Thursday, July 8, 2021

Jenderal Luhut Binsar Panjaitan


Lagi-lagi Bapak Luhut Binsar Panjaitan membuat pernyataan kontroversial di tengah-tengah susahnya kondisi masyarakat ketika harus berjibaku melawan Covid 19. Tatkala masyarakat direpotkan dengan peraturan yang membatasi mobilitasnya, dengan entengnya Jenderal dengan karakter tegasnya itu lagi-lagi membela TKA asal sumber virus yang memasuki wilayah Indonesia. Dengan pernyataan arogannya beliau meminta kepada siapa saja yang mengkritisi persoalan TKA itu untuk tidak asal ngomong jika tidak mengerti permasalahannya. Jika dibahasakan dengan gaya sinetron maka ucapan Pak Luhut itu kira-kira seperti : "Diem lu...! Nggak usah banyak bacot jika kagak ngarti itu urusan"

Kita sekarang jadi bingung. Yang tidak mengerti permasalahan itu para pengkritik TKA atau jangan-jangan justru Pak Luhut sendiri. Pak Luhut beralasan jika TKA itu diperbolehkan masuk karena sudah melakukan serangkaian tes dan sudah divaksin. Sekarang pertanyaannya adalah; sudahkah para petugas di lapangan juga menanyakan hal serupa pada pemilik warung kopi dan UKM-UKM yang dilarang berjualan. Dengan melihat arogansi petugas saat "salah tangkap" terhadap anggota paspampres maka semakin jelas bahwa arogansi itu juga terjadi terhadap masyarakat kecil. UKM-UKM kita pasti juga asal-asalan disuruh tutup tanpa menanyakan : "Sudahkah pemilik warung divaksin? Sudahkan warung-warung tersebut menerapkan protokol kesehatan dan pengunjungnya menunjukkan hasil tes swab atau sertifikat vaksinasi?".

Bapak Fahri Hamzah dalam cuitannya beberapa waktu lalu mengkritisi Pemerintah yang dalam penanganan pandemi ini hanya melulu pada sisi kesehatan saja. "Murtadin" Partai Keadilan Sejahtera tersebut mengharap pemerintah juga menghadapi situasi tidak menentu ini dengan banyak pendekatan. Beliau membuka opsi penanganan pandemi secara politik mengingat Virus Corona ini tidak jelas asal-muasalnya. Benarkah dia muncul secara alamiah atau dimunculkan secara artifisial mengingat beberapa era sebelumnya dunia sudah diwanti-wanti akan munculnya senjata biologis yang dampaknya lebih besar dari bom atom. China sebagai negara awal munculnya virus memang tidak cukup kooperatif untuk menerima permintaan beberapa negara yang berupaya melakukan penyelidikan atas asal-muasal virus. China seolah menutup-nutupi kasus ini termasuk jurnalis dari negaranya sendiri.

Yang paling kita takutkan adalah kembalinya sejarah Bangsa Indonesia yang mengalami penjajahan. Seperti kita ketahui, Bangsa Indonesia utamanya masyarakat Jawa mengingat betapa lemahnya raja-raja Jawa sepeninggal Walisongo. Penjajah dengan cerdik menggerogoti kedaulatan Jawa dengan membuat perjanjian lucu yaitu melarang masyarakat Jawa untuk melaut. Pada masa lampau melaut berarti berdagang atau menggerakkan perekonomian. Pada era Majapahit hingga Walisongo laut adalah daerah kekuasaan yang harus dijaga mati-matian. Kita pasti mengenal Mpu Nala dan Patih Yunus (Pati Unus). Kedua tokoh tersebut adalah sosok pahlawan lautan yang menjaga kehormatan Jawa dari ekspansi penjajah yang hendak menaklukkan Jawa. Dengan pelarangan untuk melaut dan berdagang itu maka ekonomi Jawa runtuh dan tidak mempunyai kedaulatan. Masyarakat Jawa akhirnya disuruh menjadi buruh-buruh tani dan perkebunan sementara orang-orang asing menguasai perdagangan dan menariki pajak masyarakat. Di titik ini saya jadi ingat film Si Pitung yang melawan Kompeni beserta Demang jahatnya.

Sebagai seorang Jenderal, Pak Luhut tentu mengerti bahwa Indonesia merdeka bukan hasil pemberian penjajah. Leluhur kita merebut kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Tidak hanya harta-benda, para pahlawan kita juga tidak segan menumbali Nusantara dengan darahnya. Itu semua dilakukan agar kita pada detik ini bisa menikmati suasana kemerdekaan yang bebas berdaulat dan tidak bisa didikte negara lain. Tugas kita hari ini sebenarnya sangat mudah yaitu mengisi kemerdekaan. Kita tidak harus keluar-masuk hutan seperti Jenderal Sudirman yang berjuang di sela-sela sakit beliau. Kita juga tidak harus merasakan bagaimana tidak enaknya ditawan, diasingkan bahkan ditawan seperti Bung Karno. Kita pasti juga masih enak tidak harus kehilangan putri yang dicintai akibat revolusi politik seperti yang dialami oleh Jenderal Nasution.

