Pandemi COVID-19 yang hadir pada awal 2020 tidak hanya menghatam kesehatan saja. Namun wabah tersebut juga menghadirkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)yang sangat besar dan menghantam banyak pekerja.
Thursday, January 13, 2022
Kisah Korban PHK Jual Ayam Geprek 3000 Porsi/Bulan, Cuan Jutaan
Wedang Tahu, Dessert Tradisional Penghangat Badan di Musim Hujan
Tahu pada umumnya diolah dengan cara digoreng atau dijadikan bakso. Namun, pernah kah kamu mencicipi wedang tahu?
Cerita Dewinta, Bikin Tepung Bumbu untuk Penderita Alergi MSG
Tepung bumbu merupakan salah satu bahan utama untuk membuat makanan agar semakin crispy atau renyah. Tak hanya itu, tepung bumbu juga kerap digunakan agar makanan terasa lebih gurih.
Dewinta Leliasari adalah salah seorang yang memproduksi tepung bumbu non MSG dengan merek Gupi. Adapun tepung bumbu ini sengaja dibuat lantaran anaknya yang memiliki alergi.
"Saya menjual makanan produk tepung bumbu non MSG Gupi dan ayam geprek Gupi. Usaha ini berawal dari coba-coba bikin resep ayam krispi karena anak saya suka makan nasi ayam, tapi di satu sisi dia ada riwayat alergi. Akhirnya terciptalah tepung bumbu non MSG Gupi dan ayam geprek non MSG Gupi," katanya kepada detikcom.
Lebih lanjut, Dewinta mengatakan penjualan tepung bumbu Gupi awalnya juga dilakukan secara iseng. Namun, seiring berjalannya waktu, produknya pun cukup diminati.
"Kemudian iseng-iseng saya tawarkan via online, alhamdulillah ada aja pembelinya. Dan berjalan hingga saat ini," ungkapnya.
Selain lebih sehat, tepung bumbu Gupi juga dapat digunakan untuk menggoreng berbagai makanan. Bahkan, konsumen juga tak perlu menambah penyedap rasa saat memasak.
"(Tepung bumbu Gupi) terbuat dari bahan campuran tepung berkualitas ditambah rempah-rempah alami tanpa tambahan penyedap rasa atau MSG sehingga juga cocok untuk penderita alergi makanan ber-MSG," tulisnya dikutip dari akun Instagram/tepungbumbugupi.
"Selain untuk ayam goreng tepung, tepung bumbu Gupi juga bisa digunakan untuk membuat bakwan sayur, udang krispi, brokoli krispi, tempe mendoan, tahu kres, dan aneka sajian krispi lainnya," lanjutnya.
Meski awalnya hanya iseng, Dewinta mengaku saat ini penjualan produknya sudah cukup banyak. Setiap bulannya, terdapat sekitar 1.000 pcs tepung Gupi. Sayangnya, adanya pandemi membuat usahanya juga ikut terdampak.
Oleh karena itu, ia mulai beralih online dan menggunakan sistem pre order (PO). Di samping itu, Dewinta juga mengikuti program yang dapat mengembangkan usaha kulinernya, seperti Kembangkan Bisnis Kulinermu dari detikcom dan Kraft Heinz Food Service.
"Selama Pandemi, saya ingin banyak belajar (ketika penjualan menurun drastis) salah satunya mengikuti program detikcom x Kraft Heinz supaya nanti ketika pandemi usai harapan saya bisa jualan lagi, baik offline maupun online dengan ada tambahan variasi menu dan tetap dengan prinsip non MSG," katanya.
"Alhamdulillah banyak sekali ilmu yang didapat, salah satunya banyak istilah bisnis yang saya ketahui," tutupnya.
Wednesday, April 28, 2021
Survei BRI Sebut Bisnis UMKM Semakin Naik di Kuartal I-2021, Ini Buktinya
Selain itu, pelaku UMKM makin optimis terhadap prospek usahanya di kuartal II-2021 yang ditunjukkan oleh indeks ekspektasi BMSI yang naik signifikan ke 128,0 dari 105,4 di kuartal sebelumnya. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Bank BRI Sunarso pada kegiatan BRI Microfinance Outlook 2021 yang mengambil tema 'Adapting Through Innovation & Synergy' dan diadakan secara virtual kemarin.
Sunarso mengungkapkan BMSI ini merupakan survei yang menilai pelaku UMKM atas aktivitasnya, terdiri atas indeks aktivitas bisnis (IAB) untuk melihat situasi sekarang dan juga situasi tiga bulan yang akan datang.
