergabung dengan SRC. Tidak hanya itu, inovasi dan kreativitas juga tercipta di mana toko SRC berhasil mengembangkan usahanya setelah menjadi anggota SRC. Sebanyak 77% toko SRC berhasil memperluas jenis usahanya, yang bervariasi mulai dari penjualan produk digital, jasa pembayaran, agen, dan aplikasi. Toko kelontong yang bergabung di SRC juga didampingi dalam proses adaptasi digital melalui ekosistem digital AYO by SRC.
    Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Senior sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan pendampingan dan pembinaan UMKM menjadi penting karena kontribusi dan peran penting UMKM sebagai pilar penting dalam perekonomian Indonesia.
    Ia mengemukakan, 61 persen Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi Indonesia disokong aktivitas para pelaku UMKM. Oleh karena itu, Fithra mengapresiasi SRCIS yang secara konsisten telah hadir membina dan mendampingi UMKM.
    “SRC sudah ada selama 16 tahun, artinya sudah berjalan secara berkesinambungan. Apa yang dilakukan SRC harus jadi contoh bagi yang lain dalam pengembangan UMKM, dan bahkan pemerintah dapat menerapkan community based ecosystem ini,” terangnya.
    Fithra juga mengapresiasi peran aktif SRC terhadap kemajuan UMKM, masyarakat sekitarnya, dan perekonomian. Menurutnya, SRC dapat menjadi contoh program pemberdayaan UMKM yang berdampak positif. “Kalau satu komunitas saja sudah bisa menyumbang begitu besar, jika pemerintah bisa mengembangkan komunitas lain pasti akan sangat bermanfaat sekali. Tidak ada salahnya menjadikan SRC sebagai salah satu contoh buat pengembangan komunitas UMKM lainnya,” ujarnya.
    Selain itu, Fithra mengatakan kolaborasi lintas sektor dalam pemberdayaan UMKM sangat penting dalam menciptakan UMKM yang memiliki nilai, sehingga mencapai kemajuan.
    “Bayangkan jika satu UMKM dengan UMKM lainnya terkonsolidasi dengan baik. itu bisa benar-benar meningkatkan value dan bisa mencapai market yang lebih besar. Terkonsolidasi artinya ada dalam satu komunitas yang bisa saling membantu, saling berkomunikasi, apalagi di era digital kolaborasi itu menjadi lebih penting dibandingkan kompetisi,” terangnya.
    Pemilik Toko SRC Wakiran, Partiningsih, mengatakan telah merasakan dampak bergabung bersama SRC selama hampir 16 tahun. Ningsih, sapaannya, menyampaikan terima kasih atas pendampingan dan perubahan positif yang dibawa SRCIS bagi dirinya dan toko miliknya.
    “Pembinaan dari SRC dilakukan dengan pendekatan yang sangat humanis dan seperti sahabat sehingga tumbuh keinginan belajar dan bertumbuh dalam diri saya untuk makin maju bersama SRC,” ungkapnya.
    Ningsih mengatakan selama bergabung dengan SRC, tokonya menjadi lebih laris dan menerima banyak manfaat dari pendampingan dan pembinaan yang konsisten.
    “Sudah banyak yang saya pelajari dan terapkan setelah bergabung dengan SRC. Kini dengan pendampingan SRC, kami merasa seperti ada teman yang senantiasa mendukung dan memberikan kepastian arah usaha ke depannya. Saya ingin terus melangkah bersama SRC di tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya. Sumber: https://kumparan.com/millennial/kolaborasi-menjaga-umkm-yang-berkelanjutan-22pIFOfzXLf/full

Thursday, May 2, 2024

BRIN Siap Dukung Transformasi Digital bagi UMKM di Indonesia

 


Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan siap mendukung transformasi digital dalam peluang meningkatkan usaha kecil mikro menengah (UMKM) serta menjawab tantangan di dalamnya, lewat penerbitan sebuah buku.

Transformasi digital dalam peluang dan tantangan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) diulas dalam sebuah buku  berjudul “The Digitization of Indonesian Small and Medium Enterprises” yang disusun berdasarkan riset kolaborasi tim peneliti BRIN dari berbagai bidang.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Springer itu menggambarkan dinamika kondisi digitalisasi UMKM dengan menggunakan pendekatan ekosistem, menceritakan perjalanan transformasi digital yang dijalani oleh UMKM selama dan setelah krisis covid-19.

