Showing posts with label dorong digitalisasi. Show all posts
Showing posts with label dorong digitalisasi. Show all posts

Tuesday, March 30, 2021

Avana Indonesia gandeng Pemkot Bandung dorong digitalisasi pelaku UKM

ILUSTRASI. AVANA, Startup Berbasis SaaS Luncurkan Platform Jualan Gratis untuk Membantu UMKM Go Online

Avana Indonesia terus mendorong proses digitalisasi para pelaku usaha kecil menengah (UKM) agar dapat menemukan peluang yang lebih luas lagi dan beradaptasi dengan tuntutan kebutuhan konsumen yang semakin meningkat.

Salah satu upaya yang dilakukan perusahaan penyedia layanan pendukung social commerce ini adalah dengan mengembangkan berbagai teknologi unggulan sebagai penunjang bisnis UKM lokal, seperti menyediakan website toko online yang bisa terhubung dengan instagram shopping, integrasi chat, manajemen reseller, dan lain-lain.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor usaha. Para pelaku UKM termasuk yang paling terkena dampak sehingga memang diperlukan dukungan bagi UMK ini agar bisa bertahan menghadapi tekanan dan melakukan penyesuaian proses bisnis dengan kondisi yang ada.

Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, pelaku UKM yang biasanya memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) terbatas pun bisa dengan mudah menjual produk-produk mereka secara online melalui website maupun media sosial.

“Situasi pandemi ini justru bisa dimanfaatkan oleh pelaku UKM untuk mulai beralih ke media online dalam mengembangkan bisnis mereka. Untuk mendukung perekonomian lokal, Avana selaku social commerce enabler bisa membantu pelaku UKM untuk bisa berjualan online secara mudah melalui website maupun media sosial serta memanfaatkan puluhan teknologi canggih guna mempermudah pengelolaan toko online mereka,” kata Farid, Chief Strategy Officer Avana Indonesia dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Senin (29/3).

Untuk mengasah kemampuan digital pelaku UKM, Avana juga secara rutin mengadakan pelatihan digitalisasi baik secara offline maupun online yang bisa diikuti oleh pelaku bisnis dari seluruh Indonesia. Hingga kini, pelatihan offline telah diadakan di kota Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Untuk membantu pelaku UKM secara lebih luas, Avana Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung dan SATGAS Pemulihan Ekonomi Kota Bandung berencana untuk mengadakan berbagai program pelatihan bertemakan digitalisasi bisnis yang diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan bisnis UKM di Kota Bandung.

Salah satu program tersebut adalah dengan menggelar webinar bertajuk Pemulihan Ekonomi Pelaku UKM Melalui Transformasi Digital. Melalui webinar ini, pelaku UKM diharapkan bisa menambah wawasan baru mengenai tren bisnis saat ini serta bentuk upaya transformasi digital yang harus mereka lakukan agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Yana Mulyana, Wakil Wali Kota Bandung mengatakan, pandemi memberikan dampak yang sangat besar bagi perekonomian Kota Bandung. “Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung turun dari 6,75 % di tahun 2019 menjadi minus 2,29% di tahun 2020,” ujarnya.

Sementara Iwa Gartiwa selaku Ketua Kadin Kota Bandung dan Wakil Ketua Pelaksana Harian SATGAS Pemulihan Ekonomi Kota Bandung mengungkapkan, sebanyak 88% usaha mikro kini telah kehabisan dana kas, sementara 60% terpaksa mengurangi jumlah karyawannya untuk bisa bertahan di tengah pandemi. Padahal, data menunjukkan bahwa sekitar 120 juta orang atau 88,9% tenaga kerja justru diserap oleh UKM bukan bisnis-bisnis besar.

Oleh karena itu, pelaku usaha harus melakukan digitalisasi agar bisa terus bertahan. Namun, digitalisasi tentu juga membutuhkan modal sehingga menurutnya diperlukan dukungan banyak pihak terhadap para pelaku UKM ini.

