Showing posts with label Non Performing Loan (NPL). Show all posts
Showing posts with label Non Performing Loan (NPL). Show all posts

Thursday, June 6, 2024

Risiko Kredit Perbankan di Segmen UMKM Mulai Melandai

 


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit bermasalah atau non perfoming loan (NPL) segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terlihat mulai melandai. 

Berdasarkan data Bank Indonesia NPL Kredit UMKM di Maret 2024 menjadi 3,98% setelah bulan-bulan sebelumnya meningkat. Di Januari misalnya berada di level 4,05% dan  Februari 4,09%. 

Sejumlah perbankan juga mengakui kondisi NPL UMKM menurun. Seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN) yang mengakui NPL UMKM terjaga dengan baik dan mengalami penurunan. 

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando mengatakan, hingga akhir April 2024 NPL SME atau UMKM BTN berada di level 3% menurun dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 4,83%.


"Jadi malah ada penurunan NPL. Kami berharap bisa mempertahankan rasio NPL UMKM di bawah 3%," ujar Ramon kepada kontan.co.id, Kamis (6/6). 

Ramon menyebut, akan lebih selektif lagi dalam menyalurkan kredit bagi UMKM. Namun begitu pihaknya tetap akan menggenjot penyaluran kredit UMKM.

"Sehingga kami banyak membuka Kantor cabang pembantu atau KCP-KCP khusus yang melayani kredit UMKM. Dengan pembukaan KCP UMKM di berbagai daerah ini, kami berharap proses pengajuan kredit akan lebih cepat," katanya.

Adapun General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Sunarna Eka Nugraha menyampaikan, kualitas kredit khususnya di segmen UMKM menjadi salah satu fokus utama BNI ke depan. Per Mei 2024, rasio NPL kredit produktif sampai Rp 1 miliar BNI terjaga di angka 3,3%.

"Kondisi NPL di segmen UMKM BNI saat ini masih terjaga dan kami proyeksikan tidak terlalu terpengaruh oleh berakhirnya restrukturisasi covid-19," ucap Sunarna.

Ia juga optimis, sampai dengan akhir tahun, rasio NPL kredit produktif sampai dengan Rp 1 miliar BNI dapat dijaga di angka kurang dari 3%. Dalam menjaga kualitas kredit UMKM, upaya yang BNI lakukan antara lain, selected market dengan fokus menggarap value chain korporasi, nasabah potensial, digital ecosystem, dan mitra kerjasama.

Selain itu, melakukan standarisasi proses dengan digitalisasi end-to-end proses kredit, dan penggunaan scoring system yang terkalibrasi secara berkala dalam proses kredit.

PT Bank Central Asia (BCA) juga mengaku NPL di segmen UMKM terjaga dengan baik. Secara keseluruhan, NPL BCA di kuartal I 2024 sebesar 1,9%.

BCA juga disebut Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn menjaga nilai CKPN yang memadai, dengan NPL coverage sebesar 220,3% dan LAR coverage sebesar 71,9%. Biaya pencadangan akan senantiasa kami review sejalan dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi perekonomian Indonesia. 

Hera menerangkan, BCA memberikan suku bunga spesial untuk kredit UMKM berbasis lingkungan sosial dan tata kelola (LST) dan pengusaha wanita. Sebagai hasilnya, hingga Maret 2024, pembiayaan UMKM naik 12,1% YoY mencapai Rp 117,7 triliun. 

"Pertumbuhan kredit BCA diikuti perbaikan kualitas pinjaman, sejalan dengan portofolio kredit yang direstrukturisasi berangsur kembali ke pembayaran normal. Rasio loan at risk (LAR) berada di angka 6,6% pada kuartal I 2024, turun dibandingkan angka setahun lalu yaitu 9,8%," jelasnya.

Sementara itu Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin menilai, penurunan NPL yang hanya sedikit, bisa jadi karena keran hapus buku dibuka dan atau kredit tumbuh, sehingga NPL turun.

"Tren NPL akan naik sedikit sampai akhir tahun. Oleh karena itu perbankan harus lebih selektif dalam memilih calon debitur, agresif tapi prudent dan menyediakan cadangan yang cukup agar dapat menjaga agar tidak adanya pemburukan," ujar Amin.


Sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/risiko-kredit-perbankan-di-segmen-umkm-mulai-melandai

Tuesday, May 7, 2024

Risiko Kredit Perbankan di Segmen UMKM Mulai Meningkat Seiring Kenaikan Suku Bunga

 


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi suku bunga tinggi yang diperkirakan masih bakal bertahan lama diperkirakan bisa menjadi batu sandungan untuk kualitas kredit perbankan. Terlebih, segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dampaknya mulai terasa.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat rasio kredit bermasalah atau NPL di segmen UMKM telah mencapai level 4,09% per Februari 2024. Angka tersebut lebih tinggi dari bulan sebelumnya di 4,05% dan posisi sama tahun lalu yang masih di level 3,84%.


