Showing posts with label ekspor UMKM. Show all posts
Showing posts with label ekspor UMKM. Show all posts

Sunday, August 1, 2021

Krakatau International Port Bakal Pacu Ekspor UMKM Nasional

 

Krakatau International Port Bakal Pacu Ekspor UMKM Nasional

JAKARTA - Kontribusi ekspor Indonesia tergolong rendah dibanding negara di kawasan ASEAN yaitu hanya 3,47 persen, sedangkan Thailand sebesar 4,26 persen dan Singapura mencapai 8,76 persen.

Peran pelabuhan menjadi sangat penting sebagai gerbang utama aktivitas perekonomian Indonesia sebagai negara maritim.

CEO Krakatau International Port Akbar Djohan menyampaikan Krakatau International Port (KIP) yang tengah dirancang menjadi International Hub Port (Pelabuhan Pusat Internasional) bakal memacu persoalan ekspor UMKM nasional.

Menurutnya, Krakatau International Port telah menjadi market leader di sektor kepelabuhanan di Provinsi Banten dengan sarana dan infrastruktur lengkap siap menyokong kelancaran ekspor produk UMKM Indonesia sehingga mampu berdaya saing secara lebih kuat di pasar mancanegara.

"Kami sudah terintegrasi secara digital melalui sistem KIPOS Krakatau International Port Solutions) yang dapat memberikan nilai tambah berupa efisiensi dan meningkatkan produktivitas bagi pelayanan kapal dan kargo," tutur Akbar, Jumat (30/7/2021).

Hal tersebut juga memberi dampak penurunan biaya port handling yang hasilnya akan menurunkan biaya logistik nasional.

Sekjen Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) ini juga berharap agar produk UMKM dapat menjadi unggulan di aktivitas ekspor hingga ke mancanegara dan menjadi pilar ekonomi keempat bagi Indonesia setelah BUMN, Swasta, dan Koperasi.

"UMKM harus lakukan agar bisa naik kelas, mulai dari adanya produk yang berkualitas, pentingnya brand awareness dan pemahaman akan pasar, hingga bagaimana pelaku usaha UMKM dapat memahami bagaimana cara menjalankan kegiatan ekspor dan yang terpenting UMKM bertransformasi secara digital," ujar Akbar.

Tidak hanya itu, adanya kolaborasi antara UMKM dengan BUMN, swasta, dan komunitas-komunitas bisa menjadi kunci penting dalam pencapaian UMKM untuk naik kelas.

Krakatau International Port pun terus berinisiatif untuk membangkitkan potensi UMKM Indonesia lebih tinggi lagi.

"Yang paling penting adalah bagaimana UMKM dapat menguasai seluk beluk tentang cara bagaimana kegiatan ekspor,” kata Akbar.

Sumber : https://m.tribunnews.com/bisnis/2021/07/30/krakatau-international-port-bakal-pacu-ekspor-umkm-nasional

Sunday, April 4, 2021

Teknologi Bisa Tingkatkan Ekspor UMKM, Bagaimana Caranya?

Ilustrasi ekspor dan impor.(SHUTTERSTOCK)

Masalah-masalah klasik pada bidang manajemen, organisasi, teknologi, permodalan, operasional, dan teknis di lapangan, terbatasnya akses pasar, kendala perizinan, serta biaya-biaya nonteknis di lapangan yang cenderung sulit menjadi satu hal yang menghambat ekspor UMKM.

Deputi Bidang UKM KemenkopUKM Hanung Harimba Rachman mengatakan, jika diidentifikasi lebih dalam, beberapa permasalahan dan kesulitan usaha yang dihadapi, seperti permodalan 51,09 persen, pemasaran 34,72 persen, Bahan Baku 8,59 persen, Ketenagakerjaan 1,09 persen, distribusi transportasi 0,22 persen, dan masalah lain 3,93 persen.

"Dua target besar Kementerian Koperasi dan UKM terhadap KUMKM adalah peningkatkan ekspor yang signifikan dan masuk dalam rantai pasok nasional, regional dan global," kata Hanung dalam pembukaan Pelatihan Ekspor Bagi UKM/Start Up di Bandung, akhir pekan ini.

Pemasaran menjadi hal terpentung menurut Hanung, sebab UMKM di masa depan harus bisa merespon pasar, dengan memiliki kecakapan di bidang teknologi, kreasi, inovasi, unruk menjawab kebutuhan pasar.

"Dari pengalaman, UMKM mampu bertahan adalah yang terhubung dengan ekosistem digital, dengan memanfaatkan platform e-commerce, marketplace. Sudah saatnya UMKM bertransformasi ke digital. Penetrasi digitalisasi, bagi UMKM akan mendapatkan margin lebih dan memangkas mata rantai penjualan,'' tegas Hanung.

