Showing posts with label cloud. Show all posts
Showing posts with label cloud. Show all posts

Sunday, March 31, 2024

Generative AI dan UMKM, Penggerak Roda Ekonomi RI di Masa Depan

 

Jakarta - Bagi sebuah perusahaan, melakukan transformasi digital semestinya akan membawa banyak keuntungan. Namun, melakukan transformasi itu bukan hal yang mudah.

Hal ini yang dilihat oleh Searce sebagai peluang bisnis. Searce adalah perusahaan yang bergerak di bidang sistem integrator, yang menyediakan berbagai macam kebutuhan konsumennya di ranah cloud.

Menurut Benedikta Satya, Country Director Searce in Indonesia, perusahaannya itu punya banyak pengalaman dan solusi yang berkaitan dengan teknologi cloud. Hal tersebut membuat mereka bisa membantu perusahaan yang ingin melakukan transformasi digital.

"Melalui tenaga-tenaga ahli IT yang kami miliki, kami berfokus untuk membantu para pelanggan untuk melakukan digital transformasi di bisnis mereka tentunya seputar dengan teknologi cloud misalnya, melakukan Cloud onboarding, memindahkan infrastruktur on-premise mereka ke penyedia layanan cloud seperti Google dan AWS," kata Benedikta dalam wawancara dengan detikINET beberapa waktu lalu.

Secara global, Searce memiliki lebih dari 1.000 engineer yang sudah memiliki spesialisasi di area Infrastructure, Application Modernization, Data & Analytics, AI, Machine Learning, Location Intelligence Solutions, Work Transformation, Cloud Managed Service dan sebagainya.

Menurut Benedikta, perusahaan yang berpotensi bisa melakukan transformasi digital adalah perusahaan yang lahir dan besar di era digital, atau Digital Native industry. Meski begitu, tak menutup kemungkinan perusahaan lain di sektor tradisional untuk melakukan transformasi digital.

"Potensi yang sama dapat juga di lihat pada sektor-sektor traditional seperti bank, manufaktur, oil and gas, yang juga mau melakukan digital transformation di dalam organisasi mereka," tambahnya.

Melakukan transformasi digital di sini, menurut Benedikta, juga bukan berarti perusahaan perlu punya data center atau server fisik sendiri. Pasalnya banyak perusahaan seperti Google dan AWS yang menyediakan layanan cloud -- dengan data center fisik di Indonesia -- yang bisa digunakan oleh pelanggannya dengan metode berlangganan atau dengan kata lain, bisa digunakan seperlunya tanpa perlu investasi besar di awal.

"Dengan begitu, waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan sistem yang dibutuhkan akan lebih singkat dan lebih mudah. Hal ini dapat berpengaruh kepada penyusunan strategi untuk pengembangan bisnis dapat dilakukan dengan lebih cepat, dengan mengeliminasi beberapa proses yang sebelumnya memakan waktu yang lebih lama dan lebih rumit," tambah Benedikta.

Benedikta juga menyebut kalau ada beberapa hal yang bisa dijadikan indikasi sebuah perusahaan perlu melakukan modernisasi. Salah satunya adalah pergerakan bisnis yang lambat dibanding kompetitor.

"Apabila perusahaan tidak dapat mengikuti dengan cepat perubahan yang ada, itu mengindikasi bahwa teknologi yang bergerak di belakangnya tidak siap untuk dapat membantu pelaku bisnis melakukan perubahan tersebut," jelasnya.

Saat perusahaan merasa perlu melakukan modernisasi, hal pertama yang perlu disiapkan adalah target bisnis yang ingin dicapai, juga hambatan apa saja yang ada saat ini.

