Showing posts with label kredit. Show all posts
Showing posts with label kredit. Show all posts

Sunday, June 9, 2024

OJK Ungkap Biang Kerok Kredit Macet UMKM Masih Tinggi

 


Batam, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara mengungkapkan bahwa pemulihan yang terlambat (lagging recovery) menjadi salah satu alasan kredit macet (non performing loan/NPL) sektor UMKM masih belum sesuai dengan harapan.

"Recovery di sektor atas lebih cepat dari pada sektor bawahnya," ujar Mirza dalam FGD bersama Redaktur Media Massa.

Mirza mengungkapkan saat ini kondisi kredit macet perbankan masih berada di angka aman dan stabil, namun dirinya tidak menampik kredit berisiko (Loan at Risk/LaR) yang masih berada di tingkat yang relatif tinggi.

Hingga April 2024, NPL perbankan masih berada di bawah 3%, tepatnya 2,33%. Angka tersebut naik dari 2,19% di Desember 2023 dan 2,25% di Maret 2024.

Sementara itu, LaR April 2024 mencapai 11,04% atau berada di atas kondisi sebelum pandemi yang stabil di satu digit, namun jauh lebih baik dari masa pandemi yang angkanya mencapai 30%.

Mirza menilai kondisi NPL sektor keuangan saat ini bukan hal yang perlu ditakutkan, karena penyebabnya bukan masalah struktural.

"Ini sesuatu yang one-off bukan sesuatu yang struktural, kita tidak melihat bahwa NPL di sektor keuangan ini akan naik terus," terang Mirza

Meski demikian, Mirza menambahkan bahwa OJK akan terus mengamati perkembangan kondisi kredit di Indonesia.

Tingginya NPL tampaknya ikut menjadi salah satu alasan lemahnya pertumbuhan kredit di sektor UMKM.

Mengutip data OJK, pertumbuhan kredit UMKM pada April 2024 hanya berada di angka 7,30% atau jauh dibawah kredit korporasi (18,45%) dan konsumsi (10,34%).


Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20240609104922-17-545005/ojk-ungkap-biang-kerok-kredit-macet-umkm-masih-tinggi


Tuesday, May 28, 2024

Hingga Maret 2024, BSI Salurkan Pembiayaan UMKM Rp46,62 Triliun

 


Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatatkan pembiayaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara nasional telah mencapai Rp46,62 triliun per Maret 2024.

Direktur Sales dan Distribution BSI, Anton Sukarna, jumlah pembiayaan UMKM tersebut mengalami pertumbuhan sebanyak 12,4 persen secara tahunan, dengan jumlah nasabah lebih dari 940 ribu.

“Jadi posisi kita, untuk posisi sampai dengan bulan Maret 2024 ya, posisi pembiayaan UMKM itu sebesar Rp46,62 triliun atau tumbuh sebesar 12,4 persen year on year, dengan jumlah nasabahnya itu sebanyak 940 ribu lebih,” ucap Anton saat ditemui media di Harvesting Gernas Sumatera Selatan dikutip, 28 Mei 2024.

Lebih lanjut, Anton pun optimis angka tersebut masih akan tumbuh secara baik di sepanjang 2024. Tidak hanya itu, ia juga akan memastikan penyaluran kredit kepada UMKM akan berkualitas.

“Kalau kita bicara pertumbuhan, kita upayakanlah targetnya tetap tumbuh secara baik di tahun ini, dan juga kalau kita bicara target pembiayaan itu kan bukan hanya sekadar tumbuh ya, tapi juga dari sisi kualitas,” imbuhnya.

Dalam mendukung pertumbuhan penyaluran kredit UMKM tersebut, BSI memiliki UMKM Center yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, antara lain, Aceh, Surabaya, Yogyakarta, dan Makassar, sebagai wadah pelatihan dan literasi.

“Kalau kita bicara UMKM di bangsa di Indonesia itu bukan hanya terkait dengan usahanya, tapi juga terkait dengan halal, lifestyle dan juga Islam ekosistemnya. Nah, jadi kita lakukan proses pelatihan, literasi, kemudian juga pendampingan, dan mereka bisa display di UMKM Center kita. Kemudian juga bisnis matching-nya kita juga bantu untuk mereka,” ujar Anton.

Selain UMKM Center, BSI juga menyediakan program BSI Talenta Wirausaha yang hingga saat ini telah menjaring kurang lebih dari 3.000 calon pengusaha atau wirausaha yang dibina dalam program tersebut.

“Nah jadi kita betul-betul ingin membangun model kelompok UMKM yang sifatnya itu struktural, bukan sekedar hanya spot gitu ya, tapi betul-betul kita siapkan berbagai model pengembangannya,agar pertumbuhannya nanti itu akan jauh lebih sustain lagi,” tutupnya. (*)


Sumber: https://infobanknews.com/hingga-maret-2024-bsi-salurkan-pembiayaan-umkm-rp4662-triliun/

Wednesday, April 24, 2024

Penyaluran Kredit BRI Naik 11% Jadi Rp 1.308 T, 85% Untuk UMKM

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mencatatkan kinerja penyaluran kredit, khususnya segmen UMKM, yang gemilang sepanjang kuartal pertama tahun 2024. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, BBRI melaporkan penyaluran kredit senilai Rp 1.308,55 triliun atau tumbuh 10,89% secara tahunan (yoy). Hal ini mendorong aset Grup BRI mencapai Rp 1.989,07 triliun, tumbuh 9,11% yoy.

