Showing posts with label bank mandiri. Show all posts
Showing posts with label bank mandiri. Show all posts

Wednesday, June 12, 2024

Mandiri Digipreneur Hub Perkuat Digitalisasi dan Pengelolaan Keuangan UMKM

 


Jakarta – Bank Mandiri berkomitmen untuk terus menaikkelaskan kapasitas bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu upaya yang dilakukan oleh bank bersandi saham BMRI ini dengan kembali menghadirkan inkubasi bisnis bagi pelaku UMKM melalui inisiatif Mandiri Digipreneur Hub (MDH).

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar berharap, Mandiri Digipreneur Hub bisa membantu mengoptimalkan transformasi digital dan pengelolaan keuangan UMKM. Sejak digelar pertama kali pada 2022 lalu hingga saat ini, inisiatif MDH telah diikuti lebih dari 600 pelaku UMKM di berbagai sektor, seperti fashion, FnB, craft, jasa, dan lain-lain.

Untuk bergabung dengan UMKM Binaan Mandiri pelaku UMKM harus memiliki aplikasi Livin’ by Mandiri dan Livin’ Merchant by Mandiri. Kedua aplikasi ini ditujukan untuk mendorong UMKM meningkatkan transaksi secara digital seperti pemanfaatan QRIS.

Menurutnya, MDH menjadi kontribusi nyata Bank Mandiri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Program inkubasi bisnis ini juga diharapkan bisa memperluas akses kepada layanan jasa keuangan (access to finance) bagi masyarakat.

“Melalui MDH, Bank Mandiri ingin berperan meningkatkan kewirausahaan digital UMKM, sehingga dapat mereka kembangkan dengan lebih efektif dan berkelanjutan. Selain itu, memberikan juga kesempatan untuk berkolaborasi, berbagi ide, dan menghasilkan inovasi baru,“ katanya, dikutip Rabu, 12 Juni 2024.

Dia menambahkan, MDH membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk saling berjejaring dan berkolaborasi. Mandiri Digipreneur Hub juga memberikan dukungan akses ke finansial berupa pendanaan seperti pinjaman kredit usaha rakyat (KUR), kredit usaha mikro (KUM) dan lainnya.

“Melalui pemberian KUR atau KUM, Bank Mandiri melalui MDH juga mengedukasi UMKM cara mengelola keuangan supaya dianggap mampu menerima modal tambahan untuk mengembangkan usaha mereka,” papar perempuan dengan kinerja mentereng saat mengelola segmen Corporate Banking hingga kemudian diberi mandat sebagai Wakil Direktur Utama di Bank Mandiri.

Tak hanya itu, MDH juga menyediakan bantuan pengurusan perizinan berusaha. Hal ini dilakukan bekerja sama dengan INAmikro untuk membuatkan Nomor Induk Berusaha tanpa pungutan biaya.

Demi membangun ekosistem bisnis berkelanjutan, MDH juga membantu UMKM mendapatkan sertifikasi lingkungan seperti ISO 14001. Hal ini bertujuan untuk memantik rasa percaya konsumen terhadap suatu produk atau jasa lantaran memiliki kesadaran lingkungan.

Tersedia pula pelatihan di bidang-bidang lain seperti pemasaran produk, pengemasan, perencanaan keuangan, dan pengembangan bisnis.

Kegiatan inkubasi bisnis ini membuahkan hasil. Salah satu binaan MDH, Ngopi Serius, menjadi peserta pada awal 2023. Usaha kopi ini mendapatkan pelatihan legalitas usaha, pemasaran digital, pembuatan profil usaha, dan penggunaan platform e-commerce.

Setelah bergabung, Ngopi Serius mencatat peningkatan laba berkat pemesanan yang meningkat dari pelanggan umum maupun dari kementerian dan BUMN. Jenama usaha kopi ini pun merambah pasar nasional dengan branding produk sendiri yang lebih matang.