"Searce dapat membantu pelanggan untuk melakukan "assessment" yang dalam hal ini akan dilakukan beberapa pengumpulan data untuk dapat mengetahui situasi infrastruktur yang ada saat ini. Di situ kami dapat memberikan solusi yang tepat bagaimana cara memulai proses transformasi yang paling sesuai dengan bisnis yang ada," jelas Benedikta.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/03/generative-ai-dan-umkm-penggerak-roda.html

Monday, August 2, 2021

Platform Digital Berbasis Cloud Ini Ajak UKM Maksimalkan Utilisasi Armada Truk di Angkutan Logistik

 

Platform Digital Berbasis Cloud Ini Ajak UKM Maksimalkan Utilisasi Armada Truk di Angkutan Logistik
 
JAKARTA - Tren pertumbuhan industri FMCG dan e-commerce menjadi salah satu pendorong kuatnya geliat industri logistik di Indonesia.

Kebutuhan armada truk untuk menopang bisnis ini pun terus meningkat. Sementara, banyak usaha kecil menengah (UKM) pemilik truk yang armadanya belum terkelola maksimal.

Menjembatani hal ini, perusahaan startup teknologi Transporta, memperkenalkan sistem manajemen transportasi (TMS) gratis untuk UKM di bidang logistik.

Lewat program ini, perusahaan dan UKM dengan armada truk di bawah 20 unit dapat memanfaatkan layanan manajemen transportasi berbasis digital tanpa biaya dengan maksimal 75 perjalanan setiap bulannya.

Lewat inisiatif ini, para UKM pengusaha truk diajak mengadopsi era digitalisasi yang berkembang pesat di tengah pertumbuhan e-commerce -dengan biaya terjangkau.

Emma Hartono, COO Transporta, mengatakan, selama ini UKM pelaku industri logistik menghadapi dua permasalahan utama.

Pertama, masuknya pesanan e-commerce secara tiba-tiba dari pelanggan ritel yang mengakibatkan UKM pengusaha truk terpaksa mengangkut barang dengan muatan truk setengah isi.

Setelahnya, truk tersebut kembali dalam keadaan kosong dengan sistem perutean yang tidak optimal.

Masalah kedua, pengemudi truk dari perusahaan UKM kalah bersaing dengan perusahaan yang memiliki armada yang banyak karena rendahnya adopsi digital dan tingginya biaya logistik.

"Untuk bersaing di pasar, UKM perlu berinvestasi pada TMS yang efisien," kata Emma Hartono, Sabtu (1/8/2021).

Sayangnya, solusi TMS yang saat ini ada biayanya mahal, rumit, dan lebih menyasar pengusaha truk dengan armada berskala besar.

Hal ini mengakibatkan UKM pemilik jasa transportasi truk dihadapkan pada situasi yang tidak mudah dan akhirnya harus tetap melakukan bisnis secara manual dengan aplikasi Excel.

Emma mengatakan, TMS dari Transporta dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya.

Berbasis Cloud

Untuk mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh proses manual, pihaknya mengandalkan platform cloud yang terpusat sebagai solusi yang menyeluruh bagi para pengusaha truk dan sektor logistik.

Hasilnya, para pengusaha truk dapat memaksimalkan kecepatan operasi harian mereka dan memanfaatkan operasional seperti rute, ruang truk, penggunaan bahan bakar, hingga mengelompokkan pengemudi secara efisien sehingga perusahaan dapat memaksimalkan keuntungan dan kinerja pengiriman.

Perusahaan logistik juga dapat dengan mudah mengirim penawaran, memproses pesanan, menjadwalkan rute dan pengemudi, melacak pengiriman, hingga mengirim penagihan.

"Semuanya dilakukan dalam satu aplikasi web tanpa biaya," ungkap Emma.

TMS berbasis cloud milik Transporta ini mudah digunakan dan tidak membutuhkan investasi perangkat keras maupun lunak yang rumit.

Selain solusi TMS, Transporta juga menyediakan sistem telemetri untuk melacak setiap truk di setiap armada, memberikan informasi lokasi yang akurat, serta memaksimalkan rekam digital bagi pengemudi dan UKM pemilik truk.

"Biaya logistik Indonesia menghabiskan sekitar 30 persen dari PDB negara -salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Visi jangka panjang Transporta adalah mengubah proses logistik manual yang memakan biaya ini menjadi digitalisasi," kata Emma.

