Sunday, April 28, 2024

Cerita Pelaku UMKM di Jabar Kian Dimudahkan dengan Transaksi Digital

 


Bandung - Seorang pria, bertubuh tinggi kuris dengan rambut plontos mendatangi sebuah rumah sekaligus tempat penjualan biji kopi yang ada di Arcamanik, Kota Bandung.


Kedatangan pria itu, untuk membeli bubuk kopi arabika Manglayang seberat 100 gram yang diproduksi Cikopi Mang Eko. Salah satu karyawan di Cikopi Mang Eko pun memberikan sebungkus kopi yang diinginkan pria itu. Setelah kopi yang diinginkan didapat, pria itu langsung mengeluarkan telepon genggamnya untuk membayar kopi yang dibelinya.

Pria itu membuka sebuah aplikasi di ponselnya dan memindai barcode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang tersimpan di meja kasir Cikopi Mang Eko. Muhtar Koswara atau karib disapa Mang Eko, sekaligus owner Cikopi Mang Eko mengatakan, transaksi pembelian kopi dengan transaksi digital di tempatnya sudah biasa dilakukan.

Selain QRIS, metode pembayaran pembelian kopi di tempatnya bisa menggunakan Elektronik Data Center atau via transfer. Cikopi Mang Eko sudah dilengkapi merchant BRI.

"Enak pisan, karena cashless, enggak usah menyediakan kembalian yang banyak," kata Mang Eko kepada detikJabar belum lama ini.

Mang Eko mengaku, saat ini di tempatnya sudah banyak yang menggunakan transaksi digital. "Banyak yang pakai QRIS Sekarang, ada juga sih yang pakai EDC, tapi kebanyakan yang pakai QRIS," ujar Mang Eko.

Eko menyebut, tak hanya dirasakan oleh dirinya sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), kemudahan itu juga dirasakan langsung oleh para pelangannya. "Mungkin karena mindset masyarakat sudah terbentuk yang beli kolom ke Cikopi Mang Eko sendiri sudah banyak yang gunakan transaksi digital," terang Mang Eko.

Kemudahan transaksi digital juga dirasakan pelaku UMKM lainnya, Asep Mauludin yang merupakan owner Gravis Leather atau pelaku UMKM yang bergerak di bidang fesyen dan craft kulit asli Garut.

Meski banyak produk kulit di tempat Asep dijual ke luar negeri, Asep mengatakan jika banyak pembeli yang datang langsung ke home industrinya yang berada di Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.

"Pembeli gunakan QRIS banyak, kadang pembeli yang datang dan tahu tempat saya dari Google Maps beli offline. Pembayaran dengan cara digital mudah enggak usah ribet, tinggal scan barcide lalu terbayar dan uang masuk ke kita," tutur Asep.

"Pembeli yang gunakan transaksi digital, bisanya wisatawan dari luar kota sengaja beli produk kulit, cari di Google dapat kita," tambah Asep.

Transaksi digital juga digunakan banyak para pelaku UMKM yang berjualan di Pasar Sinpansa, Summarecon, Kota Bandung. Seluruh booth yang ada di pasar itu sudah didukung dengan pembayaran menggunakan QRIS.

Salah satunya, di booth Baso Aci terCABAIkan milik Inggra Dwipo Prayoga. Dia menggunakan QRIS BRI di booth baso acinya.

"Hampir rata-rata yang beli ke sini gunakan QRIS, mungkin karena pembelinya kebanyakan anak muda dan ada di kota," ujar Inggra..

Inggra mengakui, transaksi digital dengan menggunakan QRIS lebih mudah dibandingkan dengan transaksi tunai. "Tunai juga ada, tapi enaknya transaksi digital itu kita tidak usah pikirin uang kembalian dan tentunya aman," ujar Inggra.

Tak hanya dalam berbelanja produk fesyen atau kuliner, berkunjung ke obyek wisata juga kini sudah dilengkapi transaksi digital, salah satunya Desa Wisata Saung Ciburial yang berada di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.

Para pengunjung tidak perlu khawatir jika tidak membawa uang cash saat hendak membayar tiket, karena di obyek wisata itu sudah disediakan QRIS.

"Bisa bayar pakai QRIS tenang saja tidak perlu khawatir kalau tak bawa uang cash. Bukan cuma beli tiket, beli oleh-oleh juga di sini bisa pakai QRIS," kata Pengelola Bumdes Desa Sukalaksana Siti Julaeha kepada detikJabar.

Hal serupa juga di lakukan di Obyek Wisata Sawah Lope yang ada di Dusun Manis, Desa Cikaso, Kecamatan Keramatmulya, Kabupaten Kuningan. Meski lokasi obyek wisata itu ada di pedesaan, soal transaksi digital di lokasi wisata itu tidak akan ketinggalan.

"Di dua pintu masuk kami sediakan QRIS. Hal tersebut agar memudahkan pengunjung yang tidak membawa uang cash atau sudah terbiasa lakukan transaksi digital," kata Kuwu Cikaso Hidyat Nur.

Kemudahan Transaksi Digital Bagi Pelaku UMKM
Regional CEO BRI Bandung Sadmiadi mengatakan, transaksi digital dengan menggunakan merchant BRI memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM dan masyarakat.

"Lebih banyak memberikan pilihan pembayaran, lebih simple karena tidak perlu membayar dengan uang cash, pembayaran menggunakan kartu atau scan barcode QRIS," kata Sadmiadi kepada detikJabar.

Tak hanya itu, dengan transaksi digital masyarakat lebih kekinian dan konsumen khususnya konsumen nasabah BRI dapat menikmati program-program promo dari merchant yang bekerjasama dengan BRI.

Bagi pemilik usaha yang menyediakan merchant BRI mendapatkan kesempatan untuk mendatangkan omzet yang lebih besar karena tidak tergantung dari uang cash yang dibawa konsumen tetapi pembelanjaan konsumen sesuai dana yang terdapat di rekening konsumen sebagai sumber pembayaran.

"EDC Android BRI bentuknya eye catching dan mudah dalam penggunaan, memiliki call centre 24 jam, bebas biaya sewa, pengelolaan keuangan lebih mudah karena semua transaksi tercatat dalam sistem (cashless)," tuturnya.

"Dengan jumlah pemegang kartu BRIsebanyak 7,4 juta di wilayah Jabar, maka merchant akan lebih efisien jika kartu BRI ditransaksikan pada EDC BRI," tambahnya.

Bagi pelaku usaha atau pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ingin mendaftar merchant BRI bisa daftar mandiri melalui aplikasi BRIMO atau daftar mandiri secara online melalui alamat https://jadimerchant.bri.co.id/ dan bisa menghubungi unit kerja BRI terdekat.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/cerita-pelaku-umkm-di-jabar-kian.html

0 comments:

Post a Comment