Sementara, Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) Center Bank Mandiri Dadang Suryadi menambahkan MDH terbuka membina UMKM di manapun, asalkan pelaku usaha menyanggupi hadir di lokasi pelatihan. Kegiatan inkubasi bisnis ini diadakan di sekitar Solo Raya (Solo, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri), khususnya Solo.

“Adapun, Bank Mandiri melalui MDH menggaet kerjasama dengan beberapa lembaga pemerintah lain untuk melancarkan kegiatan. Beberapa yang dimaksud, yaitu Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Solo Technopark, dan komunitas UMKM di Solo,” jelas Dadang.

Ia menyebut, MDH merupakan salah satu inisiatif Bank Mandiri membangun ekosistem bisnis berkelanjutan, baik secara sosial maupun lingkungan. Bank Mandiri berkomitmen meningkatkan akses keuangan pada kelompok yang kurang mendapatkan layanan finansial (underserved groups) seperti masyarakat di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) ataupun unbaking.

Di mana, komitmen ini adalah bagian dari upaya mewujudkan visi Bank Mandiri sebagai “Indonesia´s Sustainability Champion.” Inisiatif Mandiri Digipreneur Hub adalah bagian dari pelaksanaan kerangka environment, social, and governance (ESG) Bank Mandiri, khususnya pada pilar sustainability beyond banking. (*)


Sumber: https://infobanknews.com/mandiri-digipreneur-hub-perkuat-digitalisasi-dan-pengelolaan-keuangan-umkm/

Sunday, June 9, 2024

Belajar dari Pengalaman Transformasi Data Bank Mandiri dan BNI

 


Saat data menjadi “the new oil,” transformasi data menjadi wawasan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat dan cepat adalah langkah penting bagi perusahaan masa kini. Hal inilah yang dilakukan oleh dua bank besar di Indonesia, Bank Mandiri dan BNI.

Diawali dengan Integrasi Data

Transformasi data di Bank Negara Indonesia (BNI) dimulai 5-6 tahun lalu, yang ditandai salah satunya dengan implementasi solusi business intelligence dan analytics dari Tableau. Fokus utama dari dari implementasi tersebut adalah integrasi data untuk menghasilkan manajemen pelaporan yang terpusat melalui format dashboard. 

Sebelumnya, dengan 40.000 karyawan yang melayani jutaan pelanggan di seluruh dunia, BNI harus menangani big data sebesar 30 terabyte yang terus bertambah dan tanpa ada gudang data terpusat yang dapat dirujuk oleh manajemen di semua tingkatan.

Sementara para manajer harus bergantung pada laporan yang dikeluarkan dari kantor pusat berupa ringkasan data yang kurang rinci sehingga  sulit untuk membuat keputusan strategis berdasarkan wawasan.

Padahal, menurut Billie Setiawan, SVP, Data Management & Analytics, Bank Negara Indonesia, fleksibilitas, dalam melihat data secara terperinci, misalnya berdasarkan level cabang, segmen, atau produk, dapat membantu bank memahami performa bank secara menyeluruh tanpa perlu menyusun ulang data secara keseluruhan.

Tableau untuk Tingkatkan Kemampuan Analitik

Dalam upaya menyajikan solusi terbaik bagi nasabah, Bank Mandiri menerapkan optimalisasi data, yang mengharuskan setiap keputusan dilandasi oleh analisis data. Artinya setiap orang di perusahaan akan berinteraksi dengan data, menjadikan analisis maupun visualisasi data menjadi hal yang penting. 

Untuk mendukung hal itu, Bank Mandiri bermitra dengan Tableau. Kemitraan ini membantu meningkatkan keterampilan analitik data di antara karyawan dan membuat data lebih mudah diakses. 

Sebagai informasi, sebelum menggunakan Tableau, permintaan informasi dikirim ke kantor pusat yang membutuhkan dua minggu untuk menjalankan query SQL dan mengumpulkan informasi dari berbagai sistem. Setelah itu, mereka menyiapkan laporan dalam format spreadsheet dan mengirimkannya melalui email. Namun, Bank Mandiri menginginkan cara yang lebih cepat dan mudah untuk menganalisis informasi serta menyediakan akses yang lebih aman bagi mereka yang membutuhkannya.