"Lewat upaya ini, kami berharap dapat terus memperkuat sektor dan rekam digital para pengusaha truk untuk semakin berkembang," imbuhnya.

Transporta juga akan menghadirkan platform berbasis komunitas, dimana sesama pengusaha truk di Indonesia dapat saling berbagi informasi mengenai rute dan muatan.

Komunitas ini akan terhubung melalui obrolan grup di aplikasi WhatsApp.

Dengan demikian, para pengusaha truk UKM ini dapat menggabungkan muatannya satu sama lain, sehingga perutean dan operasional pun berjalan lebih efisien dan maksimal.

Transporta akan merilis program TMS ini pada bulan Agustus ini dan menargetkan jangkauan lebih dari 10,000 perusahaan truk dalam tiga tahun ke depan.

Sumber : https://m.tribunnews.com/techno/2021/08/01/platform-digital-berbasis-cloud-ini-ajak-ukm-maksimalkan-utilisasi-armada-truk-di-angkutan-logistik?page=all
 

Monday, January 25, 2021

Cloud demokratisasi software bisnis untuk UMKM


Kemajuan pada komputasi awan telah mengubah cara berinteraksi dengan “dunia luar”, mulai dari cara membayar tagihan, berkomunikasi, hingga menjelajahi jalanan di ibu kota. Kehadiran teknologi cloud telah membuktikan adanya disrupsi pada kebiasaan lama masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Pada dunia software, industri ini telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir, dan sekarang sedang mengalami percepatan pengadopsian karena krisis global yang terjadi pada enam bulan terakhir. Perangkat lunak mahal dan kompleks yang sebelumnya sulit ditemukan sekarang banyak tersedia karena adanya teknologi cloud. Tahap ini membuahkan demokratisasi pada bisnis perangkat lunak, yaitu pergeseran sumber daya yang dulu langka menjadi sesuatu yang dapat digunakan oleh semua orang.

Menurut VP & GM Zoho Corporation untuk wilayah Asia Pasifik Gibu Mathew, terdapat beberapa faktor mengapa terjadinya perubahan pada aplikasi perkantoran yang lebih demokratis, mudah digunakan, dan terjangkau. Merambaknya teknologi informasi adalah salah satunya.

“Perangkat lunak telah menjadi faktor penting dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dulu memerlukan bermacam proses pengkodean dan pengetahuan teknis, kini dapat diselesaikan hanya dengan melakukan drag and drop. Aplikasi perkantoran telah mengikuti dan semakin terasa seperti aplikasi sehari hari. Dengan fitur yang umum serta antarmuka pengguna yang familiar, kini keahlian dan pelatihan khusus tidak lagi diperlukan untuk membangun dan menjalankan perangkat lunak,” tuturnya.

Selain itu, tambahnya, maraknya penggunaan ponsel pintar telah memungkinkan pengguna menjalankan bisnis ke mana pun mereka pergi.

“Software yang mudah digunakan telah tersedia di mana-mana, yang artinya karyawan tidak lagi terpaku pada komputer meja. Saat ini menyebarkan informasi meskipun sedang dalam perjalanan kini semakin mudah. Penyedia perangkat lunak yang memfokuskan diri pada konsumen turut menyediakan aplikasi seluler sebagai cara lain untuk mengakses layanan,” katanya.
Bagian dari demokrastisasi perangkat lunak adalah semakin banyaknya pilihan konsumen. Setiap hari, banyak aplikasi-aplikasi yang ditawarkan sehingga masyarakat memiliki berbagai opsi untuk menangani proses bisnis apa pun.

“Dulu, hanya ada beberapa penyedia perangkat lunak yang bisa dipilih oleh pemilik usaha. Sekarang sudah ada ratusan alternatif. Karena banyaknya pilihan, konsumen dapat menentukan bagaimana mereka mengelola bisnis tanpa harus mempelajari keahlian baru,” imbuhnya.