Kredit UMKM secara spesifik berkontribusi atas 85% dari total penyaluran kredit BRI.

Adapun BRI merupakan bank yang fokus pada segmen UMKM, khususnya mikro. Per Maret 2024, kredit mikro tumbuh 10,51% yoy menjadi Rp 622,51 triliun.

Selanjutnya kredit konsumer naik 11,62% menjadi Rp 193,96 triliun dan kredit kecil dan menengah tumbuh menjadi Ro 272,85 triliun.

"Portfolio UMKM BRI 83,25% [dari total kredit] memiliki impact terhadap daya tahan perekonomian nasional mengingat UMKM berperan 97% job cretaion dan menyumbang 61% dari PDB," ujar Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto dalam paparan kinerja BRI Kuartal-I 2024, Kamis (25/4/2024).

Sementara itu, kredit korporasi BRI tercatat naik 15,1% menjadi Rp 213 triliun.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/penyaluran-kredit-bri-naik-11-jadi-rp.html

Tuesday, February 8, 2022

Dukung Akselerasi Perekonomian Nasional, OJK Siap Sokong Sektor UMKM dan Ekonomi Hijau

 Pemerintah mencanangkan 2022 sebagai momentum untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, ekonomi nasional menunjukkan perbaikan sepanjang 2021.



Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, sepanjang 2021, PDB Indonesia tumbuh sebesar 3,69 persen. Selain PDB, tren positif perekonomian juga ditunjukkan pada pasar modal.

Hal tersebut disampikan Wimboh pada acara peringatan Hari Pers Nasional 2022 bertema “Akselerasi Perekonomian Daerah untuk Memacu Pemulihan Ekonomi Nasional Pasca Pandemi Covid-19” pada Selasa (8/2/2022).

Menurutnya, saat ini kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal mulai pulih. Hal ini terlihat dari nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 6.804,94.

“Jumlah tersebut tumbuh sebesar 3,4 persen secara year-to-date sejak awal Januari 2022. Nilai tersebut juga lebih besar ketimbang IHSG sebelum Covid-19,” ujar Wimboh.

Indikator selanjutnya, lanjut Wimboh, serapan surat utang dan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di pasar modal sepanjang 2021 mencapai Rp 363,3 triliun. Jumlah ini lebih besar ketimbang catatan 2020 yang sebesar Rp 118,7 triliun.

Selain itu, jumlah investor di Indonesia juga mengalami kenaikan sebesar 93 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dengan jumlah sekitar 7,5 juta daripada tahun lalu.

Sebanyak 80 persen dari jumlah tersebut, kata Wimboh, merupakan investor milenial dan 60 persen dari investor milenial itu berada di Jawa.

“Hal tersebut membuktikan bahwa kami berhasil menarik investor muda di pasar modal. Selanjutnya, kami akan lebih gencar mengampanyekan hal ini di luar Pulau Jawa,” tuturnya.

Wimboh melanjutkan bahwa tren pertumbuhan positif juga tampak pada sektor perbankan. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan kredit sebesar 5,24 persen secara yoy pada 2021 setelah mengalami kontraksi sebesar 2,7 persen pada 2020.

Meski demikian, Wimboh mengatakan bahwa pertumbuhan kredit tersebut masih lebih rendah ketimbang sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai 8 persen. Ia memperkirakan, pertumbuhan kredit pada akhir 2022 mencapai 7,5-8 persen.

Adapun pertumbuhan kredit terbesar disumbang oleh sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mencapai 11,23 persen. Jumlah tersebut lebih besar dari persentase total kredit secara keseluruhan. Sementara, pertumbuhan kredit pada korporasi hanya mencapai 2,72 persen.

Jika dilihat dari sebaran serapannya, pertumbuhan kredit di luar Jawa tercatat lebih besar ketimbang di Jawa. Untuk luar Jawa, pertumbuhan kredit mencapai 5,8 persen, sedangkan Jawa tercatat tumbuh 5 persen.

“Selain itu, jumlah masyarakat yang menggunakan layanan perbankan juga meningkat sebesar 12,21 persen ketimbang tahun sebelumnya,” ujar Wimboh.

Dukung pertumbuhan sektor ekonomi baru dan ekonomi hijau

Kondisi tersebut membuat pemerintah optimistis untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2022

Agar target itu tercapai, OJK bersinergi dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga moneter, fiskal, dan sektor keuangan. Salah satunya adalah mengendurkan likuiditas dan mengakomodasi kebijakan fiskal dengan defisit lebih dari 3 persen.