Kurnia Sofya Rosyada, SVP, Enterprise Data Analytics, Bank Mandiri menyebut bahwa visualisasi data akan membantu merumuskan pertanyaan yang tepat untuk memandu pengambilan keputusan bisnis. “Visualisasi memungkinkan untuk menyoroti masalah utama dan faktor-faktor kunci yang mempengaruhi performa bisnis, serta menyediakan wawasan yang dapat dijadikan dasar untuk tindakan konkret. Dengan visualisasi data, pemangku kepentingan dapat dengan mudah memahami dan merespons informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang strategis dalam pengembangan bisnis,” ujar Kurnia.

Penggunaan Tableau di BNI

Seperti dijelaskan sebelumnya, salah satu penggunaan utama solusi Tableau adalah manajemen pelaporan atau dashboard. Billie menjelaskan bahwa dashboard ini dapat disesuaikan berdasarkan wilayah atau segmen produk, memungkinkan para pemangku kepentingan untuk melihat performa di berbagai area dan menentukan strategi yang sesuai. 

Penggunaan lainnya termasuk deteksi fraud, di mana Tableau digunakan untuk visualisasi output dari analisis data yang mendeteksi pola fraud dan memberikan peringatan kepada manajer risiko atau staf terkait. Seluruh indikator dan hasil analisis ini dapat ditampilkan dalam dashboard untuk memudahkan pemantauan dan pengambilan keputusan yang cepat, tepat dan efektif.

Billie Setiawan memaparkan sejumlah alasan BNI untuk menggunakan Tableau. Pertama adalah fleksibilitas dan kemampuannya dalam memberikan akses terkait dengan data dan alat visualisasi kepada berbagai pihak, bukan hanya tim data analitik. Ini memungkinkan berbagai fungsi di wilayah BNI untuk melakukan analisis sendiri secara mandiri, bukan lagi bergantung pada business intelligence yang disediakan oleh pihak lain. “Tableau salah satu yang paling bagus,” ujarnya kepada InfoKomputer dalam sesi wawancara khusus.

Ia juga menyebut kemampuan Tableau yang memungkinkan pengguna untuk melakukan analisis seperti slice and dice serta deskriptif untuk melihat kinerja bisnis dari berbagai sudut pandang, semua dalam satu platform yang menggunakan sumber data yang sama, sehingga konsisten dan representatif. 

Kemudahan penggunaan Tableau juga ditekankan, membuatnya dapat diakses dan digunakan oleh berbagai tingkatan manajemen hingga level teknis. Hal ini, menurut Billie, menjadikan Tableau sebagai salah satu alat yang terbaik, karena representatif, mudah digunakan, dan memfasilitasi pengambilan keputusan dengan memberikan wawasan yang diperlukan.

Bisa Digunakan Beragam Pengguna

Kurnia menjelaskan bahwa Tableau merupakan salah satu tool visualisasi data yang digunakan di Bank Mandiri yang salah satu penggunaan utamanya adalah melacak dan menganalisis kinerja dari berbagai cabang, unit bisnis, dan segmen. 

Selain itu penggunaan ini tidak terbatas pada departemen tertentu. Kurnia menjelaskan, Tableau tidak hanya untuk business user yang ada di sisi produk atau segmen, tapi juga misalnya untuk pengguna yang ada di kantor di cabang, bahkan unit operasional. 

Ia mencontohkan, operasional menggunakan Tableau untuk melacak jumlah keluhan pelanggan yang masuk, melalui saluran apa keluhan tersebut datang, dan tingkat keparahan keluhan tersebut. Hal ini memungkinkan Bank Mandiri untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi pelanggan dan memberikan tanggapan yang sesuai.

Mengenai alasan menggunakan Tableau, Kurnia Sofya menyebut kemampuan untuk memberikan wawasan secara cepat kepada pengguna bisnis yang relevan sehingga mempercepat time-to-market.