Menurut Gibu, saat ini pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) pun dapat mengakses piranti lunak yang sebelumnya hanya bisa dimiliki perusahaan besar.

“Dahulu perangkat lunak bisnis membutuhkan modal yang sangat banyak. Konsekuensinya, hanya perusahan besar dengan dana berlimpah yang mampu memiliki fitur dan kemampuan yang disediakan oleh komputasi awan. Namun, kebangkitan teknologi cloud dan seluler tidak lagi dikaitkan dengan kebutuhan seperti melakukan instalasi di tempat, tidak lagi butuh ruangan server atau modal besar untuk menjalankan bisnis. Hanya dengan ponsel pintar saja sudah cukup. Hasilnya? Pemilik Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki akses ke alat yang biasanya dimiliki perusahaan besar selama bertahun-tahun. Sekarang mereka dapat memberikan pengalaman kelas dunia yang tidak kalah saing kepada konsumennya,” katanya.

Dihubungi terpisah, Ketua Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO) Syahnan Phalipi mengatakan bahwa saat ini banyak yang mengira pelaku UMKM belum terlalu melek terhadap teknologi, padahal pendapat ini tidak sepenuhnya tepat. Banyak aplikasi-aplikasi operasi bisnis yang digunakan oleh pelaku usaha, meski tentu masih belum sampai pada tingkat yang terintegrasi. Berbagai bidang usaha seperti kuliner, fesyen, furnitur, hingga jasa sablon dan percetakan pun secara perlahan sudah mulai mengadopsi teknologi komputasi awan.

“Kelebihan penggunaan teknologi ini salah satunya adalah menekan biaya. Bandingkan kalau UMKM harus menyewa server sendiri hanya untuk menyimpan data konsumen, angka penjualan, database suplier, berapa biaya yang harus mereka keluarkan? Ini hanya cocok untuk level korporasi besar. Saat ini sudah banyak pengembang aplikasi yang memahami kebutuhan UMKM sehingga kita dapatkan banyak sekali solusi teknologi yang ditawarkan, dan ini tentu menguntungkan bagi pelaku usaha kecil menengah,” ungkapnya.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, tambah Syahnan lagi, bukan hanya perusahaan besar yang melakukan transformasi digital, bahkan pengusaha UKM pun harus melakukannya. Dengan mengurangi frekuensi berkumpul bersama tim kerja, khususnya bagian produksi, maka bisa berimpilkasi pada berkurangnya pengawasan. Kalau pengawasan menurun, berpengaruh pada quality control.

“Dengan adanya teknologi sistem operasi saat ini, yang dikembangkan oleh perusahaan apapun itu, pelaku UKM tetap bisa berproduksi tanpa harus mengurangi kualitas. Maka kami dari asosiasi mendukung dan terus mengedukasi anggota-anggota kami untuk selalu memperbaharui pengetahuan mereka tentang teknologi, karena kita hidup di masa keterbatasan fisik menjadi tantangan,” tutupnya.




Ikuti bagaimana cara TITIPKU membantu UMKM dalam acara StartSMEup Talk - 05 Feb 2021, daftar segera di https://s.id/eventcerdas5feb

Monday, August 24, 2020

Virtual Event APTIKNAS MERDEKA IT INDONESIA - Data Center and Cloud - 27 Agustus 2020

 [INVITATION]

APTIKNAS MERDEKA IT INDONESIA, dengar dan pelajari bagaimana teknologi DATA CENTER dan CLOUD bisa memerdekakan IT dan bisnis di Indonesia. 


Moderator:

👤 Fanky Christian

Ketua APTIKNAS DKI JAKARTA 


Sharing:

👤 Wisnoe Pribadi,  Perumus SNI 8799

SNI Pusat Data 8799:2019


👤 Sutedjo Tjahjadi, 

Managing Director, Datacomm Cloud Business, 

PT. Datacomm Diangraha

Cloud Adoption


👤 Zanipar S.A. Siadari

Product Marketing Printer & Visual Instrument Department Head 

PT. Epson Indonesia

Cloud Solution


👤 James Valentino & Billy Novan Toshi

PT. Cloud Ace Integra

Deployment of Machine Learning Model on Google Data Center Jakarta for COVID-19 Detection


👤 Basori HP

PT. Advantech International

Advantech server solution and application


🗓 : Kamis, 27 Agustus 2020

⏰ : 14.00-16.30 WIB

📍 : Live on Zoom & YouTube

💰 GRATIS!