Sementara itu, beberapa bank juga tampaknya telah mencatat adanya pemburukan NPL di segmen UMKM. Ambil contoh, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang dikenal sebagai bank dengan portofolio kredit UMKM terbesar di tanah air.

Secara bank only, NPL BRI untuk keseluruhan kredit yang dimiliki mencapai level 3,27% pada periode kuartal I-2024. Angka tersebut mengalami kenaikan dari periode sama tahun sebelumnya di level 3,02%.

Jika ditelisik lebih lanjut, BRI mengalami pemburukan NPL paling besar berada pada segmen usaha kecil. Tak main-main, angka NPL-nya telah mencapai 5,44% dari periode sama tahun lalu yang berada di level 4,45%.

Bergeser ke bank lainnya, ada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang juga mencatat kenaikan NPL di segmen UMKM. Kenaikan terbesar berada di segmen usaha kecil yang mencapai 150 basis poin secara tahunan menjadi 4%, meskipun NPL segmen usaha menengah tetap menjadi yang terbesar mencapai 5,9%.

Namun, jika dilihat secara total portofolio kredit, BNI mampu melakukan perbaikan NPL sekitar 80 basis poin secara tahunan menjadi 2%. Di mana, itu dibantu oleh perbaikan NPL untuk segmen korporasi dari sebelumnya 2,1% menjadi 0,7%.

Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk yang sebenarnya banyak fokus pada segmen kredit korporasi tak luput dari kenaikan NPL untuk segmen UMKM. Terkhusus, segmen usaha mikro yang naik 50 basis poin secara tahunan menjadi 1,65%.

Namun, karena portofolio UMKM di Bank Mandiri memang tak tergolong besar maka tak berdampak pada NPL keseluruhan kredit secara bank only. NPL Bank Mandiri secara bank only tercatat 1,02% atau turun 68 basis poin.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan ada beberapa kondisi yang menyebabkan segmen UMKM ini mengalami kenaikan NPL. Terutama terkait kondisi suku bunga global hingga volatilitas harga komoditas yang akhirnya turut berdampak pada sektor UMKM.

“Ini memang mulai terdampak kepada daya beli dan kemampuan bayar dari masyarakat menengah ke bawah dari segmen mikro dan SME,” ujarnya belum lama ini.

Meski demikian, pihaknya akan turut mendorong perbankan khususnya bank Himbara untuk tetap tumbuh secara moderat. Namun, tetap menjaga likuiditas dan kemampuan dari manajemen risiko.

Lebih lanjut, ia melihat jika segala kondisi saat ini membaik pada 2025, dapat mengakibatkan pemulihan kinerja perbankan yang lebih stabil, termasuk dalam hal pertumbuhan bisnis dan level rasio kredit bermasalah yang terjaga. 

“Saya akan dorong mereka (Himbara) untuk (kredit) tetap tumbuh di kisaran 10%-11%,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa level NPL yang dimiliki BRI secara keseluruhan masih tergolong baik. Mengingat,  rasio loan at risk (LAR) BRI mengalami perbaikan dari 16,39% di akhir triwulan I-2023 menjadi 12,70% di akhir triwulan I-2024.

Di sisi lain, BRI juga telah membentuk pencadangan di periode tersebut mencapai Rp 12,33 triliun. Angka tersebut naik sekitar 77,9% secara tahunan dari sebelumnya senilai Rp 6,93 triliun.

“NPL di kisaran 3% tersebut merupakan bukti nyata bahwa BRI mampu menjaga kualitas kreditnya dengan baik melalui penerapan prinsip-prinsip risk management yang prudent,” ujar Sunarso.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan bahwa pihaknya tetap berhati-hati dalam melakukan penyaluran kredit dengan mempertimbangkan kondisi global yang ada. Meski, Sigit menilai NPL yang dimiliki Bank Mandiri masih terbilang baik.

“NPL kita itu bisa dilihat termasuk yang rendah jika dibandingkan dengan industri,” ujarnya.

Sigit bilang kondisi kualitas kredit Bank Mandiri yang saat ini masih terbilang baik disebabkan oleh diversifikasi portofolio yang dimiliki. Di mana, bank berlogo pita emas ini memiliki risk appetite yang telah ditetapkan di tengah kondisi saat ini. 

Sementara itu, Sigit juga mengungkapkan bank berlogo pita emas ini saat ini telah mengembangkan credit risk tool yang bisa membantu dalam proses pemberian kredit. Misalnya, Bank Mandiri telah menentukan target pasar yaitu industri yang prospektif.

“Nasabahnya pun ditentukan yang merupakan pemain besar di industri tersebut,” tandasnya.