Tantangan lainnya, keterbatasan skala kapasitas usaha dan standarisasi produk, tingginya biaya transaksi, kontrak, dan rendahnya akses pembiayaan dimana hanya 19,41 persen yang terakses dengan lembaga pembiayaan dan tingginya biaya logistik.

Hanung mengatakan, dengan membeli, dan menggunakan produk UKM akan menunmbuhkan tekad dalam meningkatkan ekspor UKM di Indonesia.

Ia menambahkan, dengan pelatihan ekspor bagi UKM atau Start Up, akan lebih mudah mewujudkan 500.000 eksportir hingga tahun 2030.

Menurut Hanung, rendahnya kinerja ekspor UMKM Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa tantangan.

Tantangan tersebut antara lain akses terhadap informasi pasar sangat rendah, serta baru 16 persen UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital.

Sejauh ini, jumlah UMKM yang lebih dari 64 juta unit usaha, hanya mampu berkontribusi terhadap ekspor sebesar 14,37 persen dibandingkan dengan usaha besar yang berjumlah 5.550 unit usaha, dengan kontribusi terhadap ekspor sebesar 85,63 persen.


sumber : https://money.kompas.com/read/2021/04/04/080922726/teknologi-bisa-tingkatkan-ekspor-umkm-bagaimana-caranya
 

 

Thursday, March 25, 2021

ECS Targetkan Transaksi Ekspor UMKM US$ 64 Juta

Sosialisasi Export Center Surabaya (ECS) di Graha Kadin Jatim, Selasa, 24 Maret 2021. (Foto: Istimewa)

Export Center Surabaya (ECS) menargetkan transaksi ekspor UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) mencapai US$ 64 juta per tahun. Untuk itu ECS gencar melakukan sosialisasi kepada pelaku UMKM.

Kepala Pengelola ECS, Tommy Kaihatu, mengatakan target transaksi ekspor baru UMKM yang mencapai US$ 64 juta per tahun itu tidak kecil karena waktunya tinggal 10 bulan.

"Selain itu, itu ada beberapa target lain, yaitu jumlah layanan konsultasi dan pendampingan mencapai 750 layanan, peningkatan nilai COO atau Certificate of Origin naik 5% serta target tambahan memunculkan UMKM baru ekspor sebanyak 250 UMKM. Makanya harus gerak cepat untuk menyosialisasikannya,” kata Tommy Kaihatu, di Surabaya, Rabu (24/3/2021).

Sosialisasi menjadi penting agar pelaku UMKM mengetahui keberadaan ECS beserta tugasnya. Selain mendapatkan tugas memberikan layanan konsultasi dan pendampingan, ECS juga memiliki tugas untuk memberikan buyer inquiry atau informasi tentang pembeli yang ada di dunia dengan harapan bisa disinergikan dengan UMKM.

"Pekerjaan rumah kita banyak, menjahit luar dan dalam untuk mengoptimalkan potensi UMKM ini agar bisa melakukan kegiatan ekspor. Kita harus menyiapkan UMKM kita, mengurai persoalan mereka, dari kualitas produk, pembiayaan, legalitas dan perizinan hingga persoalan SDM-nya,” terang Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim ini.

Tommy menambahkan, Kadin Jatim juga akan melakukan pemetaan yang nantinya dilanjutkan dengan melakukan pembinaan dan pelatihan, agar UMKM yang mendapatkan pendampingan tidak hanya UMKM yang sama dengan UMKM yang telah mendapakan pendampingan dari sejumlah BUMN dan lembaga lain. "Agar tidak tabrakan dengan pembinaan di lembaga lain, maka data akan kita integrasikan. Ini juga untuk mempermudah dan mempercepat langkah,” tandasnya.

Dalam hal peningkatan produk, lanjut Tommy, keberadaan ECS akan disinergikan dengan program "Rumah Kurasi" Kadin Jatim yang diinisiasi oleh Kadin kota Kediri dan Bank Indonesia wilayah Kediri. Saat ini, program Rumah Kurasi juga sudah mulai jalan dengan melakukan sertifikasi instrutur pemeriksaan produk UMKM.

"Harapannya nanti, jika dalam setiap daerah ada 10 kurator produk UMKM, maka peningkatan kualitas produk bisa dicapai dengan cepat. Dan ini juga akan menjadi solusi keterbatasan volume produksi UMKM. Kalau kualitas produk bisa diseragamkan, maka untuk memenuhi permintaan dengan jumlah yang besar dari luar negeri bisa dengan mudah terpenuhi dari banyak UMKM,” ujarnya.