Bapak pendiri bangsa ini memang kumpulan orang-orang yang memiliki harkat dan martabat yang sangat tinggi. Pun demikian beliau-beliau adalah kumpulan orang-orang cerdas yang mampu melewati krisis dengan menerapkan berbagai strategi hebat. Tidak hanya dengan perang, para pendiri bangsa juga mengerahkan otaknya dengan menjadi juru-juru runding dan berdiplomasi dengan musuh. Para pendiri bangsa juga bukan pejabat bodoh yang bisa dibodohi penjajah. Dalam situasi yang paling sulit sekalipun para pendiri bangsa justru bisa menekan penjajah. Dalam suatu situasi yang serba sulit konon para pendiri bangsa yang tertangkap diancam akan ditembak mati di luar Jawa. Dengan tenangnya salah satu pendiri bangsa berkata : "Jika kalian membunuh kami maka kaum nasionalis akan habis. Jangan salahkan jika Indonesia di masa depan menjadi Komunis atau Islam."

Hari ini kita melihat betapa lugunya (meminjam istilah eksportir lobster) para pemangku kebijakan dalam menghadapi pandemi. Tatkala pandemi datang kita disibukkan dengan membatasi kegiatan masyarakat dan mengimpor vaksin. Padahal jika otak kita jalan maka sehebat apapun vaksin yang disuntikkan jika imunitas kita drop maka vaksin itu tidak akan ada gunanya. Seperti halnya hebatnya seorang intelijen yang mampu mengendus kehadiran musuh tetapi tidak didukung batalyon infanteri yang bertugas menghadapinya. Yo podo ae goroh (istilah Jawa Timur). Kenapa pemangku kebijakan tidak melakukan serangkaian "operasi besar" seperti menutup pintu masuk negara dari masuknya orang asing terus menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi buah hasil pertanian sendiri untuk menjaga imunitas. Pemerintah harusnya juga membangun rumah-sakit2 baru yang dibangun dengan tukang-tukang dalam negeri. Ada banyak opsi yang bisa kita lakukan untuk "menekan" pandemi ini secara politik.

Syukur alhamdulillah, Indonesia memiliki masyarakat-masyarakat yang tangguh. Dengan kesulitan ekonomi yang mendera, Bangsa Indonesia dengan karakter elastisnya mampu memposisikan diri. Pun demikian masyarakat kita juga dianugerahi jiwa kedermawanan yang cukup tinggi (berdasarkan survey yayasan amal Charities Aid). Dengan karakter tersebut masyarakat kita tidak saja sanggup "ngragati" Pemerintah tetapi sekaligus tidak "ngrepoti". Ini kehandalan tersembunyi masyarakat Indonesia. Saya yakin ada atau tidak adanya Pemerintah, masyarakat akan bisa melewati pandemi ini dengan baik.

Sebagai pemimpin PPKM darurat, Pak Luhut tentunya sadar bahwa tanggung jawab ada di pundak anda. Anda harus bisa memimpin "operasi" ini dengan baik dan sukses. Ada banyak kepentingan rakyat kecil yang dikorbankan. Ada keamanan dan kedaulatan negara yang tergadaikan. Jika anda tidak sanggup menekan penyebaran virus ini maka tentu anda harus tahu diri dan mundur dari pemerintahan dan menghilang dari publik untuk selamanya. Dalam tradisi Jepang, seorang samurai yang gagal melindungi tuannya hanya diberi dua pilihan yaitu bunuh diri atau menjadi samurai tak bertuan atau Ronin. Tetapi karena ini Indonesia menghilang dari pandangan adalah langkah terbijaksana yang bisa dilakukan.

Secara pribadi sebagai pejabat negara anda juga harus berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Bapak boleh menjadi milyader (semoga secepatnya menjadi triliyuner) tetapi harus rendah hati terhadap rakyat kecil. "Mbok menowo" di tengah-tengah masyarakat ternyata ada Yesus yang tidak anda kenali terus bersabda : "Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum ketimbang orang kaya masuk surga."

Yang saya takutkan adalah anda tidak mengenalinya terus dengan kata arogan berkata :"Diem lu...! Nggak usah banyak bacot jika kagak ngarti itu urusan"

Sumber : https://www.kompasiana.com/adhiyan44618/60e7af09152510153e473d92/jenderal-luhut-binsar-panjaitan?page=2&page_images=1 

0 comments:

Post a Comment