"Persaingan bisnis semakin ketat dan yang bisa survive adalah mereka yang telah fasih menggunakan teknologi. Namun justru sekarang terdapat keterbatasan dana untuk melakukan proses digitalisasi bisnis tersebut." pungkas Iwa.


sumber : https://keuangan.kontan.co.id/news/avana-indonesia-gandeng-pemkot-bandung-dorong-digitalisasi-pelaku-ukm 

Thursday, March 11, 2021

Menkop dan UKM Dorong Digitalisasi UMKM dengan Program Relawan Mentor

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki (tengah) menunjuk produk UMKM di Smesco Jakarta, Rabu (3/3/2021). (Foto: Istimewa)

Kementerian Koperasi (Kemkop) dan UKM mengembangkan konsep voluntary desk dan mengajak para ahli menjadi mentor untuk membantu para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Model pendampingan oleh mentor seperti ini menjadi salah satu cara agar akselerasi UMKM masuk ke sektor digital segera terwujud.

Upaya ini dilakukan KemenkopUKM bekerja sama dengan Mastercard Academy 2.0 melalui program MicroMentor Indonesia yang saat ini sukses merekrut 10 ribu pendamping dan menjangkau 40.000 UMKM.

"UMKM saat ini jadi tumpuan ekonomi di tengah pandemi. Digitalisasi jadi keniscayaan pertumbuhan UMKM kita ke depan. UMKM perlu pendampingan dari mentor agar berkembang lebih cepat," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam acara Coffee Talk Menkop dan UKM dan Lewi's Organics sekaligus Pengukuhan 200 Master Mentor SIGAP UMKM di Tangerang, Kamis (11/3/2021).

Menurut Teten, Indonesia memiliki potensi digital ekonomi yang sangat besar. Bahkan di 2025 nilainya diperkirakan mencapai Rp1.800 triliun.

“Jangan sampai digital market ekonomi kita justru dikuasai asing. UMKM harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya kira banyak orang Indonesia yang punya keahlian dan membantu UMKM berkembang dan menjadikan ini sebagai gerakan nasional, gerakan solidaritas kebangkitan UMKM lewat relawan mentor," ujar Teten.

MicroMentor Indonesia akan melatih dan mendampingi UMKM tentang tata cara penggunaannya melalui platform MicroMentor Indonesia, yang diintegrasikan dengan platform pelatihan berbasis daring KemenkopUKM di edukukm.id.

"Kami mengajak masyarakat Indonesia yang punya keahlian marketing produksi untuk gabung dengan kami menjadi volunteer UMKM dalam meningkatkan kualitas produk. Masyarakat banyak yang mau membantu UMKM tapi sistemnya harus dimudahkan dan disederhanakan," imbuh Teten.

Teten berharap program ini dapat mempercepat pertumbuhan wirausaha baru. Jumlah wirausaha Indonesia saat ini masih relatif kecil dibanding negara lain, yakni hanya sebesar 3,7 persen.

“Di 2024, kami targetkan menjadi 4 persen. Berbagai cara dilakukan bukan hanya lewat pendampingan juga dengan skema modal ventura misalnya," kata Teten.

Salah satu kegiatan usaha yang mendapat perhatian khusus dalam program ini adalah petani yang memproduksi kacang mete di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana para petani yang tergabung dalam koperasi didampingi oleh para mentor dari Mercy Corps Indonesia bersama pelaku usaha agriculture lokal PT Profil Mitra Abadi (PMA) lewat produk Lewi's Organics.

CEO PMA Lewi Cuaca menyebutkan, saat ini tak hanya kacang mete, para petani di NTT juga menghasilkan berbagai produk pertanian mulai dari gula lontar, sesame wijen, hingga minyak kayu putih. Sebagian besar produk telah diekspor ke luar negeri mayoritas Eropa dan Amerika Serikat, terutama Jerman, Belgia, Swiss, dan Belanda.

Teten mengapresiasi upaya yang telah dilakukan PMA di NTT. Diakuinya, saat ini masih banyak koperasi petani yang memproduksi hasil taninya secara tradisional. Hal ini akan didorong oleh KemenkopUKM untuk masuk ke teknologi modern sehingga produk yang dihasilkan memiliki daya saing secara global.


sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/744647/menkop-dan-ukm-dorong-digitalisasi-umkm-dengan-program-relawan-mentor