Sumber:https://keuangan.kontan.co.id/news/risiko-kredit-perbankan-di-segmen-umkm-mulai-meningkat-seiring-kenaikan-suku-bunga?page=1

Sunday, May 5, 2024

Suku Bunga Naik, Risiko Kredit Perbankan di Segmen UMKM Mulai Meningkat

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi suku bunga tinggi yang diperkirakan masih bakal bertahan lama diperkirakan bisa menjadi batu sandungan untuk kualitas kredit perbankan. Terlebih, segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dampaknya mulai terasa.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat rasio kredit bermasalah atau NPL di segmen UMKM telah mencapai level 4,09% per Februari 2024. Angka tersebut lebih tinggi dari bulan sebelumnya di 4,05% dan posisi sama tahun lalu yang masih di level 3,84%.

ementara itu, beberapa bank juga tampaknya telah mencatat adanya pemburukan NPL di segmen UMKM. Ambil contoh, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang dikenal sebagai bank dengan portofolio kredit UMKM terbesar di tanah air.

Secara bank only, NPL BRI untuk keseluruhan kredit yang dimiliki mencapai level 3,27% pada periode kuartal I-2024. Angka tersebut mengalami kenaikan dari periode sama tahun sebelumnya di level 3,02%.

Jika ditelisik lebih lanjut, BRI mengalami pemburukan NPL paling besar berada pada segmen usaha kecil. Tak main-main, angka NPL-nya telah mencapai 5,44% dari periode sama tahun lalu yang berada di level 4,45%.

Bergeser ke bank lainnya, ada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang juga mencatat kenaikan NPL di segmen UMKM. Kenaikan terbesar berada di segmen usaha kecil yang mencapai 150 basis poin secara tahunan menjadi 4%, meskipun NPL segmen usaha menengah tetap menjadi yang terbesar mencapai 5,9%.

Namun, jika dilihat secara total portofolio kredit, BNI mampu melakukan perbaikan NPL sekitar 80 basis poin secara tahunan menjadi 2%. Di mana, itu dibantu oleh perbaikan NPL untuk segmen korporasi dari sebelumnya 2,1% menjadi 0,7%.

Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk yang sebenarnya banyak fokus pada segmen kredit korporasi tak luput dari kenaikan NPL untuk segmen UMKM. Terkhusus, segmen usaha mikro yang naik 50 basis poin secara tahunan menjadi 1,65%.

Namun, karena portofolio UMKM di Bank Mandiri memang tak tergolong besar maka tak berdampak pada NPL keseluruhan kredit secara bank only. NPL Bank Mandiri secara bank only tercatat 1,02% atau turun 68 basis poin.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan ada beberapa kondisi yang menyebabkan segmen UMKM ini mengalami kenaikan NPL. Terutama terkait kondisi suku bunga global hingga volatilitas harga komoditas yang akhirnya turut berdampak pada sektor UMKM.

“Ini memang mulai terdampak kepada daya beli dan kemampuan bayar dari masyarakat menengah ke bawah dari segmen mikro dan SME,” ujarnya belum lama ini.

Meski demikian, pihaknya akan turut mendorong perbankan khususnya bank Himbara untuk tetap tumbuh secara moderat. Namun, tetap menjaga likuiditas dan kemampuan dari manajemen risiko.

Lebih lanjut, ia melihat jika segala kondisi saat ini membaik pada 2025, dapat mengakibatkan pemulihan kinerja perbankan yang lebih stabil, termasuk dalam hal pertumbuhan bisnis dan level rasio kredit bermasalah yang terjaga. 

“Saya akan dorong mereka (Himbara) untuk (kredit) tetap tumbuh di kisaran 10%-11%,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa level NPL yang dimiliki BRI secara keseluruhan masih tergolong baik. Mengingat,  rasio loan at risk (LAR) BRI mengalami perbaikan dari 16,39% di akhir triwulan I-2023 menjadi 12,70% di akhir triwulan I-2024.

Di sisi lain, BRI juga telah membentuk pencadangan di periode tersebut mencapai Rp 12,33 triliun. Angka tersebut naik sekitar 77,9% secara tahunan dari sebelumnya senilai Rp 6,93 triliun.

“NPL di kisaran 3% tersebut merupakan bukti nyata bahwa BRI mampu menjaga kualitas kreditnya dengan baik melalui penerapan prinsip-prinsip risk management yang prudent,” ujar Sunarso.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan bahwa pihaknya tetap berhati-hati dalam melakukan penyaluran kredit dengan mempertimbangkan kondisi global yang ada. Meski, Sigit menilai NPL yang dimiliki Bank Mandiri masih terbilang baik.

“NPL kita itu bisa dilihat termasuk yang rendah jika dibandingkan dengan industri,” ujarnya.

Sigit bilang kondisi kualitas kredit Bank Mandiri yang saat ini masih terbilang baik disebabkan oleh diversifikasi portofolio yang dimiliki. Di mana, bank berlogo pita emas ini memiliki risk appetite yang telah ditetapkan di tengah kondisi saat ini. 

Sementara itu, Sigit juga mengungkapkan bank berlogo pita emas ini saat ini telah mengembangkan credit risk tool yang bisa membantu dalam proses pemberian kredit. Misalnya, Bank Mandiri telah menentukan target pasar yaitu industri yang prospektif.

“Nasabahnya pun ditentukan yang merupakan pemain besar di industri tersebut,” tandasnya.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/05/suku-bunga-naik-risiko-kredit-perbankan.html