"BMSI ini telah diluncurkan pada November 2020 lalu dan dilakukan secara kuartalan untuk mengukur aktivitas bisnis UMKM sekaligus bentuk kepedulian BRI tehadap aktivitas UMKM Indonesia," terang Sunarso dalam keterangan tertulis, Kamis (29/4/2021).
Lebih lanjut Sunarso mengungkapkan kenaikan BMSI kuartal I-2021 disebabkan oleh empat faktor. Pertama, meningkatnya kembali aktivitas masyarakat di luar rumah seiring dengan melandainya kasus infeksi baru COVID-19 dan program vaksinasi yang terus meluas.
Kedua, terjadinya peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan selama perayaan Imlek, serta antisipasi kenaikan permintaan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Ketiga, faktor musiman panen raya tanaman bahan makanan dan kenaikan harga beberapa komoditas hasil perkebunan. Keempat, relaksasi kebijakan makroprudential sektor properti yang menguntungkan sektor konstruksi.
Dilihat dari komponen penyusunnya, kenaikan BMSI pada kuartal I-2021 ditopang oleh kenaikan volume produksi dan harga jual, sehingga mendongkrak nilai penjualan. Selanjutnya kenaikan volume produksi mendorong peningkatan volume pemesanan dan persediaan barang input serta persediaan barang jadi.
"Sementara itu, komponen penggunaan tenaga kerja dan investasi hanya mengalami sedikit perbaikan. Tampaknya pelaku UMKM cenderung mengoptimalkan terlebih dahulu tenaga kerja dan kapasitas yang ada sebelum melakukan penambahan karyawan dan ekspansi usaha," ujarnya.
Sedangkan dari sisi sektoral, BMSI semua sektor mengalami peningkatan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, walaupun indeksnya masih di bawah 100. Hal ini mengindikasikan pada kuartal I-2021 aktivitas usaha sebagian besar UMKM di semua sektor masih menurun, namun porsi usaha UMKM yang menurun lebih sedikit dibandingkan kuartal sebelumnya.
Nilai BMSI tertinggi dari sektor pertanian (99,1), diikuti sektor industri pengolahan (94,6), dan sektor pertambangan (94,0). Sedangkan kenaikan BMSI tertinggi terjadi pada sektor hotel dan restoran, ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di luar rumah termasuk yang berkunjung ke gerai makan atau restoran.
Selanjutnya, kenaikan BMSI sektor pertanian berhubungan dengan masa panen raya tanaman bahan makanan di beberapa sentra produksi dan kenaikan harga beberapa komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, coklat dan lain-lain. Kenaikan BMSI sektor industri pengolahan dan perdagangan didorong oleh peningkatan permintaan selama Libur Imlek dan antisipasi kenaikan permintaan menjelang Ramadhan dan Idulfitri.
Di sisi lain, relaksasi makroprudensial berupa penurunan uang muka KPR rumah hunian dan pembebasan PPN selama bulan Maret-Agustus 2021 diperkirakan akan memberikan dampak yang positif bagi sektor konstruksi.
Semakin membaiknya aktivitas usaha UMKM juga terlihat secara regional. Ada 10 provinsi yang berada dalam zona optimis (BMSI > 100), yaitu Sultra, Malut, Kalbar, Riau, Bengkulu, Babel, Sulut, Sulteng, Kalsel, dan Maluku. Sebagai catatan, pada survei pada kuartal sebelumnya, aktivitas usaha UMKM seluruh provinsi berada dalam zona pesimis.
Seiring dengan kenaikan BMSI, optimisme pelaku UMKM tetap terjaga dan semakin meningkat. Hal ini tercermin pada indeks ekspektasi BMSI yang tetap bertengger di atas 100 dan meningkat signifkan menjadi 128,0 pada kuartal I-2021 dari 105,4 pada kuartal sebelumnya.
"Ini menunjukkan mayoritas pelaku UMKM makin optimis aktivitas usahanya akan semakin baik pada kuartal II-2021. Peningkatan optimisme ini didorong oleh ekspektasi kenaikan volume produksi dan penjualan yang biasanya meningkat signifikan pada bulan puasa," ujarnya.
"Optimisme ini diperkuat dengan kasus infeksi baru COVID-19 yang melandai dan vaksinasi yang makin meluas membuat aktivitas masyarakat di luar rumah meningkat dan memperbesar peluang kenaikan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa selama bulan Ramadhan," imbuhnya.
