Wednesday, April 24, 2024

APEC SMEWG di Bali Fokus Bahas Literasi Keuangan Digital Bagi UMKM

 


Indonesia menjadi tuan rumah forum internasional membahas tentang pengembangan UMKM di negara-negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC SMEWG) ke-57 di Nusa Dua, Bali pada 24-25 April 2024.
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim, mengatakan forum ini akan fokus pada pembahasan soal literasi keuangan digital.
"Kita lebih banyak ke faktor-faktor pembiayaan, akses pada pemasaran digital (dan) digital entrepreneur, (serta) menumbuhkan (literasi keuangan digital)," katanya usai menghadiri pembukaan APEC SMEWG kepada wartawan di Hotel Meruska, Bali, Rabu (24/4).
Arif mengatakan, forum memang sudah sepakat tak membahas isu politik dalam APEC SMEWG. Forum sepakat fokus pada isu ekonomi digital.
"Secara spesifik tadi memang agendanya sudah ditentukan oleh chairman, itu yang disepakati, kita tidak membahas hal-hal yang terkait politik, di sini lebih banyak soal ekonomi," katanya.
Dia berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan membantu UMKM meningkatkan kesadaran dan wawasan terhadap sistem keuangan digital sehingga mampu mendorong peningkatan akses inklusi keuangan.

Sementara itu, Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing KemenKopUKM Herbert H.O. Siagian membeberkan beberapa masalah yang dihadapi pegiat UMKM dalam sistem keuangan digital.

Yakni, kurangnya informasi dan akses terhadap layanan keuangan, kurangnya kemampuan digitalisasi, dan kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keuangan.
APEC SMEWG ke-57 ini dibuka secara resmi oleh Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, dan dihadiri 150 delegasi dari perwakilan dari 21 negara/wilayah anggota APEC.
Ke-21 anggota APEC adalah Indonesia, Australia, Kanada, Chile, China, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani khawatir konflik Iran-Israel berdampak negatif terhadap industri Indonesia. Hal ini misalnya dapat dilihat dari adanya penundaan sekitar 2-3 minggu untuk bahan baku penolong impor pasca periode produksi Ramadan-Idul fitri.

Dampak lainnya adalah beban produksi meningkat karena kenaikan harga minyak mentah dan energi lain, serta biaya logistik imbas gangguan rantai pasok global karena konflik.

Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/04/apec-smewg-di-bali-fokus-bahas-literasi.html

0 comments:

Post a Comment