Disisi lain, program ini juga akan disinergikan dengan sejumlah universitas yang memiliki orientasi entrepreneur seperti Universits Ciputra (UC). Di UC, ujarnya, hampir seluruh mahasiswa memiliki usaha, termasuk usaha keluarga yang selama ini sudah besar tetapi masih belum merambah pasar luar negeri.

Sementara untuk mendapatka buyer atau pembeli luar negeri, kata Tommy, Kadin Jatim juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemdag) dan sejumlah pihak terkait data. Adapun untuk data, bisa didapat dari INA Expo melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), melalui Kedutaan Besar RI serta dari diaspora Indonesia.

"Tantangan berikutnya adalah soal legalitas atau perizinan karena di Indonesia, masing-masing lembaga memiliki aturan masing-masing yang dititipkan ke Bea Cukai. Ini nanti kita minta kemudahan bagi UMKM yang melakukan ekspor melalui ECS. Kuncinya adalah kolaborasi dengan banyak pihak, mulai dari lembaga dan dinas terkait, universitas serta seluruh Kadin yang masuk wilayah kerja kita. Semua potensi kita gerakkan agar tidak jalan sendiri-sendiri karena ini adalah proyek nasional,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, TB A Machrodja, mengungkakan, ECS adalah kelanjutan dari program FTA Center. FTA Center hanya memiliki tugas sosialisasi apa yang telah dilakukan Kemendag agar UMKM dan pelakiu bisnis memahami tentang sejumlah kerjasama dan kebijakan yang telah dibuat bersama negara lain.

Karena UMKM sangat antusias dan banyak UMKM di Jatim mendapatkan predikat sangat baik, maka program FTA Center dilanjutkan dengan pendirian ECS. Dalam program ECS ini, telah ada sejumlah target yang telah ditetapkan, diantaranya jumlah layanan, transaksi yang lapor yang harus dicapai hingga penambahan jumlah UMKM baru yang MoU menembus pasar luar negeri. Untuk itulah Kemdag bekerjasama dengan Kadin Jatim, sebagai lembaga non-profit yang berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi dan bisnis.

“Memang ini tidak mudah. Tetapi saya melihat sumbangsih Jatim terhadap ekonomi nasional tingkat dua. Ini luar biasa. Saya optimistis target bisa tercapai. ini harapan saya. Jika kemudian tidak tercapai ini bisa dievaluasi karena ini pilot project. Apa yang kurang, nanti kita perbaiki bersama,” tuturnya.


sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/750449/ecs-targetkan-transaksi-ekspor-umkm-us-64-juta
 

Wednesday, March 3, 2021

Jokowi Ungkap Kontribusi Ekspor UMKM Cuma 13 Persen

Presiden Jokowi menyatakan mayoritas atau 90 persen eksportir adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Presiden Jokowi menyatakan mayoritas atau 90 persen eksportir adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).(Muchlis - Biro Pers).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan mayoritas atau 90 persen eksportir adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Namun, kontribusi ekspor hanya 13 persen dari total ekspor nasional.
Jokowi menyatakan kapasitas produksi pelaku UMKM biasanya terbatas. Untuk itu, jumlah barang yang diekspor tak sebanyak perusahaan-perusahaan besar.

"Artinya kapasitas perlu diperbesar," tutur Jokowi dalam Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021, Kamis (4/3).

Oleh sebab itu, ia memerintahkan agar Dewan Penunjang Ekspor dihidupkan kembali. Badan itu dibutuhkan untuk membantu pelaku UMKM memperbaiki kapasitas produksinya.

"Bantu UMKM memperbaiki desainnya, bantu UMKM perbaiki pengemasannya, sehingga kualitas lebih baik," ujar Jokowi.

Menurut dia, pengembangan UMKM harus berkolaborasi dengan kementerian/lembaga (k/l) lain. Hal ini agar daya saing UMKM meningkat di pasar global.

Sementara, Jokowi juga mengingatkan agar Kementerian Perdagangan memperluas pasar ekspor. Dengan demikian, eksportir bisa memasarkan produknya ke negara-negara yang selama ini belum terjamah.

"Bertahun-tahun arahnya Uni Eropa, Amerika. Jangan terjebak pada pasar ekspor yang itu-itu saja, sekarang tumbuh pasar-pasar baru yang harus digarap serius," jelas Jokowi.

Beberapa kawasan baru yang patut dicoba, tambah Jokowi, adalah Afrika Selatan dan Eropa Timur. Menurutnya, ekonomi di kawasan tersebut tumbuh cukup baik, sehingga bisa menjadi pasar yang potensial untuk Indonesia.


sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210304113228-532-613621/jokowi-ungkap-kontribusi-ekspor-umkm-cuma-13-persen