Showing posts with label kerajinan. Show all posts
Showing posts with label kerajinan. Show all posts

Monday, April 15, 2024

UMKM kerajinan tas berkembang dengan kemudahan KUR BRI


Bandarlampung (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin menjadi mitra BRI, salah satunya yaitu program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI yang selama ini sudah berjalan di Provinsi Lampung. 


Salah satu UMKM yang mendapatkan bantuan KUR BRI yaitu pemilik toko penjual tas Kuralin, Ricky Ramico mengatakan, tas Kuralin merupakan produk asli dari Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Ricky menjelaskan, Kuralin Bag juga menjadi salah satu produk UMKM yang ada di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung ini merupakan salah satu tempat penjualan oleh-oleh khas lampung.

Selain itu  kerajinan tas yang ada di Kuralin Bag ini juga sudah dikenal di Indonesia bahkan sampai luar negeri.

“Jadi Kuralin Bag ini banyak sekali pilihan oleh-oleh khas kabupaten Pesisir Barat, mulai dari tas, peci dan lainnya,” kata Ricky, Senin, (15/4).

Ia menjelaskan, pengembangan produk UMKM yang dimiliki tidak lepas dari dukungan BRI. BRI memberikan kemudahan dengan pinjaman KUR yang ada, membuat UMKM bisa terus mengembangkan usahanya dan memperuas bidang usaha yang ada.

“BRI sangat mempermudah dan membantu kami UMKM yang ada, bisa melalui pinjaman KUR yang ada di BRI usaha kami bisa dikembangkan lebih besar lagi dan jumlah produksi lebih banyak lagi,” katanya pula.

Ricky mengatakan, untuk membuat produk UMKM seperti ini, dirinya memberdayakan masyarakat agar ibu-ibu di sekitar lokasi usaha ada penghasilan tambahan untuk membantu keluarganya.

Dia mengatakan, untuk pemasaran tas Kuralin ini sudah hampir ke seluruh Indonesia.

"Kalau pemasaran di Indonesia ya di Aceh, Surabaya, Bangka Belitung, Makassar Jakarta, dan kalau Lampung sudah seluruh kabupaten dan kota di Lampung," ujarnya lagi.

Bahkan, kata dia pula, pemasarannya tidak hanya di Indonesia saja, tas Kuralin tersebut sudah sampai ke luar negeri.

"Kalau mancanegara pemasaran kita sudah sampai ke Prancis," ujar dia.

Keunggulan dari tas Kuralin bag ini adalah kuat dan tahan lama serta tahan air dan bisa dicuci serta ramah lingkungan.

"Ciri khasnya Kuralin bag ini ada tempelan atau tambahan tapis, karena Pesisir Barat kan terkenal tapisnya halus dan bagus," katanya lagi.

Untuk harga, kata dia, harga tas Kuralin ini cukup murah dan terjangkau.

"Harga tas mulai dari Rp20 ribu sampai Rp150 ribu paling mahal," kata Ricky.

Dia mengatakan, pemerintah mendukung seperti pelatihan-pelatihan dan mengikutsertakan ke pameran.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/umkm-kerajinan-tas-berkembang-dengan.html

Sunday, February 20, 2022

Cerita Perajin Lokal Pamerkan Produk Kerajinan Tangan di Pertemuan G20

 


Nur Halimah tak pernah bermimpi akan berada di perhelatan dunia, yakni pertemuan G20. Perempuan yang lahir dan besar di Desa Wedani Cerme, Gresik, Jawa Timur ini adalah lulusan SMK.

Perempuan yang memulai menenun sejak lulus sekolah, dalam sepekan ini berada di area pameran pertemuan G20 di JCC, Jakarta.

Ditemani alat tenun bukan mesin yang dibawa langsung dari desanya, dengan bangga ia menunjukkan cara menenun kain dengan corak berwarna di tengah delegasi yang berhenti sejenak memperhatikannya.