Sejalan dengan kenaikan BMSI dan ekspektasinya, persepsi pelaku UMKM terhadap perekonomian secara umum juga meningkat. Hal ini tercermin pada Indeks Sentimen Bisnis (ISB) pelaku UMKM yang meningkat ke 115,5 pada kuartal I-2021 dari 90,2 pada kuartal sebelumnya.
ISB di atas 100 berarti pada kuartal I-2021 mayoritas pelaku UMKM memberikan penilaian yang lebih baik terhadap kondisi perekonomian secara umum, sektor usaha dan usahanya dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kedua komponen penyusun ISB, yaitu Indeks Situasi Sekarang (ISS, yang menggambarkan persepsi pelaku UMKM terhadap kondisi saat ini) dan Indeks Ekspektasi (IE, yang menggambarkan prediksi 3 bulan mendatang), sama-sama mengalami kenaikan yang signifikan.
ISB tertinggi dan kenaikan tertinggi dicatat oleh sektor konstruksi. Relaksasi makroprudensial berupa penurunan uang muka rumah hunian 0% dan pembebasan PPN selama bulan Maret-Agustus 2021 memunculkan ekspektasi kenaikan permintaan rumah hunian sehingga akan berdampak positif terhadap kinerja usaha responden maupun sektor konstruksi dan perekonomian secara keseluruhan.
Lebih lanjut, konsisten dengan BMSI dan ISB yang membaik, penilaian pelaku UMKM terhadap kemampuan Pemerintah menjalankan tugas utamanya tetap baik dan turut meningkat. Hal ini terlihat pada meningkatnya indeks kepercayaan pelaku usaha (IKP) UMKM kepada pemerintah pada kuartal I-2021 ke level 139,8 dari level 136,3 di kuartal sebelumnya.
IKP di atas batas 100 menandakan bahwa pelaku UMKM percaya pada kemampuan pemerintah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kenaikan komponen IKP kuartal I-2021 tertinggi terjadi pada indikator keyakinan yang mengukur kemampuan pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
"Pelaku UMKM tampaknya semakin yakin bahwa ekonomi domestik akan berangsur pulih seiring dengan upaya pengendalian pandemi yang dilakukan pemerintah, di antaranya melalui program vaksinasi nasional serta kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif," ujarnya.
Selain itu rencana pemerintah yang akan terus membantu pemulihan sektor UMKM melalui kelanjutan PEN 2021 juga turut menambah keyakinan tersebut. Sunarso mengungkapkan pada riset kali ini ada temuan yang menarik yaitu realisasi investasi ternyata berkorelasi positif (87,2%) dengan BMSI.
"Hal ini artinya daerah yang kegiatan investasinya relatif besar cenderung memiliki aktivitas usaha UMKM (BMSI) yang relatif tinggi. Keberadaan proyek infrastruktur pemerintah memberikan dampak yang positif terhadap kegiatan usaha UMKM di sekitarnya," pungkasnya.
Sebagai informasi, survei Kegiatan Usaha dan Sentimen Bisnis UMKM Bank Rakyat Indonesia memiliki sampel sebanyak 5.588 responden perusahaan UMKM yang tersebar di semua sektor ekonomi dan di seluruh wilayah Indonesia. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified systematic random sampling, sehingga dapat merepresentasikan sektor usaha, provinsi dan skala usaha.
Survei ini dilakukan oleh BRI Research Institute pada tanggal 17 Maret-9 April 2021. Wawancara dilakukan melalui telepon dengan pengawasan mutu yang ketat sehingga data yang terkumpul valid dan reliable. Informasi yang dikumpulkan dalam survei ini adalah persepsi pelaku usaha UMKM terhadap perkembangan dan prospek perekonomian secara umum, sektor usaha responden serta perkembangan dan proyeksi kinerja usaha responden.
Informasi ini digunakan untuk menyusun Indeks Aktivitas Bisnis (IAB), Indeks Sentimen Bisnis (ISB) serta Indeks Kepercayaan Pelaku (IKP) usaha UMKM kepada pemerintah. Indeks-indeks ini melengkapi indeks serupa yang disusun oleh Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik dimana survei-nya dilakukan terhadap pelaku usaha kategori menengah dan besar.
Di samping itu, dikumpulkan informasi mengenai kondisi usaha responden untuk keperluan monitoring dan sekaligus menjadi early warning system (EWS) terhadap keberlangsungan usaha debitur UMKM. Dalam survei ini responden menjawab sejumlah pertanyaan yang mana untuk setiap pertanyaan responden dapat memberikan jawaban positif (Lebih Tinggi atau Lebih Baik), jawaban negatif (Lebih Rendah atau Lebih Buruk), dan jawaban netral (Sama Saja atau Tetap).