📜 : E-Certificate


Registration

https://www.eventcerdas.com/registrasipeserta.php?id=160

Info: 0857-7415-4495 - Putri


YouTube

https://bit.ly/eventcerdaslive

 

Sunday, April 6, 2014

40% dari sistem CRM menggunakan pola SaaS

Sistem CRM sebagian besar menggunakan pola SaaS (Sewa aplikasinya saja). Dengan pola ini memang biaya investasi perangkat bisa ditekan. Silahkan baca artikelnya:

2013 CRM Market Share Update: 40% Of CRM Systems Sold Are SaaS-Based

Last year, four out of every ten CRM systems sold were SaaS-based, and the trend is accelerating.
In the recent Gartner report  Market Share Analysis: Customer Relationship Management Software, Worldwide, 2012published April 18, 2013 the authors provide insights into why the worldwide CRM market experienced 12% growth in 2012, three times the average of all enterprise software categories.  Gartner cites demand they are seeing from their enterprise clients for CRM systems that can help acquire customers, analyze and act on customer behaviors, and increase all-channel management performance.  Big data inquiries are also increasing in CRM, driven by the interest enterprise clients have in getting more value from social network data and interactions.
Key take-aways from the report include the following:
  • The CRM worldwide market grew from $16B to $18B attaining a 12.5% growth rate from 2011 to 2012.
  • 80% of all CRM software in 2012 was sold in North America and Western Europe.    North America CRM sales grew 16.6% from 2011 to 2012.  The highest growth regions of CRM sales between 2011 to 2012 included Greater China (26.9%) and Latin America (24.3%).
 
  • Worldwide CRM software spending by subsegment shows Customer Service and Support leading all categories with 36.8% of all spending in 2012 ($6.6B), followed by CRM Sales (26.3%, $4.7B), Marketing (includes marketing automation) (20%, $3.6B) and e-commerce (16.9%, $3B).   The following chart shows the distribution of revenue by category:
  • 40% of all CRM software sold in 2012 worldwide was SaaS-based.  Gartner states that they are seeing their enterprise clients seek out easier-to-deploy CRM systems compared to on-premise alternatives.  The report states that many enterprises are now replacing their legacy systems with SaaS-based CRM systems as well.  Enterprise clients also report that SaaS-based CRM systems are delivering net-new applications that deliver complementary functionality not possible with legacy and previous-generation CRM platforms.
  • Ten fastest growing CRM vendors as measured in revenue Annual Growth Rate (AGR) in 2012 include Zoho (81.2%), Hybris (78.6%), Teradata (70.4%), Bazaarvoice (56.2%), Marketo (54.3%), Kana (44.2%), Demandware (43.9%), IBM (39.4%), Technology One (37.1%) and Neolane (36%).
  • Communications, media and IT services were the biggest spenders on CRM in 2012 due to their call center requirements.  Manufacturing including Consumer Packaged Goods (CPG) was second, and banking & securities were third.


Selain dengan pola SaaS, kami juga menyediakan solusi lain lebih murah :
1. Menggunakan hosting Indonesia yang mendukung sistem vTigerCRM. Cukup 100.000 per bulan untuk mendapatkan hosting yang baik.

2. Dipasang di server (komputer) sendiri berbasis Windows, dengan koneksi Telkom Speedy, maka sistem CRM ini bisa diakses di luar / remote oleh tim sales Anda.

Silahkan kontak dan hubungi kami utk implementasi dan training vTigerCRM.
mobile: 08121057533
email: crm@dayaciptamandiri.com