Perjuangan Nur Halimah bukanlah proses yang instan untuk kemudian mampu secara ahli menenun kain. Bersama para perempuan di desanya, ia bergabung menjadi Anggota Koperasi Wedani Giri. Beberapa tahun kemudian ia mampu menghasilkan kain yang dilirik oleh desainer sekelas Christian Dior.

Ia mengungkapkan rasa haru karena dapat berpartisipasi di perhelatan pemimpin ekonomi dunia di mana Indonesia mengemban Presidensi G20 dan mengangkat tema “Recover Together, Recover Stronger."

“Awalnya saya hanya melakukan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak menyangka pada akhirnya kain-kain ini bisa berkualitas ekspor dan dibeli oleh orang-orang luar negeri. Belum lagi kami juga mendapatkan kesempatan pelatihan dalam program Desa Devisa LPEI yang meningkatkan kualitas produksi dan akses pasar kami,” ujar Nur Halimah dalam siaran pers Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Kamis (17/2/2022).

Nur Halimah juga mengagumi sosok perempuan tangguh lainnya tak terkecuali Menteri Keuangan RI Sri Mulyani. Kekagumannya kepada sosok Sri Mulyani juga dikarenakan beliau merupakan contoh seorang perempuan dengan segudang prestasi.

Bak mimpi menjadi kenyataan, Nur Halimah dipertemukan dengan Sri Mulyani pada ajang pertemuan G20. Saat meninjau ke lokasi booth Rumah Joglo, Nur Halimah mendapat kesempatan menjelaskan cara kerja alat tenun bukan mesin (ATBM) kepada Sri Mulyani dan memandu untuk mempraktikkannya.

“Saya bisa ketemu Menteri Keuangan yang selama ini hanya saya lihat di televisi, malah sekarang bisa berada langsung di samping beliau. Kita harus berusaha untuk mewujudkan mimpi,” tutur Nur Halimah.

Nur Halimah merupakan salah satu dari lebih 2500 petani dan penenun yang menerima manfaat dari program Desa Devisa LPEI. Program pendampingan yang dilaksanakan secara berkelanjutan kepada pelaku usaha dan pengembangan komoditas unggulan suatu daerah dengan tujuan akhir ekspor.

Desa Devisa Tenun Wedani Giri Nata juga ditargetkan mampu melakukan ekspor perdana pada tahun 2022 ini. Ke depan, Program Desa Devisa LPEI ditargetkan dapat direplikasi oleh berbagai wilayah dan komoditas lainnya di Indonesia.

Program Desa Devisa yang digagas Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai salah satu Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan RI dalam peningkatan ekspor nasional, pun mendorong pemulihan ekonomi dengan memperkuat pondasi pelaku UMKM binaannya.

Di tengah pandemi global, LPEI terus membangun kapasitas UMKM berorientasi ekspor agar mampu bertahan dan menggarap pasar ekspor non tradisional.

“Kami merasa terhormat atas kesempatan yang diberikan untuk bisa berpartisipasi dalam ajang bersejarah ini. Pada kesempatan ini, kami menampilkan produk dari mitra binaan kami, yang salah satunya merupakan hasil dari Program Desa Devisa berupa kerajinan dan aksesoris perak APIKRI yang berasal dari Bantul, Yogyakarta,” ujar Direktur Eksekutif LPEI Rijani Tirtoso.

Desa Devisa merupakan program pendampingan berkelanjutan kepada pelaku usaha dan pengembangan komoditas unggulan suatu daerah dengan tujuan akhir ekspor. Kerajinan APIKRI telah menjadi Desa Devisa sejak tahun 2020 dan mampu mengekspor produknya ke Belanda, Amerika dan Inggris.

Sumber : https://www.kompas.com/homey/read/2022/02/17/182109376/cerita-perajin-lokal-pamerkan-produk-kerajinan-tangan-di-pertemuan-g20