Selain itu, Tableau juga dianggap cukup fleksibel dan serbaguna dalam menyediakan berbagai kasus penggunaan (use case), baik untuk kebutuhan real-time maupun pengiriman data dalam jangka waktu tertentu. Hal ini membuatnya mudah disesuaikan untuk berbagai tingkatan manajemen, dari manajemen tingkat atas hingga personil yang berinteraksi langsung dengan pelanggan. 

Eksplorasi AI untuk Kebutuhan Bisnis

Bagi sektor perbankan AI bukan teknologi yang benar-benar baru, tapi menurut Billie, sekarang pembicaraan tentang AI lebih cenderung terfokus pada teknologi AI yang lebih maju, seperti AI generatif.

Terlepas dari hal itu, Billie menegaskan  bahwa pada akhirnya, implementasi AI haruslah sesuai dengan kebutuhan bisnis, seperti optimalisasi biaya. Dan organisasi, termasuk bank, terus mencari kasus penggunaan AI yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan. 

Untuk penggunaan artificial intelligence (AI), khususnya melalui fitur seperti Tableau Pulse, menurut Billie akan memungkinkan pelacakan dan pemantauan secara real-time dengan kemampuan akses melalui perangkat mobile.

Billie menambahkan bahwa  fitur ini memungkinkan mereka untuk bertanya dan mendapatkan jawaban dalam bentuk visualisasi, terutama untuk pertanyaan-pertanyaan yang sederhana terkait kinerja penjualan, seperti penjualan tertinggi dan terendah. Meskipun belum sampai pada pertanyaan yang kompleks atau format bebas, namun fitur ini diharapkan BNI dapat membantu dalam sistem manajemen kinerja. 

“Kita sedang mengeksplorasi dan melakukan piloting. Dan mudah-mudahan bisa kita cari use case-nya. Tapi pastinya lebih untuk performance management system,” ujar Billie Setiawan.

Memilih Cermat Use Case AI

Mengenai kapabilitas artificial intelligence (AI) yang ditawarkan Tableau, baik melalui Tableau Pulse maupun Einstein Copilot for Tableau, Kurnia menjawab bahwa pihaknya masih mengeksplorasi penggunaan kecerdasan buatan secara umum, termasuk yang ada di Tableau.

Menurutnya, penggunaan data AI menarik perhatian Bank Mandiri terutama dalam hal percepatan atau peningkatan time-to-market terkait wawasan yang dihasilkan dari AI tersebut. Selain itu, bank juga tertarik pada kemungkinan menyisipkan sebagian wawasan tersebut ke dalam proses bisnis yang dapat mendapat manfaat dari keberadaan AI tersebut.

Kurnia juga menjelaskan bahwa Bank Mandiri mengakui bahwa AI bukan sekadar tren semata, dan telah menggunakannya untuk berbagai keperluan seperti pemodelan, skoring, dan sebagainya.

“Perhatian Bank saat ini terfokus pada mengidentifikasi masalah bisnis atau pilar-pilar tertentu di mana penggunaan AI dapat memberikan dampak yang paling berharga,” ucapnya. Pasalnya, menurut Kurnia, sumber daya perusahaan terbatas, sehingga Bank Mandiri perlu memilih dengan cermat di mana AI dapat memberikan dampak yang signifikan. 


Sumber: https://infokomputer.grid.id/read/124102722/belajar-dari-pengalaman-transformasi-data-bank-mandiri-dan-bni?page=all

Thursday, May 2, 2024

Bank Mandiri Siapkan UMKM Hadapi Era Digital dengan Livin' Merchant

 


Jakarta, CNN Indonesia -- Di era digitalisasi yang kian pesat, Bank Mandiri bergerak cepat dalam membuka peluang bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk berkembang. Melalui inovasi digitalnya, Livin' Merchant by Mandiri, perseroan menghadirkan solusi komprehensif bagi UMKM dalam menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan efisiensi bisnis.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri, Aquarius Rudianto, mengungkapkan bahwa potensi digitalisasi bagi UMKM sangatlah besar. Hal ini dibuktikan dengan data Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan jumlah transaksi e-commerce mencapai 156 juta transaksi dengan nilai Rp453,7 triliun dan volume transaksi 3,71 miliar.