Transformasi digital, yang dulunya dianggap sebagai pilihan, telah menjadi keharusan bagi UMKM untuk menghadapi berbagai tantangan operasional akibat pandemi, juga menghadapi periode pemulihan ekonomi berikutnya. Didalamnya tergambar bagaimana para pelaku ekonomi merebut dan menciptakan peluang dari perkembangan teknologi digital.

Dalam pengulasannya, diuraikan digitalisasi dari berbagai sudut pandang, terkait diskursus literatur, sumber daya manusia, tata kelola, dan peran berbagai aktor yang terlibat. Buku ini sangat cocok untuk pembaca dari kalangan pemerintah, akademisi, peneliti, pengamat ekonomi, dan praktisi terkait digitalisasi.

Digitalisasi adalah keharusan

Kepala Pusat Riset Pendidikan, Trina Fizzanty, mengatakan digitalisasi bukan hanya tren tetapi keharusan, terutama bagi UMKM yang berjuang untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.

"Buku itu menangkap dan menangani isu-isu kritis yang dihadapi oleh UMKM dalam ekosistem digital yang cepat berubah. Sehingga, membuatnya sangat relevan bagi siapa saja yang terlibat dalam atau mendukung sektor tersebut," ujar Trina dikutip dari Infopublik.id, Kamis, 2 Mei 2024.

Trina menguraikan,pendekatan ekosistem digital menjadi lensa bagi penulis buku dalam memahami fenomena transformasi yang bersifat dinamis tersebut. Jadi, tidak hanya mengulas dari sisi makro, tetapi hingga level mikro (UMKM), dan dibahas lintas disiplin ilmu.

Menurutnya, digitalisasi memang telah mendisrupsi berbagai sektor industri, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) dengan berbagai keterbatasannya berhasil mengambil manfaat dari keberadaan platform e-commerce. Adanya pandemi covid-19 serta kebutuhan perusahaan platform untuk merekrut sebanyak-banyaknya pengguna, termasuk UMKM, turut mempercepat proses digitalisasi itu.

Namun, tantangannya adalah bagaimana UKM, maupun para pelakunya, bisa terus belajar dan berinovasi untuk bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan bisnis yang makin cepat dan mengglobal.

Ia menuturkan, dalam proses penyusunannya, BRIN bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi di tiga provinsi (Jabar, Sumbar, DIY) untuk melakukan riset lapangan mendapatkan data UMKM. Kegiatan yang juga dilakukan untuk memperdalam riset, diskusi-diskusi dengan banyak pemangku kepentingan di level nasional dan daerah, serta melakukan pendalaman dengan studi kasus pada beberapa UMKM untuk memberikan keyakinan atas kondisi UMKM saat itu.

"Banyak cerita luar biasa bagaimana para pelaku UMKM yang bertahan terhadap desakan ekonomi dengan melakukan terobosan seperti tetap membeli bahan baku lokal ketimbang impor, melakukan kustomisasi dan belajar mempromosikan produknya," tuturnya.

Publikasi buku itu didorong oleh urgensi untuk memperkuat peran UMKM dalam ekonomi digital, mengingat pentingnya peran UMKM dalam perekonomian nasional. Buku tersebut juga memberikan masukan bagaimana kebijakan dapat dirancang untuk meningkatkan inklusivitas digital UMKM, memastikan bahwa mereka tidak hanya bertahan tetapi juga mampu bersaing dan tumbuh di pasar yang semakin terdigitalisasi.

Pemahaman transformasi digital

Ia berharap, dengan hadirnya buku tersebut, akan mengisi pengetahuan yang masih minim dalam memahami transformasi digital UMKM dengan pendekatan ekosistem digital. Di samping kontribusi ilmiah, juga menjadi referensi bagi pengambil kebijakan dalam merancang kebijakan digitalisasi UMKM yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong praktisi UMKM untuk terus mengembangkan kemampuan digitalnya dan inovasi untuk mampu bersaing.

"Kita ketahui bersama, lanskap bisnis digital akan terus berkembang. Hal itu bisa memberikan kejutan pada pihak-pihak yang tidak membuka dan mempersiapkan diri," ujarnya.

Ia mendorong BRIN supaya terus bersiap dalam riset empiris dan riset kebijakan terhadap peningkatan kompetensi dan pembangunan kultur inovasi. Hal itu sangat mendesak untuk dilakukan dalam menghadapi ekosistem bisnis yang berubah cepat dan padat muatan teknologinya.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/05/brin-siap-dukung-transformasi-digital.html