Indeks difusi dihitung dari selisih persentase jawaban positif dengan persentase jawaban negatif ditambah 100. Dalam hal ini jawaban netral diabaikan. Nilai tengah indeks difusi adalah 100, dan rentang indeks difusi akan berada pada kisaran nol sampai dengan 200. Jika semua responden memberikan jawaban negatif, maka indeks difusi akan bernilai nol.
Sebaliknya jika semua responden memberikan jawaban positif, maka indeks difusi akan bernilai 200. Indeks difusi di atas 100 menunjukkan bahwa jawaban positif melebihi jawaban negatif. Sebaliknya indeks difusi di bawah 100 mengindikasikan jawaban negatif lebih banyak dibandingkan dengan jawaban positif.
Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5550709/survei-bri-sebut-bisnis-umkm-semakin-naik-di-kuartal-i-2021-ini-buktinya
Sunday, April 25, 2021
Ini Tren Bisnis untuk Tingkatkan Bisnis UMKM Selama Ramadhan
JAKARTA -- Gojek menghadirkan tren bisnis menarik selama Ramadan dan juga Akademi Mitra Usaha (KAMUS). VP Merchant Marketing Gojek Bayu Ramadhan mengatakan, inisiatif tersebut ditujukan untuk pelaku usaha agar dapat menyusun strategi bisnis yang tepat di masa menantang pandemi Covid-19 dengan mengenal pola bisnis selama Ramadhan dan mendapatkan pelatihan langsung oleh para ahli di bidangnya.
Bayu mengatakan, Akademi Mitra Usaha merupakan langkah untuk mendampingi pelaku usaha agar lebih cepat beradaptasi di platform digital. "Wadah edukasi dari Gojek yang menaungi beragam komunitas ini ditujukan untuk pelaku usaha dari berbagai kalangan, dari yang baru memulai bisnis hingga yang ingin naik kelas dan mengeluarkan inovasi baru,” kata Bayu dalam pernyataan tertulisnya, Senin (26/4).
Bayu menuturkan, berdasarkan data Gojek Ramadhan tahun lalu yang dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha di Ramadhan tahun ini, terdapat sejumlah bisnis yang menarik. Pertama, dia mengatakan, masyarakat sangat mengandalkan pemesanan makanan daring, terjadi pertumbuhan permintaan pesan-antar kuliner sejak minggu kedua Ramadan sampai akhir bulan.
"Jumlah pemesanan makanan via layanan GoFood mengalami tren pertumbuhan positif selama Ramadhan tahun lalu, terutama sejak pekan kedua hingga akhir bulan. Hal ini menunjukkan, masyarakat sangat mengandalkan layanan pesan antar daring guna memenuhi kebutuhan mereka selama Ramadhan," jelas Bayu.
Kedua yaitu hijab yang menjadi barang ritel paling diincar selama Ramadhan. Bayu mengatakan, data Gojek menunjukkan peningkatan transaksi hijab di bulan Ramadhan tahun lalu.
"Bila dibandingkan sebelum Ramadhan, peningkatan penjualan hijab mengalami peningkatan hingga lebih dari 125 persen," tutur Bayu.
Ketiga, penjualan produk dengan paket hampers berguna meningkatkan pendapatan pelaku usaha di bidang jasa. Selama pandemi, kata Bayu, pemilik usaha jasa turut menjual produk-produk yang mereka gunakan langsung ke pelanggan.
Dia mengatakan, hal tersebut terlihat pada peningkatan tren pembelian produk kecantikan dari salon, serta obat dan multivitamin penunjang kesehatan. "Di momen Ramadhan, pelaku usaha dapat menggabungkan produk jasanya menjadi hampers dengan harga sesuai target pasar," jelas Bayu.
sumber : https://www.republika.co.id/berita/qs56eb370/ini-tren-bisnis-untuk-tingkatkan-bisnis-umkm-selama-ramadhan
Wednesday, April 21, 2021
Gojek Beri Pelatihan UMKM Untuk Pahami Tren Bisnis Selama Ramadan 2021
Jakarta - Perusahaan teknologi Gojek menghadirkan Akademi Mitra Usaha (KAMUS) dan tren bisnis menarik selama Ramadan yang ditujukan untuk pelaku UMKM. Tujuannya agar dapat menyusun strategi bisnis yang tepat di masa pandemi COVID-19 dengan mengenal pola bisnis selama Ramadhan.