Menurutnya, angka indikator ini jelas menunjukan bahwa digitalisasi dapat menjadi salah satu cara efektif untuk membuka akses keuangan bagi para pelaku UMKM terhadap jangkauan pasar dan juga lembaga keuangan. Terlebih, BI memperkirakan transaksi digital akan bertumbuh sekitar 7,2 persen pada 2024.

"Dengan adanya permintaan pasar, Bank Mandiri melihat kesempatan untuk berinovasi dengan melakukan digitalisasi terhadap sektor UMKM ," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (2/5).

Ia menjelaskan, Livin´ Merchant by Mandiri adalah aplikasi yang memberikan kemudahan akses ke layanan perbankan (access to finance) bagi pelaku UMKM. Aplikasi ini dapat dimanfaatkan sebagai aplikasi kasir (point of sales), yang langsung mendigitalisasi aktivitas transaksi dan menerima pembayaran langsung melalui sarana QRIS yang dapat discan oleh pembeli, menggunakan rekening bank manapun maupun e-wallet apapun.

Aquarius pun memastikan jika aplikasi ini dapat digunakan tanpa dikenakan biaya apa pun, sehingga akan sangat membantu menekan biaya operasional usaha. Merchant juga langsung mendapatkan pencairan dana pada hari yang sama sebanyak tiga kali sehari, yang tentunya hal ini juga penting untuk membantu perputaran modal kerja bagi UMKM.

Ia menyebutkan, sejak diluncurkan pada pertengahan 2023, Livin´ Merchant telah digunakan oleh 1,7 juta pelaku usaha dengan frekuensi transaksi sebanyak 24,8 juta kali dan nilai transaksi hingga 2,6 triliun rupiah. Pengguna aplikasi ini nyaris tersebar merata di 15 kota besar dan menengah di Indonesia, masing-masing sebanyak 55 persen di Pulau Jawa dan 45 persen di luar Pulau Jawa.

Sejalan dengan perkembangan pengguna, Bank Mandiri juga berkomitmen penuh terhadap perlindungan dan keamanan data pengguna Livin´ Merchant.

Aquarius menjelaskan, Bank Mandiri sepenuhnya melindungi akses dan pemrosesan data produk serta layanan sebagai salah satu rahasia bank. Penerapan kebijakan ini merupakan Penerapan Kebijakan Perlindungan Data dalam aplikasi bank BUMN ini, termasuk untuk Livin´ Merchant.

"Privasi dan keamanan data selalu diawasi oleh Board-Level Committee secara berkala. Ini dilakukan baik untuk layanan dan produk yang sudah ada maupun nanti yang sedang dikembangkan," tegas dia.

Ia memaparkan, segala layanan Bank Mandiri dirancang sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku, standar nasional maupun internasional, serta peraturan perusahaan. Bank Mandiri juga selalu berkoordinasi dengan regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta BI.

Sebagai informasi, memastikan inklusi keuangan serta menerapkan perlindungan dan privasi data merupakan bagian dari upaya Bank Mandiri mewujudkan visi menjadi Sustainability Champion Indonesia melalui penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social and Governance/ESG).

Selain itu, sebagai ESG market leader, Bank Mandiri telah menjalankan tiga pilar keberlanjutan, yaitu Sustainable Banking, Sustainable Operation dan Sustainability beyond banking. Perseroan juga berkomitmen untuk mencapai Lead Indonesia's Transition to Low Carbon Economy, Net Zero Emissions in Operations by 2030 dan Catalyzing for Social Impact to achieve SDGs.


Sumber: https://www.startsmeup.id/2024/05/bank-mandiri-siapkan-umkm-hadapi-era.html