Wimboh menjelaskan, target pertumbuhan ekonomi juga dapat dicapai dengan memacu pertumbuhan dari sektor UMKM. Pasalnya, UMKM menyumbang penyerapan tenaga kerja terbanyak ketimbang sektor lain.

Oleh karena itu, OJK akan mengimplementasikan program pengembangan UMKM. Salah satunya dengan melibatkan UMKM masuk dalam sektor ekonomi baru.

Menurutnya, sektor ekonomi baru, seperti industri pengolahan mineral dan perikanan, dapat menyerap tenaga kerja bila sektor pariwisata belum bisa bangkit.

“Industri pengolahan batu bara, nikel, serta bauksit dapat disiapkan untuk menyerap banyak tenaga kerja yang bekerja di sektor terdampak Covid-19. Misalnya, industri pariwisata,” ujar Wimboh.

Ia melanjutkan bahwa sektor ekonomi baru juga telah dimasukkan ke dalam platform ekonomi hijau. Sebagai informasi, OJK telah merilis taksonomi ekonomi hijau. Penyusunan taksonomi ini bertujuan untuk melakukan pendataan subsektor yang termasuk pada kategori ekonomi hijau.

UMKM atau pengusaha yang bergiat di sektor ekonomi hijau akan mendapatkan insentif dari pemerintah, mulai dari pajak hingga regulasi dari OJK.

“Hal tersebut merupakan bentuk dukungan OJK terhadap program pemerintah untuk menurunkan emisi karbon pada 2030 sesuai Perjanjian Paris,” tuturnya.

Wimboh menyebut, daerah di luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, memiliki potensi ekonomi hijau. Pemerintah pun siap memberikan dukungan pembiayaan, teknologi, serta prasarana.

“Presiden sempat mengunjungi Sumatera Selatan untuk melihat pengolahan batu bara dengan konsep ekonomi hijau. Upaya ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” kata Wimboh.

Sumber : https://biz.kompas.com/read/2022/02/09/090000628/dukung-akselerasi-perekonomian-nasional-ojk-siap-sokong-sektor-umkm-dan-ekonomi.

Tuesday, July 27, 2021

Kenaikan Pagu Kredit BRI Dorong Kebangkitan UMKM

 

Kenaikan Pagu Kredit BRI Dorong Kebangkitan UMKM

JAKARTA - Asosiasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Akumindo) menyambut baik peningkatan pagu kredit UMKM yang dilakukan perbankan dalam rangka meningkatkan kinerja pelaku usaha di tengah pandemi Covid-19. 

Ketua Akumindo Ikhsan Ingratubun menilai, dalam momentum pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19, Peningkatan pagu kredit perbankan menjadi penting untuk memberikan modal kepada para pelaku usaha.

"Ini kan pada posisi UMKM mau bangkit dari penderitaannya akibat pandemi selama 1,5 tahun terakhir," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (27/7/2021).

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI merupakan salah satu bank yang telah menaikkan pagu kredit UMKM. 

Selain meningkatkan pagu kredit, BRI juga terus mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan teknologi digital, dengan tujuan mempermudah akses pembiayaan di tengah pandemi. 

Berdasarkan data Akumindo, terdapat 5 juta pelaku UMKM yang sudah memanfaatkan teknologi digital selama pandemi, dengan demikian total terdapat 13 juta pelaku UMKM yang memanfaatkan teknologi digital. 

"Tentu ini potensi besar bagi pangsa kredit UMKM BRI," kata Ikhsan. 

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, untuk mengembangkan UMKM khususnya di segmen mikro, perseroan telah merumuskana dua strategi utama, yakni menumbuhkembangkan nasabah atau debitur eksisting.

Pemberdayaan itu mulai dari literasi digital hingga membantuu nasabah menemukan bisnis model baru, termasuk mendigitalisasi pasar tradisional.

"Lebih dari 4.500 pasar tradisional di Indonesia telah menggunakan platform web pasar BRI atau pasar.id," ujar Sunarso.

Strategi kedua, BRI berusaha menemukan sumber-sumber pertumbuhan kredit yang baru dengan menyasar segmen yang lebih kecil lagi, yakni ultra mikro dengan membangun ekosistem digital yang fokusnya mendukung kegiatan-kegiatan produktif di masyarakat melalui cara-cara baru, dan optimalisasi pengembangan BRIBRAIN.

BRI juga mentransformasi proses bisnisnya dengan berbagai aplikasi digital untuk menggenjot penyaluran kredit, BRI akan memaksimalkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan juga Kredit Modal Kerja (KMK) yang dijamin oleh lembaga penjaminan kredit.

"Pada tahun ini, BRI menawarkan skema KUR tanpa jaminan yang bisa disalurkan ke pelaku usaha ultra mikro yang diperkirakan sebanyak 57 juta," ucap Sunarso.

Sumber : https://money.kompas.com/read/2021/07/27/125321126/kenaikan-pagu-kredit-bri-dorong-kebangkitan-umkm