VP Merchant Marketing Gojek Bayu Ramadhan mengatakan, Akademi Mitra Usaha sejalan dengan misi Gojek untuk membantu digitalisasi UMKM baik melalui solusi teknologi maupun solusi non-teknologi.
"Kami berkomitmen untuk turut memberikan dukungan selain teknologi yang memajukan bisnis UMKM. Akademi Mitra Usaha merupakan langkah untuk mendampingi pelaku usaha agar lebih cepat beradaptasi di platform digital," kata Bayu, melalui keterangannya pada Rabu 21 April 2021.
Wadah edukasi dari Gojek yang menaungi beragam komunitas ini, kata dia, ditujukan untuk pelaku usaha dari berbagai kalangan, dari yang baru memulai bisnis hingga yang ingin naik kelas dan mengeluarkan inovasi baru.
Akademi Mitra Usaha oleh Gojek merupakan wadah edukasi pengembangan kompetensi UMKM #MelajuBersamaGojek yang menaungi berbagai komunitas mulai dari Komunitas Partner GoFood (KOMPAG), A Cup of Moka (ACOM), Bincang Biznis GoBiz, hingga Temu Midtrans.
Selama Ramadan 2021, Akademi Mitra Usaha oleh Gojek akan mengadakan rangkaian webinar edukatif bertajuk SEDEKAH - Sesi Edukasi Ramadan Berkah yang membahas resep sukses pertumbuhan bisnis kuliner, ritel dan jasa. Webinar edukatif ini akan fokus pada pembahasan tren bisnis Ramadhan, pelatihan pemasaran secara daring dilengkapi dengan diskusi bersama para praktisi yang ahli di bidangnya.
sumber : https://ramadan.tempo.co/read/1455038/gojek-beri-pelatihan-umkm-untuk-pahami-tren-bisnis-selama-ramadan-2021
Wednesday, February 17, 2021
Survei BRI: Aktivitas Bisnis UMKM Menurun pada Kuartal IV/2020
![]() |
| Ilustrasi pelaku UMKM pembuatan kerajinan. Foto/MNC Portal Indonesia/Arif Julianto |
Direktur Utama Bank BRI, Sunarso menyampaikan, berdasarkan hasil survei, aktivitas bisnis UMKM pada kuartal IV/2020 terjadi penurunan dibanding kuartal sebelumnya.
"Kegiatan BMSI turun dari 84,2 pada kuartal III/2020 menjadi 81,5 di kuartal IV/2020. Penurunan BMSI sejalan dengan penurunan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV/2020 yang minus 0,42 persen," ujar Sunarso dalam Press Conference BRI Micro & SME Index secara virtual, Kamis (18/2/2021).
Sunarso menambahkan, penurunan ini disebabkan tiga faktor, yaitu dampak pengetatan aktivitas sosial, faktor musiman dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat.
"Pertama, dampak pengetatan aktivitas sosial dan mobilitas sosial masyarakat. Kedua, faktor musiman itu hasil surveinya dan kebijakan PSBB ketat di akhir kuartal III/2020 yang diikuti pengurangan hari libur natal dan tahun baru," kata dia.
Meskipun Indeks Aktivitas Bisnis mengalami penurunan, Sunarso menyebut optimisme pelaku UMKM tetap terjaga. Hal ini tercermin dari IEAB BMSI yang tercatat di atas 105,4.
"Bahwa aktivitas usahanya akan semakin membaik pada kuartal I/2021. Namun, jika dibanding kuartal III/2020, ekspektasi bisnis di kuartal IV/2020 sedikit lebih rendah. Hal ini berarti optimisme pelaku UMKM menyambut kuartal I/2021 dan penyebabnya adalah masih meningkatnya tren kasus baru Covid-19, kemudian diikuti pemberlakuan PPKM di wilayah Jawa dan Bali," ucapnya.
Dalam survei ini, Bank BRI mendapatkan temuan menarik, dimana penilaian terhadap kinerja pemerintah masih tetap tinggi. Hal ini terlihat pada meningkatnya Indeks Kepercayaan Pelaku (IKP) UMKM kepada pemerintah pada kuartal IV/2020 naik ke level 136,3.
UMKM juga lebih yakin bahwa perekonomian akan kembali pulih apabila pandemi berhasil dikendalikan dan selain itu rencana pemerintah yang akan terus membantu pemulihan sektor UMKM melalui kelanjutan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 juga turut menambah keyakinan para pelaku UMKM.
sumber : https://ekbis.sindonews.com/read/339032/178/survei-bri-aktivitas-bisnis-umkm-menurun-pada-kuartal-iv2020-1613624520/10









